
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Kekasih Jonathan itu sampai tak terkira Bian," kata Antonio juga sambil tertawa.
Bianca termangu, mendengar perkataan teman-teman Jonathan. Yang mengatakan, Jonathan mempunyai banyak kekasih. Padahal dia dulu mengetahui, Jonathan itu tidak mempunyai kekasih. Selain Chelsea.
"Apa selama kepergianku, dia sudah berubah. Karena terkontaminasi mas Kamal yang Don Juan." batin Bianca.
Melihat kebingungan dan perubahan raut wajah Bianca, Jonathan mengambil kacang. Dan melemparkannya kepada ketiga temannya tersebut.
"Puas kalian! Membuat dia bingung," ujar Jonathan dengan melototkan matanya.
"Hei Bro, main lempar kacang saja, apa kau kira kami ini monyet." dengus Amar, yang menerima lemparan kacang paling banyak menerpa tubuhnya.
"kalian bukan monyet, tapi king of monkey. Demon king, dan semua raja itu kalian semua..!" Jonathan benar-benar kesal dengan ketiga temannya, yang telah menganggunya dengan kejahilan.
"Bian, apa kau percaya dengan apa yang kami katakan?" tanya Amar.
Bianca mengangguk, kemudian menggelengkan kepalanya. Raut wajah Bianca bingung.
"Hahaha..! Istri orang bingung..!" seru Kamal tertawa senang.
"Bian, Joe itu banyak dilirik oleh gadis-gadis. Ada yang sampai sekarang ini selalu lengket mengharapkan belaian jemari tangan Jonathan," ujar Antonio sembari memperagakan gerakan jemari tangannya ditubuhnya sendiri.
"Siapa Mas?" tanya Bianca dengan bersemangat, sampai-sampai memajukan tubuhnya mendekati Antonio.
Dengan spontan tangan Jonathan menariknya untuk menjauhi Antonio.
Teman-temannya yang melihat apa yang dilakukan Jonathan tertawa senang, karena misi mereka berhasil. Mengganggu Jonathan dan Bianca.
"Mira, gadis ini. Seperti lintah, maunya lengket dengan Jonathan sedari jaman kuliah dulu. Kau harus waspada, Bian," ujar Antonio.
"Benar Bian, Mira itu seperti ulat. Ingin lengket terus dengan Jonathan." timpal Amar.
"Mira, sepertinya Bian ingat dengan nama itu," ujar Bianca, seraya menatap wajah Jonathan dengan penuh kebingungan. Cara melihat Bianca, sama seperti cara Elvan melihat Jonathan. Matanya bulat menatap Jonathan.
Jonathan tersenyum melihat raut wajah Bianca yang lucu, dengan gemas Jonathan mengusap-usap pucuk kepala Bianca.
Tiba-tiba..
"Bukan Mas Joe saja yang banyak didekati, Bianca juga ada yang mendekati. Di desa, ada Pak Lurah. Dia suka dengan Bianca," ujar Ayu.
"Mbak Ayu..!" seru Bianca.
__ADS_1
"Siapa!?" Jonathan langsung menegakkan tubuhnya, tadi dia menyandar kekursi. Kini tubuhnya tegak berdiri, seraya menatap Ayu.
"Woo..saingan..saingan..!" seru Kamal dengan gembira, sampai-sampai dia berdiri. Dan berjoget di dekat Jonathan.
"Ihh.. menyebalkan! minggir, joget sana di jalanan bersama dengan monyet..!" seru Jonathan sembari menggerakkan kakinya ingin menendang Kamal, agar berlalu dari dekatnya.
"Mas, nggak benar. Bian tidak suka dengan Pak Lurah," ujar Bianca dengan cepat, karena takut Jonathan salah paham.
"Hehehe..! benar Mas Joe, Bianca tidak tergoda dengan wajah tampan Pak Lurah. Pak lurah saja yang terpikat dengan Bianca," ujar Ayu seraya tertawa, karena telah berhasil menganggu Jonathan. Dan sangat terlihat, raut wajah Jonathan berubah. Ada kecemburuan diraut wajahnya.
"Cukup sudah, biar tidak ada yang salah paham lagi. Tuh Joe, kau jangan sampai meleng. Ada Pak Lurah yang mengincar Bianca. Dan Bian, Joe itu..." Amar menghentikan ucapannya, membuat Bianca semakin penasaran.
"Mas Amar! suka sekali begitu, Nita. Jangan terima cinta Mas Amar..!" seru Bianca pada Yunita yang sedari tadi hanya sebagai pendengar.
