Darjah : Sacrifice Of Ilyas

Darjah : Sacrifice Of Ilyas
Selanjutnya Giliran Kalian


__ADS_3

Hari itu Polisi menangkap Sanca. Semua orang menghina bahkan melemparinya. Tapi para polisi mencoba menenangkan warga. Begitupun ketika mereka para polisi menangkap bawahan Asoka, aku mengambil kesempatan untuk bertindak


"Kepung mereka dan jangan Tangkap dulu !!!" teriakku.


Salah satu polisi memukulku dari belakang dan mencoba menahanku


"seharusnya kau tidak memerintah, memangnya kau siapa ?. Kau adalah salah satu berandalan bukan ?" kata polisi itu.


Telingaku seperti tidak mendengar apa-apa ketika dia menghajarku. Aku melihat Icha dan Yusuf menolongku dari polisi itu. Dan tiba-tiba, polisi kenalanku datang dan menarik kerah baju polisi tersebut


"woi, apa yang kau lakukan ?. Menghajar bocah ini ?. Kau bahkan gemetar dan tidak bertindak ketika dia di hajar oleh Geng Motor. Di mana rasa hormatmu sebagai polisi ?" kata polisi itu.


“tapi pak, tugas kami menahan para warga, bukan menahan para Geng Motor itu” balas Polisi yang menghajarku tadi.


“jadi kalau kau di perintahkan untuk makan tinja, kau mau memakannya ?” tanya polisi yang menariknya tadi.


Mendengar perkataan itu, dia akhirnya diam. Suara itu sangat familiar. Dan benar saja saat melihatnya, itu adalah Pak Brigjen Pol Suparman.


“seharusnya kau tahu kenapa kalian di perintahkan untuk menahan para warga ?. karena bocah ini di tugaskan untuk melenyapkannya atas Izinku. Karena itulah aku yang akan menangkapnya, bukan dirimu” lanjut Brigjen yang membuat bawahannya itu tegak.


“Siap Pak !!!” balas bawahannya lalu meninggalkannya.


Aku mencoba untuk berdiri dan di bantu oleh Icha dan Yusuf. Aku berjalan menghadap ke Pak Brigjen lalu dia menepuk pundakku.


“Bagaimana keadaanmu ?” Tanya Pak Brigjen.


"aku tidak apa-apa pak, mereka yang tidak mengenalku pasti melakukan hal yang sama" kataku pada Brigjen.


"Sebenarnya kenapa lagi kau turun tangan ?. Kau kan tidak ada urusan dengan hal ini dasar bocah bodoh" kata Bringjen itu menegurku dengan memukul kepalaku layaknya seorang ayah.


“aku kan sudah bilang di telepon paman, emang bapak pikun ?” tanyaku sambil mengejeknya.


“HAAHHH !!!?. BERANI KAU SAMA ORANGTUA !!!?” bentak pak Brigjen.


"Bukan begitu paman, dari awal polisi tidak akan ku biarkan mengambil alih tentang kasus ini. Karena, aku sudah berjanji padanya, agar menyapu rata dan menghilangkan Nama Asoka. Karena itulah,..” kataku lalu menundukkan kepalaku di hadapannya.


“Izinkan aku bicara dengan mereka" kataku pada Brigjen.


Birgjen menatapku lalu menghela napas dan terenyum kepadaku

__ADS_1


"aku beri kau waktu beberapa menit. Meskipun begitu, aku akan tetap menangkap mereka dan dirimu" kata Brigjen mempersilahkanku.


Mendengar hal itu, Icha dan Yusuf terkejut dan mencoba menantang pak Brigjen.


“lho pak, kok Ilyas di tangkap Pak ?. dia kan tidak bersalah ?” kata Icha.


“iya pak, dia malah membantu bapak lho” balas Yusuf menentang.


Pak Brigjen memegang kedua kepala mereka lalu menenangkannya.


“memangnya di pikir dia sebagai berandalan dan akrab padaku, kamu bisa bayangkan. Berapa kali aku sudah menangkapnya ?” Tanya Brigjen pada kedua temanku.


“tenang saja, menangkapnya itu hanyalah Formalitas. Kalian sudah mengenal ayahnya itu siapa kan ?. mana mungkin dia membiarkan anaknya membusuk di penjara sekalipun dia itu pembunuh” lanjut Pak Brigjen yang membuat kedua pemuda itu terdiam.


Saat itu sebelum di tangkap, mereka di kumpulkan dengan keadaan di kepung dan di borgol. Begitupun Aku mulai bicara di hadapan mereka


"akanku katakan pada kalian, berapa kalipun kau menaikkan Nama Asoka, maka aku akan bangkit dari kubur bersama Nuge dan meratakan Asoka sampai hilang. Era Asoka sudah lama berakhir. Kak Nurhan sudah masuk ke penjara, tidak ada Asoka lagi setelah itu" kataku pada mereka.


Dan mereka menundukkan kepala entah karena apa mereka melakukan hal itu. Aku menghentakkan kaki dan berkata pada mereka


"ERA ASOKA SUDAH BERAKHIR !!!!. TAPI INI AKAN MENJADI AWAL PERKUMPULAN MAFIA BARU, ONE EAGLE !!!!" teriakku di hadapan mereka.


