
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Untuk apa dia datang? sepertinya, orang itu ada radar di kepalanya ya," ujar Jonathan dengan suara yang terdengar kesal.
"Radar?" heran Bianca dengan ucapan Jonathan yang nyeleneh.
"Iya, karena dia sepertinya langsung tahu, bahwa penghuni rumah ini pulang kampung," ujar Jonathan.
Bianca tertawa kecil, melihat raut wajah Jonathan yang cemberut.
"Mas Joe ini aneh-aneh saja, Pak lurah koq di cemburuin..!" Ngekeh Bianca.
"Mas, Bian sudah mau punya anak dua. Untuk apa main lirik kiri kanan, untuk mendapatkan mas Joe saja. Bian sampai merendahkan diri dengan melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan sangat dilarang oleh agama, untuk apa Bianca bermain api," kata Bianca.
"Serius, dulu. Tidak ada hubungan dengan pria itu?" tanya Jonathan, yang belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bianca.
"Serius mas, Bian tidak ada waktu untuk melirik kanan kiri untuk melihat seorang pria. Bian sibuk dengan pekerjaan, karena Bianca tidak ingin hidup Elvan serba kekurangan. Sehingga, Bian tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan warga kampung ini. Tanya mbak Ayu, Bian tidak begitu mempunyai teman di sini," kata Bianca.
Jonathan meraih jemari Bianca, dan menggenggamnya.
"Jangan dekat-dekat dengan pria itu lagi, jarak kalian harus lima puluh langkah. Jika bertemu..!" ucap Jonathan dengan serius.
"Hah...! lima puluh langkah? kenapa tidak sekalian saja, lima kilometer mas...!" seru Bianca.
"Hehmm..! boleh juga," sahut Jonathan.
*
*
"Nyonya...!" Salma berlari dari dalam kamar Jonathan dengan membawa vas bunga yang berisi anggrek Maya yang raib dari batangnya, dan tidak diketahui siapa yang telah melakukan pencurian.
"Apa?" tanya Maya yang sedang rebahan, dengan wajah yang dipenuhi dengan masker wajah berwarna hijau.
"Lihat! apa yang saya ketemukan dari dalam kamar Den Joe..!" seru Salma dengan menunjukkan vas bunga yang dibawanya turun dari dalam kamar Jonathan.
Maya membuka matanya sedikit.
Dan...
Matanya terbelalak, begitu melihat apa yang ditunjukkan oleh Salma. Sang asisten rumah tangganya.
"Bungaku...!" pekik Maya, dia lupa dengan masker wajah yang menempel di wajahnya yang sudah mulai mengering.
Spontan Maya berdiri, dan mengambil vas bunga yang berisi bunga anggrek nya yang hilang.
"Dari mana dapat ini?" tanya Maya.
"Dari dalam kamar Den Joe." beritahu Salma.
"Jonathan..!?"
__ADS_1
Salma menganggukkan kepalanya.
"Masih banyak lagi Nyah," ujar Salma.
Maya memberikan kembali vas bunga pada Salma, dengan berjalan cepat dia menuju kamar sang putra.
Maya masuk kedalam kamar, dan melihat. Bunga-bunganya yang hilang, kini menjadi hiasan didalam kamar sang putra.
"Mereka mencuri bungaku..!" Maya memegang keningnya yang terasa nyut-nyutan seketika, setelah mengetahui kenyataan. Bunga-bunganya bukan di curi oleh orang luar, tetapi. Bunga-bunganya berpindah tempat, menjadi hiasan dikamar sang putra.
" Nyah, bukan ini saja. Didalam kamar mandi juga masih banyak bunga." beritahu Salma.
"Apa!?" Maya betul-betul cukup terkejut, mendengar laporan Salma lagi.
Maya masuk kedalam walk in closet, kemudian masuk kedalam kamar mandi sang tersangka pencuri bunga. Salma mengikuti sang majikan, untuk melihat apa yang dilaporkannya tadi pada sang majikan.
Maya membuka pintu kamar mandi.
Dan...
Mata Maya kembali bulat sempurna, bathub dipenuhi dengan bunga yang masih segar.
"Ini, siapa yang meletakkan bunga ini didalam bathtub?" tanya Maya pada Salma.
