Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Ungkapan Rasa (Cerita Ita)


__ADS_3

Setelah kuliah selesai, aku pergi membeli buah melon untuk Ilyas. Aku yakin dia pasti menyukainya. Setelah mendengar Chat dari Nuge bahwa Ilyas sudah bangun, hari ini aku benar-benar pergi. Aku mendapatkan nomornya saat kami semua menunggu Ilyas sadar. Saking heningnya, Nuge malah berkata pada kami.


“kalian teman-teman ilyas kan ?. minta Whatsappnya dong ?. Siapa tau kapan-kapan bisa Ngutang uang sama kalian Ahaahaa... ” kata Nuge dengan terus terang.


Itu sedikit hampir membuatku tetawa kecuali teman-teman yang lain hanya menatap Nuge dengan tatapan ibah. Tapi tetap saja, pada akhirnya kami memberi kontak kami padanya.


Sampai di Rumah Sakit, entah kenapa di depan pintu rumah sakit aku malah ketemu dengan teman-teman Ilyas yang bucin. Icha dan Yusuf yang membawa Rantangan, lalu Kak Kiki dan Kak Rahman yang membawa Coklat mahal. Dan aku malah membawa sepotong lemon murah dari mini market.


"Kenapa kalian bisa datang di sini ?" tanyaku pada mereka.


"Justru aku yang harus bertanya, kenapa kalian datang ke sini ?" tanya Kak Kiki Balik.


"Kalian tidak ada urusannya, Ilyas itu sahabatku. Apa urusannya kalian datang ?" tanya Icha pada kami.


Setelah bertemu, Nuge keluar dari gerbang Rumah Sakit. Dia sepertinya mengambil sebatang rokok. Namun setelah melihat kami…


"Ahh, kalian datang ?. Silahkan masuk. Aku keluar dulu mau merokok. Aku di larang merokok di dalam soalnya" kata Nuge.


"Yaiyalah ini kan Rumah Sakit Bodoh" kata Kak Kiki kecoplosan.


Lalu Kak Rahman menutup mulutnya sambil ketakutan. Dan mencoba menenangkan Kak Kiki.


"Kiki kau kecoplosan. Kau tau siapa yang kau ajak bicara ?" kata Kak Rahman yang ketakutan.


Kak Kiki syok setelah sadar apa yang dia katakan.


"Hah ?. Kau bilang apa tadi ?" kata Nuge yang geram setelah mendengar perkataan Kak Kiki.


Yusuf menahan Nuge begitupun dengan Kak Rahman agar Nuge tidak bertambah kesal kepada Kak Kiki.


"Ahh kalian para wanita masuk aja duluan. Aku dan Kak rahman akan bicara Sama Nuge biar lebih akrab" kata Yusuf menghentikan Nuge.


"Iya Lovely Kiki. Kau masuk aja duluan, salam yaa sama Ilyas" Lanjut kak Rahman.


"Apa-apaan ini Sialan ?. Lepaskan aku" kata Nuge kesal di tahan oleh Yusuf dan Kak Rahman.


Aku memegang tangan Icha dan Kak Kiki lalu menariknya masuk.


"Masuk aja yuk.... Nanti bisa apa-apa kalau masih di sini" kataku sambil menarik mereka.


Setelah kami bertanya pada perawat di sana tentang kamar Ilyas. Ternyata, dia sudah pindah ruangan dan kami menuju ke kamarnya. Dan betapa terkejutnya kami saat melihat Ilyas yang di suapin bubur oleh Wanita Muda yang berseragam sekolah. Ilyas juga terkejut saat melihat kami bertiga datang. Dan perempuan berseragam itu malah menganggap tidak terjadi apa-apa dan menunjuk kami.


"Kakak mereka siapa ?. Apa itu Haremnya Kakak ?" kata perempuan berseragam sekolah itu.


"Apa yang kau katakan adikku, Kau mau kakak di pukulin sama 3 perempuan itu ?. Kakak baru Siuman lho" balas Ilyas pada perempuan berseragam sekolah di hadapannya.


Setelah mendengar penjelasannya ternyata perempuan itu adalah adik Ilyas bernama Layla. Kini dia duduk di Bangku kelas 3 SMA. dan tidak di sangka, dia menjabat sebagai ketua Osis di kelasnya. Sebelumnya, aku tidak percaya karena wajah mereka tidak mirip apalagi adiknya terlihat cantik dan imut. Tapi adiknya ternyata lebih peka terhadap ekspresi kami.


"Kakakku adalah Kakakku. Cukup itu saja yang di tahu yaa Kakak-Kakak" katanya dengan senyum manis.


