
Pergerakan waktu masih sama, dua puluh empat jam dalam sehari, enam puluh menit selama satu jam, juga enam puluh detik dalam satu menit.
Tidak ada yang tahu kemana perginya waktu, yang pasti hari demi hari terus berlalu, bulan demi bulan terus berganti tanpa jeda, dan jarum jam berputar begitu cepat.
Tiga tahun sudah berlalu setelah Arkha berhasil merebut kembali perusahaannya dan membawa Alfin menjadi penghuni tetap rumah tahanan.
Kesalahan Alfin yang pernah selama setahun mengelola perusahaan itu, membuat Arkha harus bekerja keras selama tiga tahun terakhir untuk mengembalikan proforma perusahaannya. Perlahan tapi pasti, perusahaan peninggalan mendiang Papanya itu kini sudah kembali ada di puncak kesuksesannya.
Kehadiran Ardila dalam kesehariannya, membuat Arkha mencoba membuka lagi hatinya untuk Livina. Arkha menikahi Livina dan berusaha membina kembali rumah tangganya yang sempat kandas bersama sahabat masa kecil yang menjadi cinta pertamanya itu. Akan tetapi, semua itu tidak serta-merta membuat Arkha lupa akan kenangannya tentang Mutiara. Meski hatinya meyakinkan bahwa setiap pertemuan pasti dibarengi dengan perpisahan, namun tidak dengan kenangannya bersama Mutiara, wanita yang masih sangat dicintainya itu.
Kendati pun hanya dalam kenangan, Mutiara tetaplah satu-satunya wanita yang masih ada di hatinya, hal ini juga yang membuat Arkha tidak bisa lagi mencintai Livina dengan sepenuh hatinya. Menikah dengan Livina dilakukannya semata-mata demi Ardila, putri kecilnya yang sangat cantik dan sangat dia sayangi.
Hari itu, Arkha meninggalkan kantornya lebih awal, namun dia tidak langsung pulang. Arkha melajukan SUV hitamnya menuju ke pantai dimana dia sering menghabiskan senjanya di sana. Sebelum sampai di pantai itu, seperti biasa dia akan mampir membeli beberapa tangkai bunga mawar merah hati terlebih dahulu.
Matahari sudah sangat condong ke arah barat saat Arkha sampai di pantai itu, dan dia langsung melangkahkan kakinya diatas pasir. Ombak juga setia menyapa kakinya, Arkha duduk sendiri disana, hanya ditemani semilir angin yang juga selalu setia menyentuh wajah dan rambutnya. Ramai orang-orang berlalu-lalang di hadapannya, namun Arkha sama sekali tidak mempedulikannya.
"Mutiara, sudah tiga tahun berlalu, Sayang. Hari ini entah mengapa aku sangat merindukanmu," gumam Arkha.
Dia lalu duduk di pasir yang masih kering sambil melemparkan pandangannya ke tengah laut, tanpa disadarinya bulir air mata menetes di ujung matanya, tatapannya kosong, sangat hampa seperti suasana hatinya saat itu.
__ADS_1
"Aku yakin kalau kau dan juga Pak Imran sekarang sudah tenang disana, Ra. Seandainya Tuhan memberikan kehidupan kedua untuk kita, aku ingin di kehidupan mendatang takdir bisa mempertemukan kita lagi, Sayang," ucap Arkha sambil meletakkan dua tangkai bunga mawar di atas pasir di sebelahnya.
Sudah tiga tahun ini, Arkha selalu melakukan hal yang sama, setiap kali dia merasa rindu pada Mutiara, dia akan selalu ke pantai itu sambil melemparkan bunga mawar ke tengah laut.
"Walau saat ini aku sudah bersama Livina lagi, tapi aku tidak bisa mencintainya lagi seperti dulu. Cintaku hanya milikmu seorang, Mutiara."
Arkha terus melamun di tempat itu hingga hari beranjak mendekati malam. Suasana semakin gelap dan ombak kini sudah semakin mendekati tempat duduknya.
