
...*Ilyas*...
Setelah kejadian itu, akhirnya Dina memberanikan diri menutup Acara.
“…Terima kasih telah meramaikan acara kami !!!” kata Dina sambil menundukkan kepalanya.
Setelah menutup Acara, semua mendukung Dina karena program yang dia kerjakan sangat berhasil dan mendapatkan pujian. Dina menangis walau aku tahu alasan menangisnya bukan karena terharu tapi dia menangis karena sudah tertekan olehku dan Faktanya acara ini berhasil karena kiblat HMJ berpusat ke Icha, bukan ke Dina.
Beberapa hari mulai berlalu, namaku semakin buruk dan aku di juluki sebagai orang yang culun. Begitupun Dina yang menggunakan Style biasa tidak secantik Primadona dulunya. Namun orang tetap menghargainya karena dia semakin berubah.
Bullian mereka padaku semakin buruk sampai kadang aku di siram di Wc bahkan mejaku sering di coret-coret. Aku malah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan pendukung Dina menghajarku. Dan karena malas menanggapi, aku membiarkan mereka menghajarku. Saat itu aku hanya memikirkan satu hal.
Bullian macam apa ini tidak kreatif banget ?.
Malahan kek anak SMA di sekolahan. Kalau membulli orang yang serius dong.
Kalau cara selanjutnya kurang, mungkin aku akan ajarkan tutorial cara membulli kepada mereka semua.
Dina menghampiriku setelah di hajar oleh para Mahasiswa tidak kreatif itu
"kenapa kau tidak melawan bodoh ?. Padahal kau bisa saja kalau kau mau" kata Dina padaku.
"Itu kalau aku mau, tapi aku sudah memikirkan konsekuensinya. Kau memang mempunyai banyak penggemar sialan" balasku padanya.
Dina mengolesi lukaku dengan sarung tangan yang di basahi air botol.
"maafkan aku, seandainya aku tidak seegois ini, kau tak perlu terluka. Padahal kau hanya berniat menolongku" kata Dina dengan lembut.
"kau tahu, semua orang bisa berubah. Apabila kita mengajaknya ke jalan yang benar dan tepat" balasku padanya.
Mendengar hal itu, Dina tersenyum dan melihat kearah langit.
"Di masa depan, kau sangat cocok menjadi Guru. Pasti sangat seru, murid-muridmu akan hormat padamu" kata Dina padaku.
"memang itulah tujuanku dari awal. Aku akan menjadi Guru, dan memberikan pemikiran yang bebas tapi terarah bagi murid-muridku. Dengan begitu, masa depan mereka akan cerah. Mereka tak perlu di abaikan lagi sama guru-guru yang mengejar Ranking" kataku pada Dina.
Tidak lama setelah itu, aku membersihkan diriku di WC lalu saat aku keluar, terlihat Icha yang berlari Ngos-ngosan dan sepertinya, dia sedang mencariku. Perasaanku berkata, mungkin pembicaraan ini akan menyakiti perasaan kami berdua pada akhirnya.
...*Icha*...
Setelah kami Konser bersama, akhirnya Dina datang juga. Dengan wajah yang terlihat murung dan mata yang sudah menangis. Saat itu, aku menemukan Ilyas dan mendekatinya
"apa yang kau lakukan pada Dina ?" tanyaku penasaran.
"aku hanya melakukan sesuatu sebagai sisi Gelap dan Suram. setelah ini, jangan mendekatiku lagi atau kau akan mendapatkan imbasnya" balas Ilyas padaku sambil tersenyum.
Tidak mungkin, dia pasti melakukannya lagi.
Aku benci Senyuman Ilyas yang ini.
__ADS_1
Apa lagi yang kau korbankan pada dirimu Ilyas ?
"Apa maksudmu ?" tanyaku padanya.
Dia mendekatiku dan memegang kepalaku
"kita.... Tak bisa seperti dulu lagi. Kita, nggak usah bersahabat lagi yaa ?. Cukup kita kenalan sebagai teman saja" katanya lalu meninggalkanku.
Aku tidak mau seperti ini
padahal kami sudah berbicara lagi
Padahal dia sudah tersenyum padaku
Kenapa harus berakhir seperti ini ?.
