
Happy reading guys π₯°
πππ
"Mama kenapa?" tanya sang suami, karena mendengar sang istri ngedumel pada Salma.
"Ini Salma, sudah Mama suruh kirim kartu undangan ini. Bukan semua yang dikirim, Tuh.. ketinggalan." bibir sang istri memonyongkan bibirnya kearah undangan yang tertinggal.
"Sabar Maa, masih ada waktu. Undangan untuk para guru sudah dikirim Maa?" tanya Budi Dwipangga.
"Bagaimana mau dikirim, namanya saja belum Papa beri. Apa dikirim undangan tanpa nama ?" jawab Maya .
"Oalah.. Papa lupa Maa, ini Mama daftar nama guru-guru yang diundang.
Zineta Rayna Nadyne.
Queen Al
Tifara
Mhy_Na
Nesa
Hasanah Hasanah
Ane
Indah
Wahyu Agung
Ludhafi Permatasari
Ririn Adnan
Tompelalla kriwieal'TK.
Sumiatun
Green nayra
"Hanya ini Paa, tidak ada yang ketinggalan?" tanya Maya.
"Iya, nanti Papa ingat lagi. Siapa yang akan Papa undang."
"Jangan lama mikirnya Paa, besok undangan mau disebar lagi," ujar Maya seraya menulis nama orang yang akan diundang, di sampul undangan.
"Iya," sahut Budi Dwipangga.
"Salma, ini undangan yang sudah ditulis. Tolong kirim, jangan lupa..!" titah Maya.
"Baik," sahut Salma.
"Maa, Mertua Joice sudah diberikan undangan. Jangan lupa," ujar Budi Dwipangga.
"Sudah Paa, saudara Tama. Itu urusan Joice," sahut Maya.
__ADS_1
"Papa mau main dengan Elvan, Papa pusing bahas undangan." Budi Dwipangga pergi meninggalkan Maya.
"Dasar suami mau enak sendiri, mau mengundang banyak orang. Tapi nggak mau bantu." gerutu Maya.
***
Yunita masuk kedalam rumah, dan melihat ada surat undangan di atas meja di samping pintu masuk utama.
"Undangan." Yunita mengambilnya dan membuka sampul surat, matanya membola. Saat melihat nama yang tertera di kartu undangan.
"Bianca..!"
"Gila itu orang. !" teriak Yunita.
"Ada apa Nit..?" tanya Mamanya dari arah dapur, karena mendengar suara teriakan Nita.
Yunita bergegas menuju dapur, dengan membawa undangan yang baru dibacanya.
"Ini Maa, siapa yang mengantarkan undangan ini ke rumah?" Yunita menunjukkan undangan yang dipegangnya.
"Kurir yang nganter," jawab Mamanya.
"Akhirnya, nikah juga dia dengan cinta pertamanya." gumam Yunita.
"Itu Bianca teman mu dulu yang sering datang kesini ya ?" tanya Mamanya.
"Iya Maa, tetapi begitu Papanya meninggal. Nita kehilangan jejaknya."
"Besok itu nikahnya," kata sang Mama.
"Iya Maa, bingung Nita jadinya ini. Besok ada pertemuan dengan orang tua murid, tidak mungkin Nita batalkan. Bisa-bisa Nita kena surat SP dari kepala sekolah."
"Pagi Maa," sahut Nita.
"Kalau begitu, seusai pertemuan pergi ke pesta pernikahan. Biasanya pesta resepsinya sampai malam," kata Mama Yunita.
"Betul juga ya Maa, Mama pintar," ujar Yunita.
"Baru tahu, otak Mama ini encer. Dari dulu, Mama ini rangking 4 dalam kelas," ujar Mama Yunita.
"Woo...! baru tahu Nita, Mama itu dapat rangking. Rangking 4 lagi, Nita saja tidak pernah dapat rangking. Nilainya saja pas-pasan."
"Ya, Mama dapat rangking. Tapi rangking 4 dari belakang." ngekeh Mama Nita.
"Mama! Nita kira benar-benar dapat rangking dikelas, ternyata rangking 4 dari belakang. Berapa murid Maa?"
"Berapa ya? Mama lupa, mungkin 30 orang murid."
"Ih..itu termasuk bodo Maa." Yunita mencebikkan bibirnya kesal kepada Mamanya.
"Mama bukan bodo! tapi malas..!" balas Mama Nita.
"Sama saja..!" seru Yunita seraya meninggalkan sang Mama di dapur dengan kesibukannya.
***
Jonathan berada di kamar sepanjang hari, bukan karena gugup besok acara pernikahannya. Tetapi karena Jonathan membersihkan lemarinya dengan masa lalu.
__ADS_1
Jonathan membongkar lemarinya, dan ingin membuang gambar kebersamaannya dengan Chelsea.
