
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Maa, ada apa? Apa ada yang menakut-nakuti Mama?" tanya Budi Dwipangga pada sang istri.
"Paa, kita sudah tertipu. Kita tertipu..!" ucap Maya, dibarengi dengan suara tangisan yang keluar dari bibirnya dengan keras.
Tidak terlihat lagi sosok Maya yang tegar dan tegas, yang kini terlihat hanyalah seorang istri dan ibu yang lemah. Yang merasa kecewa dengan putra bungsunya.
"Siapa yang menipu? ada masalah apa Maa? Apa Mama ikut investasi bodong dan kena tipu?" tanya sang suami, Budi Dwipangga sembari memegang kedua bahu sang istri, menatap wajah sang istri dengan intens.
"Ahhhrghhh..! bukan itu..!" seru Maya dengan penuh perasaan yang sangat emosional.
"Terus apa? ceritakan pada Papa, jangan menangis terus. Biar Papa bisa bantu untuk menyelesaikannya," ucap sang suami dengan sabar menenangkan sang istri yang masih dalam keadaan menangis.
"Kita di tipu..!" Maya terus menangis dan mengatakan di tipu, tanpa menceritakan tertipu karena apa.
"Aduh..! ribet wanita sudah nangis." gumam Budi Dwipangga, sembari memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Bik, apa bibik tahu?" tanya Budi Dwipangga, seraya menatap wajah pelayannya yang sudah lama ikut dengannya. Dan sangat akrab dengan sang istri.
"Saya tidak tahu Tuan, ini Salma yang melihat nyonya tergeletak," sahut Aminah.
"Salma?" mata Budi Dwipangga beralih menatap wajah Salma.
"Saya juga tidak tahu Tuan, saya dengar teriakannya. Dan lihat nyonya juga sudah pingsan," jawab Salma.
"Maa." mata Budi Dwipangga menatap wajah sang istri, setelah tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kedua pelayannya.
Sekarang, hanya sang istri yang bisa mengatakan. Apa yang membuatnya menangis.
"Mana ponsel Mama, Paa? lihat video kiriman Arumi," kata Maya.
"Di mana ponselnya?" tanya Budi Dwipangga.
"Tempat Mama pingsan tadi, Bik. tolong Carikan ," sahut Maya.
Mata keduanya pelayannya mencari keberadaan ponsel sang majikan.
"Itu Tuan..!" seru Salma sambil berjalan menuju ponsel sang majikan yang tergeletak.
"Ini Tuan." Salma memberikan ponsel kepada Budi Dwipangga.
__ADS_1
"Video apa Maa?" tanya sang suami.
"Itu video yang sedang mama lihat paa, lihat sendiri ," ujar Maya.
Budi Dwipangga melihat ponsel sang istri, dan terlihat video yang sudah terhenti. Karena durasinya yang sudah selesai dilihat.
Budi Dwipangga memutar ulang video tersebut, dan menonton dengan khusyuk.
"Ada apa dengan video ini?" tanya Budi Dwipangga.
"Papa!" kesal sang istri.
"Papa tidak melihat ada yang aneh? hanya Joe bersama dengan anak kecil melihat hewan, tidak ada yang istimewa," ucap sang suami.
"Papa itu harus pakai kacamata..!" seru Maya dengan perasaan yang kesal sudah sampai di ubun-ubun, sedikit lagi akan meledak. Jika sang suami tidak melihat ada keanehan dalam video yang telah membuatnya pingsan.
"Lihat sekali lagi Paa..!" titah sang istri dengan perasaan kesal.
Sang suami mengikuti ucapan Maya, dia memutar ulang video tersebut. Matanya memicing, keningnya sesekali berkerut untuk melihat dengan teliti apa yang membuat sang istri menangis tersedu-sedu.
Tetap, matanya tidak ada melihat kejanggalan dalam video yang dilihatnya.
"Itu burung, Joe berdiri diluar pagar melihat burung. Tidak ada yang aneh," ucap Budi Dwipangga dengan terus menatap layar ponsel istrinya.
"Papa tidak tahu juga?" tanya Maya dengan kesal.
"Salma, pergi kau ke Mall. Beli kaca pembesar..!" seru Maya pada Salma.
"Baik Nyah.." Salma Keluar dari ruang tamu, diikuti oleh Aminah.
