
Semester 5 adalah semester yang membara. Apalagi setelah mengetahui, Ichi sudah menjadi calon ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Dan saat itu, aku tidak akrab dengan Ichi lagi seperti dulu. Di semester ini, aku mengambil kelas yang berbeda dengannya. Tapi dia bersi keras untuk bertemu dan bicara denganku.
"Ilyas, aku mencalonkan diri sebagai ketua HMJ lho" kata Ichi yang menghampiriku.
Aku mengambil sebatang rokok dan mengudutnya sambil meninggalkan Fakultas.
"begitu yaa ?" kataku padanya.
"Iya, aku mencalonkan diri" jelasnya padaku.
"Oh" balasku singkat sambil menghisap rokokku.
Melihat ekspresiku yang biasa saja, dia terlihat kecewa dan mulai menunjukkan pipi Apel merahnya lagi.
"sebenarnya ada apa denganmu ?. Kau seperti menghindariku terus. Mengambil kelas berbeda, tidak ngomong lagi denganku, Chat nggak di balas, bahkan telepon aja nggak pernah sekarang. Padahal kita pernah Mabar Game, kau malah milih Log In sendiri" kata Ichi yang mulai jengkel.
"Icha, aku ini sahabatmu tapi bukan pacarmu. Kau meminta hal itu seakan kau adalah pacarku. Kau bisa lakukan hal itu dengan Yusuf. Aku sibuk sekarang apalagi dengan pekerjaanku dan membantu pekerjaan Ayah juga" balasku padanya lalu meninggalkannya.
"bukankah orang-orang bilang, Sahabat lebih penting daripada Pacaran ?" kata Ichi padaku.
Aku berhenti sejenak lalu mendekatinya
"kalau aku lebih penting sebagai Sahabatmu, bisakah kau putus dengan Yusuf sekarang ?" tanyaku pada Ichi.
Dia hanya diam sejenak dan berpikir. Aku yang melihat itu sudah berat hati memutuskan, dia benar-benar menyukai Yusuf segitunya.
“Kalau aku ini Perempuan, kau bisa mengatakan hal itu padaku. Tapi, jenis kita saja berbeda. Kau tidak ingat semester kemarin Yusuf cemburu karena aku dekat denganmu ?” jelasku sambil membelakanginya.
“I.. itu….” Balasnya singkat.
Entah apa yang di pikirkannya saat itu sampai dia diam sejenak berdiri di belakangku. Aku meninggalkannya dan setelah itu hari-hari mulai berlalu dan kami tidak pernah berbicara lagi. Sekali-kali kadang Ita datang mampir dan bicara padaku. Saat datang, tidak bosan-bosannya dia selalu bertanya padaku
“Ichi mana ?” Tanya Ita padaku.
“dalam satu hari, pertanyaan ini harus ada yaa ?” tanyaku balik padanya.
“dia kan Sahabatmu, wajar kan ?” balasnya padaku.
Aku menghela Nafas berat lalu membakar sebatang Rokokku.
“sudah ku bilang, aku sudah tidak satu kelas dengannya. Lagi pula, dia sudah satu kelas sama Yusuf. tanya dia gih” balasku padanya.
Ita yang mendengar penjelasanku itu memegang pundakku lalu menghentikanku untuk meninggalkannya.
“apa kau yakin membuat perasaanmu tergantung seperti ini ?” tanyanya padaku.
“Bukan urusanmu” balasku singkat dan meninggalkannya.
__ADS_1
...*****...
Beberapa hari kini berlalu, tidak ada yang special kecuali kini dua kandidat sudah diputuskan. Mading fakultas berfokus kepada foto dua kandidat. Seorang Primadona Fakultas kami bernama Dina dan Icha mantan sahabatku. Melihat foto itu di mading, aku tidak menyadari Kak Rahman menghampiriku
"Oi Ilyas, lama nggak ketemu" kata kak Rahman menghampiriku.
Semua orang terkejut karena melihat kami akrab seperti layaknya seorang teman.
"Aku hanya melihat mading. Aku kira ada apa begitu ramai, ternyata pemilihan ketua HMJ" balasku pada kak Rahman.
"Ngomong-ngomong, bukannya kak Rahman fokus menyusun proposal ?. Lalu kak Kiki mana ?" lanjutku bertanya pada Kak Rahman.
"Oh iya sih kami berdua menyusun. Tapi sekarang kami lagi sibuk mengurusin KKN dan Magang. Nggak nyangka, agendanya bersamaan seperti ini" jawab kak Rahman.
"Kalau begitu, semoga sukses kegiatannya" balasku sambil melihat madingnya kembali.
Entah kenapa, orang di sekitarku kepekaannya begitu tinggi. Melihat aku tidak seperti biasanya, Kak Rahman merangkul pundakku lalu membisikkan di telingaku
"kami berencana ketemuan lho sebelum besok berangkat KKN. Semua teman-teman kumpul di Cafe Tani, itu Cafe katanya dulu tempat nongkrong kalian. kamu nggak mau ikut ?" ajak Kak Rahman.
Aku tahu pasti ada rencana di balik ini. Jadi aku berencana menolaknya.
"Maaf, kali ini aku tidak bisa ikut" jawabku pada kak Rahman.
"Wah sayang sekali sih, padahal aku mau teraktir kau sepuasnya" kata Kak Rahman menggodaku.
"Kak Rahman, nggak mau berangkat ?. Aku mau di luan ke sana" balasku ke Kak Rahman.