Jiwa Anak tunggalku menjerit, aku juga mau punya adik seperti dia.


Tapi tidak lama setelah itu, aku menatap Ilyas dan dia juga menatapku saat dia sadar. Saat melihatnya rasanya ingin memeluknya. Namun waktu itu, Aku kalah cepat dari Icha. Dia memeluk Ilyas sambil menangis.


"Syukurlah.... Syukurlah ilyas.... Tidak sia-sia aku sholat Tahajjud, sholat Dhuha, Sholat Sunnah, dan Sholat Mutlak untukmu. Agar kau bisa cepat sadar dan kembali sehat. Syukurlaahh... Hiks..." kata Icha yang memeluk Ilyas.


Saat itu entah kenapa, hatiku rasanya sakit melihat mereka berdua begitu dekat. Padahal mereka itu cuma bersahabat.


Tidak mungkin aku cemburu.


Atau mungkin apakah aku benar ?.


Apakah aku memang sudah Jatuh Hati pada Ilyas ?.


Kalau seperti ini, aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Karena melihat mereka saja, aku sangat terpukul.


Ilyas membalas memeluk Icha. Tidak lama kemudian, Yusuf, Kak Rahman, dan Nuge datang masuk ke ruangan. Dan terlihat sepertinya Yusuf sedikit cemburu karena Icha memeluk Ilyas. Tiba-tiba dia tarik oleh Kak Kiky


“Icha, aku tau kalian bersahabat jadi maaf. Tapi, jangan berlebihan. Yusuf melihatmu seperti ini, dia bisa Cemburu tau” kata Kak Kiky tegas.


Saat itu, Icha terlihat memahami kata Kak Kiky. Yahh… syukurlah Kak Kiky tegas. Kak Rahman begitu terkejut dan mulai membisik Kak Kiky.


"Lovely Kiki, apa kau memeluk Ilyas juga tadi seperti itu ?" kata Kak Rahman pada Kak Kiky.


"Hampir aja sih. Karena Kamu datang, jadinya Nggak jadi" jawab Kak Kiky dengan tenang.


"Jadi benar yaa ?. Kakak bertiga Haremnya Kakak ?" balas Layla yang masih mengusili Kakakknya.


"Layla-Chan, jangan gitu dong" kata Ilyas yang mulai menyerah.

__ADS_1


“kalau Kak Icha dan Kakak galak ini bukan, berarti yang diam ini pacar Kakak kan ?” katanya sambil menunjukku.


Perkataannya itu justru membuatku salah tingkah dan gugup tidak tahu harus menjawab apa.


“kakak galak katamu ?” kata Kak Kiky yang sepertinya terlihat kesal.


Melihat ekspresi Kak Kiki, sepertinya dia ketakutan dan berlindung di balik Ilyas dan menjulurkan lidahnya.


“Layla, hentikan sifat jahilmu itu. Mereka itu teman-teman kakak, yang sopan sana” kata Ilyas memerintah adiknya.


Tidak terduga, Layla ternyata lebih patuh terhadap Kakaknya walau sedikit usil.


“Cih… kakak nggak seru. Kalau begitu, perkenalkan namaku Layla. Salam kenal, kakak-kakak” kata Layla memperkenalkan diri.


Lalu kami memperkenalkan diri masing-masing padanya dan kami berbincang sejenak tentang kondisi Ilyas. Sementara berbincang, Ilyas berbicara sambil melihat ke arah Kak Rahman yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya dengan sengaja dari Ilyas sampai terdengar suara tulang kretek saat Rahmat megalihkan pandangannya. Melihat hal itu Ilyas sepertinya sedikit Curiga dan bertanya pada Nuge.


"Jangan Bilang, kau sudah memberitahukannya Nuge ?" kata Ilyas dengan tatapan tajam.


"Jangankan memberitahukan. Aku membongkar semuanya kecuali yang satu itu. gimana ?. aku pintarkan ?" jawab Nuge membanggakan diri. datar.


"Setelah aku sembuh Gelut yuk ?. Aku ingin mencopot gigimu satu-satu biar nggak jadi ember bocor lagi" kata Ilyas Geram.


"Loe jual gua Beli !!!. Udah lama memang aku ingin menghajarmu Sialan !!!" teriak Nuge ikut geram.


Perbuatan mereka membuat perawat datang dan membawa sapu karena kesal melihat tingkah mereka berdua.


"kalau kalian teriak terus, Lebih baik kalian balik. Kau mengganggu pasien lain, mau aku pukul pake sapu ?" kata perawat itu.


"Maafkan Kami" kata kami serentak.


Setelah minta maaf. Perawat itu meninggalkan ruangan kami.


