Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Antara Sahabat dan Pengagum Rahasiaku (Cerita Icha)


__ADS_3

Hari itu aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Ilyas. Setelah kejadian itu, dia selalu menghindariku dan jauh denganku.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan persahabatan kami ?.


Aku jadi bingung.


Padahal aku mencalonkan diri sebagai ketua HMJ agar aku di kenal begitupun dengan dia.


Akan aku suruh Ilyas agar dia berguna dan tidak di rendahkan lagi di kampus sebagai orang yang suram.


Orang sebaik dirinya tidak mesti sendiri dan menderita.


Tapi di hari itu, dia menanggapinya biasa saja. Dan bahkan, dia berkata aneh padaku


"apakah aku berani memutuskan pacarku demi sahabatku sendiri ?" gumamku yang tidak sengaja di dengar oleh temanku yang kebetulan numpang tinggal.


"Heh, ada apa Icha ?. Ada bahan gosip baru yaa sampai ngomong begitu ?" tanya temanku itu.


"Jangan begitu Ammi. Aku hanya menggugau kok" balasku padanya.


"Ceritalah padaku, kita ini berteman bukan ?. Yaa walaupun tidak bisa menggantikan posisi si suram untukmu. Tapi, aku akan mendengarkannya" kata Ammi membujukku.


Rasanya benar, setelah Ilyas mendiamiku lagi entah kepada siapa aku berbicara hal seperti ini kalau bukan dia ?. Kalau bersama dengan Yusuf, aku sedikit takut karena dia orangnya posesif banget (cemburuan). Jadi aku menceritakannya pada ammi sampai ketika akhirnya selesai, Ammi terkejut dan berkata padaku


"ternyata.... Ilyas punya perasaan seperti itu yaa padamu ?. Walau sebenarnya dari dulu aku dah tau sih" kata Ammi padaku.


"Apa maksudmu ?" tanyaku padanya karena aku tak mengetahui maksudnya.


"Kau tahu, dia secara tidak sengaja mengatakan hal itu karena dia Menyukaimu. Kita ini ada di Filsafat Nusantarakan ?. Kalau kita mengkaji hal ini, normalnya nggak mungkin sih kalau perempuan sahabat dengan laki-laki tapi nggak ada perasaan berbunga-bunga sedikit pun yang muncul" kata Ammi menjelaskan.


Mendengar hal itu membuatku sedikit terkejut


"ma-maksud kamu, I.. I.. Ilyas menyukaiku ?" tanyaku padanya seolah nggak percaya.


Ammi menertawaiku terbahak-bahak karena tidak menyangka ekspresiku seperti itu menanggapinya.


"padahal dari dulu Ilyas memperlihatkannya dengan jelas lho, dia sangat dekat denganmu bahkan berbeda dengan Yusuf sebelum menembakmu. Apapun keluhanmu dia mendengarkannya dengan baik, dia begitu mendukungmu sampai menghadapi kak Rahman. Lalu kau kira aku tidak tahu, setiap kau dalam bahaya Pasti Ilyas sakit lagi dan penuh luka luka. Bagiku yang dekat denganmu sudah jelas dialah yang menolongmu. Dia tipeku banget sih seandainya wajahnya nggak suram gitu" kata Ammi menjelaskannya padaku.


"Bagaimana ?. Jelas bukan ?" lanjut ammi meyakinkanku.


Perkataannya itu membuat perasaanku tidak karuan. Setelah mendengarnya, membayangkan wajah Ilyas saja sekarang membuat jantungku berdebar.


Ada apa ini ?.


Bahkan saat yusuf menyatakan perasaannya perasaanku nggak berdebar sekeras ini.

__ADS_1


Mungkinkah…. karena aku lapar ?.


Saat melihat jam ternyata jam sudah menunjukkan tengah malam. Aku rasa, aku memang lapar. Jadi aku memasak indomie waktu itu.


“aku ini ada-ada aja. Laper kok di anggap Baper ?. tapi orang bilang, Laper ama Baper beda tipis. Apa iya ?” gumamku sendirian.


Beberapa hari telah berlalu aku juga menghindari ilyas karena malu. Sampai akhirnya Kak Kiki mengajak kami kumpul. Aku ingin tahu apa reaksi Ilyas kalau aku mengatakan hal demikian untuk mengundurkan diri. Ternyata, Jawabannya cukup mendukungku.


Apakah dia benar-benar menyukaiku ?.


Tapi, aku terlanjur Pacaran dengan Yusuf.


Dan sepertinya yusuf pun begitu menyukaiku.


Jadi benar yaa ?.


Hubunganku dengan Ilyas sebagai sahabat benar-benar berakhir seperti ini ?.


Aku menatapnya sambil bertanya-tanya pada dirinya dalam benatku.


