
Di malam harinya kami saling chattan lewat whatsapp tentang pengagum rahasianya yang membelikannya Nasi kuning di saat keadaannya lupa bawa dompet beberapa hari yang lalu. Dia terkejut karena bisa-bisanya dia menyadari hal itu padahal aku sendiripun tidak tahu. Walau nyatanya aku tahu sih cuma prediksi. Dan dia sangat senang ternyata anggapannya tentang pengagum rahasia tersebut mulai menipis karena orang itu cuma ada di fakultas tersebut. Aku hanya mendukungnya semampuku dan kami janjian besok ketemuan jam 10 di cafe depan kampus. Kebetulan wifinya di sana gratis dan kencang. Hari itu aku menyadari,
bukannya ini seperti kencan ?.
Nggak mungkin kan ?.
Lagi pula aku dan Ichi itu Sahabat ?. iya kan ?.
Nggak lebih dari itu.
Tapi entah kenapa memikirkan hal itu, aku tidak menyangka hatiku merasakan perasaan yang seperti di hantam secara tiba-tiba.
Kok sakit yaa ?.
aku memang mengharapkan hubungan yang lebih dari ini dengannya. Tapi, apa tidak apa-apa ?.
Saat ketemuan di Cafe dia terlihat cantik dan mengagumkan seperti biasa. Dia menungguku di salah satu meja tersebut dan hal yang tidak ku sangka terjadi, di sana ada beberapa mahasiswa dari fakultas yang mengenaliku. Wah jadi bahan gosip mah kalau begini. Tapi dengan tenang dan cuek, aku mendekati Ichi dan mulai merekomendasikan anime padanya sambil bercerita layaknya dulu. Kami juga nonton bareng anime dengan Satu headset di pake berdua. Di anime ini mungkin terlihat romantis tapi, di kehidupanku ini malah seperti menarik kunci bom sambil memegang bom tersebut tampa melemparnya. Karena, seluruh laki-laki di sana mulai menatap kesal padaku. Kayak mau ngajak gelud aja mereka.
Setelah cukup lama, akhirnya kami berencana untuk pulang. Aku membonceng Ichi dengan sepeda menuju ke depan asramanya. Sebelum aku berhenti, dia menghentikanku
"tunggu Ilyas...." katanya menghentikanku.
Aku berhenti dan melihat ke arahnya. Dia diam sejenak dan memainkan jarinya seperti ingin mengatakan sesuatu padaku
"sebelumnya.... Aku minta maaf karena menghindar darimu. Karena... Aku tidak tahu aku harus menghadapimu dengan cara apa. Malahan, lagi-lagi kau mulai diluan untuk minta maaf" katanya padaku.
"Tidak apa-apa. Lagian, aku ini seorang pria. Maka biarkan aku terlihat keren walau sedikit" balasku pada Ichi.
Dia tertawa kecil saat aku mengatakan itu. Tidak lama kemudian, dia mendekatiku lalu memasangkan gantungan di tasku.
"Gimana ?. Imutkan ?" tanyanya padaku.
"Gini loh Ichi, aku ini cowok. Masa ia pake gantungan kunci maskot gembul gemoy gini ?" tanyaku agak merasa aneh.
"emang nggak boleh ?. Lagian aku juga punya satu kok. Aku juga akan menempelnya di tasku. Dengan begitu, kita bisa punya gantungan kembar bukan ?" katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"orang-orang bisa salah paham lho ichi. Bagaimana kalau mereka menganggap kita ini pasangan ?" kataku pada Ichi.
"Maka aku akan mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan. yang kita bicarakan ini kamu lho. Jadi ngapain takut ?. Kita kan sudah sahabatan kembali" jawabnya dengan tenang.
Aku mengambil sebatang rokok tapi dia mengambil batang rokokku lalu mengudutnya. Tapi sebelum membakarnya, dia mengambil rokokku itu dari mulutku.
"kali ini saja dengarkan aku tampa merokok, hari itu kau membersihkan namaku. Maka kali ini, aku akan membersihkan namamu dengan kekuatan persahabatan kita. Ingatkan katamu ?. Aku cahayamu dan kau kegelapanku. Saaat dirimu penuh dengan kegelapan, maka aku akan datang sebagai cahayamu. Maka izinkan aku sekali lagi jadi cahayamu yaa ilyas-kun ?" katanya berharap padaku.
Melihat dia memanggilku, jiwa wibuku meronta dalam hati. Aku menghela nafas dan tersenyum
"lakukan saja sesukamu" balasku padanya.
setelah mengatakan itu, dia melihat gantungan kunci miliknya dan berkata
"akan ku anggap ini sebagai jimat keberuntunganku. dan akan ku jadikan sebagai doa, agar kita bersahabat selamanya" katanya sambil tersenyum.
melihat dirinya saat itu adalah senyum termanis daripada yang selama ini aku lihat darinya. aku memegang gantungan kunci itu juga
"amin, yaa aku rasa menjadi cowo imut demi yang kau anggap jimat ini tidak buruk juga" balasku padanya
"hehe.. apa-apaan itu ?" katanya sambil tertawa.
"lah ini untukku ?. Kenapa ?" tanya Ichi.
