
Aku mengingatnya kembali. Saat setelah ke Rumah Sakit mengunjungi Ilyas, Yusuf memboncengku dengan motornya. Dia hanya diam terus, sampai aku baru sadar. Dia tidak membawaku ke kosku, dia membawaku ke rumahnya.
“kenapa kau membawaku ke sini Yusuf ?” tanyaku padanya.
Yusuf turun dari motornya dan dia memelukku, sangat erat sampai tak ingin melepaskanku.
“ada apa Yusuf ?. ini memalukan di depan rumahmu seperti ini” kataku padanya.
“aku cemburu, melihatmu dekat dengan Ilyas. Aku ingin seperti ini dulu” katanya padaku dengan lembut.
Betapa bodohnya aku membuat pacarku sekhawatir ini. Padahal selama ini Yusuf sudah memperlihatkan cintanya padaku sebagai Pengagum Rahasia. Aku malah bingung terhadap perasaanku pada Yusuf. Aku membalas pelukannya dan berkata padanya.
“boleh aku masuk ke rumahmu ?” tanyaku padanya.
Dia mengangguk dan mengajakku masuk ke dalam Rumahnya. Aku di bawa ke dalam kamarnya dan itu sangat membuatku berdebar-debar. Kamarnya penuh dengan warna dengan poster-poster penyanyi. Yusuf membawakanku minuman dingin dan duduk di sampingku.
“Yusuf, keluargamu mana ?” tanyaku padanya.
“Ayahku biasanya pulang tengah malam. Kalau Ibuku, sudah meninggal saat aku berumur 10 tahun” jawabnya dengan suara yang pelan.
“maafkan aku” kataku padanya.
Di banding Ilyas, aku malah lebih bodoh karena tidak mengenal Pacarku. Padahal kami sudah menjalani hubungan ini. Aku memegang tangannya, dan hari semakin gelap. Perasaan kami meluap saat itu. Yusuf memegang daguku dan mencumbu bibirku dengan lembut. Aku tidak melawan sama sekali, karena bagiku seharusnya ini adalah hal yang lumrah bagi kami. dan ini bukan pertama kali kami melakukannya.
di luar sudah mulai hujan, Yusuf mendorongku dan mencoba membuka bajuku. awalnya aku malu dan memegang tangannya. Aku mencoba menahannya hingga dia menatapku.
“kau tidak mau ?” Tanya Yusuf padaku.
Dia begitu curang. Aku tak mampu menatap wajahnya walau kondisi kamar agak gelap. Aku melepas tanganku dan menutup dadaku.
“ini… pertama kalinya bagiku..” kataku pelan-pelan padanya.
“kalau begitu… aku akan pelan-pelan dan memakai pengaman” balasnya padaku.
Dia membuka pakaianku, dan dia membuka pakaiannya setelahnya. Dia memperlakukan tubuhku dengan lembut. Hatiku sangat berdebar-debar saat badan kami bersentuhan. Kami akhirnya telanjang layaknya Bayi. Sebelumnya dia mengelus wajahku dan berkata padaku
“aku akan pelan-pelan” katanya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepala. Dan awalnya sangat sakit hingga aku harus menggigit pundaknya. Namun pada akhirnya, kami bersatu malam itu. Mengingat hal itu sangat membahagiakan sampai Akhirnya aku mendengar hal yang tak ingin ku dengar dari mulut Ilyas, tubuhku begitu lemas dan terkejut mendengar suara petir yang menyambar.
Akhir-akhir ini aku sering menghayal sendiri. Mengingat perkataan Ilyas sebelumnya, membuatku tidak percaya.
Ilyas pernah membunuh seseorang ?
__ADS_1
tidak hanya satu tapi beberapa orang ?
Itu tidak mungkin.
Orang sebaik dirinya tidak akan melakukan hal itu.
Tapi mendengar perkataannya tentang Penebusan Dosa dan Mencuci Tangan, sepertinya kata itu terlalu berat kalau hanya untuk bergelut biasa.
