
Happy reading guys 🥰
👇👇👇👇
"Seharusnya, kau menanam saham duluan sebelum Jonathan," kata Antonio.
"Bianca waktu itu masih kecil, aku menunggu dia sedikit dewasa. Ternyata, orang ini menanam saham terlebih dahulu," kata Amar.
"Cukup membahas calon istriku, kau cari gadis yang lain..!" seru Jonathan, yang merasa tidak nyaman jika mendengar orang membicarakan mengenai Bianca.
"Ada apa ini, kenapa aku tidak suka mereka membicarakan Bianca." batin Jonathan.
"Itu yang akan aku lakukan, mencari gadis lain. Karena aku tidak akan menganggu istri dari temanku, tapi jika kau ingin melepaskannya jika sudah merasa bosan. Aku akan menampungnya," kata Amar.
Perkataan Amar membuat Jonathan naik darah.
Kemudian.
Jonathan mendekati Amar dan mencengkram kerah baju Amar, sehingga. Amar sedikit terangkat, karena postur tubuh Jonathan lebih tinggi dari Amar, mata Jonathan bulat sempurna menatap Amar. Raut wajah Jonathan kelihatan sangat marah mendengar perkataan Amar.
"Hei Joe" Kamal menahan tangan Jonathan yang terkepal, ingin memukul Amar.
Sedangkan Antonio berusaha untuk menarik Amar dari cengkeraman tangan Jonathan.
"Tenang, jangan karena masalah wanita. Kita saling bermusuhan dan baku hantam," kata Antonio.
"Pak Joe." Zulham menarik tubuh Jonathan, untuk menjauh dari Amar.
"Bianca bukan barang, kau tidak perlu menampungnya. Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk melakukan apa yang kau katakan tadi," kata Jonathan dengan geram, lalu melepaskan tangannya dari kerah baju Amar yang dicengkeramnya.
"Kau juga Mar, ingat. Bianca sudah menjadi milik Jonathan, mereka sudah punya anak. Buang isi otakmu mengenai Bianca," kata Kamal.
"Damai." titah Antonio pada Amar dan Jonathan.
Akhirnya, Amar melangkah mendekati Jonathan yang duduk didekat pintu masuk.
"Maaf." Amar mengulurkan tangannya.
Jonathan tidak memperdulikan uluran tangan Amar, hingga Kamal memanggil namanya.
__ADS_1
"Joe..!" panggil Kamal.
Akhirnya, Jonathan menyambut uluran tangan Amar.
"Awas.." Jonathan ingin memberikan peringatan kepada Amar lagi, tapi Amar memotong perkataan Jonathan sebelum dia menyelesaikannya.
"Iya, tidak perlu kau ulangi lagi. Aku tidak akan menganggu milikmu," ucap Amar, sebelum Jonathan mengucapkan apa yang ingin dikatakannya.
"Kita sudah tua, jangan ada keributan diantara kita," kata Kamal.
"Kita..!" seru Joe, Amar dan Antonio.
"Kau yang tua, kami masih muda. Belum kepala 3," kata Antonio, di iya kan oleh Jonathan dan Amar.
"Akur, tadi mau adu jotos.." ledek Kamal mengatakan pada Jonathan dan Amar.
Jonathan dan Amar hanya menampilkan senyum kecil di bibirnya.
Sedangkan dalam kamar.
Raut wajah gembira Budi Dwipangga dan Maya saat melihat wajah Elvan yang sedang tidur dengan memeluk guling.
Maya duduk di sisi ranjang, tangannya ingin menyentuh wajah Elvan. Tetapi, sang suami mengingatkannya untuk tidak melakukannya.
"Maa, jangan ganggu cucu kita. Nanti dia bangun dan akan menangis, karena tidurnya terganggu," kata Budi Dwipangga.
"Elvan, tidak anak yang cengeng Om. Elvan tidak pernah menangis, dia menangis jika sedang sakit saja," kata Bianca.
"Dengar Paa, cucu kita ternyata anak kecil yang tidak cengeng." Jemari Maya menyentuh pipi Elvan, karena tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak melakukannya.
"Bian, kau ibu yang tangguh. Bisa mengurusnya sendiri," kata Maya sembari memberikan tatapan mata yang sejuk dipandang oleh Bianca.
"Walaupun kau kelihatannya tidak membutuhkan pria didalam mengasuh Elvan, tapi Tante dan Om mu ingin agar Bian mau menikah dengan Jonathan. Tidak ada penolakan, Bian itu sudah di serahkan Yudistira kepada kami sebelum dia meninggal," kata Maya yang tahu, Bianca pasti akan membantah apa yang dikatakannya.
