Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Yang Terburuk (Icha dan Ilyas)


__ADS_3

.                                                                                ..*Icha*...


Aku tak bisa menahan perasaanku dan hanya menangis menyesali semuanya. Aku benar-benar terlihat Hina di hadapan Ilyas. Dia begitu baik sampai tak ada yang mampu melihat sisi baiknya itu. Aku terlalu bodoh dan terlalu lemah, selama ini menjadi beban dan aku tak mampu membalasnya. Dia berjalan ke arahku lalu mengetukkan gantungan kunci yang pernah ku berikan padanya ke jidatku. Seketika aku membuka mata dan melihatnya


"kenapa kau menangis bodoh ?" tanyanya padaku.


Seperti biasa, dia malah mengudut rokoknya saat seperti ini. Aku mengambil rokok di mulutnya lalu menginjak injaknya hingga padam.


"Ada apa sih denganmu ?. Lebih baik kau jauh-jauh. Mungkin salah satu Teman atau Senior akan datang lagi membulliku" katanya padaku.


Aku menyandarkan diriku di dadanya dan memasrahkan diriku


"kenapa kau tak pernah jujur ?. Kau tak pernah mengatakannya padaku Pengagum Rahasiaku yang sebenarnya dirimu kan ? Hiks..." tanyaku padanya sambil menahan air mataku.


Dia hanya diam dan tak mengatakan apa-apa. Tak lama kemudian…


"Maafkan aku, aku tak mau kalau kau membenciku sebagai pembunuh saat itu, dan aku ujung-ujungnya memberitahukannya juga padamu" katanya padaku.


"Heh, ujung-ujungnya aku pasti di salahkan bukan ?. Seperti kata anak gaul sekarang. Laki-laki selalu salah. Dan akan selalu salah" lanjutnya merendahkan diri.


Aku memeluknya begitu erat. Benar-benar hari itu rasanya tak ingin melepaskannya lagi. Aku… sudah melakukan kesalahan besar


"kau bukanlah Kegelapan Ilyas, kau adalah Cahaya yang sangat terang bagiku. Tak terlihat saking terangnya. Dan aku adalah mahluk Kotor yang tidak tahu perjuanganmu selama ini.... Entah apa yang harus aku lakukan ?. Semuanya terlanjur hancur seperti ini... Hiks..." kataku padanya.


Dia memegang pundakku lalu melepaskanku darinya.


"aku...Tak bisa mencintaimu lagi Ichi-Chan. Cobalah untuk terima Yusuf apa adanya" katanya yang meyakinkanku.


"aku tak mau !!!. Aku hanya ingin denganmu, Sahabatku.... Pengagum Rahasiaku.... Dan Pangeranku.... Aku hanya ingin dirimu !!!!" bentakku padanya.


"kau sudah sangat dekat dengan dia bukan ?. bahkan pernah melakukan hal itu… kau bahkan tak ragu memberikannya. Apa kau yakin mengatakan itu setelah aku mengetahui semuanya ?" tanya Ilyas padaku.


Saat itu aku hanya bisa diam dan menundukkan kepalaku.


"Ichi-Chan. Rasanya sakit sekali, sangat sakit melihat perkembangan kalian. Sampai aku kebablasan membuka diriku dan mengamuk sebagai berandalan kembali. Hatiku sudah terlanjur sakit melihat kalian berdua. Hati ini, tidak mudah untuk di Obati" lanjut Ilyas menjelaskan perasaannya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Biarkanlah dia bertanggung jawab atas dirimu, anggap saja itu Karma. Apalagi dia sangat mencintaimu. Aku.... Tidak layak mencintaimu lagi. Aku hanya akan menjadikan perasaan ini sebagai lembaran kenangan" kata Ilyas yang membuatku menangis.


"Ilyas.... Hiks... Aku mohon aku tak mau hubungan kita hancur seperti ini.... Aku ingin kau tetap bersamaku.... Aku ingin kau jadi kekasihku... Aku ingin kau jadi lakiku.... Aku berjanji tak akan melakukan kesalah lagi... Aku mohon hiks..." kataku yang tak bisa menahan perasaannya.


Hari itu tangisanku begitu deras. Dia memegang kepalaku dan mencoba menenangkanku.