Sedalam apa kau menyukaiku sebenarnya Ilyas ?.


beberapa hari berlalu, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Semua orang menyebarkan kedua dukungan untuk kedua kubu. Antara aku, dan Dina. Walaupun seperti itu, aku tetap melanjutkan perkuliahanku. Ada satu momen di mana rasanya sangat letih. Aku hanya duduk di bangku dan menyandarkan kepalaku di meja. Tidak sengaja, dia menempelkan botol minuman dingin di pipiku hingga membuatku terkejut.


“Jangan cemberut begitu, wajahmu rese’ kalau lagi Letih” katanya padaku.


“memangnya apa urusanmu kalau wajahku rese’ ?” tanyaku kesal padanya.


“itu termasuk urusanku, karena kau masih menganggapku Sahabat. Walau aku sudah menganggapmu abu-abu” balas Ilyas dingin padaku.


Mendengar hal itu darinya, aku jadi kepikiran. Apa dia cemburu karena aku pacaran dengan Yusuf ?. apalagi, aku sudah sangat dekat dengannya.


Tidak lama, Yusuf datang membawa cemilan.


Waduh, bahaya nih.


Bisa-bisa Yusuf cemburu lagi karena ada Ilyas.


Yusuf menghampiri Ilyas lalu berkata padanya.


“ada apa kau mendatangi pacarku ?” Tanya Yusuf yang sepertinya kesal.


TUH KAAAANNNN DIA CEMBURUUUU


Ilyas hanya menyeringai menanggapi Yusuf lalu berkata pada Yusuf.

__ADS_1


“Jangan salah paham, aku ke sini mau menemui Ammi” balas Ilyas lalu menghampiri Ammi.


“heh ?. Aku ?” Tanya Ammi yang terkejut.


Ilyas menghampiri Ammi lalu menarik Ammi keluar sambil memegang tangannya.


“Sudahlah, ikuti aku sebentar” balas Ilyas menarik Ammi.


Aku dan Yusuf melihat itu membatu tidak di sangka. Sejak kapan Ilyas dekat dengan Ammi ?.


“Ti.. tidak ketebak yah yang ?” Tanya Yusuf terkejut.


“i.. iya. Aku bahkan tak tahu harus menanggapinya seperti apa” balasku gugup.


Tak terasa, waktu pemilihan ketua HMJ akhirnya tiba. aku menghadirinya dan memperhatikan laporan pertanggung jawaban HMJ sebelumnya. Setelah itu pelepasan dan pemilihan ketua, yaa walaupun hasilnya aku  gagal. Setelah acara berakhir, kami menyusun instruktur susunan jabatan. Aku memilih menjadi wakilnya karena tidak terpilih. tapi, kejadiannya sesuai dengan apa yang tidak ku harapkan.


"Menurutku, kamu tidak usah jadi wakil Icha" kata Dina padaku.


"Kau itu rajin dan sepertinya mampu untuk di ajak bekerja sama. Bagaimana kalau kau jadi sekretaris ?" lanjut Dina menawariku.


"Kalau wakil, aku akan memanggil Ian. Karena dia adalah laki-laki dan layak menggantikanku kalau aku tidak ada" kata Dina jelas.


Waktu itu entah kenapa aku tidak melawan. Sebenarnya aku mau jadi wakil tapi dia mengharapkanku jadinya aku menerima tawarannya dan menjadi sekretarisnya. Malamnya aku meberitahukan kejadian di kampus pada Yusuf dan dia cukup terkejut setelah mendengar situasnya.


"apa tidak apa-apa ?. Kau akan sibuk sekali lho" kata yusuf meyakinkanku.


"Nggak apa-apa kok yang, aku akan menjaga diriku" balasku menenangkannya.


"kalau begitu, aku yang akan mengunjungimu setiap waktu. Kau tak perlu repot-repot kali ini untuk datang padaku. Kau tau kan aku menyayangimu Icha" kata yusuf padaku.


"Aku tahu kok sayang, tapi ada nih gombal-gombal. Lama-lama ku gigit pipimu lho seperti sebelumnya" kataku menggodanya.


Dan dia tertawa malam itu karena perkataanku. Tapi setelah itu dia diam sejenak dan berkata padaku.


“kau… benar-benar sayang padaku kan Icha ?” tanyanya padaku.


“kenapa kau terdengar ragu seperti itu ?” tanyaku balik padanya.


“tidak… aku hanya… lupakan” balasnnya seperti menunggu kepastian.


“aku Sayang kok. Kalau tidak, aku tak akan memberikan segalanya padamu” kataku menenangkannya


yaahh aku tidak perlu ragu mengatakannya. lagi pula, aku sudah mengambil keputusan dari awal, aku akan mencintai Pengagum Rahasiaku sebelumnya.


Setelah mengatakan itu, dia terdengar sangat senang. Dan kami melanjutkan teleponan entah sampai jam berapa.

__ADS_1


__ADS_2