Perlahan Arkha beranjak dan mengambil kembali bunga mawar itu. Dia lalu berjalan lebih ke tengah, kali ini, bunga mawar yang ada di tangannya tidak dilemparkannya ke arah gulungan ombak, namun hanya diletakkannya saja di atas pasir dan membiarkan ombak sendiri yang menggapai dan menghanyutkannya.
Setelah kurang lebih satu jam berada di pantai itu. Arkha lalu berjalan menuju tempat parkir dan kembali ke mobilnya.
Sudah hampir empat tahun Mama Yuna dirawat di rumah sakit itu, namun belum ada tanda kesembuhan yang bisa dilihat dari psikis Mama Yuna. Psikiater-psikiater terbaik juga sudah didatangkan Arkha dari seluruh penjuru tanah air bahkan hingga dari luar negeri, namun keadaan Mama Yuna tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti, dan selama itu juga Arkha menjadi donatur terbesar untuk rumah sakit itu.
Tiba di rumah sakit itu, semua pegawai, perawat dan juga dokter di sana menyambutnya dengan sangat ramah. Semua orang yang ditemuinya selalu menunduk hormat, tidak ada yang berani menatap wajahnya.
"Dimana mama saya, Suster?" tanya Arkha kepada salah seorang suster disana.
"Nyonya Yuna ada di kamarnya, Tuan. Mari saya antar Anda kesana," sahut suster itu sangat sopan sambil mengantarkan Arkha ke kamar perawatan Mama Yuna.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanya, Sus? apa Mama saya masih tidak mau makan?" tanya Arkha lagi saat tiba di kamar perawatan Mama Yuna dan Arkha melihatnya tengah tertidur lelap di atas ranjangnya.
"Semakin hari Nyonya Yuna makin susah diajak makan dan minum obat, Tuan. Sampai-sampai terkadang kami harus memaksanya," jawab suster itu menjelaskan kondisi Mama Yuna yang memang semakin memburuk.
Arkha hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban dari suster itu, "Mama, sampai kapan mama akan terus seperti ini, Ma," gumam Arkha.
Arkha menghampiri Mama Yuna dan duduk di tepi tempat tidurnya, dia lalu memegang tangan kanan Mamanya yang terasa dingin. Guratan halus terlihat jelas di semua permukaan kulit wanita itu, tubuhnya semakin kurus dan wajahnya tampak sangat lusuh.
Arkha mengusap rambut yang menutupi wajah Mamanya. Tangan Arkha juga menyentuh sebuah benda yang selalu ada di tangan kiri Mama Yuna, sebuah mainan miniatur kapal laut yang selalu dibawanya. Kini netra Arkha terfokus pada mainan itu dan dia tersenyum kecut memandangnya.
"Ma, sekarang Kaka sudah besar, Kaka sudah tidak memainkan mainan ini lagi," bisik Arkha di hadapan Mamanya yang masih tertidur.
"Jangan ambil mainan Kaka ku!" sentak Mama Yuna. Tiba-tiba saja dia terbangun dan dengan cepat merampas mainan itu dari tangan Arkha. Mama Yuna langsung duduk sambil memeluk mainannya erat dan menatap marah ke arah Arkha.
"Pergi kamu! pergi...! aku tidak mau melihatmu!" usir Mama Yuna. Dia mendorong tubuh Arkha kuat kuat agar segera pergi meninggalkan kamarnya.
Arkha hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat kondisi Mama Yuna yang seperti itu, lalu dia pun melangkah meninggalkan kamar Mamanya.
Hatinya sangat pedih, sudah berbagai cara dia tempuh demi kesembuhan Mamanya, namun sampai saat itu Mama Yuna belum juga membaik, yang ada semakin hari kesehatannya fisiknya juga semakin memburuk karena dia tidak makan dengan teratur dan susah minum obat.
__ADS_1