
Beberapa hari telah berlalu, badanku sudah semakin pulih. Akhirnya aku datang ke kampus. Semua orang terkejut seolah aku baru datang. Padahal sudah jelas Ichi mengizinkanku karena aku sakit saat itu. Tapi entah kenapa mereka semua menatapku karena mungkin aku jarang Absen sebelumnya atau mereka sudah tahu perihal Yusuf, atau mungkin karena Kak Kiki dan pacarnya berjalan bersamaku seperti orang yang akrab.
"Kalian tau aku ini orang suram kan ?. Terus kenapa kalian mengikutiku ?" tanyaku pada mereka.
"Aku hanya ingin liat keadaanmu setelah kau tau bahwa Icha dan Yusuf kini pacaran" jawab kak Kiki.
"Kakak tau kan aku dan Ichi cuma sahabat dan aku hanya mengaguminya. Tidak lebih, malahan aku menyukai kak Kiki tapi kak Kiki sudah menolakku, yaudah aku menyerah" balasku pada Kak Kiki.
"Baguslah kalau begitu Anak Suram. Karena kalau tidak, Loe akan ku hajar sampai mampus" kata Kak Rahman padaku.
"Ok ok Kanda. Dan karena kakak sudah tahu, lebih baik kakak Ngebucin sama Kak Kiki dan tinggalkan kehidupanku yang suram" kataku pada Kak Rahman.
"Gua nggak ikutin Loe Tol*l, gua ikutin My love Kiki. Ngapain juga gua urusin loe ?" jawab kak Rahman.
"Kak Kiki, bisa tinggalkan aku ?" kataku meminta pada kak Kiki.
"Sudah hampir seminggu kau tidak datang ke kampus. Kau kira aku tidak rindu dengan aksimu itu ?" jawab kak Kiki.
Mendengar pengakuan Kak Kiki, Kak Rahman langsung kesal dan langsung menarik kerah bajuku
"Sialan loe anak Suram !!!!" teriak marah kak Rahman.
"Kakak dengarkan, Kak Kiki hanya bercanda karena melihat kak Rahman posesif cemburuan. Dan juga, Yusuf kenapa dari tadi diem doang ?" tanyaku pada Yusuf yang sebenarnya dari tadi ada di sampingku.
Lalu Yusuf menarikku sambil berbisik padaku.
“kau itu kan kuat dan pembunuh. Masa ia kau tidak bisa lawan kak Rahman ?" tanya Yusuf sambil berbisik.
"Ini namanya pencitraan. Memangnya apa di katakan Mahasiswa sejurusan kalau mengetahui aku ini pembunuh ?. Mereka akan membenciku dan aku langsung di D.O" balasku pada Yusuf.
"Tapi apa menjadi orang suram kau di dekati orang lain ?" tanya Yusuf yang cukup ngena.
"Lebih baik di katain orang suram daripada di katain pembohong kelas kakap" balasku mengakhiri perbincangan.
“kau menyinggungku yaa sialan ?” tanyanya kesal padaku.
Lalu setelah itu informasi dari whatsapp grub akhirnya datang bahwa kelasku sudah masuk mata pelajaran kuliah.
"Ok semuanya, aku diluan. Ketua tingkat sudah menginformasikan bahwa kelasku dah masuk. Aku diluan ok ?" kataku pada mereka.
Namun mereka bertiga malah serentak berkata padaku dengan nada yang penuh kebencian.
"NGGAK PEDULI…." balas mereka padaku serentak.
“PEDULI SEDIKIT KEK !!!?” teriakku kesal.
Itu betul-betul mengenaiku. Aku meninggalkan mereka tapi tidak ku sangka, di belakang mereka membicarakanku waktu itu dan imformasi ini ku dapatkan dari Kak Kiki setelah masuk kuliah walau setelah dia menjelaskannya, aku nggak cukup peduli walau hatiku terasa sedikit sakit. Waktu itu Kak Kiki mendekati Yusuf dan berkata padanya.
"Apa kau yakin berhubungan dengan Icha seperti ini ?" tanya kak Kiki pada yusuf.
"Memangnya kenapa ?. Seperti kata Ilyas, semuanya adil dalam cinta dan perang" jawab Yusuf pada Kak Kiki.
