
Happy reading guys 🥰
👇👇
Maa, Joe tidak mencuri. Joe bilang sebelum memetiknya, Maa. Joe minta bunganya ya, mama jawab. Ambil saja Joe," ucap Jonathan dengan sambil rebahan, berbantalkan paha Bianca.
"Bisa-bisa kau saja Joe..! kapan kau minta, Mama tidak dengar? kau pandai bermain kata sekarang ya..!" ujar Maya kesal pada sang putra.
"Waktu Mama mau ke dapur, waktu itu Joe mau pergi joging. Mama jawab, ambil saja Joe," ujar Jonathan.
Maya mengernyitkan dahinya, untuk mengingat apa yang dikatakan Jonathan.
"Tidak ada, kau bohong..!" Maya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jonathan.
"Mas, ngaku saja. kalau mas mengambil bunga Mama tanpa izin," ujar Bianca, untuk menengahi perdebatan Jonathan dan Mama mertuanya.
"Minta izin koq," sahut Jonathan.
"Mas..!" saking kesal dengan Jonathan, Bianca mencubit lengan Jonathan.
"Aduh..Yank..!" Jonathan meringis.
"Ngaku..!" mendelik Bianca.
"Baiklah, Joe ngaku Maa. Waktu mau joging, Joe tertarik melihat bunga anggrek Mama, Joe langsung ambil gunting dan Joe bawa untuk menghias kamar. Besok Joe akan belikan Mama bunga anggrek yang banyak," ujar Jonathan.
"Mama jangan marah lagi ya? Joe mual ini," kata Jonathan.
"Kau mual melihat Mama marah?"
"Bukan Maa, please..!" lanjutkan mengomelinya, saat Joe sudah tidak pusing ya," ujar Jonathan.
"Awas! kau tidak belikan Mama bunga anggrek yang banyak. Mama akan jual koleksi miniatur mobilmu itu...!" seru Maya, seraya menunjuk kearah rak kaca yang berisi koleksi miniatur mobil milik Jonathan.
"Jangan Maa, itu koleksi unik Maa..!"
"Unik apaan!" seru Maya, Mama Jonathan sembari melangkah meninggalkan Jonathan dan Bianca.
"Masih pusing mas?" tanya Bianca.
"Masih, kenapa mas muntah ya. Mas itu tidak pernah muntah dalam perjalanan, ini seperti tidak pernah naik mobil saja. Sangat memalukan," ujar Jonathan.
"Itu bawaan bayi Joe, sepertinya. Kau yang mengalami efek dari hamilnya Bianca," ujar Mamanya, yang datang dengan membawa minuman lemon hangat.
"Minum ini," Mama Jonathan memberikan gelas yang berisi lemon hangat pada Jonathan.
Bianca mengambil gelas yang diberikan oleh Mama mertuanya.
"Bawaan bayi? yang hamil Bian, kenapa Joe yang mengalaminya?"
"Baguslah, kau jangan hanya mau buatnya saja. Giliran enggak enaknya tidak mau, minum itu. Biar tidak mual." titah Maya pada sang putra.
"Minum mas," ujar Bianca.
Jonathan bangkit, dan menerima gelas yang diberikan oleh Bianca.
__ADS_1
"Apa ini mas?" Jonathan mengendus gelas yang diberikan oleh Bianca.
"Racun tikus," sahut Mamanya.
"Mama! gara-gara bunga, Mama ingin meracuni anak sendiri?"
"Sudah! minum saja, Mama juga pusing melihat kau seperti itu. Seperti tidak ada tenaga saja, Bianca yang hamil saja tidak sepertimu ," ujar Maya, pada Jonathan.
*
*
"Oma...!" terdengar suara teriakkan Elvan dari halaman belakang.
"Opa...!" kali ini suara memanggil sang Opa.
Keduanya tergopoh-gopoh menuju tempat Elvan memanggilnya.
"Ada apa El?" tanya Maya yang duluan tiba, daripada sang suami.
"Lihat..!" Elvan menunjuk kearah bebeknya.
"Hah...!" mata Maya, Oma Elvan terbelalak. Melihat bebek Elvan sudah berubah warna.
Kini...
Bebek yang dua hari yang lalu yang baru dibawa dari kampung mempunyai warna yang abu-abu, kini. Sayap kedua bebek sudah berwarna pink dan lingkar leher berwarna keemasan.
"Ada apa?" Budi Dwipangga datang.
"Siapa yang melakukan ini Paa? apa bebeknya pergi ke salon untuk mewarnai bulunya sendiri?" tanya Maya dengan memandang sang suami.
