
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Sebelum memejamkan matanya, Jonathan menatap wajah Bianca dengan lekat.
"Aku mencintaimu, tapi kenapa kau tidak percaya?" tangan Jonathan menyibakkan rambut Bianca yang menutupi wajahnya.
"Kalau kau tahu, cinta ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Pasti kau sangat gembira, tapi. Aku berusaha untuk meredamnya, karena kita memiliki beda usia yang sangat jauh." Jonathan berbicara sendiri panjang lebar, dia tidak menyadari. Orang yang di ajaknya bicara, belum tidur sepenuhnya.
Bianca terbangun, saat tubuhnya dibawa Jonathan kedalam pelukannya. Dan dia pura-pura tidur. Karena dia malas untuk ribut dengan Jonathan di tengah malam.
Ternyata, pura-pura tidur sangat berguna. Dia tahu isi hati Jonathan, yang tidak bisa diungkapkannya.
"Kau itu masih mau memasuki usia 18 tahun, baru Tamat sekolah. Apa kata Om Yudistira, saat dia tahu anak gadisnya disukai pria yang lebih tua. Kalau kau tahu, betapa berat saat harus bersikap dingin dan acuh terhadapmu. Saat hati dan pikiranku galau, Chelsea datang, aku berhasil mengikis namamu dalam hati untuk melupakan mu. Dan saat itu, Chelsea datang memasuki hidupku. Setiap berbicara dengannya, kami selalu nyambung. Dan ada rasa nyaman, tapi sayang. Aku hanya sebagai pelariannya saja. Lucu ya, orang yang kita cintai. Ternyata mengkhianati cinta yang kita berikan untuknya, ." Jonathan berbicara panjang.
Jonathan melanjutkan ceritanya kembali
"Apa yang kau lakukan, sebenarnya. Telah menyelamatkan aku dari cinta segitiga. Sekarang, aku sungguh-sungguh telah mencintaimu kembali Bianca ."Â Jonathan memberikan kecupan di kening Bianca.
"Ternyata, ungkapan cinta Mas Joe bukan hanya sekedar pepesan kosong. Dia sudah memiliki rasa terhadapku sejak lama, hanya karena jarak usia kita yang jauh. Apalah artinya usia kita terpaut jauh, jika kita sudah saling cinta Mas Joe." batin Bianca.
Jonathan terus mengeluarkan ungkapan hatinya, yang tidak bisa dikatakannya saat Bianca sadar. Saat Bianca dalam keadaan tidur, bibir Jonathan lancar mengungkapkan isi hatinya.
Bianca tidak mendengar suara Jonathan lagi, hanya terdengar suara napas halus yang teratur.
"Sudah tidur." batin Bianca.
Bianca mengangkat kepalanya, dan melihat wajah Jonathan yang sudah terlelap.
"Kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandangan mata ini, sejak aku mengenal cinta. Padahal, banyak laki-laki yang menginginkan cintaku. Hanya wajah ini yang ada dalam pikiran." batin Bianca.
Jemari Bianca mengelus garis rahang kokoh Jonathan, dan tiba-tiba. Jonathan menggerakkan kepalanya, karena merasa terusik dengan perbuatan jemari Bianca.
Bianca spontan menarik tangannya, dan kembali meletakkannya keatas dada Jonathan.
Melihat tidak ada pergerakan selanjutnya, Bianca mengangkat kepalanya dan melihat wajah Jonathan.
"Nyaris."
Bianca mengangkat kepalanya.
Cup
Bibir Bianca mendarat sekilas di sudut bibir Jonathan, dan kemudian. Bianca kembali meletakkan kepalanya di dada suaminya, dan memejamkan matanya. Tangannya melingkar memeluk tubuh Jonathan.
*
__ADS_1
*
*
Di pagi hari, Elvan bangun. Dan melihat kedua orangtuanya tidur dengan berpelukan di atas tempat tidurnya.
Elvan berdiri di atas ranjang, dengan berkacak pinggang. Elvan membangunkan Jonathan dan Bianca.
"Papa..! Mama...!" teriak Elvan, sehingga keduanya langsung bangkit dan duduk.
"Ada apa? ada apa?" tanya Jonathan dengan gelagapan, karena tidurnya tadi masih sangat pulas. Dan tiba-tiba terdengar suara Elvan yang nyaring.
"El..ada apa?" tanya Bianca dengan mata yang setengah terpejam.
"Kenapa Mama dan Papa tidur berdekatan, sedangkan El tidur di ujung sana..!" seru Elvan seraya menunjukkan bibirnya yang manyun, mata setengah memicing. Menatap kearah Jonathan dan Bianca.
Bianca yang tersadar dengan kemarahan sang putra, seketika langsung menoleh kearah Jonathan yang duduk didekatnya.
"Itu salah Papa, pasti Papa yang menarik Mama berdekatan dengan Papa," ujar Bianca.
