Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Perasaan Yang Membingungkan (Cerita Icha)


__ADS_3

Sore itu, kami menunggu Ita yang membahas sesuatu berdua dengan Ilyas. Lama menunggu akhirnya dia keluar berlari ke hadapanku dengan nafas yang Ngos-ngosan. Setelah itu, dia bicara padaku.


"Akanku katakan sebagai teman baik padamu Icha.... Hah... Hah..." kata Ita ngos-ngosan.


"Ada apa Ita ?" tanyaku padanya.


Setelah menenangkan dirinya, Ita melihatku dengan tatapan serius dan berdiri di hadapanku.


"Kau cuma sahabatan dengan Ilyas bukan ?" tanya Ita padaku.


Pertanyaannya itu membuatku syok. Walau hatiku sedikit berdetak karena hal itu, aku menjawab pertannyaannya.


"Yaa, Ilyas cuma sekedar sahabatku"  balasku pada Ita.


"Apa kau yakin ?" tanya Ita meyakinkanku.


"Yah, kami tidak lebih dari sahabat" balasku yakin padanya.


"Kalau begitu aku akan merebutnya darimu dengan caraku. Lagi pula, aku tulus Mencintainya" kata Ita tegas dan membuatku terkejut.


Entah kenapa, saat Ita mengatakan itu perasaanku sedikit menyakitkan.


"Kau sudah punya Yusuf kan ?. Jadi setidaknya bantu aku untuk meyakinkannya" kata Ita memohon padaku.


Entah kenapa aku tidak bisa menjawabnya. Tapi melihat ekspresi Kak Kiki, dia malah menatap ke arah Yusuf dan menggelengkan kepala. Entah apa maksudnya.


"Kalian uruslah diri kalian, aku akan pulang dengan Rahman. Baby, yuk pulang" kata Kak Kiki sambil menarik Kak Rahman.


Tetapi aku masih diam membatu disana. Jujur saja, Aku ingin membantunya. tapi, mulutku berkata lain. Perasaan ini tidak bisa jujur.


"Maaf... Sepertinya kau harus berusaha sendiri. Karena...." entah kenapa Mulutku malah mengatakan tidak padanya.


Ita malah menatapku jengkel karena jawabanku itu.


"maaf, aku tidak bisa menjawabnya" akhirnya cuma itu yang keluar dari mulutku.


Ita menghela nafas dan berbisik padaku.


“Lebih baik Icha coba pikir lagi. Apa yang di inginkan sebenarnya dari Hatimu itu” bisiknya padaku.


Setelah itu Ita meninggalkanku. Aku membalik pandanganku ke Yusuf dan dia cuma menundukkan kepala dan berkata padaku.


"aku akan mengantarmu pulang. Ayok, ini sudah mulai larut" kata yusuf sambil meninggalkanku menuju ke parkiran.


Saat itu aku berpikir, Sebenarnya apa yang terjadi ?.

__ADS_1


                                                                                                    ...*****...


Di Kos-kosan, Yusuf memakai bajunya setelah numpang mandi karena hujan. da tidak sadar aku mendapatkan fotoku dengan Ilyas waktu kami di PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Aku jadi teringat, waktu itu aku melihat Ilyas yang duduk sendirian. Dia terkcuilkan oleh Maba(Mahasiswa Baru) yang lain. Namun saat mendekatinya, ternyata dia memberikan makanan kepada sekor Kucing jalanan.


“Makannya yang pelan-pelan aja yaa ?, nanti keselak lho” kata Ilyas pada kucing itu.


Karena tidak ingin mengganggunya, aku hanya melihatnya dari belakang tampa menyapanya. Tapi….


“kasian kamu yaa, kau tidak lebih sama sepertiku. Kita di buang oleh induk sendiri, dan mulai mandiri dengan cara sendiri. Aku harap mendapatkan kebahagiaan di kampus ini” lanjut Ilyas berbicara.


Perkataannya waktu itu membuatku sadar, semua orang punya masalah masing-masing. Awalnya aku sangat gugup untuk Kuliah dan hidup di dunia kampus seperti ini. Tapi setelah mendengar perkataannya, hatiku sangat senang.


“apa yang kau lakukan sendiri di sana ?” tanyaku padanya.


Ilyas yang melihatku saat itu kebingungan dan berkata padaku.


“Kau siapa ?. sepertinya aku tidak mengenalmu” tanyanya yang membuatku sedikit tersinggung.


“kau tidak akan mengenalku kalau kita tidak akrab kan ?” tanyaku padanya.


Aku memegang dan menarik tangannya sambil berjalan ke arah yang sudah di tentukan oleh Mahasiswa HMJ untuk PBAK.


“Ayo, kalau berlamaan di sini nanti kita terlambat” kataku padanya.


Hari itu aku mencoba akrab dengannya. Aku mencoba menerima sikap gelapnya yang tidak mau berbicara pada siapapun, dan sepertinya dia tidak peduli kalau tidak di perhatikan oleh siapapun. Tapi aku selalu mendekatinya dan mencoba berteman dengannya. Hingga akhirnya kami berdua bersahabat. Benar-benar masa itu membuatku Nostalgia.


"oh dah mau pulang ?" tanyaku padanya.


dia mengecup jidatku dan memegang pipiku.