Dia hanya menatapku dengan tatapan yang aneh.
“Akhirnya tergoda juga kau Sial*n” balasnya Kesal.
Saat kami kumpul, aku jarang bicara karena setelah kejadian itu aku selalu menghindari mereka. Apalagi dengan Nuge, yaa dia pasti tidak pernah mencariku karena sekarang pun dia ngebucin sama Ita.
Kalian yang pacaran mati aja sana.
Aku hanya bermain game dan push rank sambil minum kopi. Hingga pengakuan dari Ichi sedikit membuatku tertarik
"aku.... Tidak akan menghadiri pemilihan ketua HMJ nanti" kata Ichi yang membuat semua orang penasaran.
Semua orang diam setelah mendengar pengakuannya. Begitupun Yusuf langsung tersedak minuman. Sedangkan aku tidak peduli, aku hanya melanjutkan gameku.
"Apakah kau berencana mengundurkan diri ?" tanya Kiki pada Ichi.
"Aku sudah membujuknya semalam, tapi.... Entah apa yang menghalangi pikirannya" lanjut Yusuf.
“lalu kenapa kau terkejut seolah baru dengar ?” Tanya Nuge.
__ADS_1
“yaa karena nggak nyangka aja dia mengatakannya langsung pada kalian tampa salam gitu” jawab Yusuf.
“emang kau kira ini ceramah apa ?” balas Ita dengan wajah yang datar.
"Padahal, aku kira Icha mungkin bisa jadi ketua HMJ" balas Kak Rahman.
Ita memegang tangan Ichi dan berkata padanya
"Icha, sebenarnya ada apa ?" tanya Ita khawatir.
Nuge hanya menatapku begitupun Ichi setelah mendengarkan perkataan Ita. Aku tak tahu apa-apa tapi sepertinya ini berhubungan dengan perasaan Ichi kepadaku. Akhir-akhir ini, aku menghindarinya. Karena itulah, mungkin dia melakukan hal ini demi aku. Mungkin aku terlalu PD tapi kalau itu benar, aku akan mengatakan hal yang membuatnya tidak sia-sia mengundurkan diri.
"Bukannya itu bagus ?. Lagi pula, Icha memang tidak cocok untuk jadi ketua HMJ" kataku pada mereka.
Dan semua teman-teman waktu itu menatapku dengan tatapan yang tidak baik dan marah.
"Apa yang kau katakan ?. Setelah tidak lama datang dan selalu menghindar, kau malah seperti ini ?" kata Kiki padaku.
"Memangnya apa masalahmu !!!!?" lanjut teriak Kak Kiki mulai kesal.
Kak Rahman mencoba menenangkannya dan aku menjelaskan maksudku pada mereka
"jangan berpikir buruk dulu, aku tahu menjadi ketua HMJ adalah hal yang membanggakan. Tapi, saingannya adalah Primadona yang pendukungnya hampir seluruh laki-laki di Fakultas. Itu yang pertama. Dan yang kedua, tidak mesti jadi ketua untuk bergabung dan bekerja di HMJ. kalau mau jabatan tinggi, cukup wakil tapi jangan Sekretaris. Karena Sekretaris adalah pekerjaan yang lebih sibuk daripada ketua itu sendiri. Tugas ketua kadang mengesahkan dan bertanggung jawab. Walau membantu kadang sekali-sekali. Dan point terakhir, dengan dia tidak berada di posisi yang memberatkan, dia makin mempunyai waktu bersama Yusuf atau kumpul seperti ini. Karena kalau dia ada di posisi yang memberatkan, dia akan di paksa untuk bekerja dan bertaanggung jawab. Apalagi, si Dina ini aku tidak yakin dia mampu menjadi ketua HMJ. itu merupakan pekerjaan yang berat" kataku menjelaskan pada mereka semua.
Semua orang kagum dan tidak bicara. Karena dari tadi aku tidak fokus, karakterku jadi mati. Aku menghentikan permainan gameku lalu mengudut rokokku untuk santai sambil minum kopi. Sambil merangkul pundakku sampai aku batuk-Batuk karena asap rokok, Kak Rahman berkata padaku.
"Sepertinya pendapatmu tidak salah juga. Walau awalnya bikin salah paham" kata Kak Rahman
"yaa nggak nyangka kau bisa berpikir seperti itu. walaupun kau suram" lanjut Kak Kiki mengejek.
"ternyata kau bisa berpikir Sosial yaa, walaupun kamunya Hikkikomori (Penyendiri) Aibo" kata Nuge juga mengejek
"kalian mau mengejek atau memuji sih ?" balasku kesal
Yusuf memegang tangan Icha dan berkata padanya
"Yang, lebih baik kau memikirkan apa yang di katakan Ilyas. Sepertinya, apa yang di katakannya itu tidak salah juga" lanjut Yusuf mengatakannya pada Ichi.
Ichi hanya menundukkan kepala. Karena tidak tahan dengan semua ini, aku pergi meninggalkan mereka.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke tempat kerjaku sekarang" kataku pada mereka dan meninggalkannya.
"Ahh aku juga kalau begitu, Nuge bisa antar aku kan ?" tanya Ita pada Nuge.
"Iya Sayang, tunggu sebentar habisin kopi dulu” Balas Nuge gombal.
Entah kenapa, aku tidak tega mengatakan itu padanya. tapi, menurutku ini yang terbaik.
__ADS_1