"Katanya ini dari pengagum rahasiamu" jawabnya.
"apa kau melihat wajahnya ?. Dia itu siapa ?" tanya Ichi yang penasaran.
"Aku tidak tahu sih karena dia mengenakan masker, kacamata, dan topi. Jadi aku nggak tau" jawab tetangga asramanya.
Dia sedikit kecewa mendengar hal itu dari tetangganya. Namun sepertinya, tetangganya salah paham dan berkata pada Ichi
“hati-hati lho mba, biasanya yang seperti ini itu penjahat kelamin yang berpura-pura sebagai pengagum rahasia” kata tetanggannya sambil berbisik.
Tapi Ichi malah senang karena dia menyukai boneka juga apalagi boneka beruangnya besar. Sambil tersenyum dia berkata pada tetangganya.
__ADS_1
“aku rasa, dia bukan penjahat kelamin. Aku rasa dia cuma pengagum rahasia yang malu kepadaku” balasnya sambil melihat boneka itu dengan penuh kasih sayang.
Mumpung belum sampai ke kontrakan, sambil mengayuh sepeda aku akan curhat pada kalian kali ini, bonekanya mahal lho nggak nyangka ssmahal itu. Ini rahasia kita yaa antara kau dan aku. Tapi mau bagaimana pun aku ingin membelikan boneka itu saat aku melihatnya karena itulah sebelum ke cafe aku bawa boneka itu dan memakai seragam yang ku taro di tasku. Yaa walaupun biayanya hasil dari magangku tapi saat dia curhat dan sangat bahagia melalui chat wa nya, aku juga ikut sangat bahagia.
Beberapa hari telah berlalu, aku tidak menyangka ternyata Ichi berhasil membersihkan namaku. Yaa walau di antara mereka masih tidak setuju dengan persahabatan kami apalagi di tambah dengan gantungan kunci ini. Pernah kejadian gantungan kunci punyaku rusak. Dan Ichi malah memperbaikinya dengan lem kastol sampai tangannya luka. Padahal aku mau memperbaikinya tapi, dia bersih keras untuk memperbaikinya sampai merengek seperti anak-anak. Itu membuatku malu dan tidak bisa menolaknya. Dan karena hal itu, mereka tidak mengincar gantungan kunciku lagi karena takut Ichi terluka.
Saat berjalan menuju kelas, tidak sengaja aku berhadapan dengan Kak Kiki
"ciyee.... Ada yang sudah aman nih kehidupannya" kata kak Kiki menyindirku.
"Bukan aman, lebih tepatnya kembali seperti semula. aku masih tetap suram lho kak di kelas seperti dulu, nggak ada perubahan" balasku mengeluh.
"Hmm begitu yaa ?. Kalau begitu, boleh aku melakukan hal jahat pada Icha lagi ?" tanya kak Kiki kepadaku.
Secara tiba-tiba aku melakukan Kabedon padanya. Kabedon ini Secara singkat, Kabe Don bisa diartikan sebagai pose memojokkan pasangan hingga ke tembok sambil bersandar dengan satu tangan sehingga si dia nggak bisa kabur ke mana-mana. Biasanya Kabe Don dilakukan oleh si lelaki kepada wanita tercintanya. Informasi ini nggak penting sih tapi kali ini aku melakukannya pada kiki bukan karena cinta tapi ini kulakukan untuk mengancamnya.
"sekalipun ichi-chan melarangku, aku akan tetap melakukan hal yang sama untuk melindunginya. Tapi selanjutnya, aku mungkin tidak akan melindungi senior lagi" balasku mengancam.
"Kalau begitu hentikan tindakanmu ini sekarang dan kabur. kalau tidak, kau akan di gebukin sama pacarku" katanya sambil menunjuk pacarnya.
"ILYAAASSSS !!!!!" teriak pacarnya sambil berlari padaku.
“this is why I hate you, Miss Kiki” kataku pada Kak Kiki.
“But I like you Gloomy Boy” balasnya menggodaku.
Dan aku berlari menjauhi Kak Rahman yang merupakan pacar Kak Kiki. Dia terus mengejarku hingga akhirnya dia berhasil menarik pundakku. Yaa aku pasrah lagi padanya. Mudah-mudahan dia melakukannya dengan depat, sini hajar gua cepat. Itu yang ada di benakku tapi….
“maafkan aku, Ilyas. Aku sudah mendengar semuanya dari Icha. Aku terlalu marah padamu yang ternyata ini murni kesalahan pacarku, maafkan aku” kata Pacar Kak Kiki sambil menundukkan kepalanya.
Aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Sambil menggaruk kepala, akhirnya aku melepaskan tangannya yang memegang pundakku dengan keras.
“kalau kau tahu seharusnya diam saja. Jangan biarkan pengorbananku untuk pacarmu itu sia-sia Kanda” kataku padanya dan meninggalkannya.
Dia diam sejenak berdiri di sana lalu berkata padaku
__ADS_1
“kalau kau butuh bantuanku, aku akan menolongmu. Aku akan menebus kesalahanku padamu” katanya padaku.
Aku melambaikan tangan padanya sambil pergi meninggalkannya.