"terima kasih sudah menenangkanku hari ini" kata Yusuf menggodaku.


"hmm... sama-sama" balasku sambil tersipu malu.


Beberapa hari telah berlalu, aku mendengar Ilyas sudah kembali ke rumahnya bersama keluarganya. Selama libur semester ini, kami semua tidak pernah ketemu. Aku dan Yusuf malah sering Chat dan teleponan daripada ketemuan. Hingga kami kembali saat semester 4 berlangsung, aku tidak menyangka kini Ilyas mengendarai motor menuju ke kampus. Semua orang terkejut karena dia memakai motor walau stylenya seperti biasa sampai orang-orang menganggapnya seperti biasa.


"Entah kenapa tapi melihatnya sudah ku duga sih. Pemuda One Eagle itu nggak mungkin ilyas"


"iya juga sih. Stylenya yang masih Suram gitu. Dengan membeli motor, mungkin itu Gaji Kerja yang selama ini dia tabung"


"lagi pula kemana aja sih selama ini ?. Kok dia nggak pernah muncul ?"


"padahl sahabat dan temannya mengalami kejadian buruk seperti itu, dia sepertinya nggak peduli"


"dasar nggak tau diri, Rendahan"

__ADS_1


"menjijikkan, dasar orang suram" kata orang-orang mengoceh tentan dirinya.


Baru saja aku mau mendekatinya, Ita malah datang di luan menghampirinya


"yoh, Ilyas-Kun" katanya pada ilyas.


"Ita-Chan, kenapa belum ke fakultasmu ?. Nanti kamu masuk bagaimana ?" tanya Ilyas pada Ita.


"Yaa nggak apa-apa sih. Setidaknya aku menyapamu dulu lalu ke sana" balas Ita.


Setelah melangkah, mereka berdua melihatku dan Ita melepas Ilyas.


"Ahh.... Icha dah datang, aku pergi dulu yaa ?. Sebentar malam mabar PBR (Player Battle Royal) lagi yaa ?. Bantu push rank" kata ita meninggalkan Ilyas.


"Yaahh... Sebentar malam Chat aja, nanti aku Log In" balas Ilyas lalu melambaikan tangan pada Ita.


Ilyas menghampiriku setelah ketemu dengan Ita dengan wajah yang tersenyum.


"Yoh Ichi, long time no see" katanya padaku.


Aku hanya ngambek padanya karena selama libur ini dia tidak memberiku kabar. Sekalipun cuma Sahabat kan dia harus beri kabar. Dia tiba-tiba mencubit pipiku dan berkata padaku.


"ada apa nih pipi merah malah menggembul seperti apel. Apa ada masalah ?" tanya Ilyas yang menjahiliku.


"Nggak ada masalah. Hanya saja, pantes nggak pernah beri kabar seperti dulu, ternyata sering mabar (Main Bareng) Game dengan Ita yaa ?" tanyaku padanya.


"Iya, akhir-akhir Ini entah kenapa saat libur dia menawariku main Game, ternyata dia memainkan Game yang sama denganku juga" balas Ilyas padaku.


Setelah ku pikir, ternyata itu metode pendekatan yang di pakai Ita. Entah kenapa bikin kesal aja.


"Lagian kenapa sih kalau nggak di beri kabar ?. Pagi sampai sore aku kursus Bhs Inggris juga sama teman ayah. Katanya kalau mau jadi Guru, harus kuat Bahasa inggris juga tuh. Jadinya aku belajar" lanjut ilyas meyakinkanku.


Tapi entah kenapa rasanya masih mengesalkan. Melihatku ngambek, nada bicara Ilyas mulai berubah.


"kamu maunya apa sih hah ?. Baru kali ini aja ngambek. Kenapa nggak kemarin-kemarin ?. Setidaknya kau merasakan kan gimana perasaanku waktu kau kencan dengan yusuf lalu aku di kacangin ?. bakal di tinggalin padahal aku nunggu. Jangan salahin aku dong itu kan karmamu" kata Ilyas yang mulai marah.


Dan itu membuatku makin jengkel dan membuat pipiku makin merah merona sampai nggak tahan air mataku sedikit keluar.


"Heeehhh !!!!. Kau menangis ?. Aduuhhh maafin dong. Iya deh iya-iya. Nanti malam aku kabarin. Jangan nangis lagi deh. Sini ku terakatir Roti Tawar. Biar tenang. Mau nggak ?" kata ilyas menenangkanku.


Yah dia sahabatku jadi dia tau aku suka sekali dengan roti. Jadi, aku mengangguk dan dia menyuapku dengan 5 bungkus roti.


"Lain kali jangan ngambek gitu yaa.... ?. Ribet tau. Baru kali ini juga aku mendapatkanmu seperti itu" kata ilyas menenangkanku dengan mengelus kepalaku.


Aku hanya mengangguk dan mencomot roti yang di belikan ilyas padaku.

__ADS_1


Entah kenapa melihat Ilyas dengan Ita, hatiku sedikit sedih dan gelap. Padahal selama ini, tidak apa-apa. Tapi baru kali ini, aku merasakan perasaan yang membingungkan seperti ini di hadapan Ilyas.


__ADS_2