"Papa besok harus bertemu dokter mata, mungkin mata Papa itu sudah harus memakai mata kucing. Biar jelas melihat, sini ponsel Mama." Maya mengulurkan tangannya, meminta ponselnya.
"Lihat dengan jelas, wajah anak yang bersama dengan Jonathan..!" Seru Maya seraya memberikan ponselnya pada suaminya untuk melihat wajah anak kecil yang bersama dengan Jonathan.
Budi Dwipangga mengambil ponsel istrinya kembali, dan melihat wajah anak kecil yang dikatakan oleh sang istri.
"Anak yang ganteng Maa, karena dia anak kecil laki-laki. Kalau cantik tadi, karena dia gadis kecil," ucap Budi Dwipangga dengan sedikit bergurau pada sang istri yang masih menunjukkan wajah sedih dan jutek menghiasi wajahnya yang sembab.
"Tidak lucu..!" semprot sang istri.
"Kenapa dengan anak kecil itu? apa Mama kenal?"
"Hih...papa ini, betul-betul menyebalkan. Anak itu mirip Jonathan Paa..!" saking kesalnya, Maya sampai berteriak kesal menatap sang suami.
__ADS_1
"Aaa..! maksud Mama, Jonathan punya anak?" kaget sang suami dengan perkataan Maya.
"Tapi Maa, mirip. Belum tentu juga anak Joe."
"Itu anak Joe, pasti anak Joe. Makanya, dia tidak ingin menikah. Karena dia sudah punya anak dengan wanita itu..!"
"Wanita yang mana?"
"Chelsea, pasti Chelsea telah menjebak Joe kita Paa..! kita tertipu Paa..!" tangisan Maya kembali memenuhi ruang keluarga.
"Maa, jangan tarik kesimpulan terlalu cepat. Kita harus menanyakan pada Jonathan dulu," kata sang suami.
"Papa tidak percaya, anak kecil itu anak Jonathan. Tunggu akan Mama buktikan, apa yang Mama katakan benar. Anak kecil itu anak Jonathan Dwipangga..!"
Maya berdiri dari sofa, dan membuka lemari. Kemudian mengambil album. Dan kembali menuju sofa.
"Ini, Joe sewaktu masih kecil. Apa tidak mirip dengan anak tadi?" Maya menunjukkan gambar Jonathan saat masih kecil.
"Benar mirip ya, kenapa Papa di tahu tadi ya. Jika tidak Mama katakan, Papa tidak engeh," kata Budi Dwipangga.
"Jonathan menyimpan Chelsea di kota T, pantas dia sangat semangat waktu Papa ingin mendirikan sekolah di kota T. Batalkan Paa, Mama tidak akan mau mempunyai menantu seperti Chelsea yang banyak rahasia..!" seru Maya dengan sengit.
"Tenang Maa, kita harus bertanya dengan Jonathan," kata Budi Dwipangga.
"Mama tidak mau tahu, Mama tidak akan mau mengakui anak itu..!"
"Papa telepon Joe ya Maa, kita minta konfirmasi. Mungkin saja, ini hanyalah kemiripan semata. Tidak ada hubungan dengan Jonathan," kata sang suami.
Budi Dwipangga, mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya.
"Joe, pulang. Papa tunggu," ucap Budi Dwipangga, saat Jonathan menjawab panggilan telepon dari sang Papa.
Belum sempat Jonathan menjawab, Papanya memutuskan sambungan teleponnya.
"Aneh, ada apa ? kenapa suara Papa tadi terdengar berbeda dari biasanya? apa ada sesuatu yang terjadi?" gumam Jonathan yang sedang mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya, karena hari ini. Jonathan berencana menginap di apartemennya, setelah lama tidak dikunjunginya.
"Aaahhh..! masalah terus. sial..! masalah anak itu belum menemukan titik terang, masalah apa lagi yang menungguku di rumah."
Jonathan memutar balik mobilnya, kembali menuju arah rumahnya.
Begitu sampai di rumahnya, Jonathan memarkirkan mobilnya. Dan bergegas turun dan kemudian masuk kedalam rumah.
"Mana Mama?" tanya Jonathan pada Salma.
__ADS_1
"Di ruang keluarga Den Joe." beritahu Salma.
Bersambung 👉👉👉