
*Sebelum Sadar*
Hari semakin gelap, Teman-teman Ilyas mulai meninggalkannya dan kembali ke rumah masing-masing. Begitupun dengan pak polisi yang juga meninggalkan UGD dan tinggallah Nuge sendiri menjaga tempat itu. Beberapa jam kemudian, akhirnya orang yang di tunggu Nuge datang.
"Akhirnya kalian datang juga, Orang tua sialan" kata Nuge menyambut orang tua Ilyas.
"Nuge, kau masih di sini ?" tanya ibu ilyas.
"Yahh... Lagipula Ilyas masih tetaplah temanku. Tidak ku sangka, kalian masih tetap mementingkan pekerjaan dari pada anakmu sendiri. Padahal Ilyas sudah tidak membebanimu karena dia menerima beasiswa masuk kuliah dan dia mencari uang sendiri. Apa kalian tidak menyayangi Ilyas layaknya anak lain !!!?" bentak Nuge pada keluarga Ilyas.
"Kau ini dari tadi tidak sopan. Inilah kenapa aku menelantarkan Ilyas. Dia nakal dan berandalan, dia harus berwibawa tinggi agar bisa kembali ke keluarga kami" kata ayahnya mengelak.
"Kalau begitu kalian pasti nggak mengetahui kenapa anak kalian kuliah ?. Kenapa bisa berandalan secerdas dia mendapatkan Beasiswa ?. Kenapa dia ingin lulus sebagai Sarjana ?. Kalian pasti tidak tahu itu !!!!" bentak Nuge.
Ibu Ilyas memegang lengan baju Ayah ilyas dengan keras ketakutan. Walau dia sadar, apa yang di katakana Nuge adalah kebenaran.
"Itu karena, putra kalian mempunyai mimpi yang sangat mulia. Dia bercita-cita untuk menjadi Guru yang tidak menelantarkan Muridnya begitu saja. The Absolute Teacher. Dia ingin mendapatkan gelar itu di Muridnya kelak nanti. Dia rela mencuci tangan dan melakukan Penebusan Dosa. Agar dia hidup sebagai orang yang normal" kata Nuge dengan mata yang berkaca-kaca menceritakan mimpi sahabatnya yang paling mulia.
"Kalau begitu, kenapa dia bisa babak belur seperti itu ?. Aku tadi mendengarnya dari perawat dia seperti orang yang sudah di serang oleh pasukan Tawuran. Bukannya itu dia mengotori tangannya lagi ?" kata ayah ilyas membentak.
"Entah apa yang ada di kepala Paman ternyata paman memikirkan itu bukan keadaan Putramu ?. Dia itu mengotori tangannya bukan demi dirinya sendiri. Dari dulu dia memang seperti itu, dia tidak akan menelantarkan teman-temannya sekalipun dia Mati. Dia memang orang segila perhatian dari temannya seperti itu. Bahkan berkali-kali dia melawan maut demi melindungi yang dia sayangi. Besok akan di beritakan dua Mahasiswa di sandera dan orang yang menolongnya cuma 1 orang. Dia adalah, Putra dari prof. Dr. Andi Purnama S. E, Salah satu orang terkaya di Tanah Makassar, Ilyas" kata Nuge.
Mendengar hal itu, orang tuanya terkejut. Nuge yang tidak tahan lagi meninggalkan mereka.
"Aku tidak tahan lagi dengan keluarga gila kerja seperti kalian. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Ilyas disebabkan oleh kalian, aku tidak akan memaafkan kalian. Karena kali ini, aku akan menjadi keluarganya. Aku akan di sisinya
layaknya sebagai Saudara untuknya ingat itu" Ancam Nuge kepada mereka berdua.
lalu Nuge meninggalkan keluarga Ilyas yang berdiri kaku di depan UGD menunggu Anaknya. Keesokan harinya benar saja, Berita itu di siarkan oleh seluruh Tv dan di depan rumah Pak Andi di penuhi Wartawan.
__ADS_1
“coba kalian tutup kasus Ilyas lalu hilangkan jejak kasusnya. dan singkirkan wartawan itu di depan kediamanku” perintah Ayah Ilyas kepada Asisten pribadinya.
“Baik Tuan” balas Sekretarisnya dan melaksanakan perintah Ayah Ilyas.
Ayah Ilyas berdiri begitu lama di kantornya merasa panik, bolak balik di ruangan tersebut. Tidak sengaja, ia menyenggol lemari dan membuat foto Ilyas yang waktu masih kecil di gendong oleh Ayahnya terjatuh. Saat itu, Ayah Ilyas mengingat masa lalunya dan itu membuatnya sadar dia melakukan kesalahan karena telah menelantarkan Putranya.
*Setelah Sadar*
Waktu itu entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, hingga saat aku terbangun aku melihat adik perempuanku yang duduk tertidur di sampingku sambil memegang tanganku. Aku tidak tega membangunkannya. Aku hanya mengelus kepalanya. karena sudah hampir 2 tahun aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Saat aku mengelus kepalanya, dia akhirnya bangun.
"Ahh maaf, aku membangunkanmu" kataku padanya dengan lemas.
Adikku hanya menatapku terkejut dan membatu. Aku tidak tahu harus berkata apa kecuali...
"Apa aku boleh merokok ?" kataku padanya.
Ada apa dengan diriku Yaa ?.