"Walau sebenarnya aku jadi penasaran, di antara kalian siapa yang paling kuat sih sebagai One Eagle ?" tanya Yusuf.


"Tentu Saja Nuge. Lihat saja, bahkan Kak Rahman tidak berani mendekatinya" kata Ilyas yang melihat Kak Rahman takut mendekati Nuge.


"Jangan bohong Si*lan, kau merendahkan diri seperti itu padahal yang berdiri terakhir saat meratakan Asoka dan menghajar babak belur pemimpinnya itu kau kan ? Ilyas. Aku saja waktu itu sudah cukup kewelahan sampai tidak kuat berdiri lagi dan tumbang. Kau malah sempat menarikku agar tidak di temukan polisi" kata Nuge mengingatkan Ilyas.


"Tuh Embernya Bocor lagi tuh Nuge" kata Ilyas Kesal.


"Bodoamat, siapa suruh tiba-tiba cuci tangan" balas Nuge Menjahili Ilyas.


"Heh orangtua itu, akhirnya dia menjadi orang tua yang layak yaa Ilyas. Jadi, Bagaimana menurutmu ?. Apa kau akan pulang ke sana ?" tanya Nuge.


Semua orang terkejut dan tidak memahami arah pembicaraan. sampai Icha bertanya pada Ilyas


"apa maksudnya ?" tanya Icha.


"Sebagai sahabat, kau pasti sudah tau masalah keluarga Ilyas kan Icha ?. Dan yaa, kemarin dia berbaikan. Makanya Layla ada di sini. Bisa saja, Ilyas akan tinggal kembali di rumahnya" balas Nuge.


"Kakak akan pulang ke rumahkan ?. Kalau nggak ada kakak, siapa lagi yang bisa ku jahilin" kata Layla pada kakaknya.


Ilyas tersenyum dan mengelus kepala adiknya


"aku akan pulang kok. Tapi setelah perawat mengizinkanku pulang yaa ?" balas Ilyas.


"Jadi Ilyas.... Bagaimana denganku ?" tanya Icha.


Entah kenapa dari tadi aku hanya diam. Karena perasaan ini tidak bisa aku keluarkan. Apalagi mendengar Ichi yang bertanya tentangnya, sebenarnya apa yang di harapkan Icha dari Ilyas ?.


"Ada apa denganmu ?. Kan ada Yusuf bisa menemanimu" kata Ilyas.


Dan melihat Ilyas mengatakan hal tersebut, aku merasakannya. Eksepresi wajahnya berubah. Dan Ichi balik melihat Yusuf yang menanggapinya dengan diam.


"Aku di rumah hanya memulihkan diriku kok. Lagian, aku masih ada Kuliah dan harus kembali bekerja. Ita masih membutuhkanku di tempat kerja kan ?" tanya Ilyas padaku.


Saat dia bertanya, aku diam sejenak dan tidak bisa menanggapinya.


“Itaa… ?” Tanya Ilyas yang tidak aku perhatikan.


"aa.. Umm.. I-iyaa... Karena di warung serba ada jadi suram tampamu Ilyas. Jadi cepat sembuh yaa ?" kataku padanya.


Dan ilyas hanya tersenyum menanggapi perkataanku. Dia melihat kami semua lalu menunddukkan kepala


"teman-teman, terima kasih sudah berkunjung" kata Ilyas.


dan kami semua terseyum padanya.


                                                                                                    ...*****...

__ADS_1


Saat waktunya Sore, semua orang mulai pulang. Namun entah kenapa, melihat Ilyas terbaring lemah rasanya tidak ingin meninggalkannya. Hari ini, aku tidak akan mundur darinya. Apapun jawabannya, akan ku terima.


"Ita, kenapa masih duduk di sana ?. Kamu mau tinggal ?" kata Kak Kiki padaku.


"Ahh... Aku mau bicara pada Ilyas sebentar. Ada hal penting yang ingin ku bahas" balasku padanya.


"Eh ?" kata Ilyas bingung. Kak Kiki yang mendengar hal itu tersenyum dan melirikku


"Hmmm....." balas Kak Kiki sambil tersenyum.


Dan itu cukup membuatku tersipu malu dan mendekat di samping Ilyas.


"Hah ada apa sih Kak Ita ?" tanya Layla ikut bingung.


Tapi tiba-tiba layla di tarik keluar oleh Kak Kiki


“Heh bocah kematian, kamu ikut aku aja” kata Kak Kiki menarik Layla.


"Eh Kak Kiki kenapa sih ?" tanya Layla sambil di tarik oleh Kak Kiki.