"Apa kalian tahu, siapa yang melakukannya?" tanya Budi Dwipangga.
"Den Joe Tuan, sebelum Den Joe berangkat kerumah sakit. Den Joe lama di sini, Den Joe juga membeli kelinci warna pink Tuan." adu Salma kepada majikannya tersebut.
"Kelinci..? mana?" tanya Maya.
"Ambil Salma," ujar Bik Minah pada Salma.
Salma langsung berlari, dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa kelinci dalam kandang besi.
"Ini," ujar Salma.
"Hore..! El suka..!" seru Elvan dengan lonjak kesenangan, saat melihat kelinci berwarna pink dan kuning dalam kandang besi.
"Jonathan..!" seru Budi Dwipangga seraya menepuk jidatnya.
"Biasanya, anak ayam yang diberi cat warna-warni begini Tuan. Nyak, ini bebek dan kelinci," ujar Salma sembari ngekeh tertawa.
"Anak itu semakin aneh saja Paa, apa ketularan Mira gilanya itu anak," ujar Maya dengan jengkel.
"Bawaan bayi tuh Nyah." celetuk Bik Minah.
"Iyah Nyah, untung Den Joe hanya suka mewarnai beginian. Coba tadi Den Joe merubah warna rumah ini menjadi rumah warna boneka Barbie," ujar Salma sambil tertawa, membayangkan warna rumah yang putih. Menjadi warna pink.
__ADS_1
"Jangan sampai, sampai dia merubah warna rumah. Mama bawa dia ke psikiater."
*
*
Di rumah sakit, Jonathan menjadi sedih. Saat melihat pertama sekali, wujud anaknya yang masih sekecil kacang. Dia mengingat, saat Bianca hamil Elvan. Bianca menghadapi ini semua sendiri, jika dia tidak menyuruh Bianca untuk tidak muncul dihadapannya. Dia pasti tidak akan kehilangan moment-moment saat hamil Elvan.
"Baby sehat ya Pak, Bu. Banyak konsumsi sayuran dan buah-buahan." titah dokter.
"Kapan lahir Dok?" tanya Jonathan, dengan mata masih fokus menatap layar monitor USG.
"Mas! baru hamil 4 Minggu," ujar Bianca.
"Masih lama Pak, tunggu delapan bulan lagi," sahut dokter dengan senyum dibibirnya, melihat Jonathan yang tidak sabar menunggu kelahiran sang baby.
"Apa jenis kelaminnya Dok?" tanya Jonathan lagi.
"Untuk jenis kelamin, tunggu empat bulan lagi ya Pak," ucap sang dokter.
"Mas ini tidak sabaran sekali, bentuk baby saja masih gumpalan begitu. Belum tahu jenis kelaminnya," ujar Bianca.
"Mungkin saja Bu dokter bisa melihat yang tidak bisa kita lihat Yank," ujar Jonathan.
"Saya dokter Pak, bukan cenayang," ujar dokter Mita, spesialis kandungan yang di rekomendasikan oleh Joan.
Bianca turun dari ranjang, dan kembali duduk.
"Karena kandungannya sehat, saya tidak akan memberikan vitamin. Ibu konsumsi saja makanan sehat, itu lebih bagus di konsumsi," ujar dokter Mita.
Keluar dari dalam praktek dokter, Jonathan melihat seorang bapak menjual gulali.
"Bian, tunggu sini." titah Jonathan, kemudian dia berlari meninggalkan Bianca.
"Mas..!" panggil Bianca, tetapi Jonathan sudah berlari menuju sang bapak yang menjual gulali yang berwarna-warni tersebut.
"Ihh..mas Joe kumat lagi," ujar Bianca, saat melihat Jonathan kembali dengan membawa gulali warna pink dan biru dikedua tangannya.
"Mau." Jonathan memberikan gulali yang berwarna biru pada Bianca, dan Bianca menerimanya.
Dalam mobil, keduanya menikmati gulali dulu.
"Mas sudah lama menginginkan ini, tetapi belum kesampaian," ujar Jonathan sambil menikmati gulali.
"Mas suka dengan yang manis-manis begini? Bian kurang suka," ujar Bianca.
"Tidak suka? sini untukku saja," ujar Jonathan, dan mengambil gulali dari tangan Bianca.
"Mas! itu punya Bian..!" seru Bianca.
"Katanya tidak suka, mas suka," ujar Jonathan.
*
*
__ADS_1
*
...BERSAMBUNG...