__ADS_1
"Dengan cara curang ?. Seharusnya Ilyas yang mendapatkan perasaan itu namun kaulah yang mengaku-ngaku sebagai pengagum rahasianya. Kau hanya mencuri usaha orang" balas Kak Kiki.
"Diam kau, ini bukan urusanmu" balas Yusuf yang mulai jengkel dengan perkataan Kak Kiki.
"Hah ?. Kau mengancam Kiki Bangs*t !!!?" kata kak Rahman sambil menatap tajam Yusuf.
"Aku bukanlah Ilyas si Anak suram. Kalau kau mengejek hubunganku dengan Icha, kaupun akan ku hadapi" balas yusuf menatap tajam ke arah kak Rahman.
Setelah menatap tajam satu sama lain, Kak Rahman memegang pundak yusuf sambil tersenyum pada Yusuf.
"hmm... Aku tau perasaanmu itu" katanya dengan perasaan semangat dan tersenyum pada yusuf.
Kak Kiki malah memukul kepala Kak Rahman dan meninggalkanya dengan perasaan kesal.
"Dasar Nggak peka" kata Kak Kiki dan meninggalkan mereka berdua.
“Auck… Baby…, memangnya aku salah apa ?” balas Kak Rahman dan mengejar Kak Kiki.
Dan Yusuf saat itu, terlihat tidak peduli dengan perkataan Kak Kiki dan menuju ke kelasnya untuk menunggu perkuliahan selanjutnya. Jujur saja, mengetahui Yusuf dan Ichi pacaran cukup menyakitiku. Tapi, selanjutnya aku hanya harus menjaga Ichi dan Yusuf agar berpacaran dengan sehat tampa melewati batas. Karena, perasaanku tidak bisa berbohong. Aku masih menyukainya hingga sekarang. Perasaan ini, masih belum hilang dariku.
Aku yang di kelas saat itu, mendengarkan pelajaran. Hingga sebelum perkuliahan selesai, akhirnya kami di beri kisi-kisi untuk final mata kuliah hari itu. Lalu kami di absen dan tidak ku sangka, saat nama Ichi di sebut ternyata dia tidak hadir dan sedang sakit. Aku memberi tahu teman mereka katanya dia sedang demam hari ini. Aku berencana pulang nanti membelikannya bubur tapi aku di halangi kak Kiki saat itulah dia menceritakan perbincangannya dengan yusuf tapi aku tidak peduli.
"Ilyas, apa tidak apa-apa seperti ini ?. Cintamu bertepuk sebelah tangan lho" kata kak Kiki.
Aku hanya mengabaikannya dan terus berjalan meninggalkannya.
“kau akan semakin tersakiti bodoh !!!” teriak Kak Kiki peduli padaku.
“Cahaya yang di pancarkan Ichi belum redup padaku. karena itulah, aku hanya perlu melakukannya. Meski ini menyakiti perasaanku” kataku padanya.
“kau terlalu Naif, lakukan saja sesukamu Gloomy Boy” kata Kak Kiki sambil menundukkan kepala.
Saat jam pelajaran selesai, aku pergi membeli bubur panas untuk Ichi. saat itu aku bertemu dengan Yusuf dan menjelaskan padanya.
"Lah, kok aku nggak tahu yaa ?" kata yusuf padaku.
"Kau ini beneran pacarnya Ichi nggak sih ?" balasku mempertanyakan yusuf.
Aku hanya menghela nafas dan mengambil sebatang rokok dan mengudutnya. Setelah berpikir cukup lama, aku memberikan bubur itu pada Yusuf
"nih, kau pergi mengunjungi Ichi sana. Dia mungkin membutuhkanmu sebagai kekasihnya" kataku sambil menodongkan bubur sebungkus padanya.
Dia diam sejenak melihat bubur itu. Seketika dia mengingat kata Kak Kiki pagi ini dan membayangkan tingkahnya Ilyas di hadapannya sekarang.
"kenapa yaa semua orang ikut campur dengan hubungan kami ?" tanya yusuf dengan kesal.
"aku sudah mendengarnya dari kak Kiki. Seharusnya kau tegas sebagai cowok, buktikan kau adalah kekasih Ichi. Karena dari awal kau berniat pacaran dengannya, lakukanlah apa yang di lakukan pria pada pacarnya. Dan kalau masalahku, lebih baik kau anggap aku tidak ada. Karena aku tetap sahabat ichi, aku akan tetap memperhatikannya. Tapi kali ini, ambillah langkah sebagai pacarnya. Jenguklah dia. Bubur ini jangan katakan bahwa aku yang menyuruhmu. Katakan saja, ini darimu kau tadi membelinya karena ichi sakit" balasku mengkuatkan perasaan Yusuf.
