Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Sudah punya Ayah


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Bebek Elvan punya ayah, Elvan juga punya ayah. Ini ayah Elvan," ujar Jonathan dengan menunjuk dirinya.


"El sudah punya ayah bebek, El tidak mau punya ayah yang lain. Cukup ayah bebek saja," ujar Elvan.


"Aaa.." Jonathan bengong menatap Elvan, kemudian dia menatap Bianca yang berdiri didekat Elvan.


"Apa kau tidak pernah mengatakan kepada Elvan mengenai Papanya?" Tanya Jonathan.


"Tidak! Untuk apa? Karena aku merasa dia tidak membutuhkan sosok laki-laki, aku bisa jadi ibu sekaligus ayah untuk Elvan," kata Bianca.


"Kau sangat tidak adil, kau menutupi aku sebagai ayahnya," ujar Jonathan kesal.


"Hei Tuan..! tarik kata-kata tidak adil itu dari mulutmu, apa kau lupa. Kau tidak mengizinkan aku untuk hadir dihadapanmu dan keluargamu..! dan kau mengharamkan aku muncul dihadapmu..!" balas Bianca tanpa ada rasa takut sedikitpun sekarang, mungkin rasa takutnya sudah terlalu banyak. Hingga Bianca kebal.


Bianca tersadar, begitu melihat Elvan masih berada didekat mereka. Dengan mata bulatnya menatap dua orang dewasa yang sedang berdebat dihadapannya.


"El, sana pakai bajunya," ujar Bianca.


Elvan pergi meninggalkan keduanya yang masih ingin melanjutkan perdebatannya.


Jonathan berdiri dan menarik tubuh Bianca.


"Hei, kau mau bawa kemana aku?" Bianca meronta, agar terlepas dari pegangan tangan Jonathan.


"Diamlah," Jonathan menarik Bianca kedalam ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamarnya dan kamar Elvan.


Jonathan mendudukkan Bianca di sofa, sedang dia sendiri duduk di kursi meja kerjanya.


Bianca ingin berdiri, karena melihat Jonathan sibuk dengan laptopnya.


"Duduk..!" titah Jonathan.


"Untuk apa aku di sini? apa aku kau suruh untuk melihatmu bekerja?" tanya Bianca dengan menampilkan wajah jutek menatap Jonathan.


Jonathan menutup laptopnya, dan beranjak mendekati Bianca duduk.


"Kenapa sekarang kau sangat tidak sopan memanggil orang yang lebih tua darimu? di mana hilangnya sopan santun mu dulu?" tanya Jonathan seraya meletakkan bokongnya di sofa didepan Bianca duduk.


"Sepertinya, otakmu bermasalah. Aku ingat, kau tidak mengizinkan aku memanggilmu dengan sebutan MAS.." Bianca menekankan kata mas dari ucapannya.


Jonathan terdiam, dia menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sekarang, detik ini dan hari ini. Kau harus panggil aku seperti dulu." titah Jonathan.


Bianca tidak menanggapi ucapan Jonathan, dia pura-pura membersihkan ujung kukunya.


"Bian..! dengar apa yang aku katakan..!"

__ADS_1


"Iya, aku tidak tuli," sahut Bianca.


"Mana kartu tanda penduduk dan akte kelahiran mu?" tanya Jonathan.


"Untuk apa? apa kau ingin mengajukan pinjaman dengan memakai namaku?"


"Aku tidak memerlukan pinjaman uang dengan mengandalkan dirimu, mana surat-surat itu semua?" tanya Jonathan.


"Aku tidak membawanya."


"Kau tidak membawa kartu tanda penduduk?" tanya Jonathan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bianca.


"Iya," sahut Bianca.


"Kau jangan bohong Bianca, awas jika aku menemukannya dalam tasmu ," kata Jonathan.


"katakan dulu, untuk apa kau membutuhkan itu semua?" tanya Bianca.


"Untuk mengurus izin nikah," jawab Jonathan.


"Mas Joe serius ingin menikah denganku?" tanya Bianca dengan memanggil Jonathan seperti dulu, mas Joe.


"Bagus, kau sudah mulai sopan dengan orang yang lebih tua," kata Jonathan.


"Aku lupa," ujar Bianca.


"Teruskan lupamu, ingat. Panggil aku mas, jika tidak. Aku akan membawa Elvan jauh darimu." ancam Jonathan.


"Kita tidak perlu menikah, aku akan mengatakan pada Elvan. Siapa keluarga pihak ayahnya," kata Bianca.