"Kenapa !!!?. Kenapa kau selalu menjauh dariku !!!?. Padahal kita ini Sahabat bukan !!!?" teriakku padanya.
Langkahnya berhenti dan menatap ke arahku
"besok kau akan melihatnya, aku akan menjadi orang Culun menggantikan posisi Dina yang sebelumnya" balasnya dan pergi meninggalkanku.
Aku tidak tahu apa maksudnya tapi, keesokan harinya aku mengerti. Dia benar-benar di benci oleh satu Fakultas karena membuat ketua HMJ Dina tertekan dan membentaknya. Sampai Akhirnya Dina merubah penampilannya dengan keadaan Normal pada umumnya. Beberapa hari berlalu dan itu semakin parah, Ilyas di Bulli secara tidak Manusiawi. Para Dosen malah menutup mata dan tak peduli.
Aku tidak bisa membiarkan ini. Aku mau menolongnya tapi tiba-tiba saat itu, Yusuf memegang tanganku dan menghentikanku.
"Apa yang akan kau lakukan ?" tanya Yusuf padaku.
"Dia sengaja melakukannya. Kau tahu sekuat apa dia kan ?. Ada alasan kenapa dia tidak melawan" kata Yusuf meyakinkanku.
"Lepaskan aku, walau begitu tetap Saja Ilyas terluka karena di Bulli bukan ?. Ilyas juga Manusia !!!" bentakku pada Yusuf.
Tiba-tiba, dia memegang tanganku dengan kedua tangannya lalu melepaskanku
"ternyata benar, kau lebih peduli akhir-akhir ini pada Ilyas setelah mengetahui perasaannya padamu kan ?. Aku... Sedikit cemburu...." kata Yusuf padaku sambil menundukkan kepalanya.
Ada apa denganku ?.
Aku malah menghawatirkan Ilyas tampa memperhatikan Pacarku sendiri.
Padahal aku sendiri yang mengatakan akan memilih Perasaan pacarku daripada Sahabatku sendiri.
Aku mendekatinya lalu memegang pipinya. Dia menampar tanganku menjauhkan tanganku ke pipinya.
"Maafkan aku, aku tak seharusnya membuat hatimu terluka" kataku menenangkannya.
Kami diam sejenak karena rasanya sangat canggung.
"tidak.... Selama ini aku yang melakukan hal bodoh ini. Aku melangkah ke jurangku sendiri dan menyiksa diriku sendiri" kata Yusuf yang membingungkanku.
__ADS_1
"Aku... Tak paham apa maksudmu ?" tanyaku padanya.
Dia masih menundukkan kepalanya dan memegang kedua pundakku
"maaf.... Selama ini aku berbohong padamu.... Demi memenangkanmu, aku melakukan kesalahan yang tak bisa di maafkan.... Maafkan aku...." kata yusuf padaku.
Aku begitu terkejut dan tidak memahami perkataannya. Aku mematung tak bisa berkata apa-apa.
"Aku... Bukanlah pengagum rahasiamu yang sebenarnya. Semua yang ku katakan padamu semuanya bohong Icha. Aku berpura-pura agar kau mau menjadi pacarku...." lanjutnya.
Saat Yusuf berkata seperti itu, hatiku benar-benar sakit tidak mampu mencerna perkataannya. Pikirku dia hanya bercanda maka waktu itu aku bertanya
"Kau.... bercanda kan Yusuf ?. seperti biasa, Candaanmu itu tidak lucu lho" tanyaku padanya.
"Dengarkan aku, ini adalah kenyataannya. Dan aku tidak mau menyesali apa-apa lagi. Selama ini yang memberikanmu makanan saat kelaparan secara sembunyi-sembunyi itu bukan aku, itu adalah Ilyas. Dia yang melakukannya dan berpura-pura tak tahu apa-apa. Orang yang memberikanmu setangkai bunga mawar, bukanlah aku, itu adalah Ilyas. Karena dia mengetahui kau menyukai bunga saat kau sedih. Aku bahkan tak tahu apa-apa waktu itu" katanya padaku.
Dan itu membuatku terkejut saat Yusuf mengatakannya padaku.
