
Waktu itu hari-hariku begitu sibuk sebagai sekretaris dari HMJ. semua berkas benar-benar ku kerjakan. Kadang rasanya pusing tapi agak legah karena dari kampus kami selalu mendapatkan makanan gratis. Dan ada hal yang membuatku yakin dengan perkataan Ilyas, Dina begitu santai sebagai ketua dan hampir tidak memperhatikan apa yang selama ini kami kerjakan. Setelah mendengar apa pekerjaan yang di perintahkan selesai, dia akan pergi jalan-jalan. Bersama dengan teman-temannya.
Yaa lagi pula pertanggung jawaban nanti dia yang membacanya bukan aku.
Aku cukup melakukan apa yang bisa aku lakukan.
Setiap hari begitu sibuk hingga akhirnya sampai di salah satu programnya yang begitu menyibukkan yaitu Festifal Fisalfat. Seperti programnya, acara Festifal ini tidak seperti yang di adakan senior terdahulu. Acara ini kami lakukan saat hari libur yang di mulai hari sabtu sampai hari Minggu. Dan seluruh gedung fakultas di kuasai. Festifal ini akan memperkenalkan Filsafat seperti apa, kami menggunakan kelas-kelas yang di susun sesuai dengan kegunaannya. Dan agar tidak membosankan, beberapa kelas terpilih akan di perintahkan membuka Cafe makanan dan minuman khas sebagai pemasukan dana HMJ nantinya. Begitupun dengan saat hari terakhir akan di adakan Konser lomba yang menarik.
Mengetahui hal itu saja aku sudah membayangkan seberapa berat pekerjaanku nanti. Di pertengahan persiapan kami mengadakan rapat. Ketua Jurusan pun hadir dan ingin melihat perkembangan kami.
“Jadi, bagaimana tentang Dana untuk festifal ini ?” Tanya salah satu Dosen.
“a… itu..” kata Dina yang Ragu.
“kalian memakai kelas untuk ruangan Festifal. Apakah kalian mampu mempertanggung jawabkannya ?” Tanya Dosen lainnya.
“ahh kalau itu sebenarnya….” Balas Dina yang masih ragu.
“cobalah tegas sebagai ketua, Dina” kata Ketua Jurusan yang sepertinya mulai geram.
Dina tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan dan beberapa anggaran bahkan solusi yang harus di lakukan saat mengetahui dana sangat minim. Jadi aku yang menjawab semuanya bahkan mempertanggung jawabkan semuanya. Solusinya pun aku yang memikirkannya. Untuk mendapatkan penambahan Dana, aku mengusulkan penggalangan Dana dengan menjual beberapa item makanan ringan. Dina mengiyakan pendapatku tersebut yang akhirnya rapat ini mampu selesai karena argumenku dan pekerjaan lagi-lagi di titik beratkan padaku.
“Waahh kau beneran hebat yaa Icha. Kedepannya kau tetap mengandalkanmu urusan ini yaa ?” kata Dina padaku.
Lagi-lagi dia menitikberatkan tanggung jawabnya padaku.
“akan kulakukan. Tapi, cobalah untuk bekerja dan bersikap sebagai ketua” balasku memperingatinya.
“iya-iya. Bawel deh Icha, aku pergi dulu yaa” balas Dina walau nada pengucapannya lembut.
Jujur saja, ini semakin membuatku pusing yang akhirnya membuatku tak bisa hadir di hari selanjutnya karena begitu lelah akhirnya aku drop juga dan Demam. Padahal masih banyak yang ingin ku kerjakan, aku malah sakit seperti ini.
__ADS_1
Hari itu aku istirahat sejenak sampai akhirnya saat sore hari tiba, aku menyadari Yusuf merawatku sedangkan Kak Rahman dan Kak Kiki beserta Ita datang mengerjakan berkas kami melalui bantuan salah satu partnerku di HMJ. Padahal seniorku sedang KKN tapi mereka berdua malah membantuku. Aku menangis di dekat Yusuf sambil memegangnya dengan erat.
"Kau tak perlu memaksakan diri, kami semua mendukungmu sekarang" kata yusuf yang mengelus kepalaku dengan lembut.
Aku hanya bisa menangis karena keadaanku yang sekarang begitu lemah sampai akhirnya aku tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Dan malah di bantu oleh mereka semua.
3 hari berlalu, walau aku tahu pasti pekerjaanku menumpuk hari ini dan acaranya mulai besok. Namun hal yang tidak ku sangka, semuanya selesai dalam 1 file Hardisck yang berlogo HMJ. aku tidak tahu siapa menggunakannya. Aku bertanya pada rekan lain dan semuanya hanya mengatakan.