"semuanya... Sudah terlambat Ichi-Chan.... Aku akan tetap jadi sahabatmu. Tak lebih dan tak kurang. Maaf.... Aku tak mampu membalas perasaanmu" katanya dan melepaskanku.


Dia meninggalkanku seorang diri dan tak balik sedikit pun. Kakiku begitu lemas dan aku jatuh duduk. Hari itu aku benar-benar patah hati atas kesalahanku sendiri.


Aku yang terburuk….


Aku benar benar yang terburuk….


Aku begitu terlambat menyadari pangeranku yang sebenarnya yang kini mengotori dirinya penuh dengan darah karenaku. Dia begitu banyak berkorban untukku, dan aku tak bisa membalas perjuangannya itu. Aku benar-benar yang terburuk.


                                                                                                    *Ilyas*


Saat meninggakkannya, aku turun melalui tangga.


Akhirnya aku mengatakannya padanya...


Walau hatiku masih benar-benar terasa sakit, tapi aku sudah melepaskannya.


Tidak apa-apa kok, semua ini tidak apa-apa.


Aku bisa mengontrol perasaan ini.


Aku hanya ingin pulang dan istirahat sejenak hingga diriku benar-benar tenang.


Aku turun hingga ke lantai 1 dan tak sengaja aku menabrak seniorku waktu itu


"woi woi Bocah Culun, loe nggak lihat gua lagi jalan hah ?" katanya padaku mengancam.


Aku hanya menundukkan kepala dan pergi menghindarinya. Dia menarikku dan berkata

__ADS_1


"Woe !!!. Nggak sopan sekali kau yaa !!!. Sini kau !!!" kata mereka sambil menarikku.


Aku meremuk salah satu tangannya dan yang satunya lagi aku patahkan tangannya.


"Senior, Moodku sekarang tidak bagus. Aku ingin pulang dan istirahat. Jadi, Membullinya besok saja" kataku padanya.


"Bocah sialaaan !!!!" kata salah satu senior dan menghajar wajahku.


Aku memegang kepalanya dan membantingnya berkali-kali di tembok hingga dia tak sadarkan diri. Salah satu dari mereka mengayungkan pukulan tapi aku menangkis dan memegang ayunan tangannya sampai saat itu aku melemparnya dia terpental jauh sampai mengenai pagar pintu menuju tangga.


"Aku sudah bilang, moodku tidak bagus. Tinggalkan aku" kataku pada mereka.


Salah satu dari mereka memukulku dengan bangku sampai bangku itu rusak. Aku menatapnya dengan penuh perasaan yang kesal dan berkata padanya.


"apa kau tidak mendengarkanku ?" tanyaku dengan kesal.


Dia membatu dan ketakutan saat menatapku lalu lari ketakutan. Aku menjadi pusat perhatian oleh seluruh Mahasiswa dan mereka terlihat takut padaku.


"Apa yang kau lakukan Ilyas. Kau tahu berkelahi itu melanggar bukan ?" kata salah satu dosen yang menghampiriku.


"Kau datang yaa pak ?. Bapak di mana saat aku di Bulli belakangan ini ?" tanyaku padanya sambil menatapnya dengan kesal.


Dia terlihat diam dan berkeringat ketakutan. Kata-katanya gagap tidak karuan. Aku berjalan dan para Mahasiswa menghindariku karena ketakutan. Aku menaiki motorku dan meninggalkan fakultas. Saat sementara di perjalanan, seseorang menelpon dengan nomor baru.


“atas nama Ilyas ?” Tanya orang yang menelpon.


“iya bu, saya sendiri” balasku di telepon.


“kami dari rumah sakit. Pasien atas nama Nuge kena luka bakar di seluruh punggungnya dan Ita kena luka tusukan di bagian perutnya” kata ibu yang menelpon ternyata seorang perawat.


Setiap kali yang terburuk terjadi, pasti selalu saja kejadian yang lebih buruk menyusul dengan cepat. Ini sama saja keadaannya dengan kejadian beberapa tahun lalu.


Tidak, aku sudah cukup kehilangan segalanya…..


Aku tidak akan kehilangan teman-temanku lagi….

__ADS_1


Setelah menutup teleponnya, aku menyalakan mesin motor dan mengendarainya menuju bergegas menuju rumah sakit.


* Sorry bagian ini sangat pendek karena penulis mempunyai kesibukan satu dan lain hal sehingga dengan berat hati menulis sependek ini


__ADS_2