Jonathan duduk, dan dihadapannya berserakan gambar dirinya saat liburan dengan Chelsea diberbagai negara. Karena Chelsea sangat suka melakukan traveling, sehingga Jonathan selalu menuruti keinginan Chelsea jika ingin traveling ke negara yang sangat ingin dikunjunginya.
"Semoga ini keputusan yang terbaik yang aku ambil, aku tidak melupakanmu. Tapi aku harus melanjutkan hidupku." Jonathan berbicara sembari menatap wajah Chelsea dengan lekat.
Jonathan memasukkan gambar-gambarnya dengan Chelsea kedalam satu kotak, dan meletakkannya kedalam kotak sampah yang ada didalam kamarnya.
Jonathan mengeluarkan gambar Chelsea dalam bingkai foto, kemudian memasukkan gambarnya dengan Elvan. Dan meletakkannya di atas nakas di samping ranjang.
"Selamat tinggal masa lalu." gumamnya.
***
Yunita duduk didalam ruang kelas, tempat dia mengajar murid-muridnya. Dan dihadapannya hanya tersisa beberapa orang tua wali murid lagi, selebihnya. Yang sudah mendengar perkembangan putra dan putrinya segera meninggalkan ruangan, karena rata-rata mereka semua pekerja.
"Terima kasih Bu Nita, Maureen sekarang sudah menjadi anak yang lebih mandiri," ucap orang tua Maureen.
"Sama-sama Bu, saya senang Maureen mau mendengar apa yang saya katakan.
Diluar ruangan, sepasang suami istri datang dengan wajah yang tidak sedap dipandang mata. Keduanya seperti sedang menghadiri persidangan perceraian.
Mereka adalah Riko dan Chelsea, kedua akhirnya datang bersama. Setelah bersitegang dari rumah sampai di sekolah. Keduanya berdebat, tanpa memikirkan ada sepasang telinga anak kecil duduk di jok belakang mobil. Mendengar keduanya bertengkar.
Tidak seperti biasanya, Riko selalu mengalah. Hari ini, kesabaran Riko sudah sampai level terendah, dia tidak bisa merendahkan diri lagi. Sebagai laki-laki, Chelsea sudah melukai harga dirinya.
Riko berjanji, ini yang pertama dan terakhir kali Chelsea pergi bersama dengannya. Baru Chelsea mau pergi ke sekolah Adella.
Setelah orang tua Maureen dan yang lain keluar, Riko dan Chelsea masuk. Karena Chelsea tidak ingin bertemu dengan orang tua wali murid yang lain, mereka datang paling akhir.
Begitu melihat Adella datang dengan Riko dan Chelsea, Yunita kaget.
"Adella anak Chelsea? ternyata dia sudah menikah." batin Yunita.
Yunita mempersilakan keduanya untuk duduk, Yunita gugup. Takut Chelsea mengenalinya. Tapi Chelsea sedikitpun tidak melihat kearahnya.
"Halo Adella." Yunita menyapa Adella yang duduk di antara kedua orang tuanya.
"Hai Bu Nita," sahut Della dengan gembira.
"Selamat pagi Bu, Pak." sapa Yunita pada kedua orang tua Adella.
"Pagi Bu, maaf. Kami telat," ujarΒ Riko.
Sedangkan Chelsea, wajah tidak ramahnya hanya terfokus pada ponsel ditangannya.
Yunita memberitahukan tentang perkembangan Adella dalam belajar, dan mengatakan agar membantu Adella dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan.
"Selama ini, Della tidak pernah selesai mengerjakan tugas rumah," ucap Yunita.
"Della tidak tahu Bu," ujar Della dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf Bu, kedepannya. Saya akan memperhatikan pendidikan putri saya," sahut Riko, sedangkan Chelsea tidak merespon apapun yang dikatakan oleh Yunita. Dia sibuk dengan ponselnya dan dunianya sendiri.
Begitu kedua orang tua Adella dan Adella keluar dari ruangan tempat pertemuan, Yunita menghela napas.
"Apa orang itu ada gilanya, dia tidak perduli dengan orang di sekitarnya. Adella sudah berusia 7 tahun, tandanya. Saat dia pacaran dengan Jonathan, dia sudah menikah? atau Adella bukan putri kandungnya? makanya, dia tidak perduli dengan Adella." Yunita berpikir keras memikirkan apa yang baru diketahuinya.
__ADS_1
"Bianca, saingan cintamu ternyata sudah menikah. Kau tidak perlu khawatir, Jonathan akan berpaling darimu. Akhirnya, kau pemenang hati Jonathan." Yunita tersenyum sendiri, membayangkan kebahagiaan temannya tersebut.
...Bersambung...