Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Chapter 11 (Season 2) : Hikmah dari sebuah Buku


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, rumor begitu cepat untuk menyebar. Baru aja Ilyas memasuki gedung kelas, semuanya sudah menceritakan bahwa faksi Ular sudah hilang namun tidak ada yang berani ngomong yang meratakan faksi itu sebenarnya siapa ?. sampai Abang masuk ke dalam rumah sakit dan di rawat inap. Namun beda cerita waktu Ilyas memasuki kelasnya, bangku Nuge sudah ada beberapa siswa yang mengajaknya bicara. Dan siswa lain mengejek Ilyas dengan sebutan penghianat


“wah si penghianat datang”.


“mampus nih bocah, faksinya sudah di ratain sama orang”.


“hahaaa kalau aku jadi Nuge sih, aku akan hajar nih bocah” kata teman sekelasnya mengejek Ilyas.


Namun Ilyas tidak mempedulikan hal itu. Dia menaruh tas di bangku Abang yang sudah kosong dan duduk di kursinya. Kawanan Abang takut padanya tapi, mereka juga malu untuk pindah.


Melihat hal itu, Nuge menegur Ilyas dengan berkata


“woe, apa yang kau lakukan di sana ?” Tanya Nuge dengan nada sedikit jengkel.


Teman-teman yang di dekat Nuge pun mengadu domba Nuge


“yaa marahi saja penghianat itu Nuge”.


“dia telah mempermalukanmu, sekarang adalah giliranmu”.


Mendengar hal itu, Nuge melanjutkan perkataannya pada Ilyas


“tempatmu bukan di sana Aibo, pelajaran selanjutnya akan membuatku pusing. Kau bisa membantuku kan ?”


Semua orang terkejut mendengar panggilan Nuge pada teman sebangkunya itu tidak berubah.


“Apa yang kau katakan ?. kemarin dia menghianatimu, semudah itu kau memaafkannya !!!?” bentak temannya jengkel dengan kenaifan Nuge.


“Bac*t kau. Padahal kau tidak tahu apa-apa, lebih baik kau diam !!!” Bentak Nuge membela Ilyas.


“aku sudah menghianatimu Nuge, kau sudah banyak teman yang baik padamu sekarang” kata Ilyas pada Nuge.


Karena Ilyas tidak meninggalkan tempat itu, Nuge mendekatinya. Dan itu membuat kawanan Abang meninggalkan bangkunya karena teringat dengan kata Ilyas

__ADS_1


“Nuge itu bahkan lebih kuat dariku...” ingat para kawanan Abang.


Nuge mengangkat tangan Ilyas yang sudah di perban dan berkata


“kalau begitu katakan padaku, apakah tangan yang terperban ini milik seorang penghianat ?” Tanya Nuge yang membuat Ilyas terkejut.


“aku melihat semuanya Aibo. Kau ternyata sangat kuat melebihi diriku, aku sangat terharu dan senang ternyata kau sangat peduli juga padaku sampai berbohong seperti itu” kata Nuge membela Ilyas.


“tapi aku juga sedih kalau kau mengorbankan dirimu seperti itu hanya demi diriku agar orang-orang peduli padaku” lanjut Nuge berbicara.


“aku tidak melakukan apapun kok, salah orang kali” kata Ilyas membela dirinya.


Seketika Nuge memperlihatkan foto Ilyas yang berdiri di tumpukan faksi Ular yang tumbang.


“kalau begitu jelaskan siapa orang ini ?. aku melihat semuanya dari awal sampai kau mengalahkan Abang di atas jembatan” kata Nuge memperlihatkan kebenarannya.


“aku tidak butuh teman banyak jika itu bisa membuat satu sahabat sepertimu jadi korban. Kalaupun Cuma kau yang jadi sahabatku, aku tak masalah Aibo... Maaf aku lambat menyadarinya” kata Nuge yang membela Ilyas.


“ini bercanda bukan ?”.


“kalau begitu, Ilyas itu Pentolan baru kelas E dong”.


“waduh gawat, mana aku yang mengejeknya kelewatan lagi” kata-kata teman sekelasnya setelah melihat kebenarannya.


“haaahhh..... padahal sudah ku bilang jangan ikut campur Aibo....” kata Ilyas sambil menghela nafas kecewa.


“maaf, aku tak bisa menumbalkan dirimu demi teman-teman sekelas bisa mendekatiku” balas Nuge tersenyum.


Dan terlihat Ibu Haspita di luar kelas mengintip sambil terharu menghapus air matanya dengan hubungan mereka.


