
Saat pengakuan itu, semua orang tidak menyangka perkataanku itu keluar dari mlutuku secara langsung dan di lihat oleh kerumunan orang. Tidak lama kemudian, pacarnya mendekatiku sambil mengancamku dan berkata padaku
"loe tahu kan ?. Dia itu pacar gua !!!. Berani juga loe nembak dia di hadapan banyak orang" kata pacarnya marah.
Saat itu aku tersenyum karena semuanya sesuai dengan dugaanku layaknya catur, ini gerakan Skakmat dan layaknya judi ding dong, ini adalah Jackpot.
"Senior tau nggak kenapa si ichi mendekati senior ?. Karena itu adalah sesuai rencanaku. Aku yang meminjam 3 buku lainnya agar Ichi mendekatimu. Walau rencana ini tidak aku beritahu padanya. Agar Ichi di katakan selingkuh dan kak kiki mulai kecewa padamu. Dan saat itulah aku akan jadi predator dan mendekati kak Kiki dengan kata-kata manis. Dan kau tidak punya kesempatan lagi" jawabku pura-pura kesal padanya.
"Tapi apa-apaan ini ?. Walaupun rencana itu berjalan, Kak Kiki malah makin dekat denganmu setelah kau minta maaf. Itu sangat membuatku jengkel. Dan karena itulah aku lebih baik mengungkapkannya di hadapanmu sebagai deklarasai perang untukmu" lanjutku tegas padanya.
"Kalau mau nembak kiki yang benar dong yang Gentle. Masa pake cara curang kek gitu loe ?. Ngga tau malu loe yee" kata pacar kak Kiki mulai jengkel.
"Semuanya adil dalam Cinta dan Perang Senior, tidak ada kecurangan di setiap langkah tersebut karena itulah aku mengambil langkah ranjau ini" balasku dan membuat senior sempat terdiam tidak mengatakan apa-apa.
Selanjutnya tinggal menunggu perkataan kak Kiki. Dia melangkah kehadapanku lalu menamparku, dan berkata padaku
"kau pria yang malang dan bodoh. Mengertilah posisimu, hanya demi yang kau kagumi kau rela mengorbankan dirimu. Hidupmu akan lebih suram" balas Kak Kiki padaku.
Ternyata dia lebih memahami apa yang aku lakukan sekarang, justru aku yang menginjak ranjau sepertinya. Tapi, kak Kiki melanjutkan perkataannya
"Dan asal kau tau, aku mencintai pacarku lebih dari apapun. Karena itulah sudah jelas aku menolakmu. Dasar pria bodoh. Selamat menikmati kehidupanmu yang lebih suram daripada sebelumnya, Ilyas" lanjut kak Kiki.
Pacarnya malah tersenyum puas melihatku di tolak oleh kak Kiki. namun aku belum kehabisen ide, Aku tersenyum dan menatap kak Kiki
"terima kasih kak Kiki. Asal kakak tau, aku tidak akan menyerah" balasku sambil tersenyum kejam padanya.
Pacarnya sudah tidak tahan dan hampir menghajarku
"KAU MASIH SAJA SIALAAANN !!!" bentaknya sambil menarik kerah bajuku.
Namun tiba-tiba wakil dekan jurusan datang melewati perkumpulan tersebut hingga orang-orang mulai bubar. Pacar kak Kiki mengancamku tapi hal itu membuatku sangat bahagia. Baru kali ini, rencanaku berhasil 100%. Apa aku memang secerdas itu yaa ?. Tapi yah setidaknya Sang cahaya kembali bersinar dan statusku malah berubah layaknya di sebuah Game RPG. dari orang suram sekelas menjadi orang suram sefakultas. Dan aku, tidak menyesali itu demi Ichi agar cahayanya tidak memudar, aku rasa ini tidak apa-apa.
...*****...
Setelah kelas selesai, Ichi tiba-tiba menarikku dan semua orang menatapku dan mereka mulai mengatakan hal buruk dengan ucapan
"setelah ini persahabatan mereka akan sedikit berjarak".
" lebih baik Ichi mengambil sikap untuk memarahi Bocah sialan tidak tau diri itu"
"mereka sahabatan yaa ?. Pantes saja Ichi di manfaatin dengan mudah".
" wah kesempatan nih setelah Ichi galau. Karena sahabatnya sudah menghinatinya" Dan lain sebagainya.
Mungkin setelah ini pembaca akan mengatakan aku Psikopat. tapi, aku benar legah akhirnya ejekan untuk Ichi mulai menghilang dan mulai terpusat kepadaku. Setelah sampai di taman, Ichi menyuruhku duduk di kursi dan dia duduk di sampingku. Seperti biasa, aku minta izin kepadanya
"boleh aku merokok ?" izinku ke ichi.
"Nggak boleh..." jawabnya dengan nada yang sedikit rendah.
