Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Chapter 46 (Season 2) : Membunuh atau Dibunuh


__ADS_3

Di Roff top Hotel di malam hari di mana malam itu di penuhi oleh bintang-bintang yang bersinar dan bulan sabit bercahaya di langit malam pun terlihat,  Ilyas dan Natasya sedang menikmati angin malam di Roff top Hotel.


“angin di sini segar yaa ?” kata Natasya.


“yaa, sangat segar” balas Ilyas singkat.


Setelah mereka lama menatap kota dari atas, akhirnya Ilyas memberanikan diri berkata jujur pada Natasya...


“maafkan aku Natasya, aku bukanlah Ilyas yang kau kenal dulu. Aku sudah tidak sebaik dulu lagi” kata Ilyas merendahkan diri.


“apa maksudmu ?” Tanya Natasya yang penasaran.


(Hehee.... pembaca sempat salah paham yaa ?)


"kau melihatnya kan ?. Aku sudah beberapa kali terjerat kasus Kriminal tapi kasusku selalu di tutupi oleh ayahku" balas Ilyas menundukkan kepala.


"heeehhh...... memangnya kasus apa sampai membuat anak Kaya biasa sepertimu di kantor polisikan ?" tanya Natasya yang belum tahu kebenarannya.


“aku… pernah membunuh seseorang" balas Ilyas yang membuat Natasya terkejut.


"kau... bercanda kan ?" tanya Natasya terkejut.


"memangnya kapan terakhir kali aku berbohong padamu Natasya ?. Karena itulah semua orang yang kenal ayahku mengejekku karena Ayahku menutup kasusku agar aku tidak di klaim sebagai pembunuh” kata Ilyas berkata jujur.


Perkataan Ilyas membuat Natasya sedikit syok dan tidak berkata apa-apa. Baru saja dia ingin berbicara, Ilyas mendengar suara senjata yang di pompa, ia memegang Natasya lalu menunduk seketika tembakan peluru hampir mengenai mereka berdua.


“apa-apaan itu Ilyas ?” kata Natasya panik.


“Diam sebentar, aku akan mencoba menghadapinya” balas Ilyas menenangkan Natasya.


Ilyas melihat botol lalu melemparnya ke atas. Saat pandangan si penembak teralihkan, Ilyas berlari lalu menebrak penembak itu dengan sundulan kepala.


Penembak itu terjatuh dan Ilyas menghajarnya sampai si penembak melepaskan senjatanya. Ilyas mengambil senjata itu lalu menembak kedua paha si penembak. Si penembak mau menjerit tapi Ilyas menutup mulutnya dengan tangannya.


“Diam, dan jangan berisik. Kalau tidak, aku akan menembakmu” kata Ilyas mengancam memasukkan pistol ke mulut orang itu.


Setelah itu, Ilyas mengikat si penembak lalu duduk di hadapannya sambil mengintrogasi penembak tersebut.


“siapa yang mengirimmu ke sini ? dan kenapa kau ingin menembak kami ?” Tanya Ilyas.


“kau kira aku akan menjawab bocah sepertimu ?” kata Penembak itu mengelak.


Ilyas mengambil pisau yang ada di pinggang penembak itu lalu merobek telinganya dan menutup mulutnya. Melihat hal itu Natasya ketakutan dan tidak mampu melihatnya


“aku bisa melakukan ini berkali-kali. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku menyiksa mahluk sepertimu dan jangan samakan aku dengan orang-orang kaya yang ada di dalam sana" kata Ilyas menarik rambut penembak itu.


"membunuh seseorang sangat mudah bagiku sekarang” lanjut Ilyas mengancam orang itu dan melepasnya.


“Siapa kau sebenarnya ?” Tanya Penembak itu.


“Bukan Siapa-siapa” balas Ilyas membisik telingannya.


“sekarang katakan, siapa yang mengirimmu kalau tidak, telinga yang satunya lagi akan menjadi korban” kata Ilyas sambil memegang telinga si penembak yang masih utuh.


“kami Cuma tentara bayaran oleh Orang Kaya yang menyuruh kami membunuh Puang Onding serta menculik putrinya Natasya, dia tidak mengatakan identitasnya yang sebenarnya. Dan kami membawa banyak pasukan yang telah menyandera seluruh orang di Aula. Dan pemimpin kami bernama,Wahyu dan kami memanggilnya Ayu” kata si penembak jujur.


