Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Nyai ratu marah.


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Angkat saja." titah sang suami.


"Ya Salma," jawab Maya, pada sang asisten rumah tangga dari sambungan telepon.


"Apa? kapan? kenapa?" pertanyaan beruntun keluar dari dalam mulut Maya.


"Kurang ajar! aku akan menghajar perempuan itu! aku tidak akan perduli, namaku akan viral..!" seru Maya pada Salma yang menghubunginya.


Maya memutuskan sambungan telepon, dan turun dari ranjang dan langsung berdiri didepan sang suami yang menatapnya dengan pandangan mata yang menunggu. Apa yang akan dikatakan sang istri yang dalam keadaan emosi.


"Ayo kita kembali..!" seru Maya dengan berkacak pinggang menatap wajah sang suami yang bingung, karena belum tahu. Apa yang menyebabkan sang istri murka, begitu menerima telepon dari sang asisten rumah tangga. Dan ingin kembali pulang.


"Maa, rileks, Tarik napas dan buang secara perlahan-lahan," ucap sang suami.


"Ceritakan, ada apa?" tanya sang suami.


"Ahhhrghhh..! tidak ada waktu buang napas tarik napas, kita harus kembali. Secepatnya..!" seru Maya kesal pada sang suami, yang menyuruh dia untuk rileks.


"Ada apa Maa? apa yang dikatakan oleh Salma? apa koleksi bunga anggrek Mama hilang, di curi maling?' tanya sang suami.


"Ini melebihi bunga Paa, Salma bilang. Bianca pergi dengan membawa Elvan...!"


"Pergi? kemana?" tanya Budi Dwipangga.


Maya menceritakan apa yang dikatakan Salma padanya melalui sambungan telepon tadi.


"Apa betul dia pergi? mungkin saja Bianca liburan, seperti yang dikatakannya pada Salma," kata Budi Dwipangga.


"Pergi Paa, Bianca pergi! gara-gara anak Papa itu..! dia meninggalkan surat untuk Mama Paa..!" seru Maya dengan suara yang bergetar, dan matanya sudah mengalirkan air bening.


"Apa isi suratnya?" tanya sang suami.


"Salma saya suruh buka dan bacakan, Bianca hanya mengucapkan terima kasih. Karena telah baik padanya, nahh..Paa. Itu tandanya, Bianca pergi..! dia bukan liburan..!"


"Ayo, kita katakan pada Joi dan Tama. Apa yang harus kita lakukan, tidak mungkin kita pulang Maa. Baru saja kita sampai," ucap sang suami.


"Mama akan pulang, jika Papa tidak mau. Terserah..!" seru Maya seraya meninggalkan sang suami yang masih duduk di kursi yang ada di dalam kamar.


"Maa! mau kemana?" panggil sang suami.


"Mau menemui Joi..!" jawab Maya ketus seraya berlalu dari dalam kamar.

__ADS_1


"Joe.. Joe..! kau membuat nyai ratu ngamuk." gumam Budi Dwipangga seraya keluar dari dalam kamar, mengikuti sang istri yang sudah terlebih dahulu keluar.


Maya menceritakan apa yang dikatakan Salma kepadanya, dengan sangat emosional. Air mata sudah mengalir tanpa dapat dibendungnya lagi.


"Joe ini, selalu saja membuat masalah! apa sebenarnya yang diinginkannya? apa dia ingin kembali pada wanita itu ?" Joi kesal mendengar cerita sang Mama.


"Jangan harap Mama mau merestuinya, Mama akan membuang dia. Mama tidak perduli, walaupun dia anak laki-laki satu-satunya..!" seru Maya kesal.


Kedua orangtua Tama melihat Maya, mertua sang putra dengan lekat, karena tidak pernah melihat amarah Maya begitu besar kepada putranya.


"Maa, tenang dulu. Kita tidak tahu pangkal masalah penyebab Bianca pergi dari rumah, mungkin karena ada masalah dengan ternak bebeknya," ujar Budi Dwipangga.


"Papa ini, jika hanya masalah dengan ternak bebeknya. Tidak mungkin Bianca mematikan ponselnya, dalam suratnya. Dia pergi Paa..! Mama mau pulang sekarang juga..!" seru Maya.


"Maa, ini sudah malam," ujar sang suami.


"Naik pesawat!" seru Maya kesal, hingga dia lupa. Rumah mertua Joi tidak ada disinggahi pesawat, melintas dari langit saja pesawat tidak ada.