"Senang sekali kau mendengar orang menyebut Elvan anak diluar nikah, anak haram. Bagaimana perasaannya jika besar nanti, dia tidak mempunyai akte kelahiran. Bagaimana jika dia tahu, bahwa ibunya sendiri yang menutupi keberadaannya dari sang ayah? dia akan membencimu...!"


"Apa kau suka, Elvan tidak memiliki seorang ayah? kalau begitu, kau itu ibu yang kejam. Sekarang ini dia masih kecil, belum mengerti itu semua. Tetapi begitu dia melihat seorang anak dengan seorang Ayahnya, sedangkan dia tidak memilikinya. Apa yang akan kau katakan, jika dia bertanya?" tanya Jonathan dengan memberikan tatapan mata yang tajam menatap wajah Bianca.


Bianca menundukkan kepalanya, pertanyaan Jonathan tidak pernah dipikirkannya. Yang penting, dia merasa Elvan bahagia. Semua kebutuhannya terpenuhi, yang lain tidak pernah ada dalam pikirannya.


"Kenapa diam..!" bentak Jonathan.


Bianca terhentak, mendengar suara Jonathan yang tinggi dengan membentaknya.


"Selama ini aku tidak mengerti, kenapa kau menjebakku?" tanya Jonathan.


"Jawab Bianca!" titah Jonathan dengan nada keras.


"Aku..." ucapan Bianca terhenti.


Tok...tok..tok...


Bianca menarik napas lega, karena ketukan dipintu membebaskannya dari pertanyaan Jonathan yang sangat sulit untuk di jawabnya.


Jonathan mengambil remote, dan kemudian pintu terbuka dengan sendirinya.

__ADS_1


"Den Joe dan Non Bianca, ditunggu di bawah dengan oleh Nyonya," ujar Salma.


"Iya," sahut Jonathan.


Bianca merasa ada kesempatan, langsung ngacir keluar dari dalam ruang kerja Jonathan.


"Hei...aku belum selesai bicara..!" teriak Jonathan, mencegah Bianca untuk keluar.


"Akhirnya, aku selamat." gumamnya.


"Mbak Salma, apa Elvan dibawah bersama dengan Tante Maya?" tanya Bianca yang berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Salma yang terlebih dahulu keluar dari ruang kerja Jonathan.


"Den Elvan pergi dengan Tuan Non, katanya tadi pergi ke pasar unggas," sahut Salma.


"Pasar unggas? gawat, El pasti beli banyak peliharaan," ujar Bianca.


"Tidak apa-apa to..Non, Tuan sangat suka menyenangkan cucu. Apalagi dengan cucu laki-laki, Tuan cocok. Selama ini, cucu Tuan baru Non Yoan. Non Yoan suka main boneka, tidak mungkin Tuan main boneka dengan Nona Yoan," ucap Salma sembari tertawa ngekeh.


"El kalau dituruti, bisa semua hewan dibelinya mbak," kata Bianca mengenai Elvan yang suka hewan unggas.


***


Bianca menuju ruang keluarga, dan melihat Maya duduk sendiri sembari melihat ponselnya dengan serius.


"Tante memanggil Bian?" Tanya Bianca.


Maya menggerakkan tangan, agar Bianca duduk disampingnya.


"Sini," ujar Maya menepuk sofa di sisinya.


"Mana Joe, Bian?" Tanya Maya.


"Masih diatas Tante," sahut Bianca.


"Apa Joe sudah memberitahukan, pernikahan kalian di adakan Sabtu. Minggu depan," ucap Maya.


"Minggu depan! Apa tidak terlalu cepat Tan?" Tanya Bianca.


"Kalau menuruti keinginan, Tante ingin hari ini saja diadakan pernikahan," ucap Maya dengan tertawa.


Bianca hanya menampilkan senyum kecil dibibirnya.


"Oh ya, sekarang Bian manggil jangan Tante ya. Panggil saja Mama, oke. Tidak ada bantahan..!" seru Maya.


Bianca yang baru ingin membuka mulutnya, terpaksa menutup mulutnya kembali.


Jonathan datang dengan wajah kusut, matanya melotot melihat Bianca.


""Kenapa kusut? tidak dapat jatah ya? sabar, tunggu halal dulu. Nanti sudah halal, semalam suntuk main di kasur tidak akan ada yang ganggu..!" ucapan Maya yang ceplas-ceplos, membuat Bianca tertunduk malu.


Jonathan, santai saja. Karena dia sudah tidak kaget lagi mendengar perkataan sang Mama yang fulgar menurut Bianca, tapi menurut Jonathan. Biasa saja.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2