"Siapa yang mau sama dia..!" balas Yunita sembari mencebikkan bibirnya.
"Hei.. Bianca..!" seru Amar dengan mendelik.
"Rasain..!" balas Bianca.
"Baiklah, karena aku kasihan melihat wajah mama muda bingung. Kekasih Jonathan tak terkira, karena dia tidak punya kekasih. Siapa yang bisa menghitungnya? Bian, sejak kepergiamu. Jonathan itu sudah menjadi pertapa, tak tersentuh wanita. Ternyata, karena dia sudah menanam saham..." ucapan Antonio tak berlanjut, karena kacang sudah tepat mendarat di wajahnya.
"Aduh..Bro, sakit woo..! kenapa kau suka sekali melempar kacang, lama-lama. Aku akan menjadi monyet sungguhan..!" seru Antonio.
"Cemen." Ledek Jonathan.
"Ihh.. siapa yang nunggu!" seru Jonathan sembari berdiri, ingin pergi.
"Mas, mau kemana?" tanya Bianca.
"Mau ke toilet, mau ikut ? Ayo ..!" Jonathan menarik tangan Bianca dan membawanya pergi menjauhi teman-temannya, untuk menyelamatkan otak Bianca dari kejahilan teman-temannya.
Semuanya, teman mereka berdua tertawa. Melihat Jonathan menarik Bianca dengan paksa untuk mengikutinya.
"Tidak! Bian nggak mau ke toilet," ujar Bianca.
"Ayo ikut," ujar Jonathan tetap menarik Bianca mengikutinya.
"Ihh..mas ini, ini pemaksaan namanya, Bian tidak mau ke toilet..!" tolak Bianca.
"Siapa yang mau ke toilet," ujar Jonathan.
"Tadi katanya mas mau ke toilet," ujar Bianca.
"Batal, apa kau melupakan anak kita yang sedang tidur? Mungkin saja Elvan sudah bangun," ucap Jonathan.
__ADS_1
"Oh .iya, Bian lupa. Bian ingat tadi El sedang main pasir di pantai," ucap Bianca.
"Baru satu anak saja sudah lupa, bagaimana jika nanti ada beberapa anak. Mungkin suami yang akan dilupakan," ujar Jonathan.
"Kalau Mas Joe mengucapkan kata cinta, Bian tidak akan pernah melupakan mas Joe," kata Bianca dengan bergelayut manja, memeluk lengan Jonathan seraya masuk kedalam villa.
"Ayo mas, bilang cinta," ujar Bianca.
Jonathan diam, tidak merespon permintaan Bianca.
"Mas! cinta.. cinta... ayo, ucapkan..!"
Jonathan menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap Bianca.
"Disini apa hanya ada kalimat itu." jemari Jonathan menyentuh keningnya Bianca.
"Iya! makanya, ucapkan. Please..!" Bianca mengedip-ngedipkan matanya menatap wajah Jonathan.
Cup..
" Ini.." Jonathan mendaratkan kecupan singkat dibibir Bianca, kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam villa. Tinggal Bianca memegang bibirnya yang baru saja mendapatkan ciuman.
"Nggak ada ucapan kata cinta, sepertinya. Ciuman tadi sudah mewakili perasaan mas Joe." gumam Bianca dengan senyum-senyum sendiri memegang bibirnya.
Jonathan yang melihat apa yang dilakukan Bianca tertawa geli.
"Apa begitu penting ucapan cinta, sehingga kau ngotot meminta aku mengucapkannya." gumam Jonathan.
***
Mobil berhenti didepan rumah besar, dan tiga orang keluar dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja.
Tak..tak..
Langkah kaki ketiganya terdengar memenuhi rumah yang yang tadinya sepi, karena tinggal Budi Dwipangga yang sedang bermalas-malasan menonton televisi di ruang keluarga.
Prak..
Suara benda keras membentur meja, membuat Budi Dwipangga yang tadinya hampir tertidur. Sontak terperanjat dan duduk seketika.
"Mama..!" seru Budi Dwipangga sembari memegang dadanya, karena kaget.
Maya mendudukkan dirinya dengan kesal, sedangkan kedua asisten rumah tangganya langsung berlari menuju dapur. Dan tidak lama kemudian, kembali membawa dua gelas minuman dingin. Dan memberikannya pada sang majikan yang sedang kondisi marah.
Maya meraih kedua minuman dingin, satu diteguknya sampai tandas. Dan yang satu lagi ditempelkannya di keningnya.
__ADS_1
...**BERSAMBUNG...
...🌟🌟🌟**...