
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Tante Maya, Bianca sakit," ujar Ayu sekembalinya dari mengambil tasnya.
"Hah...! Sakit..!" teriak Maya dengan heboh, sehingga membuat sang suami Budi Dwipangga menepuk jidatnya.
"Maa, kenapa teriak begitu keras. Sarapan yang Papa makan saja sampai kaget, mau keluar lagi," ujar sang suami.
"Ihh.. Papa ini, Papa lupa. Mantu kita itu kalau sakit sering mengingau..!" seru Maya yang sangat mengingat kebiasaan Bianca sakit sedari kecil.
"Sudah Ayu kasih minum obat Tante, sekarang sedang tidur," ujar Ayu.
Maya tidak mendengarkan ucapan Ayu, dia bergegas naik menuju kamar Bianca.
Ceklek..
"Bian..!" Maya langsung duduk di sisi ranjang dan memegang keningnya.
"Panas sekali, telur saja matang ditempelkan di kening mu Bianca," ujar Maya.
"Bian, kita ke dokter ya?" Maya mengelus pundak Bianca.
"Mas Joe, peluk." Bianca memegang tangan Maya, dan membawanya melekat pada dadanya.
"Nah..! Ini Mama Bian, bukan mas Joe," ujar Maya.
Bianca tidak merespon ucapan Maya, dia semakin menarik tangan Maya kearah pipinya.
"Jonathan ini! istri sakit, main tinggal saja." Ketus Maya mengomeli sang putra.
Satu tangannya dipegang dengan erat oleh Bianca, satunya dipergunakannya untuk menghubungi Jonathan.
"Wow..! Istrimu sakit ini..!" seru Maya kesal, karena Jonathan tidak mengangkat ponselnya.
"Untuk apa ada ponsel, kalau tidak diangkat..!" ucap Maya dengan geram.
"Salma..! datang kekamar El..!" titahnya menghubungi asisten rumah tangganya.
Hanya membutuhkan waktu seperkian detik, Salma sudah berada didalam kamar Elvan.
"Ada apa Nyah? Loh.. kenapa Non Bianca?" tanya Salma, saat melihat Bianca menarik tangan Maya. Dan melekatkannya pada pipinya.
"Sakit, sini tangan kamu," ujar Maya.
"Untuk apa Nyah?" tanya Salma heran.
"Pinjam sebentar..!" seru Maya.
"Pinjam? kalau tangan dipinjam, Salma tidak punya tangan Nyah..!" seru Maya dengan menyembunyikan tangannya dibalik punggungnya.
"Ihh..pinjam, bukan di copot tangannya Salma..! untuk gantikan tangan saya ini, saya mau menghubungi dokter. Lihat ini, tangan saya dipeluk Bian..!" seru Maya dengan kesal pada Salma.
"Ohhh..!" ujar Salma dengan mulut bulat.
Setelah berganti tangan, Maya keluar dari dalam kamar. Mencari keberadaan sang suami.
"Paa, badan Bianca panas sekali. Joe mama hubungi tidak mengangkat ponselnya, Papa hubungi dokter." titahnya pada sang suami.
"Kenapa tidak kita bawa ke dokter saja Maa," ujar sang suami.
__ADS_1
"Bianca tidak suka rumah sakit Paa, sejak Mamanya meninggal. Dia sangat tidak menyukai yang namanya rumah sakit," ujar Maya.
"Mungkin itu semua sudah berubah Maa, itu waktu dia masih kecil," ujar Budi Dwipangga.
"Kita cari aman saja Paa, hubungi dokter, suruh datang segera mungkin..!" titah Maya.
"Iye," sahut sang suami, menuruti sang istri.
*
*
"Mas Anton, kenapa mas yang menjadi bodyguard?" tanya Ayu yang kaget, begitu keluar dari dalam rumah. Antonio, teman Jonathan sudah menunggunya di samping mobil dengan memakai baju jas yang serba hitam dari atas sampai bawah.
Antonio yang duduk di jok depan di samping Pak Udin yang di beri tugas sebagai sopir untuk mengantarkan Elvan dan Bianca kemanapun ingin pergi.
"Kenapa Yu, apa saya tidak cocok menjadi bodyguard?" Antonio balas bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Ayu.
"Cocok mas, Ayu heran saja. Apa restoran mas Anton sudah bangkrut?" tanya Ayu.
"Ih.. amit-amit Yu!" seru Antonio dengan mengetukkan jemarinya ke pintu mobil.
"Restoran chef Antonio tidak akan pernah bangkrut," ujar Antonio.
"Terus kenapa melamar jadi bodyguard?"
