
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Ceklek..
Chelsea membuka pintu kamar Riko, dan keheningan seperti saat dia membuka kamar Della yang menyambutnya.
Chelsea membuka lemari, dan. Seperti saat membuka lemari Della, baju Riko sudah tidak ada didalam lemari. Riko mengosongkan lemari, tidak ada yang tersisa.
"Mereka pergi..! mereka pergi..!" Chelsea lemas, tubuhnya luruh Keatas lantai.
Air matanya bercucuran, dia tidak mengira Riko benar-benar meninggalkannya sendirian.
"Bukannya ini yang kau inginkan Chelsea ? tapi belum terlambat, jika kau ingin mereka kembali. Pergi, cari mereka..!"
Chelsea mengangkat wajahnya, dan melihat wujudnya yang berpakaian putih yang berkata dengan menatapnya dengan tatapan mata yang sedih.
"Chelsea, kau bebas..! kejarlah kebahagiaanmu, tidak ada lagi yang menghalangimu. Lupakan yang namanya Riko dan Adella..!" Chelsea yang memakai pakaian serba hitam berbicara dengannya untuk mengejar kebahagiaannya.
"Kebahagiaanmu bersama dengan suami dan putrimu Chelsea," ujar Chelsea yang berpakaian putih.
"Tidak Chelsea ! mereka tidak mengerti tentang keinginanmu, mereka tidak memberikan kebahagiaan. Cari kebahagiaanmu dengan pria yang kau cintai..!" Chelsea berpakaian serba hitam kembali mempengaruhi pikiran Chelsea.
"Chelsea.,"
"Cukup..! kalian diam..! aku tidak membutuhkan pendapat kalian..!" teriak Chelsea pada dua bayangannya, sehingga bayangan yang dilihatnya hilang seketika.
Chelsea berdiri, dan menghapus air matanya.
"Iya, ini yang aku inginkan. Kebebasan ini yang aku tunggu, tidak ada yang akan menghalangi keinginanku..!" seru Chelsea dan keluar dari dalam kamar Riko dengan raut wajah yang gembira, tawanya terdengar dalam rumah yang hanya ada dia didalamnya.
***
Suasana sarapan pagi yang tadi damai, kini tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Joice tiba-tiba mengerang kesakitan seraya memegang perutnya.
"Aaarrgghhh..!" teriak Joice tiba-tiba, membuat semua orang yang sedang sarapan kaget.
"Ada apa?" tanya Maya dengan menghampiri Joice yang duduk diseberang tempat Mamanya duduk.
"Sakit...! sepertinya, aku akan melahirkan..!" seru Joice.
"Melahirkan? sekarang?" tanya Tama.
__ADS_1
"Iya sekarang lah mas..! sakitnya sekarang, masa melahirkannya bulan depan,." omel Joice kepada sang suami, seraya memberikan tatapan maut pada sang suami.
Tama seketika menciut, niatnya untuk membuka mulut diurungkannya. Daripada mendapatkan ucapan pedas dari sang istri yang lagi tidak baik-baik saja.
"Ayo, bawa ke rumah sakit..!" titah sang Maya dengan setengah berteriak pada sang menantu yang masih terpaku menatap wajah Joice yang kesakitan.
"Mas..! kenapa diam saja, apa Mas mengharapkan aku melahirkan di cafetaria hotel ini..!" seru Joice pada sang suami yang tiba-tiba terlihat bodo.
"Ya tidaklah Yang..! apa kata dunia, jika sampai tersebar. Istri dosen yang paling killer dan tampan melahirkan di cafetaria hotel," ujar Tama dengan bergurau.
"Cepat Tama, gendong Joice. Kau pakai acara ngelawak saat istrimu mau melahirkan..!" seru Mama Maya seraya melotot menatap sang menantu.
"Ya.. Maa..!" Tama mengendong Joice.
"Naik apa?" Tama menatap kedua mertuanya.
"Joe, cepat kau antarkan." titah Budi Dwipangga yang sedari tadi diam, karena tiba-tiba dia teringat dengan sang istri Maya. Saat melahirkan Jonathan, kasusnya seperti Joice, Maya melahirkan Jonathan saat sedang menghadiri resepsi pernikahan sepupu sang suami di luar kota.
"Bian, sini saja. Jaga Elvan..!" titahnya pada Bianca yang termangu melihat Joice yang mengerang kesakitan.
"Ayo Paa." ajak Maya.
"Bian dengan yang lain bagaimana?" tanya Budi Dwipangga.