Entah kenapa aku peduli padahal dia itu orang yang merebut Ichi dariku. Dan akhirnya dia mengambil buburnya dariku
"baiklah Ilyas. Maaf selama ini aku mengatakan kau suram. Ternyata kau orang yang baik. Aku akan menjadi pacar yang ideal bagi Icha mulai dari sekarang" kata yusuf sambil mengambil bubur itu.
__ADS_1
Aku meninggalkannya karena aku harus ke bengkel melihat sepedaku apa sudah layak di pakai atau tidak. Sambil berjalan, aku menghubungi Nuge
“Oi Aibo..(Aibo orang jepang mengartokannya sama dengan panggilan Bro), sepedaku dah bagus nggak ?” kataku menghubunginya.
“Matamu di jadiin lahar motor !!!, ini bengkel mobil lu malah bawa sepeda. Nyambungnya kemane Kimank !!!?. yaa sabarlah” balas Nuge kesal.
“tolonglah, tidak ada tempatku minta bantuan selain dirimu lagi yang ahli bengkel” kataku padanya.
“kalau mau kesini, beliin jus Alpukat. Lagi mau soalnya” kata Nuge meminta.
“Ok, aku segera ke sana” balasku padanya.
“Sangkyu Aibo…” katanya mengakhiri percakapan.
. ..*****...
Malam harinya aku menelpon Ichi karena khawatir padanya. Yaa mau bagaimana lagi, hari ini aku nggak bertemu dengannya.
"Halo Ichi, gimana keadaanmu sekarang ?. Apa kamu sudah sehat ?. Kau demam kan ?. Apa sudah makan obat ?" tanyaku pada Ichi mengkhawatirkannya.
"Pelan-pelan ilyas, aku tidak apa-apa kok. Lagian aku cuma demam biasa kok peduli banget. Rindu yaa ?" tanya Ichi menggoda.
"Bu..bukan begitu. Masalahnya kalau kau sakit, kepada siapa lagi aku menyontek tugas dari dosen kalau bukan kamu ?" balasku pada Ichi.
Dia malah tertawa karena mendengar perkataanku. Dan tiba-tiba berhenti tertawa dan kesal padaku.
“barusan kau menghina atau bagaimana ?. biasanyakan aku yang nyontek sama kamu” kata Ichi padaku kesal.
“Ma…maafkan aku Ichi-Chan” balasku menenangkannya.
"Aku baik-baik saja kok. Tadi Yusuf mengunjungiku sebelum teman-teman datang, dia membawakanku bubur hangat. Ahh so sweet banget sih dia. Pantes saja dia jadi pengagum rahasiaku" kata Ichi padaku.
Jujur saja perkataannya membuat hatiku berdenyut. Aku mengambil sebatang rokok dan keluar merokok di depan kos menenangkan suasana hatiku.
"Aku rasa kau menemukan pria yang tepat" balasku pada Ichi.
Kami berbincang malam itu tidak lama sampai akhirnya Yusuf chat lewat Whatsapp pada Ichi di tengah teleponnya denganku
"ahh Ilyas dah dulu yaa. Yusuf mau nelepon katanya" kata Ichi padaku.
"Ellee.... Setelah punya pacar, sahabat di telantarkan ternyata yaa ?" kataku sedikit berharap padanya.
Walau dia pasti menganggapnya cuma candaan tapi aku berharap dia menanggapinya dengan serius. Walau hanya sebatas Sahabat saja.
"jangan gitu dong Ilyas. Kita kan sahabat. Setelah sembuh nanti, ayo ke Cafe nobar lagi. Aku punya Anime baru yang belum kau nonton pastinya" kata Ichi padaku.
"Memang ada anime yang belum aku nonton ?" tanyaku pada Icha.
"Yang ini pasti belum kau nonton, sudah dulu yaa. Mau nelepon sama yusuf dulu. Bye-bye" jawab Ichi dan menutjp teleponnya.
Malam itu aku masih duduk di depan kos sambil mengudut rokokku. Aku selalu berpikir dan berpikir sampai tidak ada kesempatan untuk menghayal
__ADS_1