Adikku meneteskan air matanya lalu memelukku. Yaa pelukannya erat dan membuatku sakit. tapi, melihat adikku yang biasanya ganas, pemarah, dan jahil padaku kini menangis melihat kondisiku, aku sedikit senang dan membalas pelukannya.
"Kakak.... Kakak.... hiks..." katanya sambil menangis.
“Jangan menangis, kakak berusaha menjadi Cowo yang Gentle nih” balasku mengelus punggungnya.
“aku… hiks… aku kesepian tampamu di rumaahh… hikss…” kata Adikku yang menangis tidak terhentikan lagi.
“maaf yaa, membuatmu khawatir seperti ini” balasku padanya sambil memeluknya dengan erat.
Dia terus memanggilku dan itu sangat membuatku nostalgia dengannya seperti di masa lalu, waktu kami masih tinggal di rumah itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, para perawat datang memeriksa kondisi tubuhku dan Adik menghubungi seseorang lewat telepon. Setelah itu, aku hanya bisa pasrah kepada perawat yang merawatku. Tidak lama setelah itu aku di biarkan istirahat sejenak. Sampai saat aku terbangun kembali, aku melihat orang tuaku datang. Entah aku harus berekspresi seperti apa. Aku yang dulu berkata padanya akan melakukan Penebusan Dosa dan mencuci tanganku dari Perkelahian lalu meninggalkan Rumah, malah kebablasan menghancurkan 1 Gangster lagi. Aku benar-benar tidak bisa menatap wajahnya.
"maafkan aku ayah, sepertinya aku mengingkari janjiku.... Lagi pula, aku sudah bilang bukan ?. Aku tidak bisa menjadi Putra yang kau impikan. Karena aku bukan Putra kandungmu, dan seperti katamu. Aku mungkin putra dari mantan berandalan" cukup menyedihkan tapi itulah yang keluar dan terucap di mulutku.
Waktu itu, Ibu memegang tanganku. itu cukup membuatku terkejut dan ingin melihatnya. Dia menangis, begitupun dengan Ayah yang menundukkan kepala tidak kuat melihatku.
"Pasti rasanya sangat berat kan sayang ?. Maafkan Ibu dan Ayah yang tidak bisa jadi Orangtua yang layak untukmu. Padahal tuhan sudah memberikan kami tanggung jawab untuk mengasuhmu, kami malah menelantarkanmu" ucap Ibuku sambil menangis.
Aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali terkejut dan heran.
Ada apa ini ?.
Tidak mungkin mereka sebaik ini.
"Saa itu ayah benar-benar terbawa emosi. Dan itu sampai membuatmu tersinggung hingga kau pergi dari rumah. Dan karena keangkuhanku, aku tidak pernah mencari kabarmu. Seharusnya kau tetap pulang. Walau bukan demi kami, tapi demi Adikmu. Dia membutuhkanmu. Maaf, kami menjadi Orangtua yang tidak layak untukmu" lanjut ayahku menundukkan kepala.
Aku meneteskan air mata dengan perasaan yang campur aduk dan geram pada mereka berdua. Aku mengalihkan wajahku dari mereka karena tidak kuat melihatnya.
"kenapa kalian baru sadar sekarang ?. Padahal di masa lalu aku selalu menjerit memanggil kalian, dan kalian tidak peduli padaku. Kenapa ayah ?. Ibu ?" tanyaku pada mereka.
"Tugas Orangtua adalah mengajarkan anaknya agar tidak mengambil jalan yang salah. Sebenarnya aku tidak menyalahkan mereka. Tetapi, tugas seorang anak juga mengingatkan orangtua saat mereka melakukan kesalahan Ilyas" kata Nuge yang tiba-tiba datang.
"Nuge, kapan kau datang ?" tanyaku padanya.
Ibuku masih memegang tanganku dengan erat seperti seorang induk yang tidak mau melepaskan anaknya.
"kau tau, sekalipun kami menelantarkanmu kami masih menganggapmu sebagai Putra kami. Karena dari awal mengadopsimu, kau masih begitu mungil dan kecil. Kami bahkan harus kesana kemari untuk mencari baby sitter yang bisa memberikan asi untukmu. Karena kau adalah Putra Pertama kami. Tapi selain itu, aku selalu merawatmu ayaknya anak lain. Saat kau sakit, kami ada untukmu. Saat kau senang kami juga ikut senang untukmu. Saat kau belajar berjalan, kami yang mengajarkan padamu. Dan saat kau memanggil Papa dan Mama, itu tertuju pada kami. Sungguh, kau adalah Putra kami" kata ibu padaku.
"Aku mohon kembalilah ke rumah, aku tidak peduli lagi kau mau jadi Pewaris atau tidak. Tapi, setidaknya kembalilah ke rumah sebagai Putra kami Anakku" lanjut ayah sambil memegang tanganku.
__ADS_1
Dan hari itu aku tidak bisa membendung perasaanku lagi. Setelah sekian lama akhirnya aku kembali. Aku selalu memimpikan ini di mana aku kembali bersama dengan keluargaku kembali, hari itu akhirnya kebahagiaanku kembali. Walau hanya sebagian, tapi ini patut untuk ku Syukuri.
"Ayah..... Ibu... Maafkan aku hiksss..." ucapku yang akhirnya memeluk orangtuaku sambil menangis.