"Jangan di ganggu, ini urusan orang dewasa" balas Kak Kiki.


"Hei Kenapa Ita nggak ikut ?" tanya Icha sambil mendekat ke ruangan kami.


"Ita, lebih baik kau tutup pintunya. Yusuf, Kalau mau hubunganmu lebih lanjut, angkat Icha kabur" perintah Kak Kiki.


Yusuf berdiri layaknya Prajurit dan hormat pada Kak Kiki


“YESS MA’AM !!!!” kata Yusuf tegas.


Aku langsung menutup pintu lalu Icha diangkat layaknya anak-anak oleh Yusuf


"Kenapaaa...... !!!!!" teriak kesal Icha sambil di angkat kabur oleh yusuf.


Saat itu, di ruangan VIP yang sudah di siapkan oleh Rumah Sakit dari Dana Orangtua Ilyas, kami berdua begitu canggung. Saking canggungnya aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi mengingat Ilyas yang begitu baik padaku sampai hampir mengorbankan nyawanya demi aku dan Icha, entah kenapa aku menangis. Segitu lemahnya diriku dan harus di lindungi Oleh Ilyas.


"Ita-chan, kenapa menangis ?" tanya ilyas padaku.


"Aku tidak tahu..... Kenapa aku nangis alasannya pun tidak ku tahu.... Hiks.... Aku hanya tidak bisa membayangkan kau sebaik itu pada orang sepertiku.... Aku selalu merepotkanmu dan membuatmu terluka seperti ini... Aku.... tidak bisa


melihatmu menyakiti dirimu...." aku tak bisa membendung perasaanku sampai bicarapun tersedu sedu karena menangis.


"Maaf Ita-Chan. Aku melakukan ini karena perasaanku yang menggerakkanku. Seolah-olah aku berpikir, kalau bukan aku, maka siapa lagi yang menolong kalian ?" balas Ilyas lemah.


"Kau itu manusia biasa Ilyas... !!!!. Kau sendiri yang mengatakan, dirimu di masa lalu akan menghilang dan dirimu yang sekarang itu bukanlah masa lalu !!!!" bentakku padanya.


Dia tidak berbicara sedikitpun dan itu membuatku semakin menangis. Perasaanku meluap dan tampa sadar, aku mengutarakan kepadanya.


"Kau tidak tahu apa akibatnya kalau kau melakukan itu. Sampai membuatku Jatuh Cinta padamu apa kau mau bertanggung jawab atas perasaanku !!?" aku mengatakannya tampa aku sengajai.


Ilyas melihatku sambil terkejut. Aku juga penasaran ingin tahu reaksinya tapi, reaksi wajah yang di perlihatkannya terlihat sangat sedih dan itu cukup membuatku kecewa.


"Ita-Chan, Maaf.... Aku...." kata ilyas yang mencoba mengatakan sesuatu tapi aku memotong pembicaraannya.


"Aku tahu kok, kau menyukai orang lain. Tapi, aku tidak akan menyerah. Seperti yang kau katakan bukan ?. Semuanya Adil dalam Cinta dan Perang" kataku pada Ilyas.


"Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Aku akan berusaha agar bisa menarik perhatianmu agar pandanganmu hanya untukku. Bukan untuk orang lain. Jadi, jangan minta maaf yaa ?." lanjutku meyakinkannya.


Saat itu dia akhirnya tersenyum


"begitu yaa ?" katanya padaku.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Teman-teman mungkin sudah menungguku. Bye bye.... Ilyas-Kun" kataku pada ilyas dan meninggalkan ruangan itu.


Saat keluar, aku menemukan adiknya yang daritadi ternyata mendengarnya. Dan itu membuatku terkejut.


"Kak Ita, terima kasih sudah menyayangi Kakakku. Awalnya aku berpikir, Kakak Bodoh yang berandalan itu tidak akan di sukai oleh siapapun. Tapi mendengar perasaanmu ke Kakak walaupun di tolak, aku sangat Bahagia. Ternyata, kakak tidak sendirian di kota Metropolitan ini" kata Layla menundukkan kepala padaku.


"Sayangnya aku di tolak, tapi masih ada yang harus kakak urus setelah ini" balasku dan meninggalkan Layla.


"Kak Ita !!!!" teriak Layla membuatku berhenti dan melihatnya.


dia menundukkan kepalanya layaknya orang jepang saat berterima kasih.


"terima kasih banyak, kedepannya mohon bantuanya untuk menjaga kakak" kata Layla menundukkan kepalanya.


dia adalah adik yang sangat baik sampai menundukkan kepalanya seperti itu demi kakaknya.


"Sama-sama" balasku melambaikan tangan dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2