Bianca tidak bisa membantah, saat Mama Jonathan mengingatkan Bianca mengenai amanat sang Papa yang sudah berpulang.
"Besok kita akan kembali ke kota, Om mengharapkan kita tinggal bersama . Dan Om tidak mengizinkan Jonathan menikahi Bianca secara siri," ucap Budi Dwipangga.
"Tante sependapat dengan Om, Bian harus tinggal bersama kami." titah Maya dengan tegas.
__ADS_1
Bianca tidak bisa mengatakan apapun lagi, karena dia sangat menghormati sahabat kedua orangtuanya tersebut. Bianca sudah menganggap Maya sebagai Mamanya sendiri, setelah sang Mama meninggalkannya dia dan sang Papa karena sakit.
"Bagaimana dengan pekerjaan Bian di sini? bebek Bian harus diberikan makan setiap hari?" Bianca memberanikan diri untuk bertanya.
"Kita cari orang untuk mengurusnya, sebulan sekali kita bisa kesini," sahut Budi Dwipangga.
***
Akhirnya, setelah melalui perdebatan sengit. No, bukan perdebatan. Karena di sini, hanya sang Mama yang berkuasa dan memberikan keputusan dan sang Papa sang pendukung sejati. Akhirnya Jonathan mengalah, pernikahannya di adakan di kota. Bianca, hanya menerima keputusan yang diambil oleh calon mertua.
"Terima sajalah, putranya sendiri saja tidak bisa membantah. Keputusan Tante Maya adalah keputusan tampung tertinggi yang patut dipatuhi oleh semua orang." batin Bianca.
Bukan tanpa sebab Bianca mengatakan seperti itu, karena sedari kecil. Bianca mendengar perkataan itu, saat kedua keluarga berkumpul. Maya adalah ketua dan pengambil keputusan yang harus dituruti oleh semua orang.
Pagi hari tiba, terjadi kericuhan. Yang disebabkan oleh Elvan yang ingin membawa ayah bebeknya.
"El tidak mau pergi, kalau ayah bebek tidak boleh ikut..!" El berdiri dengan wajah ditekuk, bibir manyun.
"El, tidak mungkin kita bawa bebek. Di sana tidak ada rumah untuk tinggal bebek." Bianca membujuk sang putra
"Kalau begitu, El tidak mau pergi. El tinggal di sini saja, kasihan ayah bebek ditinggalkan sendirian," ujar Elvan yang tetap Keukeh tidak ingin meninggalkan bebek peliharaannya.
Elvan berdiri tegak, tangan di dada. Wajahnya kecut menatap bebek kesayangan yang sedang makan sendiri didalam kandangnya.
"Paa, Elvan tidak cengeng. Ternyata, dia menurun sifat keras kepala Joe." bisik Maya kepada sang suami.
"Lihatlah, betapa kekeuh dia mempertahankan keinginannya." sambung Maya kembali.
"Apa Mama tidak salah kata,Joe itu tidak keras kepala. Kalau dia keras kepala, Mama tidak mungkin bisa memutuskan apapun untuknya," kata sang suami, sedikit melirik pada sang istri.
"Terus, kalau tidak menurun sifat keras kepala dari Joe? Elvan mendapatkannya sifat keras kepalanya dari siapa? Bianca, tidak mungkin. Bianca itu gadis penurut sedari kecil," kata Maya
"Dari Mama lah, apa Mama tidak sadar. Mama itu keras kepala nomer satu, tapi Papa cinta..!" seru Budi Dwipangga, lalu meninggalkan sang istri yang sedang berpikir saat mendengar perkataan sang suami.
"Apa aku keras kepala?" gumam Maya sembari menatap sang suami yang sedang membujuk sang cucu agar tidak membawa bebek peliharaannya.
"Cucu opa yang ganteng, bebeknya tidak usah di bawa ya. Di kota itu orang-orangnya semua suka makan bebek panggang, bagaimana jika nanti bebek cucu opa di tangkap dan panggang mereka. Bebek cucu opa sangat gemuk, pasti dagingnya tebal. Enak di panggang," ucap Budi Dwipangga pada sang cucu.
Elvan diam, dia mencerna apa yang dikatakan oleh opa yang baru dikenalnya saat bangun pagi.
__ADS_1
Bersambung 👉👉