Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Ada saja mulut jahat


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Kesalahan yang aku lakukan, akan terus membayangi kehidupanku sampai kapanpun." batin Bianca.


Jonathan tahu, perasaan Bianca yang sedih.


"Kenapa? apa letih?" tanya Jonathan.


"Tidak," sahut Bianca.


"Maa, El mau dengan kak Yoan ya," ujar Elvan, saat melihat Yoan yang sedang bermain dengan teman-temannya.


"Pergilah, tapi jangan lari-lari. Nanti jatuh," ujar Bianca.


Setelah diberi izin, Elvan langsung lari menuju tempat Yoan bermain.


"Minum, wajahmu pucat. Jangan nanti orang-orang mengira aku telah menganiayamu ," ujar Jonathan seraya memberikan minuman kepada Bianca.


"Aku tidak haus." tolak Bianca.


"Jangan minum hanya karena haus, tapi untuk kebutuhanmu. Udara sini sangat panas, walaupun ada pendingin udara," ujar Jonathan dan mengipas wajahnya dengan jemari tangannya.


"Panas? di sini begitu dingin," ujar Bianca.


"Minum..!" titah Jonathan dengan meletakkan minuman yang dipegangnya ke tangan Bianca.


Dengan terpaksa, Bianca meminumnya. Padahal, kantong kemihnya sudah ingin melesat keluar. Tekan sedikit, Bianca akan ngompol di pelaminan.


Bianca tertawa kecil, membayangkan dirinya ngompol di atas pelaminan.


"Kenapa? tadi kau begitu sedih, sekarang ini kau tertawa sendiri?" mata Jonathan menatap wajah Bianca dengan lekat.


"Bian, sudah kebelet pipis," ujar Bianca dengan malu.


"Pergi ke toilet sana, jangan sampai kau ngompol di sini..!" titah Jonathan.


Bianca berdiri dan meninggalkan Jonathan sendiri, dia bergegas menuju tempat Ayu yang duduk dengan budhe Tiara.


"Mbak, temani Bian," ujar Bianca.


"Kemana? jangan bilang mau kabur!" tebak Ayu.


"Apa! kabur?" timpal budhe Tiara, yang mendengar perkataan Ayu


"Ihh.. Bian kebelet pipis budhe, bukannya mau kabur."


"Ohh.. budhe kira mau kabur," sahut budhe sembari nyengir.


"Bian nggak akan membuat Mama Maya dan Papa malu, karena kabur dihari pernikahan."

__ADS_1


"Ayo mbak, Bian sudah kebelet ini..!" Bianca menarik tangan Ayu.


"Pelan-pelan jalannya Bian, jangan nanti jatuh. Apa kau mau viral di dunia maya, pengantin terjatuh karena kebelet pipis," kata Ayu.


"Sudah mau keluar mbak."


Sampai toilet, Bianca langsung masuk kedalam toilet.


"Mbak, jangan tinggalin ya..!" seru Bianca dari dalam toilet.


"Iya, keluarin semua. Jangan ada yang tersisa," ujar Ayu.


Dua orang gadis masuk kedalam, dan membahas pernikahan Jonathan.


"Pengantin prianya sangat bodo ya, ada banyak gadis yang mengejarnya. Yang dipilihnya janda," ujar gadis yang yang sedang berkaca, memperbaiki makeup didepan kaca. Sedangkan temannya masuk kedalam toilet.


"Janda semakin terdepan, gadis tersingkirkan," sahut temannya dari dalam toilet dengan tertawa.


"Mereka menceritakan Bianca." batin Ayu.


Dalam toilet, Bianca juga mendengar apa yang dibincangkan oleh kedua wanita tersebut.


"Gara kesalahanku, mereka mengatakan aku janda dan menghina seorang janda. Walaupun aku seorang janda, apa salah jika seorang janda mengejar kebahagiaan yang belum didapatkannya." batin Bianca.


Bianca tetap berada didalam toilet, ada rasa tidak enak dalam dirinya. Jika keluar akan bertemu dengan orang yang membicarakannya.


Ayu tahu, Bianca tidak akan keluar. Karena itu, Ayu ingin sedikit bermain dengan kedua wanita itu.


"Iya, mbak sendiri tamu juga? tamu dari pihak mana?" tanya wanita yang sedang memperbaiki makeup, dan sedikit melirik Ayu dari atas sampai bawah. Kemudian kembali menatap dirinya didepan kaca.


"Dari pihak mana ya, saya juga bingung. Karena saya tidak mendapatkan undangan, saya datang saja tanpa perlu undangan," kata Ayu.


"Apa mbak ini tamu yang berpura-pura menjadi undangan untuk makan gratis?" ejek wanita yang baru keluar dari dalam toilet.