"Terima kasih" balasku sambil mengambil sebatang rokok dan mengudut di sampingnya.
Ia menggeledah tasnya walau aku tidak peduli. Mungkin dia akan marah padaku atau dia mengambil buku untuk menamparku. Yaahh itu imajinasiku. Liar banget yaa ?. Dasar aku memang Wibu yang imajinasinya liar, aku bisa apa ?. Tapi nyatanya, dia memberikan sebuah permen manis padaku sambil meneteskan air mata padaku.
"Aku tau kau tidak sekejam itu padaku. Tapi kenapa kau mengorbankan dirimu segala sih ?. Padahal kau hanya perlu melakukan trik seperti di Oregairu atau di Hyouka dan Elite Class Room agar tidak mengorbankan dirimu. Aku tahu, kau tidak bersalah kenapa kau melakukan hal ini ?. Kenapa ?" tanya Ichi padaku.
Aku mengudut rokokku dan berkata padanya
"sayangnya itu tidak semudah yang terjadi di anime Ichi. Ini adalah realita, Kau adalah cahaya dan aku adalah Kegelapan. Dua sisi yang berbeda, dan akan selalu seperti itu. Saat aku penuh dengan kegelapan kau datang bagaikan Cahaya. Karena itulah saat Cahaya itu meredup, aku bangkit sebagai Kegelapan bagi mereka yang meredupkannya" balasku padanya
"Kau selalu mengatakan itu !!!!. Aku cahayamu !!?. aku cahayamu !!!. Kita ini manusia Ilyas kita bukan malaikat !!!. Aku tidak mau melihat sahabatku mengorbankan dirinya seperti itu. Kedepannya kau malah menggantikan posisiku. Walau aku tidak di hina tapi aku akan menanggung rasa bersalah karenaku kau harus menanggung semuanya !!!. Aku benci hal ini Ilyas !!!!" kata Ichi padamu menggertak marah.
__ADS_1
Saat itu aku baru menyadari titik baliknya. Dan itu membuatku terkejut. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Saat itu kita diam sejenak tidak lama kemudian kata menyedihkan itu keluar dari mulutku
"Maafkan aku..." balasku sambil membuang puntung rokokku.
Ichi berdiri dan terlihat sangat kesal menatapku. dia diam beberapa detik dan memalingkan tatapannya dariku
"untuk sementara, jangan temui aku dulu. Aku.... Ingin sendirian..." katanya dan meninggalkanku sendirian di bangku itu.
Aku tetap di sana sambil merokok. Walau hujan akhirnya turun deras, aku tidak bisa meninggalkan tempat itu karena, aku menyadari. Aku malah membuatnya semakin tersakiti. Aku benar-benar yang terburuk.
Keesokan harinya aku tidak berani memasuki kelas. Dengan wajah yang penuh memar setelah di hajar oleh senior karena menantangnya di hadapan semua orang. Aku tidak melawan sama sekali karena aku tahu, aku melakukan hal yang salah. Walau kak Kiki sempat membelaku dengan cara membujuk pacarnya agar aku tidak di hajar lagi. Setelah mereka mendiamiku, kak Kiki mendekatiku lalu bicara padaku
"seperti itukah kau mengagumi Icha itu ?. Jujur saja, seandainya kau tampan dikit sebagai Icha mungkin aku akan senang. Tapi juga sedih karena tindakan bodohmu itu. Kau itu bukan pemeran utama di sebuah film yang bisa melakukan apa saja. Hentika kelakuan bodohmu itu" kata kak Kiki padaku.
"bukankah setiap manusia adalah pemeran utama di kehidupannya masing-masing ?. Tinggal kita aja kan yang menjalani kehidupan ini sebaik apa" balasku memberanikan membantah kak Kiki.
"Aku tidak tahu kau itu cerdas atau aneh. Tapi kali ini saja aku akan menolongmu karena hari itu bukan cuma Icha yang kau tolong, tapi kau juga menolongku" balas kak Kiki lalu meninggalkanku di atas Roof top fakultas.
Aku hanya duduk di sana hingga aku siap dan kembali ke kosan. Entah berapa hari berlalu. Rasanya sedikit canggung karena Ichi juga sering menghindar dariku dan semua orang tidak bicara padaku. Mau bagaimana lagi, gelar Pria tersuram di Fakultas ini membuat mereka tidak berani apalagi mereka mengira aku sudah berkelahi Saat aku mengambil sepedaku untuk pulang dengan wajah yang memar. Padahal aku lho yang di gebukin. Aku mana mau berkelahi ? ada-ada aja tuh orang.