"Dia mengirimkan Burger padammu waktu itu, yaa itu adalah dia. Ilyas sengaja belum pulang saat mengantarmu demi mengirimkan makanan untukmu, dia bahkan memberikanmu boneka beruang kesukaanmu biar kau menyukainya. Dan saat kau menangis karena tak mampu mengerjakan tugas sebagai sekretaris, dialah yang melakukannya dengan mengenakan topeng Scream itu. Dia menyamar sebagai aku. Dan aku, hanya mengambil kesempatan mendekatiku makanya malam itu.... Aku tak layak memiliki tubuhmu seutuhnya" kata Yusuf yang semakin memperjelas semuanya.
Aku melihat wajah yusuf, dia tidak memperlihatkan kebohongan. Malahan, dia memperlihatkan wajah penyesalan padaku.
"apa lagi kebohongan yang kau simpan ?" tanyaku dengan rasa kecewa pada Yusuf.
"Waktu itu aku terlalu meremehkannya. Aku cemburu karena dia mampu mendekatimu padahal gayanya yang Suram dan terlihat Nakal karena merokok sebebasnya di sampingmu, aku mencari identitasnya bahkan menanyakan teman-temannya. Akhirnya aku mengetahui, dia pernah membunuh seseorang. Aku mengancamnya dan sepertinya dia terancam dan aku mengakui sebagai Pengagum Rahasia padamu waktu menyelamatkanmu. Aku menyukai melihat ekspresi kecewanya saat aku mendekatimu bahkan aku Bahagia karena lebih dekat denganmu daripada dirinya. Apalagi kau mampu menerima sisi posesifku. Dan ketika melihat diri ilyas yang sebenarnya, aku malah ketakutan. Karena sepertinya dia bisa saja membunuhku kalau ada kesempatan. Tapi dia malah mengakui dirinya ketika membunuh seseorang, entah kenapa sisi terendahku mengatakan legah karena setelah mengatakannya, dia tak menghancurkan hubunganku. Aku adalah orang yang buruk bukan ?. Bahkan dia cemburu padaku, aku masih bangga !!!. Tapi, tidak lagi. Setelah mengatakan perasaannya, aku malah seperti berdosa karena memutuskan hubungan kalian. Dan kau terlihat seperti ingin mendekatinya daripada aku. Karena itu.... Maafkanlah aku karena melakukan kesalahan ini.... Aku mohon Maafkan aku...." kata Yusuf padaku bahkan sampai menunduk sujud padaku.
Ahhh.... Rasanya sangat kesal sampai aku ingin menamparnya di depanku.
Tapi mengingat aku pernah marah dan membentaknya soal perasaanku, aku malah terlihat bodoh karena tidak menyadari bahwa dialah Pengagum Rahasiaku.
Apa aku memang sejahat itu ?.
Saking jahatnya, aku malah melampiaskan pada yusuf
"kau yang terburuk yusuf.... Aku bahkan memberikan Ciuman pertamaku padamu, bahkan keperawananku kuberikan dan selama ini kau berbohong padaku ?. Kau yang terburuk Yusuf !!!!" bentakku padanya.
"Pergi dariku dan jangan memperlihatkan wajahmu lagi di hadapanku... Hikss... Aku benar benar kecewa padamu..."kata-kataku semakin melunjak.
"Aku... aku akan mengutukmu seumur hidup Yusuf. Terkutuklah kau !!!!" bentakku lalu meninggalkan Yusuf.
Sambil berlari aku hanya mengingat sisi baik Ilyas selama ini di sisiku. Dan membayangkan dirinya yang ternyata Pengagum rahasiaku. Aku mengelilingi Fakultas demi menemukannya. Perasaanku begitu meledak-ledak hingga sampai di depan wc umum, aku menemukannya. Dia terlihat babak belur dan melihatnya aku tidak tega. Dari awal aku tak mampu melihat kebaikannya.
Bukan aku yang bersinar dengan terang.
Tapi Ilyaslah yang bersinar sampai aku tak mampu melihatnya.
Dan sisi kegelapan sebenarnya adalah aku
Karena tak mampu menerima sisi kebaikan dirinya yang di berikan selama ini untukku.
__ADS_1
Aku benar-benar yang terburuk untuknya.