Ilyas mengingatnya kembali, salah satu mantan anggota Mafia Cakar Naga Merah yang pernah menjadi guru BK di sekolahnya.


"Orang itu.... beraninya dia mengusikku lagi" balas Ilyas dengan kesalnya.

__ADS_1


"Berapa Jumlah kalian ?" tanya Ilyas kembali.


"kami ada 100 orang sebagai pasukan ter*ris bersenjata" balas orang itu.


Mendengar hal itu, Natasya dan Ilyas panik menghawatirkan orang-orang yang ada di dalam.


“A… yahh….” kata Natasya yang tak mampu berdiri dan ketakutan.


Ilyas mendekatinya lalu menyuruhnya bertahan


“tenangkan dirimu Natasya, kita pasti bisa melewati hal ini, percayalah padaku” kata Ilyas menenangkannya.


“PERCAYA APANYA !!!?. KITA MENGHADAPI TER*RIS ILYAS !!!” bentak Natasya.


Ilyas memegang tangan Natasya dengan gemetar lalu meyakinkannya.


“tidak apa-apa, kau bersamaku Natasya” kata Ilyas yang makin panik.


Melihat tangannya yang gemetar, Natasya tidak tega dan akhirnya diam.


“baiklah, kau gunakan hp ku dan hubungi polisi di sana yang bernama Suparman. Ada di kontak teleponku dan perintahkan bawa pasukan polisi ke sini secepat mungkin, kita di sandera” kata Ilyas memerintah.


“kenapa harus aku ?” Tanya Natasya.


“dia akan tahu kondisinya saat kau yang menelpon langsung” balas Ilyas.


Natasya menelpon polisi tersebut lalu seorang Polisi mengangkatnya.


“yaa dengan petugas kepolisian Makassar, siapa yaa ?” Tanya salah satu teman Pak Rahman yang mengangkat telepon Umum Polisi.


“apa aku bisa bicara dengan Pak Suparman ?” Tanya Natasya.


Pak Suparman yang mendengar itu langsung berasumsi,


“tapi pak, yang menelpon itu perempuan” kata Polisi yang mengangkat telepon.


Mendengar hal itu, Pak Suparman langsung terkejut dan memerintahkan anggotanya


“lacak Nomor itu dan segera komfirmasi di mana dia berada SEKARAANNGGG !!!!” kata Pak Suparman memerintahkan anggotanya.


Lalu Pak Suparman mengambil telepon itu.


“katakan nak, apa yang terjadi ?” Tanya Pak Suparman panik.


“Hiksss… tolong kami pak, kami di Sandera oleh Tero..” belum sampai perkataannya, teleponnya akhirnya terputus.


“Pak, teleponnya terputus” kata Pak Polisi yang melacaknya.


“dimana lokasi terakhirnya ?” Tanya Pak Suparman.


“Hotel Ratu Indah” jawab Polisi yang bertugas melacak.


“bawa pasukan sebanyak mungkin ke sana, kita akan mengepung Hotel itu. Dari yang kudengar, ini bahaya karena mereka di Sandera. Terlebih lagi dia mengatakan Tero.. harus ku akui pikiranku mengarah ke sana” kata Pak Suparman.


“maksud bapak, Ter*risme ?” Tanya salah satu Anggotanya.


“yaa.. aku takut banyak korban yang berjatuhan. Tapi yang lebih kutakuti, kalau bocah Ilyas itu mengamuk berlebihan lagi sampai membunuh seseorang. Dia masih kecil, tapi masih terus saja melakukan hal yang berlebihan” kata Pak Suparman.


...****...

__ADS_1


Beberapa jam kemudian di Hotel itu sudah di kepung oleh Polisi dan Pak Suparman mulai memerintahkan polisi lainnya untuk menahan masuk setelah melihat seorang ter*ris berada di depan pintu dengan orang yang memasang Bom kepada salah satu pelayan di sana.


"kalian coba menerobos masuk, orang ini akan menjadi taruhannya. Ini baru satu, masih banyak Bom yang ada di dalam sana" kata ter*ris itu dan membawa perempuan itu masuk kembali.