"Itu karena belum dapat bodyguard yang sesuai, Jonathan itu minta bodyguard yang sudah mati rasa dengan perempuan. Lah..di mana dapat bodyguard begitu?"
"Mati rasa?" Ayu tidak mengerti.
"Jonathan takut, bininya di goda bodyguard," ujar Antonio.
"Maksudnya, bodyguard harus yang tidak tertarik dengan wanita ya Mas..?" tanya Ayu.
"Iya," sahut Antonio.
"Mas Joe ada-ada saja, karena mas Anton yang menjadi bodyguard. Apa Mas Anton..?" Ayu tidak meneruskan ucapannya.
"Hei..! Aku masih normal Yu..!" seru Antonio.
Pak Udin tertawa mendengar ucapan Antonio yang panik, karena dituduh Ayu ada kelainan.
"Ayu kira mas Anton ada sesuatu.." Ayu tertawa ngekeh.
"Aku jadi bodyguard karena belum ada bodyguard asli Yu, buang pikiran aneh didalam otakmu menyangkut aku ya Yu. Aku masih normal, buat kamu hamil dari sekali aku coblos saja bisa..!" seru Antonio tanpa memikirkan ada telinga kecil yang mendengar perkataannya.
"Mas..! mulut di saring, ingat. Ada telinga kecil ini," ujar Ayu.
"Hehehe..! sorry, El. Bagaimana, apa Om sudah keren..?" tanya Antonio pada Elvan.
"Keren Om," ujar Elvan dengan mengacungkan dua jempolnya.
"Yu, kenapa Bian tidak ikut mengantarkan Elvan sekolah?" tanya Antonio.
"Bianca sakit mas," jawab Ayu.
"Sakit? Joe berangkat keluar kota, apa dia tidak tahu Bianca sakit?"
"Hanya batuk saja Mas, mungkin karena itu mas Joe tidak khawatir meninggalkannya," kata Ayu.
"Sekarang batuk juga mengkhawatirkan, jangan menganggap biasa saja dengan batuk Yu," ujar Antonio.
__ADS_1
"Ada Tante Maya yang mengurus Bian," ujar Ayu.
"Batuk sekecil apapun, langsung ke dokter," ujar Antonio.
*
*
"Hah..!" mata Kamal langsung membesar, saat melihat gadis yang berkacamata dengan rambut yang di ekor kuda menyambut kedatangan Jonathan di depan proyek.
"Arumi...!" seru Kamal yang langsung loncat turun dari mobil, tanpa menunggu Jonathan menghentikan mobilnya dengan sempurna.
"Itu orang sudah tidak waras, main turun saja." gerutu Jonathan seraya memarkirkan mobilnya.
"Arumi! kau sudah lulus S2 ?" tanya Kamal, begitu berada didepan gadis yang bermata empat tersebut.
"S2? maksud Pak Kamal apa?" bingung Arumi dengan pertanyaan Kamal.
"S2, sekolah di Singapura?"
Jonathan yang mendengar pertanyaan Kamal pada Arumi hanya diam.
"Joe, kau bilang Arumi sekolah S2 kan?"
"Iya," sahut Jonathan.
"Terus, kenapa Arumi di sini?" tanya Kamal seraya mengikuti Jonathan yang sedang berbicara dengan Arumi.
"S2 dia itu, dua tahun yang lalu. Sekarang sudah Tamat," ujar Jonathan.
Kamal menghentikan langkahnya.
"Dua tahun yang lalu? sepertinya, kau cerita bulan lalu Joe..!" seru Kamal.
Tiba-tiba...
Kamal tersadar, bahwa dia sudah dikerjai oleh temannya tersebut.
"Sial..! Joe kau menipuku ya? Arumi tidak pernah pergi sekolah S2," ujar Kamal seraya mensejajarkan langkahnya dengan Jonathan dan Arumi.
"Baru sadar Lo..!" sahut Jonathan tanpa merasa bersalah.
"Sial Lo Joe..!" umpat Kamal kesal.
"Rum, minta nomor ponsel. Mas tidak mau di tipu oleh pria laknat ini," ujar Kamal.
"Jangan kasih Rum, nanti kau akan makan hati berulam jantung. jika dekat dengannya," ujar Jonathan.
"Kau itu bukan membantu teman yang ingin melepaskan masa jomblo, tapi malah membuat Arumi takut denganku..!" seru Kamal.
"Rum, jangan percaya dengan Jonathan ya. Aku serius Rum," ujar Kamal.
"Kamal! biarkan kami bekerja dulu, selesai kami bekerja. Kau bisa sepuasnya menggoda dia."
"Aku tidak percaya dengan mulutmu Joe."
*
*
...BERSAMBUNG...
__ADS_1