"Sejak kapan ada pesawat mendarat sampai kekota ini?" tanya Budi Dwipangga pada istrinya.


"Naik mobil..!" Maya tetap kekeuh ingin kembali malam ini juga.


"Baru sampai Maa, masa mau langsung kembali," ujar sang suami.


"Paa, biarkan Mama kembali. Joi juga tidak tenang di sini, di mana Bianca dan Elvan." timpal Joi, mendukung keputusan sang Mama untuk pulang sesegera mungkin.


Kemudian Joi juga menghubungi nomor Bianca, juga tidak diangkat.


Tama juga membantu sang istri untuk menghubungi Jonathan, seperti Joi. Telepon Jonathan juga tidak dapat dihubungi.


"Iya, Mas Budi. Pakai sopir dua, jika takut kelelahan di tengah jalan," ucap mertua Joice, Papa Tama.


"Tuh.. Paa, ayo cepat. Kita bersiap-siap..!" ucap Maya tidak sabar.


"Mas besan, mbak besan. Maaf ya, kami harus kembali. Saya tidak tenang ini," ujar Maya meminta maaf kepada mertua Joi.


"Ya Mbak Maya, saya mengerti. Kalau saya dalam posisi mbak Maya, mungkin saya sudah berada di rumah sakit sekarang ini," ucap Mama Tama, Utami.


"Untung putra mas besan, dan mbak besan tidak seperti Joe," ujar Maya kesal.


Maya tidak pernah menutup-nutupi kelakuan putra dan Putrinya jika bermasalah, dia merasa. Aib itu tidak akan bisa ditutupi selamanya, daripada orang tahu dari omongan orang. Lebih bagus mereka tahu dari mulut sendiri.


*


*

__ADS_1


"Paa, apa kita bisa ketemu dengan Mama?" tanya Adella.


"Apa Della rindu Mama?" tanya Riko.


Adella mengangguk, walaupun Chelsea tidak pernah memperdulikan keberadaannya. Tapi, Adella tetap merindukan keberadaan sang Mama.


"Baiklah, kita menjenguk Mama. Tapi ingat, jika Mama tidak memperdulikan Della. Della harus tetap...?" Riko tidak melanjutkan ucapannya, dia ingin Della yang melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.


"Menyayangi Mama." Della melanjutkan ucapan Riko yang terputus.


Riko membawa Della untuk mengunjungi rumah lama, yang sekarang. Chelsea yang mendiaminya.


Sampai didepan gerbang, Riko turun. Karena dia tidak mempunyai kunci untuk membuka pintu gerbang.


Riko menekan bel berkali-kali, tetapi tidak ada pergerakan dari dalam rumah. Lampu teras terlihat padam, padahal hari sudah menjelang malam.


Riko kembali menuju mobilnya, dan masuk kedalam.


"Mama sepertinya tidak ada di rumah," ucap Riko pada Adella.


Terlihat raut wajah kecewa Adella, karena dia tidak bisa bertemu dengan sang Mama untuk terakhir kalinya. Sebelum dia berangkat ke Perth.


"Mungkin Mama sedang sibuk bekerja, jam begini. Restoran lagi sibuk-sibuknya," kata Riko, agar Adella tidak kecewa. Karena tidak ketemu dengan Mamanya.


"Bagaimana? apa kita tunggu? kita tidak tahu, jam berapa Mama akan pulang," kata Riko.


"Sudahlah Paa, mungkin Della tidak ditakdirkan untuk bertemu dengan Mama," ucap Della dengan suara terdengar sedih.


"Anak Papa jangan sedih, Papa ada kabar gembira," ujar Riko pada Adella.


"Kabar gembira? apa Paa?" tanya Adella dengan tidak sabar, kabar apa yang akan disampaikan oleh Papanya.


"Nenek akan ikut besok kita ke Perth," ujar Riko.


"Hah..! betul Paa?" wajah Adella tadi sedih, kini terlihat gembira. Karena sang Nenek, Mamanya Chelsea akan ikut mereka pindah ke Perth.


"Betul, Papa tidak bohong. Tapi, Nenek tidak akan selamanya tinggal di Perth. Jika Nenek rindu sini, nenek akan kembali ke sini," kata Riko.


"Paa, bagaimana. Kita kerumah nenek saja," kata Adella.


"Ayo, mungkin saja Mama di rumah nenek," ujar Riko.


Aduh.. kasihan Chelsea, dia akan hidup sendiri. Karena telah menyia-nyiakan orang-orang yang menyayanginya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...🌟🌟🌟...


__ADS_2