
Ibaratkan seekor ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu dengan warnanya yang menawan, seperti itulah sebuah perubahan besar yang dirasakan Mutiara dalam hidupnya. Satu bulan sudah ia tinggal bersama Mama Yuna di apartemennya. Selama itu pula Mama Yuna sudah berhasil mengubah Mutiara yang sebelumnya hanya seorang gadis kampung dengan penampilan yang sangat sederhana, kini menjadi seorang wanita kota yang modern dan berpenampilan sangat elegan layaknya wanita dari kalangan ningrat pada umumnya.
Akan tetapi, perawatan di salon mahal, baju-baju serta aksesoris branded yang pasti juga sangat mahal, serta kemewahan lainnya yang diberikan oleh Mama Yuna tidaklah bisa merubah kepribadian seorang Mutiara. Dia tetaplah wanita sederhana yang rendah hati dan tidak terlalu mementingkan materi dalam hidupnya.
Meskipun Livina sudah menjadi penghuni penjara dan tidak lagi tinggal di rumah besar keluarga Waradana, tetapi Mama Yuna belum mau tinggal di rumah itu dan memilih tetap tinggal di apartemennya untuk menemani Mutiara. Bukan tanpa sebab, hal itu sengaja dilakukan Mama Yuna agar dia lebih mudah menjaga dan mengajari Mutiara semua tata krama serta kebiasaan dan gaya hidup di keluarganya.
Satu hal lagi, Mama Yuna tidak ingin Mutiara terlalu dekat dengan Arkha sebelum ia menyelenggarakan pernikahan kedua mereka.
Selama satu bulan itu, Mama Yuna memang sudah mempersiapkan banyak hal untuk hari pernikahan putranya bersama Mutiara, bahkan semua persiapan itu dia sendiri yang mengaturnya tanpa melibatkan Arkha maupun Mutiara. Mama Yuna sangat antusias mempersiapkan semuanya walau tanpa berkonsultasi dengan calon pasangan pengantin. Mama Yuna bahkan sudah mempersiapkan baju pengantin, tempat pernikahan serta daftar undangannya. Terkadang hanya Sandra yang diijinkan membantunya apabila ada hal yang tidak bisa dilakukannya sendiri.
Sore itu, di kamar Mutiara.
"Semakin hari aku melihat kamu semakin cantik dan anggun, Ra. Aku sungguh-sungguh kagum kepadamu," puji Sandra sambil menatap wajah Mutiara dari pantulan cermin di hadapannya. Mutiara yang tengah duduk di kursi meja rias di depan cermin itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Kamu terlalu berlebihan, Sandra. Kamu lihat, kamu juga sangat cantik dengan gaun ini," balas Mutiara ikut memuji Sandra.
Saat itu keduanya memang baru selesai berdandan. Mutiara menggunakan dress panjang tanpa lengan berwarna krem dan terbuka di bagian punggung sedangkan Sandra juga menggunakan dress bodycon hitam pendek yang dipadukan dengan sebuah mini cardigan untuk menyempurnakan penampilannya. Keduanya sama-sama tersenyum saat melihat bayangan mereka di pantulan cermin.
Hari itu adalah hari yang dipilih Mama Yuna untuk pertemuan keluarga yang akan membahas pernikahan Arkha dan Mutiara.
Akan tetapi, berbeda dengan acara pertunangan pada umumnya, Mama Yuna hanya membuat sebuah acara makan malam santai di sebuah hotel berbintang lima di kota itu. Yang diundang pun hanya kerabat serta kolega dekatnya saja. Hal itu dilakukan Mama Yuna karena mengingat momen itu bukanlah pernikahan pertama bagi putranya.
"Apalagi saat hari pernikahanmu nanti, kamu pasti akan terlihat seperti seorang ratu. Kamu pasti akan sangat serasi berpasangan dengan Tuan Arkha." Sambil merapikan tatanan rambut Mutiara, Sandra terus memuji.
"Ratu apaan? Ratu laut selatan?" kelakar Mutiara. Keduanya lalu terkekeh.
"Ohya, kamu sendiri kapan menikah, Sandra?" tanya Mutiara.
"Hem ..., aku masih jadi tulang punggung keluarga, Ra. Adik-adikku masih sekolah, sampai saat ini aku belum memikirkan untuk menikah," jawab Sandra.
Usia Sandra memang sudah 27 tahun saat itu, tetapi dia masih belum berpikir untuk menikah karena masih ingin mengabdikan hidupnya kepada Mama Yuna. Selain bekerja untuk Mama Yuna, sehari-harinya Sandra bersama dua orang adik perempuannya mengelola sebuah toko peralatan rumah tangga. Saat melayani Mama Yuna, maka adik-adiknya lah yang menjaga toko itu sembari kuliah.
"Tapi, kamu sudah punya seorang kekasih kan?" tanya Mutiara lagi.
"Belum, Ra. Aku jomblo," sahut Sandra sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum terkekeh.
__ADS_1
"Mutiara, apa kamu sudah siap? Kita harus berangkat sekarang, Arkha sudah menunggu kita." Dari luar kamar terdengar Mama Yuna sudah memanggil mereka.
"Iya, Nyonya. Kami sudah siap," sahut Sandra sambil menggandeng tangan Mutiara dan keluar bersama.
"Mutiara, kamu memang sangat cantik," puji Mama Yuna sambil tersenyum saat melihat Mutiara.
"Mama tantik!" Baruna yang saat itu di gendong oleh Mama Yuna juga ikut memuji.
Selama satu bulan diasuh bersama oleh Mama Yuna, Baruna sudah diajarinya untuk memanggil 'Mama' kepada Mutiara, sehingga Baruna tidak lagi memanggilnya 'Ibu'.
"Ayo kita berangkat sekarang!" perintah Mama Yuna.