"Hei..! jangan nyalahin Papa, Mama El yang mendekati Papa..! lihatlah El, Papa saja sudah tidur di ujung kasur. Papa balik badan, Papa akan langsung tidur di atas lantai." balas Jonathan.
"Hah...! Mas Joe yang memeluk Bian ya, bukan Bian..!" Bianca mengerucut bibirnya, akhirnya. Bianca dan Elvan saling menunjukkan raut wajah yang manyun.
"Sudah, sini." Jonathan meraih Elvan, dan membawanya kedalam pelukannya. Satu tangan memeluk Elvan, dan satu tangannya memeluk Bianca.
"Jangan marah lagi ya, anak-anak Papa. Anak gadis dan anak lajang Papa," ujar Jonathan seraya merengkuh keduanya semakin menempel ditubuhnya.
"Kenapa Papa tidur dikamar El? El sudah besar, tidak perlu ditemani," ujar Elvan.
"Tapi Papa minta ditemani, Papa tidak seberani untuk tidur sendiri. Mama El tidak mau menemani Papa, dengan terpaksa Papa tidur di kamar El. El, tolong bantu Papa. Suruh Mama untuk tidur di kamar dengan Papa, El tidak butuh ditemani kan?" bujuk Jonathan, untuk El merayu Bianca.
"Ihh..!" dengus Bianca, karena Jonathan memanfaatkan sang putra untuk membujuknya.
"Mama, harus ditemani Papa ya! El berani tidur sendiri, Papa tidak berani," ujar Elvan seraya menatap wajah Bianca.
"Tidak apa-apa dianggap El penakut, yang penting. Bisa memeluk Mamanya ****setiap malam****." batin Jonathan.
Bianca mendelikkan matanya, melihat modus Jonathan untuk dia mau tidur dengannya. Terlihat smirk disudut bibirnya Jonathan, membalas tatapan mata Bianca.
"Modus, anak kecil di manfaatkan." batin Bianca geram
"Papa itu pemberani El, Papa sudah besar. Tidak mungkin Papa menjadi penakut," ujar Bianca.
"Papa penakut El, please..! Bujuk Mama ya, nanti Papa akan membuat kandang dan kolam untuk tempat tinggal ayah bebek." Janji Jonathan yang mengenai bebek kesayangan, membuat Elvan senang.
Elvan melepaskan diri dari pelukan Jonathan, dan berdiri didepan Papa dan Mamanya.
__ADS_1
"Mama harus tidur dengan Papa..!" tegaskan Elvan.
"Tapi Mama mau tidur dengan El." Bianca tetap Keukeh menolak tidur dengan Jonathan.
"Mama! El mau bawa bebek El ke sini, Mama harus tidur dengan Papa..!" Elvan mengutarakan keinginannya untuk membawa bebeknya.
"Ih.. Elvan, Mama dikalahkan dengan seekor bebek." dengus Bianca kesal.
"Dia bilang aku memanfaatkan Elvan, ternyata. Dia sendiri yang memanfaatkan Elvan." batin Bianca.
Senyum terus terukir dibibir Jonathan, karena iming-imingnya telah membuat Elvan semangat menyuruh Bianca untuk tidur bersamanya. Di kamar mereka sendiri.
"Ayo Mam, kita ambil ayah bebek," ujar Elvan dengan semangat.
"Tidak bisa sekarang El, kita harus buat kandang dulu," kata Jonathan.
"Papa buat kandang, kami pulang untuk mengambil ayah bebek. Ayo Maa," ujar Elvan.
"Aduh.." gumam Jonathan.
Janjinya, membuat Elvan seketika ingin pulang untuk mengambil ayah bebeknya.
"Syukur." balas Bianca dengan tersenyum.
"Ayo," ujar Bianca.
"Tidak boleh,! biar nanti Pak Kusno yang mengambil bebek ke kampung," ujar Jonathan, melarang Bianca dan Elvan pergi.
"Mas, ada yang ingin Bian katakan," kata Bianca.
"Apa?" tanya Jonathan.
"Asih nelpon, bebek-bebek kena virus dan sudah ada milik peternak yang mati. Dan Pak Lurah mau mengumpulkan para peternak bebek untuk mengambil solusi, apa yang harus dilakukan," ucap Bianca.
"Pak Lurah..?" Jonathan langsung mengingat ucapan Ayu, mengenai Pak Lurah yang suka dengan Bianca.
"Tidak...!" seru Jonathan seraya melepaskan pelukannya pada Bianca dan langsung loncat turun dari ranjang.
"Kenapa..?" tanya Bianca heran.
"Modus..!" seru Jonathan, dan langsung pergi meninggalkan kamar Elvan.
"Modus..?" bingung Bianca.
*
*
__ADS_1
*
...BERSAMBUNG...