Karena di hotel masih ada budhe Tiara, anaknya Elang dan Ayu. Dan Yoan dan Elvan yang sedang berenang di kolam renang yang ada didekat cafetaria.
"Ya, Maa. Selesai anak-anak berenang. Kami akan menyusul ke rumah sakit," kata Bianca.
"Bian, bawa keduanya keluar dari dalam kolam renang. Lihatlah, bibir mereka sudah biru," ujar Maya, saat melihat kedua cucunya yang masih asik bermain air didalam kolam.
"Iya Maa," sahut Bianca.
Dalam mobil, Joice terus menarik dan mencubit tangan sang suami Tama. Saat rasa sakitnya datang.
"Yang..! tangan mas sudah luka bekas cakaran kuku ini," ujar Tama seraya menunjukkan tangannya yang tergores.
"Baru luka begitu! aku ini sakitnya melebihi rasa cakaran kuku Mas Tama..!" seru Joice dengan mata mendelik kearah sang suami.
"Sakit sekali ya Mbak?" tanya Jonathan yang konsentrasi memegang kemudi.
"Iya lah..! sakit..! ini bocah ngapain didalam perut ya? waktu melahirkan Yoan tidak seperti ini..?"
Apa Bianca juga seperti yang dialami mbak Joi? Bianca lebih kecil daripada mbak Joi." batin Jonathan membayangkan Bianca saat melahirkan Elvan, apalagi saat itu usia Bianca baru 19 tahun.
__ADS_1
"Waktu melahirkan Yoan kamu tidak sadar Yang, mana tahu sakit apa tidak.." timpal Tama sang suami.
Saat melahirkan Yoan, Joice kecelakaan jatuh di kamar mandi. Dan terpaksa Yoan dilahirkan saat usia kandungan baru mau memasuki 9 bulan.
"Sebelum tidak sadar,aku merasakan sakit juga mas. Karena itu aku jatuh di kamar mandi. tapi tidak seperti ini seperti ini. Mungkin anaknya lagi dangdutan didalam ini." Joice mengelus perutnya.
"Nak, jangan lincah dangdutannya. Kasihan Mama," ujar Tama seraya mengelus perut buncit sang istri, dan memberikan kecupan di perut sang istri yang sedang meringis menahan sakit.
"Mbak juga, kenapa tidak di rumah saja. Sudah tahu mau melahirkan." omel Jonathan dari bangku depan.
"Salah kau joe, kenapa nikahnya pas mbak mau melahirkan..!" balas Joice.
"Aaww..!" teriak Joice, jemarinya dengan lancar menarik rambut sang suami yang sedang mengelus perut sang istri..
"Aduh..! Joe .! cepat kan jalan mobilnya, rambut mas tinggal beberapa helai lagi ini.." ujar Tama.
Akhirnya, mereka sampai di rumah sakit. Begitu tiba di ruang bersalin, tanpa sempat Joice mengganti baju. Baby yang berjenis laki-laki langsung menunjukkan diri, tanpa sempat dokter mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya.
"Nyonya, baby-nya sudah ingin keluar teriak perawat yang ingin membantu Joice ganti baju. Sedangkan Tama masih mengurus administrasi sang istri, dan Jonathan sedang memarkirkan mobilnya.
"Hah .! keluar!" teriak Joice sedikit panik, karena dia masih sendiri dalam ruang bersalin. Tanpa didampingi sang suami.
"Saya panggil dokter dulu." kemudian perawat pergi meninggalkan Joice sendiri.
"Dok.. dokter..!" teriak perawat memanggil dokter yang masih sibuk memakai sarung tangan.
"Ada apa? kau teriak-teriak seperti kita berada dalam hutan saja. Tenang, rileks." dokter menenangkan perawat yang datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Pasien anda, ibu Joice. Baby-nya sudah mau keluar...!" seru perawat.
"Apa..!!"
Dokter berlari memasuki ruang bersalin, mata sang dokter dan perawat melotot. Melihat baby yang masih berdarah berada diantara paha Joice.
"Dokter, anda harus membayar saya. Karena saya telah membantu anda melahirkan seorang bayi," ujar Joice dengan suara yang pelan, dan kemudian mata Joice terpejam.
Hoek..heekk..
Tangisan baby Joice memenuhi ruang bersalin, membuat dokter dan perawat tersadar.
Dokter mengambil baby Joice, dan memberikannya pada perawat. Dia sendiri memeriksa pasiennya, sang ibu.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...**...
Author minta Like like like 🙏 terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini**.