
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Setelah mobil yang dikemudikan oleh Jonathan pergi meninggalkan pekarangan rumah, Bianca dengan cepat masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan Ayu dan Elvan yang tadi mengatakan ingin memberi makan peliharaan Papa mertuanya.
"Mbak, ayo kita pergi," ucap Bianca.
"Pergi! Kemana?" tanya Ayu.
"Kita liburan, di sini terlihat sepi. Kita sudah lama tidak liburan," ujar Bianca.
"Tapi kita kemana?" tanya Ayu.
"Kita ke Bali..!" Seru Bianca.
"Bali..! Kita naik pesawat?" teriak Ayu kaget, karena dia mengira Bianca mengajak liburan ke daerah dekat rumah saja. Seperti ke pantai.
"Apa kita bisa ke Bali dengan berjalan kaki? Sudah tentu naik pesawat mbak, tapi. Jangan beritahukan pada siapapun, kemana tujuan liburan kita," kata Bianca.
"Kenapa? Kenapa kita harus pergi secara sembunyi-sembunyi?" tanya Ayu.
"Bukan sembunyi-sembunyi Mbak, nanti jika semua tahu lokasi tempat kita liburan. Mas Joe pasti akan menyusul kita, kita tidak akan bisa berkeliling Bali." alasan Bianca untuk merahasiakan kepergiannya.
"Baiklah, mari kita liburan..!" seru Ayu seraya merentangkan kedua tangannya keatas.
Setelah bersiap-siap, Bianca membawa satu koper besar berisi bajunya dan baju Elvan.
Sebelum pergi, Bianca meletakkan selembar surat untuk Jonathan.
Bianca menarik kopernya, didepan pintu kamar. Dia berbalik menatap kamar yang sudah didiaminya hampir sebulan.
Bianca menarik kopernya keluar dari dalam kamar, kemudian menutup pintu.
"Non Bianca, mau kemana? kenapa bawa koper besar ?" tanya Salma, yang melihat Bianca kesulitan membawa turun dari lantai atas ke lantai bawah.
"Lah.. Non, mau pulang kampung?" tanya Bik Minah.
"Tidak Bik, Bian hanya ingin liburan," sahut Bianca.
Ayu datang hanya membawa satu tas ransel, begitu melihat koper besar yang dibawa Bianca. Ayu kaget.
"Bian..! kita liburan berapa lama? sebulan? bawaannya, seperti mau pindahan saja?" tanya Ayu.
"Mbak Ayu, ini semua barang-barang keperluan Elvan. Baju dan mainannya," jawab Bianca.
"Maa, mobil remote El dibawakan ?" tanya Elvan.
"Bawa," sahut Bianca.
"Non, kapan pulang? jika Nyonya tanya, apa saya harus katakan?" tanya Bik Minah.
"Mama sudah tahu bik, jangan khawatir. Paling lama kami pergi dua hari," ujar Bianca.
Mobil yang dipesan Bianca sudah tiba didepan rumah, untuk membawa mereka menuju bandara.
"Bian, mobil onlinenya bagus sekali?" Ayu heran, karena mobil online yang datang menjemput mereka tergolong mobil sedan mewah.
"Iya, biasanya. Mobil online itu mobil sejuta umat," ujar Bianca.
__ADS_1
"Mungkin pemilik mobil ini sedang jatuh miskin, sehingga menyewakan mobilnya," ucap Ayu.
Ayu dan Elvan masuk kedalam mobil, sedangkan Bianca memasukkan kopernya kedalam bagasi.
"Hih..sopir taxinya tidak mau turun untuk bantu masukkan koper kedalam bagasi, awas nanti. Akan aku sunat ongkosnya." gerutu Bianca.
Pak Asep yang melihat Bianca kesulitan untuk memasukkan koper kedalam bagasi mobil, bergegas meninggalkan pekerjaannya dan membantu Bianca.
"Sini Non, biar Bapak yang mengangkat kopernya. Non masuk saja," ucap Pak Asep.
"Terima kasih Pak," ucap Bianca.
"Bik, Mbak Salma jaga rumah ya. Terima kasih, karena sudah baik dan menerima Bianca," ujar Bianca.
"Hati-hati Non," ucap Salma.
Kemudian Bianca masuk kedalam mobil, lalu mobil mulai meninggalkan Bik Minah dan Salma.
"Salma, apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan kepergian Non Bianca?" tanya Bik Minah pada Salma.
"Aneh? aneh apa? Salma tidak ada merasa ada yang aneh, yang aneh itu. Kenapa mereka meninggalkan kita berdua di rumah sebesar ini..!" seru Salma.