"orang itu aneh walau sempat di curigai, tapi benar dia menyelesaikan tugasmu dengan benar. Dia menyebut dirinya sebagai Penggemar Rahasiamu sambil menggunakan topeng Scream itu membuatku terkejut” kata mereka.
Begitupun dengan teman-temanku yang setelah mendengar penggemar rahasia dia beranggapan bahwa itu adalah Yusuf yang melakukan hal romantis dan wajahnya tidak mau di ketahui oleh siapapun.
Aku menghubungi Yusuf dan bertanya padanya lewat telepon.
"Yusuf aku... Sangat berterima kasih padamu. Lagi-lagi kau menolongku seperti dulu. Entah apa yang harus ku lakukan kepadamu sebagai ucapan terima kasih" kataku pada yusuf.
"eh apa maksudmu yang ?" tanya yusuf padaku.
"Aa.. Aaahh... Yaa... Aku melakukannya. Maaf, sebenarnya aku mau merahasiakannya darimu" balas Yusuf padaku.
Entah kenapa waktu itu, aku makin sayang dengannya sampai perasaanku di luar kendali. Seharusnya aku tidak meragukan perasaanku. Ilyas memanglah sahabatku. Dia memang selalu ada untukku. Tapi, saat kami pacaran justru Yusuf yang selalu ada untukku sekarang. Tampa ragu, aku menawarkan untuknya.
"malam ini.... Temanku tidak tinggal di asrama. Kau... Mau tinggal bersamaku di asrama malam ini kan ?. Cuma berdua saja...." kataku mengundang Yusuf.
Dia hanya diam sejenak karena aku tahu mungkin dia gugup atau begitu senang. Sampai akhirnya dia menjawab.
"Ba... Baiklah. Malam ini.... Aku akan menginap di asramamu. Dosenku sebentar lagi datang, aku tutup yaa teleponnya" balasnya.
"Yaa, aku akan menunggumu pengagum rahasiaku" kataku dan yusuf menutup teleponnya.
Karena pekerjaan selesai dan semua orang tinggal menyiapkan Persiapan untuk besok, semua mahasiswa aktif Kecuali Ilyas. Aku melihatnya dia meninggalkan kampus. Sebelum mengenakan helm, wajahnya terlihat kecewa dan geram. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan kali ini tapi.... Tiba-tiba akhirnya dia meninggalkan Fakultas dengan motornya.
__ADS_1
...*****...
Malam harinya aku begitu lelah dan aku bergegas mandi. Setelah mandi seseorang mengetuk pintu, aku membukannya sedikit ternyata itu Yusuf. Aku hanya mengenakan handuk karena sudah mandi dan membiarkannya masuk.
"Masuklah...." sambutku pada Yusuf.
Dia terlihat gugup, dan akhirnya masuk juga.
"Apa... K-kau baru saja selesai man...mandi ?" tanyanya gugup dan duduk di ranjangku.
Aku hanya duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalaku di pundaknya. Jujur saja, ini sangat membuat jantungku berdetak kencang. Begitupun dengannya yang terlihat gugup. sebenarnya aku sudah siap melakukannya. Apalagi, ini bukan untuk pertama kalinya aku dengannya. tapi aku menunggu Yusuf untuk lebih agresif. Jadi aku memancingnya
"apa kau tidak mau ?" tanyaku padanya
Yusuf hanya meresponnya diam saja.
Aku rasa ini memang tidak boleh ku lakukan jadinya aku berdiri kembali. Namun dia tiba-tiba memegang tanganku dan Mencium bibirku hingga kami berdua saling bercumbu. Tetapi setelahnya, dia memakaikan Jaketnya kepadaku
"kau tidak perlu melakukan ini Icha. aku menginginkanmu secara layak, yang ku lakukan sebelumnya bahkan ketidak sengajaan. Aku tidak layak untuk ini" kata Yusuf padaku yang membuatku sangat bingung.
"Apa maksudmu ?" tanyaku bingung.
Dia tersenyum padaku namun wajahnya terlihat begitu sedih dan menatapku
"suatu saat kau akan mengetahuinya. Aku bukanlah pria baik-baik seperti yang kau bayangkan" katanya padaku.
Lalu malam itu walau Yusuf tinggal bersamaku, dia begitu canggung. Ini pertama kalinya bagi kami secanggung ini. Mungkin aku berlebihan melakukan ini.
Lalu bagaimana ?.
Karena kalau tidak, wajah Ilyas selalu terbayang kalau aku tak memberikan semuanya pada Yusuf.
__ADS_1
Perasaanku jadi campur aduk malam itu. Dan Malam itu kami tidak melakukan apa-apa.