“Aku berjanji akan membebaskan kalian, setelah itu aku akan mematuhi perintah ayah. aku tahu kau melihat ke tv sekarang ayah !!!. Aku akan Kuliah dan melanjutkan perusahaan Ayah kelak nanti, dan aku akan mendirikan perkumpulan Mafia sebagai One Eagle !!!. Bukan perkumpulan Mafia yang bar-bar, tapi perkumpulan Mafia yang ada untuk mendukung masyarakat wilayah Ayah kelak Nanti !!!. KARENA INI ADALAH TERITORYKU !!!!" teriakku di depan umum.


“Walaupun jadi boss Mafia, aku juga punya Mimpi yang tak akan ku ceritakan di sini. Karena itulah saat jadi Mafia, aku akan ada di sekitar kalian menjadi orang yang biasa. Bukan sebagai Boss Mafia. Karena itulah, Era Asoka Berakhir dan ini Era Awal ONE EAGLE !!!" teriakku sambil mengangkat tangan.


"TUAN ILYAASSS !!!!" ucap mereka serentak sambil bersujud.


Aku melihat ke sekitar dan memandang tempat di mana orang banyak merekamku. Aku teringat di adegan sebuah Anime dan memperagakannya. Aku menunjuk ke arah orang yang merekamku lalu berkata pada mereka.


“Satu Geng Berandalan sudah ku ratakan lagi, Selanjutnya giliran kalian” kataku sambil menunjuk kea rah Kamera.


Semua orang berteriak memuji setelah mengatakan perkataan tersebut. Beberapa Geng yang menonton terlihat ketakutan dan beberapa dari mereka menantikannya. Yang hadir di sana meneriakkan ONE EAGLE berkali-kali. Dan dalam hati aku sangat bahagia.


Sumpah, selama ini aku ingin mengatakannya….


All M*ght, Maaf aku meminjam kata-katamu tampa ijin darimu.


Aku balik memandang Brigjen dan sepertinya dia terkejut saat aku mengatakan hal itu.

__ADS_1


"apa kau keberatan ?" tanyaku padanya.


Dia malah mengudut rokoknya dan tersenyum jahat memandangku


"aku malah tidak sabar kau akan jadi Mafia. Dengan begitu, aku tidak ada alasan lain lagi untuk tidak menangkapmu kalau kau melakukan kesalahan, Bocah Sialan" balas Brigjen padaku.


Lalu tanganku di borgol lalu di bawah oleh Brigjen itu sendiri. Sebelum pergi, Icha dan Yusuf melihatku. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan padanya.


Ketika sampai di kantor Polisi, Brigjen melepas borgolku lalu memberikanku Hoodie berwarna Hitam.


"Ingat, pakai masker agar orang-orang tak mengenalimu. yaa walaupun besok akan ketahuan karena kamu pergi Kuliah, tapi aku yakin Ayahmu pasti bertindak pada Media untuk menutup kasusmu" kata Brigjen padaku.


"maaf paman, aku selalu merepotkanmu" balasku padanya.


Aku memakai Hoodie itu lalu Brigjen menatapku penasaran lalu bertanya.


"setelah Kuliahmu selesai, apa rencanamu selanjutnya ?" tanya Brigjen padaku.


"Aku akan mendaftar menjadi Guru Sekolah, lalu mengajar sesuai bidang yang di minatkan di sekolah tersebut" jawabku pada Brigjen


"Hah ?. jadi Guru ?. dirimu ?" tanyanya tidak yakin.


"yaa, aku ingin agar Murid-muridku tidak terlantar seperti diriku waktu SMA. pada masa itu aku tidak bisa bergantung pada guru, orang tua, bahkan Polisi. sampai kami harus menjadi berandalan untuk menghancurkan kejahatan dengan cara kami sendiri" jawabku pada Brigjen.


Menatapku dan mendengar jawabanku menimbulkan ide di benat Brigjen dan berkata padaku.


"kalau begitu, datanglah padaku setelah Sarjana nanti" katanya padaku.


"aku tidak mau jadi polisi Paman. apa kau mendengarku ?" tanyaku padanya.


"siapa juga yang mau menjadikanmu Polisi. ada tmpat yang lebih bagus untukmu sebelum jadi Guru" katanya padaku.


"apa itu paman ?" tanyaku penasaran.


"aku akan mendaftarkanmu sebagai Badan Hak Pendidik di Korea. lalu gunakan otak dan usahamu agar Badan Hak Pendidik itu bisa menjadi pergerakan Seasia agar bisa sampai di Indonesia. kalau dirimu, pasti bisa melakukannya" katanya padaku.


"kenapa harus Badan Hak Pendidik ?" tanyaku padanya.


"karena moral pemuda jaman sekarang membutuhkannya agar apa yang kau katakan, Berandalan bisa menjadi Siswa yang tidak di telantarkan. kau mau kan ?" tawarannya padaku.

__ADS_1


Tawarannya itu membuatku semangat dan tersenyum padanya. sepertinya, aku akan ke sana setelah Sarjana.


__ADS_2