Jadi, apakah Ilyas benar-benar pernah membunuh seseorang ?.
Pertanyaan itu selalu terbenat dalam pikiranku.
Keesokan harinya, langit terlihat mendung karena semalam hujan yang sangat deras. Aku berjalan bersama Yusuf setelah menaruh motornya di parkiran.
"Icha, maafkan aku. Seharusnya aku tidak sejengkel itu. Karenaku, aku membuat kalian berdua canggung lagi" kata Yusuf padaku.
"Apa kau tahu Ilyas pernah membunuh seseorang ?" tanyaku pada Yusuf dengan suara yang pelan.
Yusuf diam sejenak dan tidak melangkahkan kaki. Aku melihat ke arahnya dan dia melihatku.
"aku hanya tahu, dia pernah membunuh seseorang. Tapi detailnya tidak aku tahu pasti" jawab yusuf.
Itu sudah cukup membuatku terkejut. Karena membunuh seseorang itu bukanlah hal yang biasa.
Yusuf menjelaskan apa yang terjadi setelah mendengar hal itu, Nuge menatapku dan dia pergi minta izin pada bossnya untuk istirahat sebentar.
"Kau parkir motormu, dan naik di mobilku. Maaf mobilku ilegal karena buatan tangan" kata Nuge.
" woah bukannya itu keren ?. kau merakit mobilmu sendiri ?" tanya Yusuf yang takjub.
aku menyenggol Yusuf agar dia tidak berlebihan.
"Tidak apa-apa kok, permisi..." balasku sambil masuk dalam mobilnya.
Nuge membawa kami ke kuburan umum menuju salah satu makam yang bertulisan atas nama Khaled.
"Dia adalah teman kami Khaled. Dia memang nggak terkenal sebagai One Eagle. Tapi, dia selalu nongkrong sama kami dan memberikan kami informasi yang penting dan yang kami tidak ketahui. Kami menjulukinya Database-Sama" kata Nuge setelah berdoa di makam temannya itu.
"Apa hubungannya dengan orang ini ?" tanya Nuge.
"saat masih muda, aku dan Ilyas sudah biasa membunuh seseorang. Jujur saja, kami tidak akan di takuti kalau tidak melakukan hal itu. Memangnya siapa yang takut dengan anak SMA berandalan biasa sampai bikin gempar ?” kata Nuge menjelaskan.
“Membunuh orang adalah kuncinya” lanjut Nuge sambil melihat kedua tangannya.
__ADS_1
Hal itu benar-benar mengejutkan. Mendengar dari mulut Nuge yang keluar begitu saja tampa beban, dia seperti menganggap hal itu sudah biasa.
“apakah kau tidak menyesalinya ?” tanyaku pada Nuge.
“tentu saja kami menyesalinya. Bahkan aku selalu muntah kalau sudah melakukannya. Tapi, kami melakukan itu karena terpaksa. Kalau kami tidak melakukannya, orang yang kami sayangi atau mungkin kami sendirilah yang akan terbunuh” jawab Nuge.
“tapi di banding aku, Ilyas adalah manusia yang berhati baja. Saking seringnya, tangannya seperti berlumuran darah yang tidak pernah kering. Dia selalu mengorbankan dirinya. Membunuh seseorang, sudah tidak mengejutkan baginya” lanjut Nuge menjelaskan.
Hari itu aku mengerti, kenapa Ilyas dengan berani melawan orang sebanyak itu, ternyata memang sudah terbiasa.
Tidak….
Kondisilah yang memaksanya untuk terbiasa
“Tapi, beda cerita dengannya. Dia adalah orang yang di banggakan oleh Ilyas. Dia adalah sahabat kami. Saat pertempuran kami, kita mencoba menolong Ilyas yang di bawah ke persidangan oleh salah satu Gangster. Beliau tidak mempunyai bukti bahwa dia tidak bersalah karena dia mempunyai informasi yang tepat dan Gangster itu ingin memilikinya. Aku dan Database-sama Mencoba menolongnya. Saat kami berhasil mendaapatkan bukti, aku mencoba melindunginya tetapi aku lengah dan dia tertembak setelah mendapatkan bukti itu di laptopnya” kata Nuge menceritakan masa lalunya.
