
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Mas..! Ini bukan termometer," ujar Bianca kesal.
"Kalau bukan, ini apa? Ini seperti termometer." Jonathan membolak-balik yang dianggapnya sebagai termometer.
"Mas ini! Kalau termometer, mana angkanya? tidak ada kan?"
"Biasanya termometer ada angka di sini, ini hanya ada garis dua," ujar Jonathan.
"Mas ini! alat ini saja tidak tahu...!" seru Bianca kesal, karena harapannya beda dengan apa yang dikhayalkannya.
Dalam khayalannya, begitu Jonathan melihat apa yang ada dalam bungkusan kado yang diberikannya. Jonathan kaget dan memeluknya.
"Mas tidak pernah tahu alat ini? untuk apa? alat ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang mas geluti," ujar Jonathan.
"Lihat! ini ada garis dua, dengan jelas..! tidak ngerti juga?" Bianca benar-benar kesal.
"Garis dua, seperti pernah dengar?" kening Jonathan mengkerut.
"Garis dua? Ini alat uji kehamilan, mas pernah lihat iklan.!" seru Jonathan dengan mata bulat sempurna menatap Bianca.
"Ihh...!" Bianca mendengus kesal menatap Jonathan yang seperti orang bingung.
"Punya siapa? Siapa yang hamil? Punya Mama? tidak mungkin Mama hamil." Jonathan bertanya, dan menjawab pertanyaan sendiri.
Mulut Jonathan bulat menatap wajah Bianca.
"Ini?" tanya Jonathan pada Bianca.
Bianca menganggukkan kepalanya, dan mengusap perutnya.
"Hamil? anak ? anak kecil?" tanya Jonathan dengan kebingungan.
"Bukan anak kecil, baby masih sekecil ini." Bianca menunjuk ujung kukunya.
"Hah...! aku punya anak lagi?" tangan Jonathan menguncang kedua bahu Bianca, saking senangnya.
"Mas! pusing kepala di guncang begini," ujar Bianca, seraya melepaskan pegangan tangan Jonathan dibahunya.
"Papa! Mama...!" spontan Jonathan loncat dari ranjang dan berlari menuju pintu dan keluar, sembari berteriak menuju kamar kedua orangtuanya.
"Gawat...! Bagaimana jika Mama akan masuk kedalam kamar, aku harus menyembunyikan bunga-bunga ini..!" seru Bianca.
Secepatnya, Bianca mengangkat vas bunga yang ada dalam kamar. Dan membawanya menuju walk in closet, tiga kali Bianca bolak-balik mengangkat vas bunga.
"Akhirnya, ahhh..! mas Joe, kelakuanmu membuat aku letih...!" seru Bianca seraya duduk di sofa.
Sedangkan Jonathan sedang melakukan keributan didepan pintu kamar kedua orangtuanya.
Duk..duk..duk...
__ADS_1
Tangan Jonathan memukul pintu kamar kedua orangtuanya, sambil berteriak-teriak.
"Paa, Mama...!" teriak Jonathan.
"Mama...!"
"Papa..!" teriak Jonathan.
Ceklek..
Pintu terbuka, wajah Budi Dwipangga dan Maya muncul. Keduanya melotot, menatap sang pembuat kekacauan.
"Ada apa Joe?" tanya Papanya sembari memijat keningnya, karena pusing dibangunkan oleh Jonathan secara tiba-tiba.
"Apa bunga Mama di curi lagi?" tanya Maya.
"Ahhh! ini berita bahagia, tidak ada hubungannya dengan pencurian bunga Mama..!" seru Jonathan.
"Ada apa, cepat katakan! apa kau ingin membangunkan kami, karena kami tidak mengucapkan ulang tahun padamu?" tanya Budi Dwipangga pada Jonathan.
"Ihh...! bukan itu, Joe tidak suka orang mengucapkan ulang tahun. Itu membuat Joe ingat, bahwa waktu Joe di dunia ini semakin berkurang," ujar Jonathan.( Joe, kita sama. Author juga tidak suka menerima ucapan selamat ulang tahun. Umur berkurang di dunia, koq diberi selamat ya Joe 🤣)
"Terus, apa?" tanya Maya.
"Joe hebat! Joe berhasil membuat Bianca hamil..!" seru Jonathan.
"Hah..!" bingung Budi Dwipangga.
"Aaa..!" Maya mendelikkan matanya, melihat Jonathan.
"Kau ada-ada saja Joe, menganggu tidur kami saja." gerutu Budi Dwipangga seraya ingin kembali masuk kedalam kamar kembali.