"SIAALL !!!. Kita terlambat" kata Pak Suparman yang mulai putus asa.


"Heee.... sudah di Sandera yaa ?" tanya salah satu orang yang menggunakan seragam tentara lengkap dan membawa sebagian pasukan bataleonnya.


"Kau... Mayor Adi ?. Kenapa anda berada di sini ?" balas Pak Suparman.


"keponakan kesayanganku dan Kakakku ada di dalam. Mendengar laporan itu, aku langsung ke sini. Pasti anak itu akan mengamuk lagi" balas Mayor Adi.


 "jangan bilang, bapak mau melindungi dan menutup kasus Ilyas lagi ?" tanya salah satu anggota Pak Suparman.


"Jangan membuatku tertawa. Aku datang ke sini bukan untuk melindunginya. Tapi aku disini untuk melindungi kalian dari Ilyas" balas Mayor Adi membuat semua anggota Pak Suparman terkejut.


"Apa maksud bapak ?" tanya Salah Satu Polisi yang ada di sana.


"aku yang mengajarkan anak itu layaknya tentara dengan pelatihan yang sangat berat setara dengan Tentara Comando. Karena itulah aku yang menjadi pawangnya untuk sementara" balas Mayor Adi.


...****...


Di atas Roff Top Natasya makin panik karena teleponnya terputus setelah menelpon polisi


“Ilyas, jaringan menghilang.. hiks… gimana ini ?” Tanya Natasya panik.


"Entahlah...." balas Ilyas yang juga panik.


Tiba-tiba, Suara terdengar dengan menggunakan pengeras suara dari lantai bawah.


"Tes tess.... Ooii Keponakanku... aku tahu kau ada di dalam..." kata Mayor Adi dengan menggunakan Pengeras Suara.


"aku tahu kali ini kau bingung dan tidak tahu harus ngapain. Apalagi karena kasus kemarin kau mungkin masih Trauma. TAPIIII !!!!!" lanjut Mayor Adi berteriak.


"INI ADALAH KONDISI MEMBUNUH ATAU DI BUNUH !!!. MEREKA ADALAH MUSUH NEGARA KITA ILYAS !!!!" teriak Mayor Andi dan melanjutkan teriaknya.


"ATAS IZIN PAMAN KESAYANGANMU INI !!!, BANTAI SAJA MEREKAAA !!!!!" Lanjut Mayor Adi teriak.


Semua orang menyaksikan itu sangat terkejut dengan ucapan Mayor tersebut. Ilyas membulatkan tekadnya dan merobek Rok Natasya agar lebih leluasa berlari.


“maafkan aku harus merobeknya. Setelah ini, kita akan terus berlari” kata Ilyas.


Lalu Ilyas mengambil barang di tasnya dan mengambil jaket One Eaglenya sambil mengingat kejadian sebelum mereka berangkat.


“Ayolah kita bawa Jaket kita sama-sama lalu kita foto bersama di sana. Jangan sampaikan ada kejadian yang tidak kita pikirkan dan kita gelut lalu kita bisa memperkenalkan diri kita lagi di sana” kata Nuge sebelum berangkat ke acara.


Ilyas tersenyum dan memakai Jaket itu sambil bergumam dalam hatinya.


"akan ku gedik kepala anak itu kalau ketemu, bisa-bisanya harapannya terkabulkan" gumam Ilyas dalam hatinya.


“lawan kita cukup berat karena dia bahkan mampu memutuskan jaringan telepon. Dan aku tidak bisa terhubung dengan temanku lewat telepon buatan kami, semoga Database-Sama mendapatkan solusinya segera” kata Ilyas lalu mengambil senjata bersiap untuk masuk kembali ke dalam Hotel.


"kau siap Natasya ?" tanya Ilyas.


"Siap atau tidak, aku tetap harus masuk kan ?" tanya Natasya balik.


"aku minta maaf tapi, Ulang tahunmu kali ini akan menjadi ULANG TAHUN BERDARAH" balas Ilyas dan masuk kedalam Hotel kembali.


...****...

__ADS_1


Facebook : HackBae


Instagram : hackbae2022


__ADS_2