Mutiara dan Sandra dengan patuh mengikuti langkah Mama Yuna meninggalkan apartemennya.
****
Di sebuah restaurant yang ada di sebuah hotel berbintang lima di kota itu, tampak sebuah hall sudah di reserved secara pribadi untuk acara makan malam santai keluarga. Disanalah acara temu keluarga sebelum pernikahan Arkha dan Mutiara akan digelar. Beberapa meja bundar dengan hiasan bunga anggrek putih sebagai centerpiece-nya sudah ter-set up disana dan beberapa orang tamu juga sudah datang. Para pelayan sudah mulai menghidangkan canapes dan cocktail untuk para undangan yang sudah menempati mejanya masing-masing.
Di salah satu kursi VIP, Arkha duduk seorang diri. Bibirnya terus tersenyum, perasaan bahagia sedang memenuhi hatinya saat itu.
Berkali-kali Arkha melirik jam tangan yang selalu melingkar di tangan kanannya. Arkha menarik nafas panjang. Selain degupan bahagia, jantungnya juga mengisyaratkan kegelisahan, karena yang ditunggunya belum juga tiba saat itu.
Rendy menyodorkan segelas daiquiri ke hadapan Arkha sementara dia sendiri sedang memegang segelas mojito di tangannya. Sambil ikut duduk di sebelah Arkha, Rendy menyesap minumannya perlahan.
Sekilas Arkha melirik ke arah Rendy.
"Tumben penampilanmu berbeda hari ini, Rendy?" tanya Arkha. Ia tersenyum saat melihat Rendy berpakaian formal dengan kemeja dan jasnya. Sehari-harinya Rendy selalu berpenampilan santai. Polo shirt berwarna gelap dipadukan dengan celana tactical dan sneakers, hanya itu yang senantiasa dipakainya.
"Iya, sesekali harus terlihat ganteng kan, Bos? Masa kalah sama Anda terus," kelakar Rendy sambil merapikan rambutnya percaya diri.
"Eleh! Toh juga sampai sekarang masih jomblo," seloroh Arkha mencibir Rendy, dan Rendy hanya terkekeh dibuatnya.
"Hai, Bos. Hai, Rendy!" Seorang pria menggunakan kursi roda mendekat dan menyapa.
"Bagaimana kabarmu, Genta? Aku senang kamu bisa ikut kesini," ujar Arkha.
__ADS_1
"Iya sudah jauh lebih baik, Bos. Ini hari istimewa Anda, masa saya tidak datang? Saya juga ingin ikut berbahagia bersama disini," jawab Genta sambil melirik seorang wanita cantik di sebelahnya yang tadi mendorongkan kursi roda itu untuknya.
Arkha hanya tersenyum ikut menoleh ke arah wanita itu yang tak lain adalah suster pribadi yang dibayar khusus oleh Arkha untuk merawat Genta. Sudah dua minggu Genta keluar dari rumah sakit, tetapi dia belum bisa berdiri dengan sempurna. Cedera di beberapa sarafnya membuat dia harus dibantu kursi roda dahulu untuk beberapa waktu sampai dia benar-benar sembuh.
"Itu mereka datang, Bos!" seru Rendy saat melihat Mama Yuna sudah berjalan memasuki hall itu bersama Mutiara, Baruna dan juga Sandra.
Mata Arkha langsung menyorot ke arah Mutiara, dan tanpa disadarinya mulutnya menganga saat melihat Mutiara yang terlihat sangat anggun dengan gaun yang sedang dikenakannya. Arkha sangat terkesima, pesona seorang Mutiara begitu terpancar saat itu.
"Mutiara memang benar-benar cantik sempurna," gumam Arkha berdecak kagum.
Rendy segera bangun dari tempat duduknya dan dengan senyum ramah menyapa Mama Yuna dan Mutiara.
"Selamat datang, Nyonya!" sambut Rendy sambil menarik kursi dan mempersilahkan mereka duduk. Mama Yuna dan Mutiara duduk berseberangan dan Arkha ada di antara mereka.
"Papa ...," seru Baruna sambil langsung melorotkan badannya dari pangkuan Mama Yuna berpindah ke pangkuan Arkha.
"Papa ganteng tetayi," puji Baruna sambil mengusap pipi Arkha.
"Kamu juga sangat tampan hari ini, Pangeran Papa," balas Arkha sambil mencium pipi putranya.
"Anak dan cucu Mama sama-sama tampan dan ganteng." Mama Yuna ikut memuji. Mama Yuna tersenyum manis saat melihat penampilan Arkha saat itu. Kemeja putih dan jas krem yang senada dengan warna gaun Mutiara membuat pasangan itu terlihat sangat serasi. Outfit yang tengah mereka kenakan saat itu memang adalah outfit yang dipilih Mama Yuna khusus untuk acara makan malam keluarga hari itu.
Arkha dan Mutiara juga kini saling menatap. Raut bahagia membias di wajah keduanya. Perlahan Arkha meraih tangan Mutiara dan memegangnya erat.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Arkha tak mampu menahan deru jantungnya yang berdebur kencang saat itu.
Namun, Mutiara hanya tersenyum tersipu malu.
"Mutiara sangat seksi dengan gaunnya itu, bibirnya juga sangat menggoda dengan lipstik glossy-nya. Aahh ..., tidak sabar rasanya menikmati malam pertamaku lagi dengannya," batin Arkha.
Pikiran nakal itu memang sering mengusik kepalanya belakangan ini, tetapi karena Mama Yuna selalu melarangnya bertemu Mutiara, Arkha selalu berusaha keras menahan semua gelora jiwanya saat membayangkan Mutiara.
--------------------------------
Selamat Idul Fitri bagi semua readers tercinta yang merayakan.
__ADS_1
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN