
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Ketika Riko keluar dari dalam kamar Della, dia berpapasan dengan Chelsea yang keluar dari dalam kamarnya dengan berpakaian yang berbeda dengan yang dipakainya saat pertemuan guru dan wali murid di sekolah Della tadi.
Chelsea berhenti, memandang kearah Riko. Tetapi Riko tidak melihatnya, jika biasanya Riko masih menyapanya. Kini tidak, rasa cinta Riko sudah hilang.
Riko masuk kedalam kamarnya, yang menjadi kamarnya. Sejak dia pulang dari luar kota.
"Rik..!" panggil Chelsea, tapi Riko tidak menanggapi keberadaan Chelsea. Riko masuk kedalam kamar. Dan terdengar suara pintu kamar yang dikunci.
"Maaf..!" lirih terdengar suara Chelsea.
Chelsea dengan cepat pergi keluar dari rumah dan masuk kedalam mobilnya, mobil yang dikemudikan oleh Chelsea melesat meninggalkan rumah. Sepasang mata menatap mobil Chelsea yang pergi dari balik tirai.
"Ini terakhir aku melihatmu, semoga kau bahagia. Maafkan aku yang terlalu egois mempertahankan kau yang tidak ingin bersama dengan kami lagi," kata Riko dengan suara yang bergetar, air matanya mengalir.
Riko dengan cepat menghapus air matanya.
"Aku tidak boleh bersedih," ujar Riko.
Riko mengambil koper, dan memasukkan baju-bajunya dan berkas-berkas pekerjaannya yang penting.
Satu jam kemudian, ketiganya sudah berada dalam mobil.
"Paa, apa kita tidak pamitan pada Mama?" tanya Della dengan sedih.
"Mama tidak ada di rumah," sahut Riko.
"Ayo masuk." titah Riko pada Della dan Bik Santi.
Akhirnya mobil Riko pergi dengan perlahan meninggalkan pekarangan rumah yang sudah lama didiaminya, walaupun rumah ini jerih payahnya untuk membelinya. Tapi Riko ingin, Chelsea yang memilikinya saat pengadilan memutuskan hubungan pernikahan mereka secara resmi.
***
Selesai resepsi, Mama Maya mentitahkan pasangan pengantin untuk menginap di hotel.
"Malam ini, kalian tidur saja di sini," kata Maya kepada pasangan pengantin baru.
"Menginap di sini! Bian tidak membawa baju ganti." tolak Bianca dengan alasan tidak membawa baju ganti.
"Jangan khawatir dengan baju ganti, Ayu sudah membawakan baju ganti untuk kalian berdua," ucap Maya.
"Ini Bian," ujar Ayu yang baru datang dengan membawa satu koper kecil, dan memberikannya pada Bianca.
"Mbak Ayu, Mbak kerjasama dengan Mama ya?"
Ayu hanya tertawa, dan mengacungkan dua jarinya ke atas.
__ADS_1
"Maa, Joi mau menginap di sini juga. Bayarin kamar Joi ya." rengek Joice yang sedang hamil besar.
"Kamu untuk apa menginap di hotel? Rumahmu tinggal loncat dari sini sudah sampai," ujar Mama pada putri sulungnya, yang sedang hamil anak kedua.
Tama, sang menantu tertawa mendengar perkataan mertuanya. Apartemen Tama dan Joice bersebelahan gedungnya dengan hotel tempat resepsi.
" Hih... Mama, nggak asik. Joi ingin merasakan tidur di hotel Maa..!" rengek putri sulungnya.
"Apartemen mu saja sudah mirip hotel, untuk apa nginap di hotel," kata Maya.
"Tam, pesan kamar untuk kita semua. Hari ini, kita bersenang-senang di hotel. Biar Papa yang bayar," ujar Budi Dwipangga, untuk menengahi perdebatan tak bermanfaat antara istri dan putrinya.
"Yea..! Papa is the best..!" seru Joice seraya mengacung dua jempolnya.
"Cepat mas, jangan sampai Papa berubah pikiran..!" tutur Joice pada sang suaminya.
"Papa, ikut..!" seru Yoan.
"Bawa saja Yoan mas, aku nggak bisa jaganya. Dia bergerak terus, anak wedok seperti Lanang," ujar Joice menyebutkan putrinya Yoan yang tidak bisa diam.
"Tam, ini ." Budi Dwipangga memberikan kartu pada sang menantu.
"Nanti saja Paa, pulangnya," ujar Tama.
"Hitung berapa orang kita Tam.." titah Budi Dwipangga pada sang menantu.
"Siap Paa," sahut Tama.
"Mama pelit..!" Joice mencebikkan bibirnya kearah sang Mama.
"Bukan pelit, hemat," sahut sang Mama.
