
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Setelah makan malam, Bianca langsung masuk kedalam kamar Elvan. Sedangkan Elvan masih berada di ruang keluarga bersama dengan Jonathan, sedangkan Papa dan Mama Maya pergi menghadiri undangan teman mereka yang merayakan ulang tahun pernikahan.
Selama makan malam, Bianca hanya sedikit makan. Karena selera makannya tidak ada, perasaan kesal pada Jonathan mengalahkan rasa laparnya.
"El, Mama naik ya," ujar Bianca setelah selesai membantu Bik Minah membereskan meja makan.
"Mama tidak mau lihat film?" tanya Elvan yang sedang melihat film jadul tentang burung pemarah.
"El saja ya, punggung Mama terasa tidak nyaman. Mama mau baringkan badan," ujar Bianca.
Kemudian Bianca naik, pandangan Jonathan terus mengikuti setiap langkah Bianca. Sampai tubuhnya tidak terlibat lagi.
"El, ayo kita naik. Besok kita sambung lagi nonton filmnya," ujar Jonathan pada Elvan.
"Besok masih ada Paa?" tanya Elvan.
"Ada, ayo boy," ucap Jonathan.
Elvan menganggukkan kepalanya.
"Ayo" Jonathan menggendong Elvan menuju kamarnya.
Ceklek...
Jonathan membuka pintu kamar Elvan, dan melihat Bianca sudah merebahkan tubuhnya di ranjang Elvan.
Jonathan meletakkan Elvan di ranjang, lalu berkata pada Elvan.
"El, bilang pada Mama. Tempat tidur Mama bukan di sini, ini tempat tidur El," ucap Jonathan pada Elvan, agar mengatakan apa yang dikatakannya tadi.
"Maa, kata Papa. Ini tempat tidur El," kata Elvan mengikuti apa yang dikatakan sang papa, walaupun apa yang dikatakan El tidak pas dengan apa yang diucapkan oleh Jonathan.
"El, bilang pada Papa. Mama mau tidur di sini," ucap Bianca, agar Elvan mengatakan apa yang baru diucapkannya.
"El, bilang Mama. Tidak boleh, harus tidur dikamar dengan Papa," ucap Jonathan.
"Maa, kata Papa. Mama tidur dengan Papa, jangan di sini," ujar Elvan seraya merangkak naik keatas ranjang, dan duduk didepan Bianca yang tidur.
"Mama mau tidur dengan El, Mama rindu tidur seperti kita di desa," ujar Bianca, dan kemudian menarik Elvan untuk baring didepannya. Bianca menarik Elvan kedalam pelukannya.
"Paa, Mama mau tidur dengan El," ucap El yang ditunjukkan kepada sang papa.
"El sudah besar kan? sudah bisa tidur sendiri?" tanya Jonathan pada Elvan.
__ADS_1
"Iya," sahut Elvan seraya mendongak, menatap Jonathan yang berdiri disamping ranjang.
"El, bilang. Mama tidak mau tidur di sana, Mama mau di sini. Tidur dengan Elvan. Mama rindu tidur dengan anak kesayangan Mama ini," kata Bianca seraya memeluk erat Elvan.
Elvan tidak mengatakan apa yang dikatakan sang Mama, wajah bingung Elvan menatap wajah Papa dan Mamanya.
"Baiklah," ujar Jonathan, seraya melangkah meninggalkan kamar Elvan.
Sampai di kamarnya, Jonathan bolak-balik tidak tenang. Karena ada ketakutan dalam dirinya, Bianca akan kembali meninggalkan rumah.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Jonathan.
Derrt... derrt...
Jonathan melihat ponselnya, yang berada di atas nakas bergerak dan dan terdengar nada pesan masuk.
Jonathan mengambil ponselnya, dan melihat nama Amar yang mengirim pesan padanya.
"Ada apa dengan orang itu? kenapa dia mengirimkan pesan video? apa dia ingin pamer, karena sedang kencan dengan Yunita," ujar Jonathan kesal.
Jonathan membuka pesan video yang dikirimkan oleh Amar.
"Kurang ajar! ternyata, kau yang ada di balik penerimaan Chelsea untuk menjadi guru. Pantas dia memuji Chelsea setinggi langit, ternyata mereka saling kenal." geram Jonathan, melihat video yang dikirim oleh Amar.
Jonathan langsung menghubungi Amar.
..."Di cafe sky blue, aku melihat mereka berbicara sudah sangat lama. Joe, kau harus hati-hati dengan wakil mu itu dan Chelsea. Aku punya perasaan, mereka sedang merencanakan sesuatu," kata Amar....