"Salma tidak tahu Nyah, Salma sudah beberapa hari ini tidak diberikan izin untuk membersikan kamar Den Joe," ujar Salma.
"Joe, apa Bianca yang mengambil bunga anggrek ku?"
"Dasar Jonathan! Mama pusing memikirkan siapa yang mencuri bunga-bunganya, ternyata. Pencurinya dia sendiri..!" gerutu Maya dengan kesal.
"Awas itu anak pulang nanti, akan aku jitak kepalanya," ucap Maya jengkel.
"Salma, urus semua bunga ini. Bawa keluar." titah Maya pada sang asisten rumah tangganya.
Keluar dari dalam kamar Jonathan, Maya bergegas mencari sang suami yang berada dihalaman belakang mengurus peliharaannya. Ikan warna-warni, ikan koi.
"Paa..!" pekikan Maya membuat sang suami spontan memegang dadanya.
"Mama..! buat kaget papa saja..!" seru Budi Dwipangga.
"Paa! ternyata, pencuri bunga anggrek Mama itu penghuni rumah ini..! Mama tidak menyangka dia mencurinya, kita tidak menaruh curiga..!" adu Maya dengan menggebu-gebu.
"Siapa? bukan Papa ya..!" Budi Dwipangga mengangkat kedua tangannya.
"Joe! Jonathan yang yang mencuri bunga-bunganya!" seru Maya.
"Joe? Mama curiga? jangan asal tuduh saja Maa," ujar sang suami, yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Maya. Sang istri.
"Mama tidak asal tuduh, Paa! di dalam kamar Jonathan penuh dengan bunga."
Maya menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang suami.
"Hahaha..!" Budi Dwipangga tertawa mendengar perkataan Maya.
__ADS_1
"Papa ini! Mama sedang kesal, Papa tertawa..!" Maya mendelik menatap wajah sang suami yang tertawa.
"Maaf Maa, Papa lucu saja. Sejak kapan Jonathan suka dengan bunga, Jonathan nanam bunga tidak pernah tumbuh. Kata orang, tangan Jonathan panas. Ini, suka bunga." ngekeh Budi Dwipangga membayangkan Jonathan menyukai bunga.
"Jonathan yang melakukan itu semua Paa, tidak mungkin Bianca," ujar Maya.
"Maa, jangan-jangan Joe ngidam," ujar sang suami.
"Hah!" mulut Maya bulat, mendengar perkataan sang suami.
"Pasti Joe ngidam, bawaan bayi yang dikandung Bianca," ujar Budi Dwipangga.
"Mungkin juga ya Paa, beberapa hari ini Jonathan aneh. Nasi goreng warna-warni, semalam beli bunga," ucap Maya.
"Calon cucu kita sepertinya, gadis cantik. Hem.. Papa senang, kita punya cucu perempuan," ujar Budi Dwipangga dengan gembira.
"Anak Joan, Yoana perempuan Paa." Maya mengingatkan sang suami dengan Yoana, cucu perempuannya dari Joana.
"Tapi, Yoana tidak tinggal bersama kita Maa," sahut Budi Dwipangga.
"Betul juga," sahut Maya.
"Mama tidak milih paa, mau cewek atau cowok. Terserah saja, yang penting sehat."
"Kalau cewek, kita sudah punya cucu dua cowok dan dua cewek." tutur Budi Dwipangga.
"Mama rindu dengan Rangga Paa, ayo kita ketempat Joan. Rangga pasti sudah semakin lucu," ujar Maya, mengingat cucunya yang baru dilahirkan Joan, anak perempuannya.
"Ayo Maa, Papa juga rindu dengan cucu gembul kita itu."
*
*
Di desa...
Pagi hari, Elvan sudah mempersiapkan tempat untuk membawa bebek kesayangannya.
"Maa, apa ayah bebek tidak akan mati di masukkan kedalam kardus?" tanya Elvan, yang tidak tega. Melihat bebek kesayangannya berada dalam kotak.
"Kotaknya ada fentilasi, bebeknya tidak akan kepanasan," jawab Bianca.
"Assalamualaikum." tiba-tiba terdengar suara pria yang mengucapkan salam dari luar.
"Wailaikumsalam" sahut Bianca seraya berjalan keluar dari dalam rumah.
*
*
*
...BERSAMBUNG...
__ADS_1