Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Pengakuan


__ADS_3

Sore hari tiba, mereka semua sudah tumbang dan tidak bisa berdiri lagi. Begitupun kondisiku yang hampir tumbang. aku hanya menahan kakiku agar tetap berdiri dengan cara memegang pahaku.


“aku kok malah makin melemah setelah sekian lama yaa ?. sepeertinya aku harus banyak berolahraga” gumamku sendiri.


Aku berjalan mendorong sepedaku cukup jauh menuju ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Untung aja nggak ada yang patah tapi, para perawat malah panik. Karena melihat diriku menyerahkan diri untuk diobati. Seperti seluruh tubuhku mau tumbang. Dan di puskesmas aku tidak sadarkan diri sebelum akhirnya aku ingin diberi perwatan pada para perawat.


Ichi apa kabar yaa sekarang ?.


Sepertinya, aku sama saja seperti dulu. Aku masih belum mampu melindungi yang aku sayangi.


Setelah aku sadar, akhirnya aku melihat Ichi yang duduk di sampingku mengunjungiku sambil memegang tanganku. Aku terkejut dan bertanya padanya.


"Bagaimana kau sampai ada di sini ?. bagaimana dengan para berandalan itu ?" tanyaku pada Ichi.


"aku melihat sepedamu di dekat puskesmas saat menghawatirkanmu. jadi aku mencurigai kau pasti ada di sini. Dan juga, pengagum rahasiaku telah menghajarnya untukku" balasnya padaku.


Aku pikir saat itu pada akhirnya dia mungkin sudah mengetahuinya tapi tiba-tiba dia memperkenalkanku dengan seorang pria


"perkenalkan dia Yusuf. Dari jurusan yang sama seperti kita, dia berada di kelas Filsafat Nusantara 3. Pengagum rahasiaku" lanjut ichi menjelaskan.


Aku sangat terkejut karena sudah jelas aku pengagum rahasianya. Tapi kenapa mesti orang ini ?. Lalu tiba-tiba Ichi memelukku karena sudah cukup khawatir dengan kondisiku yang babak belur daripada sebelumnya.


"aku juga tahu, kau menahan sebagian dari mereka dengan cara menjadikan dirimu sebagai incaran. Kenapa kau lakukan itu ?, kau itu lemah. Kau tak mampu bertarung Ilyas" lanjutnya dengan mata berkaca kaca.


“Maafkan aku” balasku sambil menundukkan kepala sambil membalas pelukannya.


Setelah dia melepaskanku, dia di panggil oleh salah satu perawat untuk laporan tentang luka-lukaku. Dan yusuf tidak mengikutinya dan mulai bicara padaku.


"Kau pasti terkejutkan kenapa bisa aku bisa ngomong gitu ke dia ?. Karena selama ini aku membuntutimu. Dan aku kesal, kenapa orang suram sepertimu harus dekat dengannya ?. Harusnya itu aku, karena aku tampan dan body atletik. Makanya aku membuntutimu dan mengakui diriku sebagai pengagum rahasianya dengan cara menjelaskan bagaimana caramu menjadi pengagum rahasianya" katanya padaku.


Hal itu membuatku kesal tidak tertahankan. Tapi jika mendengar pengakuannya, berarti dia adalah stalker yang sangat berbahaya sampai membuat Ichi percaya. Dia menahanku dan bicara lagi padaku.


"Lebih baik kau tidak jujur padanya. Karena kalau kau memberitahukan sebenarnya, aku akan memberitahukan segalanya tentang dirimu dasar Pembunuh" katanya mengancam sambil berbisik di telingaku.


Aku terkejut, kenapa dia mengetahui masa laluku yang tidak ingin aku ungkit lagi ?.


apa selama ini dia benar-benar membuntutiku ?.


kenapa aku sampai tidak menyadarinya ?.