"Joe, beri pada Mama Elvan. Biar El tidur dengan Mama dan Papa, kalian buat satu lagi untuk menambah cucu Mama," ujar Maya.
Wajah Bianca spontan memerah, Jonathan hanya mesem. Dia tahu, Bianca pasti tak ingin disentuh olehnya.
"Sini biar Papa gendong, jangan Mama. Nanti Mama kumat encoknya." ledek Papa.
"Biar Joe saja Paa, papa juga tidak akan sanggup lama mengendong Elvan," kata Elvan yang memangku.
Matanya lekat menatap wajah putranya yang terlihat sangat pulas tidur, jas yang dipakainya sudah dibuka. Karena Elvan merasa tidak bebas bergerak bermain jika memakai jas.
***
Bianca keluar dari dalam kamar mandi, langkahnya terhenti. Melihat Jonathan sudah berada didalam kamar dan telentang di atas ranjang, dengan serius Jonathan mengutak-atik ponselnya.
"Cepat sekali dia balik, aku kira dia lama di kamar mama." batin Bianca.
Bianca mengambil ponselnya dan membawanya menuju sofa.
__ADS_1
"Kenapa tidak tidur?" tanya Jonathan, saat melihat Bianca duduk di sofa .
"Belum ngantuk," sahut Bianca.
Jonathan turun dari ranjang, masuk kedalam kamar mandi. Keluar dari dalam kamar mandi, Jonathan hanya melilitkan handuk ditubuhnya. Bianca melihat Jonathan hanya mengenakan handuk melilit bagian bokong kebawah, membuat Bianca gugup. Wajah Bianca semakin menunduk menatap ponselnya.
"Kenapa dia tidak memakai bajunya? apa dia akan seperti itu sepanjang malam?" batin Bianca.
Melihat Bianca yang menunduk, Jonathan semakin semangat menggangunya. Jonathan berjalan didepan Bianca seperti mode memperagakan produk handuk.
Jonathan mengambil baju tidur berupa celana pendek, tanpa perduli ada Bianca. Jonathan membuka handuknya dan melemparkannya kearah Bianca, handuk yang dilemparkan Jonathan mendarat sempurna diatas kepala Bianca.
"Hei...!" Bianca menarik handuk yang menutupi wajahnya, dengan wajah yang marah Bianca ingin melemparkannya kembali kepada Jonathan.
Tetapi...
Bianca terperangah, saat melihat tubuh polos dihadapannya. celana tidur berada digenggaman tangannya.
"Oh...my God...!" Bianca spontan menutup mata, dan berteriak keras pada Jonathan.
"Apa mas tidak punya malu..? pakai bajumu..!" teriak Bianca dengan mata masih terpejam.
"Untuk apa kau malu? bukannya kau dulu pernah merasakannya, berapa kali pelepasan yang kau alami dulu?"
"Bagaimana? apa malam ini kau ingin mengulang kembali apa yang kita lakukan dulu, sekarang. Kita tidak butuh obat."
Bianca semakin gugup, saat merasa hembusan napas Jonathan menerpa wajahnya. Mata Bianca semakin merapat, dan bibirnya juga saling merapat.
"Bagaimana? pipimu terlihat merah, apa kau malu?" Jonathan meniup wajah Bianca, membuat Bianca merasa mengigil.
"Jawab." bisik Jonathan ditelinga Bianca, dengan usil Jonathan menjulurkan lidahnya dan menjilati telinga Bianca. Membuat Bianca merasakan sensasi yang berbeda, Bianca juga merasakan ada yang aneh dengan intinya terasa ngilu dan berdenyut.
"Aahh..!" desahhan keluar dari dalam mulut Bianca.
Membuat Jonathan yang mendengarnya, semakin bersemangat.
Melihat Bianca pasrah dan tanpa perlawanan, Jonathan mengangkat Bianca dan meletakkannya ke atas ranjang. Mata Bianca masih terpejam.
Jonathan mengungkung tubuh Bianca, dan berbisik di telinganya.
"Kita tidak membutuhkan obat untuk melakukannya." ucap Jonathan.
Tangan Jonathan mempreteli baju tidur Bianca, Bianca tersadar saat merasa tangan Jonathan membuka baju tidurnya. Mata Bianca terbuka dan melihat Jonathan yang sudah berhasil membuka kancing baju tidurnya.
"Apa yang mas mau lakukan?" Bianca memegang bajunya yang sudah terbuka, dan pengaman gunung kembarnya sudah terlihat.
"Kita akan mengulangi apa yang kita lakukan lima tahun yang lalu," ujar Jonathan.
"Dan semoga, kali ini menghasilkan juga." gumam Jonathan yang ingin mulai mengasah senjata perangnya yang mati suri, karena perbuatan Bianca lima tahun yang lalu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
Apakah kejadian yang lalu akan terulang kembali??