Lonceng kelas menandakan masuk pelajaran pertama akhirnya di mulai. Ibu Haspita langsung masuk ke kelas dan membuat semua muridnya terkejut.


“lah, bu Haspita kok gercep datang bersamaan dengan lonceng di bunyikan ?” tanya muridnya yang terkejut melihat Bu Haspita.

__ADS_1


“tapi bu haspita terlihat manis sekali hari ini” kata Nuge yang mulai halusinasi lagi melihat Bu Haspita.


“kemarin aku sudah mengunjungi Abang di rumah sakit. Yaa dia tidak sadarkan diri. Dan aku tahu ini karena pertengkaran yang awalnya biasa hingga membesar karena tidak tahu apa-apa. Ibu selalu mengawasi kalian karena kalian adalah murid-muridku seperti anak-anakku sendiri” kata Bu Haspita.


“tapi aku menyayangimu sebagai seorang pria bu Haspita” kata Nuge dengan suara yang berbisik.


“kau ini yaa…” balas Ilyas yang sedikit jijik.


“satu pelajaran social yang kalian dapatkan hari ini adalah jangan melihat buku dari sampulnya saja, coba pelajari isinya. Kalaupun buku itu berplastik, dekatilah, belilah, maka kamu akan tahu isinya seperti apa. Sekalipun tidak sesuai ekspetasimu, tapi kau pasti menikmatinya karena sudah mulai membelinya. Sama seperti dalam berteman. Saat kau melihat orang baru, jangan langsung menilai dengan melihat sekilas saja. Dekati dia, berkenalanlah dengan dia, kalian ajak berteman. Maka saat kalian sudah semakin dekat dan bersahabat, maka sekalipun sikapnya buruk, kau akan nyaman bersama dengannya. Seperti itulah kita Hidup bersosial dari yang satu ke lainnya” jelas ibu Haspita kepada murid-muridnya.


"Dan bahkan akupun sebagai seorang guru mengambil hikmah dari sini juga. Usaha memang tidak menghianati hasil, tapi menghianati harapanmu. Ibu selalu berharap dan meyakinkan dalam hati agar aku bisa mengubah kalian menjadi lebih baik. Sampai aku di puji oleh guru dan kepala sekolah. Tapi kemarin aku gagal sebagai seorang guru, melihat kedua muridku berkelahi di depan mataku dan aku tak bisa apa-apa, aku malah di lindungi agar tidak dekat dengan masalah. Sebagai guru, aku gagal tidak menghentikan kalian sampai harus terluka satu sama lain, maaf hiks… (bu haspita mulai mengeluarkan air matanya sambil menundukkan kepala) maaf aku gagal menjadi pendidik kalian hiks….” Kata bu Haspita pada muridnya.


Ilyas memukul keras Punggung Nuge dengan melebarkan tangannya dan sangat keras


“Auucck sakit Njirr” kata Nuge menjerit kesakitan.


“aku tahu badanmu masih pegal tapi, waktunya terlihat keren di hadapan perempuan yang kau sayangi Aibo...” balas Ilyas membantu Nuge.


Seketika Nuge paham dan berdiri


“bukan ibu yang salah” kata Nuge berusaha berdiri dengan tongkatnya.


“justru akulah yang salah karena seperti orang yang tidak bertata karma masuk tampa salam, dan langsung mengamuk apalagi waktu itu adalah di jam pelajaran. Aku membuat ibu khawatir karena sampai terluka seperti ini, aku minta maaf bu guru” kata Nuge sambil menundukkan kepalanya.


Ilyas juga berdiri dan berkata pada Bu Haspita


“kemarin aku juga tidak sopan terhadap ibu bahkan mengucapkan kata-kata kasar. Seharusnya aku yang berpendidikan lebih tahu hal yang seperti ini. Karena anda lebih berumur dariku. Maaf telah berkata kasar pada anda bu guru” kata Ilyas ambil menundukkan kepala juga.


Semua murid akhirnya ikut juga minta maaf dan menundukkan kepala begitupun dengan kawanan Abang yang terpaksa ikut menundukkan kepala. Perbuatan murid kelas


1-E/1 saat itu membuat Ibu Haspita terharu sampai membuat hati bu Haspita meleleh tidak karuan dan menangis. Saat bu Haspita mulai tenang, dia menyuruh muridnya untuk duduk kembali dan mengambil posisi belajar.


“nah sekarang, kita sama-sama belajar saja yaa ?. Semuanya buka buku paket kalian, kita mulai pelajarannya” kata bu Haspita lalu mengajar di kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2