"Mbak Ayu, tiket kita beli di bandara bisa kan?" tanya Bianca.
"Bisa, semoga penerbangan tidar full," sahut Ayu.
"Mama, kita pergi dengan Papa?" tanya Elvan.
"Tidak El, kita bertiga saja. Kenapa? apa El mau pergi dengan Papa?" tanya Bianca.
"Iya," sahut Elvan.
"Baik," sahut sopir online dengan singkat.
Deg...
"Suara sopirnya terdengar sangat familiar." batin Bianca, sambil memperhatikan sopir taxi online yang memakai topi dan kacamata hitam.
Karena dia tepat duduk dibelakang sang sopir, Bianca tidak dapat melihat wajah sang sopir taxi dengan jelas.
"Ada apa?" tanya Ayu, karena melihat Bianca memperhatikan sang sopir taxi.
"Tidak apa-apa," jawab Bianca, tidak mengatakan kecurigaannya pada sopir taxi pada Ayu.
Ketika arah mobil terlihat tidak menuju arah jalan kebandaraan, Bianca menegur sang sopir taxi.
"Pak, kenapa tidak melalui jalan tol? kami mau cepat Pak..!" seru Bianca.
Sopir taxi tidak merespon ucapan Bianca, mobil terus melaju menuju jalan keluar kota.
"Hei..!Pak, kami ingin ke bandara..!" seru Ayu.
"Bian, sepertinya kita akan di culik..!" seru Ayu yang panik, karena sang sopir taxi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Pak..! hentikan mobilnya..! kami akan berteriak jika bapak tidak menghentikan mobil ini..!" seru Bianca sembari memukul sopir taxi yang tepat didepan dia duduk.
"Teriak lah..!" seru sang sopir taxi.
Deg..
__ADS_1
"Mas Joe...!" seru Bianca, setelah menandai suara Jonathan.
Ayu melihat kearah Bianca, lalu melihat kearah sopir taxi yang dipanggil Bianca dengan mas Joe.
"Mas Jonathan..?" tanya Ayu pada Bianca.
Mobil berhenti didekat mobil yang berhenti dipinggir jalan.
Sopir taxi membuka topi dan kacamata, kemudian menoleh kearah jok belakang mobil
"Halo anak Papa, mau liburan. Papanya ditinggalkan sendiri," ujar Jonathan pada Elvan, tetapi pandangan matanya menatap kearah Bianca dengan tajam.
"Papa..!" seru Elvan dengan senang, Elvan berdiri dan pindah duduk ke kursi depan.
"Kenapa dia tahu? apa ada mata-mata di rumah?" pertanyaan dalam benak Bianca.
"Ayu, bawa Elvan pindah ke mobil itu.!" titah Jonathan pada Ayu.
"El pindah ke mobil itu ya, mobil Papa ini ada sedikit kerusakannya," ujar Jonathan dengan menunjuk pada mobil yang sudah berhenti sedari tadi.
"Bian?" tanya Ayu
"Dia akan menemaniku menunggu montir," sahut Jonathan.
Pintu mobil yang berhenti didepan terbuka, keluar dua orang satu pria dan wanita. Yaitu Amar dan Yunita.
"Yunita..!" seru Bianca.
Bianca ingin membuka pintu bagian tempat dia duduk, tapi pintunya tidak bisa terbuka. Karena Jonathan menguncinya.
"Jangan keluar...!" terdengar suara datar Jonathan, memperingatkan Bianca untuk tidak keluar.
"Bian," ujar Ayu.
"Tidak apa-apa mbak, bawa El kesana mbak Ayu," kata Bianca.
"El ikut budhe Ayu ya, Mama akan menunggu montir datang," ujar Bianca pada Elvan.
"Papa dan Mama akan menyusul, El duluan kesana. Kita akan liburan ke pantai," ujar Jonathan.
"Hore..!" seru Elvan dengan lonjak kesenangan.
Ayu dan Elvan Keluar dari dalam mobil, dan masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh Amar. Kemudian, mobil tersebut pergi meninggalkan mobil yang dikemudikan oleh Jonathan.
"Pindah depan! aku bukan sopir..!" suara Jonathan masih dingin dan datar, wajah Jonathan terlihat marah.
Bianca diam, tidak mengindahkan perkataan Jonathan.
"Bianca...!" seru Jonathan kembali.
"Iya..!"
Dengan kesal, Bianca pindah ke depan dengan loncat.
"Kenapa dari sini?" tanya Jonathan, saat melihat Bianca loncat untuk pindah ke kursi depan.
"Bagaimana aku bisa keluar? pintu mobil dikunci, aku bukan jin yang bisa tembus...!" ucap Bianca kesal.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...***...