"Bukan Elvan Paa, Maa. Joe akan punya anak lagi, sekarang. Bianca hamil..!" seru Jonathan.
"Bianca hamil," ujar Maya dengan ekspresi wajah dan suara biasa saja.
Sedetik kemudian...
"Apa..!?" seru Maya dengan suara yang keras, begitu juga dengan Budi Dwipangga. Langkahnya kembali menuju pintu kamarnya.
"Bianca hamil..! ini, Jonathan memberikan tespek yang diberikan oleh Bianca sebagai kado ulang tahunnya tadi kepada Papa dan Mamanya.
"Ini, Mama pasti tahu ini apa kan? Papa pasti tidak tahu, ini apa kan? ini tespek Paa, bukan termometer. Ini alat untuk menguji kehamilan," ujar Jonathan pada sang Papa dengan serius, menerangkan benda pipih yang berada ditangannya tersebut.
Pletak...
Budi Dwipangga melayangkan tangannya memukul bahu Jonathan kesal.
"Kau kira Papa ini orang yang tidak tahu itu apa? Papa yakin, kau yang tidak tahu benda apa itu?" Budi Dwipangga balik bertanya pada sang putra.
"Papa tahu ini apa?" tanya Jonathan.
"Jelas tahulah..! waktu mamamu hamil anak pertama, Papa yang berburu tespek ke apotik. Papa membelinya dengan berbagai macam merek," ucap Budi Dwipangga dengan bangga.
__ADS_1
"Cukup membahas tespek, mana Bianca. Dia di kamar kan?" tanya Maya.
Tanpa menunggu jawaban Jonathan, Maya langsung bergegas menuju kamar sang putra. Budi Dwipangga juga pergi mengikuti Maya.
"Gawat..! bunga anggrek Mama masih ada didalam kamar," ujar Jonathan.
"Maa, Paa..!" panggil Jonathan.
Jonathan berlari kencang, untuk mencegah Mama dan papanya agar tidak masuk kedalam kamarnya.
Terlambat...
Kedua orangtuanya, kini sudah berada dalam kamar. Dan sedang memberikan selamat pada Bianca.
Jonathan melangkah dengan perlahan masuk kedalam kamarnya, matanya celingukan mencari-cari keberadaan vas bunga tempat bunga anggrek sang mama yang diambilnya.
"Selamat sayang, Mama dan Papa akan mendapatkan cucu lagi," ujar Maya dan memberikan kecupan dikedua belah pipi Bianca.
"Terima kasih Maa, Paa," ujar Bianca.
"Bian, apakah anak itu tadi tidak mengetahui tespek?" tanya Budi Dwipangga seraya menunjuk Jonathan yang celingukan masuk kedalam kamar.
Bianca menggelengkan kepalanya.
"Dasar anak bodo, itu saja tidak tahu." ledek sang Mama.
"Mana bunga anggrek semua?" batin Jonathan.
Bianca yang melihat mata Jonathan jelalatan, tahu. Apa yang di cari sang suami.
"Mas Joe pasti mencari bunga curiannya." batin Bianca.
"Joe sini." Budi Dwipangga memanggil Jonathan, agar duduk di sisinya.
Jonathan meletakkan bokongnya disamping Papanya, tapi matanya terus mencari keberadaan bunga-bunganya.
"Joe, mulai sekarang. Kau harus mengurangi pekerjaanmu, ingat. Waktu Bianca mengandung Elvan, kau tidak mendampinginya," kata Budi Dwipangga.
Deg..
Perasaan Jonathan terasa tercubit, saat diingatkan mengenai Elvan. Jonathan bangkit dari duduknya, dan jongkok di depan Bianca. Jonathan menggenggam tangan Bianca.
"Joe tidak ingin kehilangan moment-moment itu lagi," ujar Jonathan seraya menatap Bianca dengan lekat.
"Bian mau makan apa, katakan saja ya. Mama juga tidak ingin kehilangan peran sebagai Oma, dalam kehamilan cucu ini. El dulu, kami tidak ada ikut berperan," ucap Maya.
"Hamil El dulu, tidak merepotkan. El sangat baik, Bian tidak ada menginginkan apapun juga. Bian bisa bekerja saat itu." Bianca menceritakan, saat hamil Elvan. Dia sibuk bekerja membangun usaha peternakan bebek dan membuat telur asin.
Mendengar cerita Bianca, perasaan Jonathan begitu terenyuh. Jonathan yang biasanya cuek dengan sekitar, perasaannya gampang sedih.
*
*
__ADS_1
*
...BERSAMBUNG...