Aku sedikit terkejut mendengarkan cerita itu, dan dia melanjutkan ceritanya.
“waktu itu aku berhasil membuat Ilyas menang dari Sidang, namun kenyataan bahwa Khaled meninggal, Ilyas tidak menerima hal itu. Ilyas mengamuk dan tidak tertahankan. Dia meratakan berandalan itu sendirian dan hampir membunuh semua orang di sana termasuk aku yang berusaha menahannya" kata Nuge menjelaskan.
Mendengarkan penjelasan Nuge, aku sedikit terkejut mendengar masa lalu kelam Ilyas ternyata seberat itu.
"Saat itu, lahirlah sisi Gelap dari One Eagle. Dan aku selalu berusaha menahan Emosi Ilyas saat dia mengamuk. Tetapi, teman kami Rika juga tidak terselamatkan setelah insiden yang membuatnya harus masuk ke Rumah sakit Kejiwaan. Dia selalu menyesali karena tidak bisa melindungi Temannya sendiri Dan menganggap dirinya bahwa bukan Gangster itu yang membunuh Khaled, bukan para Gangster juga yang membuat Rika jadi sakit jiwa, tapi ilyas sendiri yang membuat kesalahan itu sehingga ini semua terjadi karena tak mampu melindunginya. Melihat ilyas yang jatuh seperti itu, aku menjadi sisi terang dari One Eagle dengan cara menenangkan Ilyas saat dia ingin meledak. Berbedakan dengan ilyas sekarang ?. Aku bahkan terkejut kenapa dia berubah seperti itu" lanjut Nuge menjelaskan.
Mengetahui kebenarannya aku sangat terpukul. Karena telah menganggap Ilyas itu orang yang bisa di temukan di mana saja. Tapi nyatanya, Ilyas adalah orang yang sangat membutuhkan bantuan dan butuh uluran tangan oleh seseorang. Agar dia bisa keluar dari sisi gelap itu. Tiba-tiba Nuge menunjukku dan berkata padaku
“sekarang adalah giliranmu, aku mendengarnya bahwa kau adalah Cahayanya. Kalau kau memang sahabatnya, maka sudah tugasmu untuk menenangkan hatinya saat dia terluka. Apa kau akan selamanya bergantung pada Ilyas ?” kata Nuge yang benar-benar mengenaiku.
Seketika aku mengingat perkataannya yang mengatakan kau adalah Cahayaku yang bersinar terang ternyata itu alasannya. Aku memegang tangan Yusuf dan berkata padanya
"Yusuf, malam ini kita akan mabar dengan Ilyas kan ?. Ajari aku main game itu" kataku pada Yusuf.
Dia hanya memegang tanganku sambil tersenyum padaku, dia menganggukkan kepalanya. Mendengar hal itu, Nuge malah heran padaku
"aku sudah cukup dramatis menceritakan masa laluku lho. Kok malah minta main Game sih ?" tanya Nuge padaku.
Aku memegang tangan Nuge dan tersenyum padanya.
“Terima kasih Nuge, kau benar-benar menghilangkan keraguanku padanya. Berkatmu, aku bisa bicara padanya” kataku pada nuge.
“Database-Sama, sepertinya Ilyas teman kita belum berubah sama sekali” kata Nuge melihat kearah kuburan Khaled.
Aku menunddukkan kepala di hadapan kuburannya lalu menaburkan bunga ke kuburannya seraya berkata.
__ADS_1
“Database-Sama, terima kasih sudah melindunginya. Berkatmu, aku bersahabat dengannya. Dan berkatmu, aku bertemu dengannya” gumamku di hadapan kuburan Khaled.