Beberapa hari kemudian, ada satu momen ketika Dompet Ichi ketinggalan di asramanya. Padahal sekarang sudah waktu jam siang. Dan dia belum makan dari pagi yang ku dengar dari percakapannya dengan teman-temannya. Yaa saat kelas mulai di pertengahan pelajaran aku minta izin untuk ke Wc untuk buang air besar. Dan semua orang menertawaiku karena aku mengatakannya dengan lantang sambil mengangkat tangan. Namun nyatanya saat aku di izinkan, aku pergi membeli sebungkus nasi kuning dan air gelas lalu ku masukkan dalam jaketku agar tidak kelihatan oleh Dosen saat masuk. Setelah masuk ke dalam kelas kembali, aku menaruhnya dalam tasku untuk sementara dan tidak ada satupun orang yang menyadarinya. Mau gimana lagi kan ?. Orang seperti diriku tidak akan menjadi pusat perhatian sekalipun aku kecelakaan.
Saat kelas selesai, aku mulai menulis surat dengan tangan kiriku lagi lalu menaruhnya di kantongan yang berisi nasi kuning dan air gelas itu. Setelah Ichi keluar ke wc bersama teman-temannya, aku menghampiri temannya yang tinggal di kelas sambil duduk di sampingnya dan pura-pura menanyakan tentang pelajaran sebelumnya. Saat dia menjelaskan, tanganku mulai bergerak dan memasukkan kantongan itu ke bawah kolom meja Ichi. Mudah-mudahan dia menyadarinya.
"Oi Ilyas, setelah mendekati Kak Kiki kau tidak berniat mengincarku sebagai predator kan ?" tanya teman Ichi padaku.
"Mana mungkin, kau bukan tipeku tau. Aku memang tidak paham karena di Wc aku cukup lama tadi" balasku padanya.
"Kamu memangnya ngapain sih di wc ?" tanyanya penasaran. Aku tersenyum padanya sambil berkata
"apa aku harus menjelaskannya secara detail padamu ?" tanyaku padanya.
"kayaknya ngga usah deh. Semua orang punya masalah masing-masing" balasnya dengan menatapku agak risih.
"dosen selanjutnya nggak masuk teman-teman. Tapi kita di kasi tugas tolong chat teman lain yang di luar yaa" katanya memberi imformasi.
Ichi mau mengambil buku di kolom mejanya tapi tiba-tiba dia merasakan kantong kresek yang berisi Nasi kuning, air gelas, dan surat yang tertulis
"Hay aku pengagum rahasiamu. Kau tau, selama ini kau terlihat sedih walau mencoba untuk menyembunyikannya. Dan juga, kau terlihat pucat saat aku melihatmu keluar. Belum makan yaa ?. Ini untukmu. Kamu yang semangat yaa" kata dalam surat itu.
Ichi tersenyum lalu memakan nasi kuning tersebut di kelas dengan lahap. sambil memakannya, dia seperti kebingungan. mungkin dia memikirkan lagi siapa pengagum rahasianya ini. aku tetap menatap dirinya. setelah makan, dia mengerjakan tugas dari dosen hingga selesai. Setelah tugas dari dosen sudah terkumpul semua, Ichi mendekatiku
"sudah ku duga kau adalah pengagum rahasiaku ilyas" kata Ichi padaku.
"Hah ?. Kau ngomong apa sih ?" tanyaku padanya.
Waktu itu aku berekting senetral mungkin agar dia tidak menyadarinya.
"Kau membeli nasi kuning lalu menulis surat untukku kan ?. Jangan mengelak" katanya padaku sambil memperlihatkan suratnya.
Aku merentangkan tanganku lalu meminta suratnya
"sini aku liat" kataku meminta padanya.
Setelah memberikanku surat itu, aku menulis kata-kata di kertas yang sama. Dan tulisannya cukup berbeda. Yaiyalah, sebelumnya pake tangan kiri dan kali ini aku pake tangan kanan.
”apakah tulisan kami terlihat sama ?” tanyaku padanya dan dia percaya itu bukan aku.
"Kau ini paling tahu bukan, yang kau curigai itu aku lho. Dan sebelumnya kau mengatakan jangan mendekatimu untuk sementara, makanya aku cuma mendiamimu untuk sementara" lanjut kataku pada Ichi.
Tetapi perkataanku membuatnya sedikit jengkel padaku
__ADS_1
“itukan karena kebodohanmu, kenapa kau harus melakukan itu sih di ruangan tengah fakultas ?” katanya marah padaku.
“kita nggak usah bahas di sini, banyak orang soalnya” balasku padanya.
“kau tau, aku membenci sifatmu yang terlalu Naïf itu !!!. Kau itu bukan pahlawan Ilyas, seharusnya kau tak melakukan itu” lanjut Ichi membentak jengkel.
Perkataannya itu mengingatkanku pada masa lalu yang tidak ingin aku ingat.