"Keluargamu benar-benar cerdas yaa. Dengan menutup kasus pembunuhanmu, kau tidak bisa di penjara. Dan salah satu orang orangmu malah menjadi tumbal penjaranya. Apakah kau sekaya itu ?" tanyanya padaku.


Jujur saja aku sangat jengkel tapi, aku menanggapinya dengan senyum dan menjawab pertannyaannya dengan tenang. Menanggapinya dengan berbohong sepertinya bukan cara yang bagus jadi aku menanggapinya dengan jujur.

__ADS_1


"Maaf saja, aku sudah lari dari istana suram itu. Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah nyaman hidup sendiri dan bekerja mencari uang layaknya orang biasa. Dan bersahabat dengan orang biasa. Tidak masalah kau dekat dengannya atau pacaran dengannya. Tapi, jangan berlebihan padanya sebelum kalian menikah. Karena kalau tidak, maka aku akan menjadikanmu korban pembunuhanku selanjutnya" jawabku sambil menatap tajam ke matanya.


Yusuf terlihat meremehkanku dan tertawa lepas padaku


"Heh memangnya kau berani melakukan itu ?. aku tahu kau sudah mencuci tanganmu sekarang kan ?" tanyanya meremehkanku.


Dengan sigap aku mengambil suntik yang di bawa oleh perawat yang melewati kasurku dan menodongkan jarum suntiknya di lehernya


"selama ini aku hanya santai sebagai orang biasa. Kalau kau mau melihat diriku yang sebenarnya, akan aku perlihatkan sekarang juga. Tapi setelah itu, aku tidak tahu kau masih mampu bernafas atau tidak" balasku mengancamnya.


Dia mematung ketakutan saat suntik itu semakin mendekati lehernya. perawat yang sadar melerai kami agar pertengkaran kami berhenti


“tuan, anda masih berada dalam kondisi perawatan. Jangan mengambil tindakan berlebihan. Dan anda sebagai tamu, cobalah untuk tidak memancing pasien kami” kata perawat yang melerai kami.


Aku memberikan suntik itu kembali pada perawat dan istirahat. Si Perawat memperbaiki selimut dan menutupi sebagian tubuhku. Setelah perawat itu pergi, Yusuf terlihat kesal dan berkata padaku.


“apapun yang kau lakukan padaku, Ichi akan membencimu. Aku sudah jujur padanya bahwa aku pengagum rahasianya dan dia begitu percaya. Sedangkan kau hanyalah sahabatnya. dia tak mungkin percaya karena perkataanmu yang sok yang kau bicarakan itu adalah aku lho. Mampusss !!!!. nikmatilah ke Naifanmu itu dia milikku sekarang, bukan milikmu” katanya kesal.


Sebenarnya aku bisa saja menggulingkan Pria ini. Tapi, Ichi mungkin sudah terlanjur berharap dari pria ini. Dengan terpaksa aku berkata padanya


"kalau kau memang menyukai Ichi, lebih baik kau menyayanginya. Jangan buat dia menangis. Karena sekalipun kalian pacaran nanti, aku akan tetap jadi sahabat ichi" kataku pada Yusuf sambil membelakangi pandanganku padanya.


"Ba... Baiklah. Aku akan men-menjaga icha" balasnya heran melihat responku.


"Ichi, kau pulanglah. Yusuf mungkin bisa mengantarmu. Pasti banyak yang ingin kau bicarakan dengan pengagum rahasiamu itu kan ?" kataku sambil mengedipkan mata padanya.


"Jangan membuatku malu, lalu bagaimana denganmu ?" tanya ichi padaku.


Entah kenapa saat dia mengatakan itu, hatiku sedikit tersentak. Aku mengambil tasku yang ada di sekitar kasurku.


"mungkin aku akan menghisap beberapa rokok dulu lalu pergi kembali ke kosku" jawabku singkat.


"Bukannya rokokmu habis setelah pulang dari kampus ?. Kau mana ada rokok sekarang Ilyas" balasnya padaku.