..."Kau terus rekam, apa kau tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Jonathan....
..."Bro, telingaku ini bukan telinga bionic. Yang bisa mendengar apa yang dikatakan oleh mereka dari kejauhan, dan aku belum punya kemampuan membaca gerak bibir," kata Amar....
..."Dengan siapa kau di situ?" tanya Jonathan....
..."Aku janji dengan temanku, tapi dia belum datang," sahut Amar dari seberang telepon....
..."Kau amati terus." titah Jonathan pada Amar....
..."Baiklah, tapi tidak gratis Bro," ujar Amar....
Jonathan memutuskan sambungan telepon, tanpa mengatakan apapun juga pada Amar.
Di cafe sky blue, Amar ngedumel sendiri. Karena, Jonathan main putus telepon saja.
"Dasar teman tidak ada perasaan, minta tolong. Tapi tidak mengucapkan terima kasih, main matikan telepon saja..!" gerutu Amar seraya menatap kearah Chelsea dan Sandy yang asik bicara.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Jonathan kembali menuju kamar Elvan. Dan melihat, Elvan sudah tidur didalam pelukan Bianca.
__ADS_1
"Sial! bagaimana mau mengangkat Bian, mereka saling memeluk ," ujar Jonathan saat melihat, Bianca memeluk Elvan. Begitu sebaliknya.
"Ahh..! begini rasanya, istri ngambek." gumam Jonathan.
"Baiklah, jika tidak bisa dibawa pindah kamar. Aku saja di sini." senyum smirk terukir disudut bibir Jonathan.
Jonathan merebahkan tubuhnya dibelakang tubuh Bianca yang memunggunginya, dan kemudian Jonathan meletakkan tangannya diperut Bianca.
Merasa terganggu, karena tidurnya belum begitu pulas. Bianca membuka matanya, dan sedikit menoleh kearah belakangnya. Dan tepat, saat dia menoleh kearah belakang. Wajah Jonathan tepat didepan wajahnya.
Bianca menarik kepalanya menjauh dari wajah Jonathan, matanya mendelik menatap Jonathan.
"Bian, pindah kamar ya." bujuk Jonathan.
"Tidak..!" tolak Bianca dengan tegas.
"Ayolah, jangan marah lagi ya?" ucap Jonathan dengan suara yang selembut mungkin.
"Tidak..!" tolak Bianca.
"Bian, Mas tidak bisa tidur sendiri." bujuk Jonathan, seraya mendekatkan bibirnya ditelinga Bianca yang memunggunginya.
"Kenapa tidak bisa, dulu-dulu juga tidur sendiri. Apa dulu juga tidur dengan cewek lain setiap malam..!" tuduh Bianca kesal, dan tangan Jonathan tidak tinggal diam. Tangannya mengelus perut Bianca, membuat Bianca mencubit tangan Jonathan.
"Ih..sakit Bian." Jonathan mengasuh kesakitan, karena cubitan Bianca yang sedikit menarik kulit tangan.
"Jaga itu tangan," ucap Bianca dengan suara yang sangat pelan.
"Ih..mana ada Bian, aku tidak bisa tidur dengan wanita lain. Karena kau melakukan sesuatu hal, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan itu," ujar Jonathan.
"Apa? aku tidak melakukan apapun juga, aku hanya mengambil satu darimu. Yaitu, yang menjadi kesayanganku ini. Elvan." Bianca menatap wajah Elvan yang tidur dengan pulas.
"Kau mencurinya dariku..!" seru Jonathan.
"Tidak! aku hanya meminta satu, kau masih punya banyak. Kau masih bisa menghamili semua gadis yang kau inginkan," ujar Bianca.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya pada semua gadis, karena kau sudah membuat aku terikat dengan mu selamanya," kata Jonathan.
"Dasar perayu ulung, mana Bian percaya," ucap Bianca dengan suara yang ketus.
"Bian, mas tidak merayu. Ayo, kita kembali ke kamar kita. Ayo, Elvan nanti terganggu," ucap Jonathan ditelinga Bianca.
Napas Jonathan yang menerpa telinganya, membuat bulu kuduk Bianca berdiri.
...**BERSAMBUNG...
...🌟🌟...
__ADS_1
Please jangan lupa untuk menekan tombol like like 🙏 dan menekan tombol like jangan loncat-loncat ya kakak-kakak reader. Itu semua akan membuat level karya akan terjun bebas, itu keluhan para penulis. Sehingga banyak penulis yang hengkang dan tidak menyelesaikan ceritanya. Pindah platform 🙏🙏**