“Setidaknya kau tak perlu mengatakan itu padaku, kalau memang sebenci itu padaku sampai harus mengatakan di depan banyak orang, baiklah. Aku tak perlu bicara padamu bukan ?. kau tidak akan melihatku lagi peduli padamu. Mulai besok, maka hiduplah dengan tenang yangmulia Icha” balasku jengkel dan meninggalkan kelas
Perkataanku itu cukup membuat Ichi terkejut dan diam membatu karena untuk pertama kalinya, dia melihatku marah padanya.
Hari-hari berlalu, dia mendekatiku sepertinya ingin berbicara padaku. Aku hanya mengabaikannya dan melewatinya seolah dia tidak ada di hadapanku. Kadang dia ingin meminjamkan buku yang akan di Refiew untuk tugas kuliah, tapi aku mengabaikannya dan melewatinya. Ini yang dia inginkan bukan ?. entah kenapa perkataan Naif itu menghantuiku dari masa lalu hingga masa ini.
Keesokan harinya aku masih melakukan hal yang sama dan itu membuat Ichi lelah dan matanya berkaca-kaca. Hingga sore hari tiba, aku yang baru mau pulang setelah di hajar oleh Senior di rooftop, tiba-tiba di dorong oleh Ichi hingga terjatuh di dekat tembok beserta dirinya. Dia memelukku dengan Erat lalu menutup wajahnya di dadaku
“ooii apa yang kau lakukan ?. minggir Ichi” kataku padanya.
“aku tidak mau” kata Ichi menyembunyikan wajahnya.
“ooii. Nanti dosen liat kita seperti ini, kau tau kan ini sangat bahaya” kataku mmbujuknya.
“Masalahnya kalau kau ku lepaskan, kau akan mengabaikanku lagi !!!” teriak Ichi sambil menahan dirinya untuk tidak menangis.
Sore itu akhirnya aku pasrah. dia tetap memelukku dengan erat dan menaruh wajahnya di dadaku.
“aku kira kau ingin aku menghindarimu kan ?. Lalu kenapa kau malah mendekatiku ?” tanyaku pada Ichi.
“karena ini sangat menyakitkan. Melihatmu mengabaikanku, aku sangat terbebani. Kenapa kita harus seperti ini Ilyas ?, Kita ini sahabat kan ? hiks…” kata Ichi yang mulai menangis.
Lalu aku mengelus kepalanya. dan sepertinya ini tidak berhasil seperti sebelumnya hingga wajahnya terenyum seperti kucing. kini, Ichi hanya menyembunyikan wajahnya yang menangis.
“aku menyakiti perasaanmu yaa ?. aku minta maaf Ichi, sepertinya aku sangat keras padamu” kataku padanya.
Dia menggelengkan kepalanya dan masih merapatkan wajahnya di dadaku sambil memelukku. Saat itu, aku memegang pundaknya dan berkata
“bisa kau melepaskanku ?. ini benar-benar memalukan soalnya Ichi-Chan” kataku padanya.
“nggak mau, biarkan aku lebih lama seperti ini” kata Ichi yang masih merapatkan wajahnya.
“Ichi, ada yang tegak tapi bukan keadilan lho Ichi. Kau membuatku tegang” kataku padanya
tidak lama, dia memahami perkataanku dan dengan cepat melepaskanku. wajahnya memerah lalu dia menghapus air matanya. dia mencoba menutupi badannya dengan switer yang ia kenakan dan berkata padaku sambil tersipu malu
“dasar mesum” katanya dengan wajah yang memerah.
Tidak lama kemudian, kami tertawa bersama-sama.
Seperti biasa, kami ke taman duduk bersama. Dia membersihkan lukaku setelah di hajar oleh para Senior. Sentuhan Ichi benar-benar sangat lembut padaku lalu tiba- tiba aku teringat sesuatu.
"Sepedaku sudah aku berikan tempat duduk lebih di belakangnya. Kau mau ikut ke Cafe ?. Sekalian kita cari anime yang bagus" ajakku padanya.
"Nggak mau" jawabnya singkat.
Itu sempat membuatku kecewa secara tiba-tiba. yaa wajar sih, kita kan baru bertengkar tidak lama ini malah langsung ngajak gitu. tapi....
"Bagaimana kalau besok aja ?. Kebetulan kan besok libur hari sabtu. Kalau nanti kaukan harus kerja dulu. Bagaimana ?" katanya menawarkan.
Aku mengajukan jempolku di depannya
"sip Komandan" kataku.
__ADS_1
"Hmm... Sudah di tentukan" balasnya dengan bahagia.
Jujur saja, sebenarnya ini hanyalah pengorbanan kecil di banding di masa laluku yang begitu kelam. Di masa lalu aku harus mengorbankan segalanya tapi kali ini, aku tidak perlu melewati batasku. Atau aku sendiri yang akan mendapatkan balasannya. sepertinya, aku bisa menahan diri bila bersama dengannya.