Hal itu malah membuatku semakin gugup. Dan ichi mulai curiga padaku


"apa kau tidak apa-apa ?" tanya ichi khawatir.


"Tinggalkan aku. Aku hanya membutuhkan waktu untuk sendiri sementara" jawabku singkat pada ichi.


Lalu mereka berdua meninggalkanku di ruangan tersebut. Aku hanya bisa memegangi gantungan gembul berbulu yang di berikan Ichi padaku sambil menyesali perbuatanku. aku hanya berpikir mungkin cuma sampai sini perjuanganku.


Apakah ini juga termasuk Karma atas perbuatanku di masalalu ?.

__ADS_1


Padahal aku sudah berjuang, apa memang benar aku ini sangat Naif ?.


Nuge, apa yang akan kau katakan saat ada di sampingku sekarang ?.


Ketika aku pulang dari puskesmas, ternyata berandalan itu sudah siap untuk membegalku.


“akhirnya kau keluar juga Bocah culun”


“jadi, apakah kau masih ingin bersikap pahlawan di hadapan kami ?”


“hahahahaa… kasian, padahal baru keluar dari puskesmas. Makanya hjangan sok-sokan di hadapan kami” kata mereka sambil membawa orang yang lebih banyak


Aku tidak peduli lagi, aku menyelesaikannya dengan cepat. Dan membuat mereka semua tidak sadarkan diri. Salah satu dari mereka aku gantung di pinggir jembatan


"bagaimana ?. Pemandangannya indah kan ?" tanyaku pada berandalan yang ku gantung itu.


"Bro, gu.. guaa minta maaf. Gua salah, gua te-telah meremehkanmu. Gua janji.. Gua janji.., gua nggak bakalan melakukannya lagi. A… aku janji !!!!" teriak berandalan itu ketakutan.


"Kalau begitu, apa kau punya rokok ?. Koreknya nggak usah karena aku punya kok" tanyaku meminta pada berandalan itu.


Dia langsung mengambil satu bungkus rokok di kantong celananya. Setelah ku bakar sebatang rokok dan mengudutnya, aku memperkenalkan diri padanya.


“apa kau ingat legenda anak muda terkuat yang di juluki sebagai One Eagle ?” tanyaku padanya.


“aku ingat, dua pemuda yang bernama Ilyas dan Nuge yang di sebut sebagai berandalan SMA terkuat yang mampu meratakan Geng besar hanya berdua” katanya sambil ketakutan.


Aku tersenyum mengingat masa itu ternyata belum di lupakan sampai sekarang aku melihat ke arahnya dan berkata


“perkenalkan, namaku Ilyas. Salah satu legenda yang kau maksud” kataku memperkenalkan diri.


Setelah mengatakan itu, dia mulai syok dengan ketakutan sambil minta tolong.


“Toloooonngggg !!!!. Tolong akuu… !!!” teriknya ketakutan.


Aku melepaskan gantungan berandalan tersebut dan dia terjatuh. Sampai di bawah jembatan.


“Berisik…. Sekarang yang sok jagoan siapa ?” kataku setelah melemparnya ke bawah jembatan.


Kalian para pembaca tenang, ada air yang mengalir di bawah jembatan kok. Airnya dalam dan berandalannya nggak mati, dia malah berenang karena airnya nggak terlalu deras mengalir. Karena cerita ini bukan cerita tentang pembunuhan. Tapi ini adalah cerita tentang seorang pengagum rahasia kepada perempuan yang dia kagumi.


Setelah lama mengoceh akhirnya aku berjalan mengambil sepedaku yang rusak dan kembali ke kos untuk istirahat. Aku yakin boss di tempatku kerja hari ini marah besar karena nggak pergi bekerja di tempatnya.


“pasti gajiku di potong lagi. Tapi, mau bagaimana lagi” gumamku sambil mengayuh sepedaku.

__ADS_1


__ADS_2