"Tidak perlu kondangan untuk mencari makan gratis mbak, saya datang ke sini untuk mencari cowok tampan dan tajir mbak. Saya ini janda Lo mbak, janda kembang. Kalau di senggol langsung bergoyang," ucap Ayu sembari menggoyangkan pinggulnya.


"Ada El tadi lebih seru ini." gumam Ayu.


Melihat tingkah Ayu, kedua gadis itu melihatnya dengan mencibir.


"Mbak, apa salahnya janda untuk menikah dengan pemuda? tidak ada salah mbak..! yang penting, keduanya belum terikat. Pak Joe jomblo, istrinya jomblo. Dan sebenarnya, sebenarnya saya tidak ingin menceritakan ini semua. Tetapi karena bibir mbak berdua tidak berhenti komat-kamit seperti bokong ayam, saya yang termasuk janes (janda enak sendiri) merasa tidak suka. Teman saya itu tidak janda, yang merawaninya saja Pak Joe. Sehingga menghasilkan bibit unggul."


"Kalau merasa tidak terpilih menjadi istri Pak Joe, jangan menjelek-jelekkan istrinya mbak..!" seru Ayu.


Ayu beranjak menuju toilet tempat Bianca.


Tok..tok..


"Bian, keluar! sampai kapan kau didalam? nanti suamimu yang jadi incaran kedua mbak ini dibawa lari..!" seru Ayu.


Pintu terbuka, Bianca keluar dengan sedikit menunduk.

__ADS_1


"Jangan menunduk!" jemari Ayu mengangkat dagu Bianca untuk tegak.


"Ayo, permisi..!" Ayu menarik Bianca untuk keluar.


"Hadapi dengan senyuman," ujar Ayu.


****


Di hotel, resepsi pernikahan Jonathan berlangsung meriah. Berbeda di rumah Riko dan Chelsea.


Sepulang dari sekolah Adella, Chelsea ngotot ingin meninggalkan rumah Riko. Dan akhirnya, Riko tidak melarang Chelsea untuk keluar dari rumahnya.


"Baiklah, jika kau sudah tidak nyaman dan tidak ada cinta untuk keluarga kita lagi. Aku akan melepaskan mu, untuk kau mencari kebahagiaan sejati mu.


Dengan wajah yang terlihat sedih, Riko mengucapkan kalimat keramat yang sebagian orang tidak ingin mendengar di ucapkan oleh mulut suami. Tetapi berbeda dengan Chelsea, ini kalimat yang sangat ini didengarnya dari dalam mulut suaminya.


"Aku talak kamu, detik ini kamu bukanlah istriku. Rumah tangga kita berakhir sampai di sini," ucap Riko dengan suara yang pelan, nyaris tidak terdengar.


Deg...


Perasaan Chelsea tiba-tiba tidak menentu, ada perasaan bahagia. Karena sudah terlepas dari belenggu pernikahan yang sudah tidak diinginkannya lagi, tetapi. Ada perasaan yang hilang tiba-tiba, karena dia akan keluar dari rumah yang sudah didiaminya hampir 8 tahun.


Setelah mengucapkan kalimat talak, Riko masuk kedalam kamar Della. Karena dia tadi sempat melihat Della mengintai dari pintu kamarnya, saat dia mengucapkan kalimat talak kepada Chelsea.


Riko membuka pintu kamar Della, dan melihat Della tidur. Dan terdengar suara tangisan.


Perasaan Riko sangat sedih, karena dia tidak bisa mempertahankan rumah tangganya.


Riko merebahkan tubuhnya dibelakang tubuh Della yang bergetar karena menangis.


"Maafkan Papa, karena telah membuat Della bersedih. Papa tidak bisa mempertahankan Mama disisi kita, sekarang. Kita tinggal berdua," ucap Riko sembari memeluk putri kecilnya.


"Ayo, kita pergi. Bawa yang ingin di bawa," ujar Riko pada Della.


Tok..tok..


"Masuk..!" titah Riko.


Pintu terbuka dengan masuknya Bik Santi, dengan perlahan. Bik Santi mendekat kearah Riko dan Della.


"Ada apa Bik?"


"Pak Riko, biarkan saya ikut. Saya tidak ingin berpisah dengan Della," ucap asisten rumah tangga yang merawat Della sejak kecil.


"Apa Bik Santi tidak ingin tinggal di sini bersama dengan Chelsea?" tanya Riko.


"Bu Chelsea tidak akan membutuhkan saya, Non Della yang masih membutuhkan saya," ujar Bik Santi.


"Baiklah Bik, tolong masukkan baju dan buku pelajaran Della. Kita akan pindah hari ini. Saya sudah membeli rumah di dekat kantor," kata Riko.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2