Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #79 Kabur Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Mutiara semakin terkejut mendengar apa yang dikatakan Mama Yuna.


"Ehmm, semua orang yang sakit jiwa pasti tidak akan mengakui kalau dia gila," pikirnya.


"Ayo, Ara! jangan tunggu wanita itu sampai disini, kita harus segera pergi dari sini secepatnya!" bujuk Mama Yuna lagi.


"Tapi kita harus pergi kemana, Nyonya? kita tidak boleh keluar dari rumah sakit ini," ragu Mutiara, Tentunya kabur dari rumah sakit itu bukanlah hal yang harus dilakukannya, karena dia yakin penjagaan di rumah sakit itu pastinya sangat baik, tidak akan ada orang yang berani mencoba mencelakai mereka di sana.


"Kita harus sembunyi dari wanita jahat itu, Ara. Dia itu sangat licik, dia bisa melakukan hal-hal yang di luar dugaan kita,' terang Mama Yuna semakin mendesak Mutiara.


Mutiara mengerutkan keningnya, dia tidak percaya begitu saja dengan cerita Mama Yuna.


Akan tetapi, dia juga khawatir saat melihat Mama Yuna terlihat semakin cemas, wajahnya juga pucat menahan rasa takut. Seperti ada sebuah trauma mendalam dari masa lalunya yang membuatnya ingin menjauhi wanita yang disebutnya sebagai menantunya itu.


"Baiklah, Nyonya. Sekarang kita cari tempat bersembunyi dengan cara keluar dari rumah sakit ini untuk sementara waktu, setelah wanita itu pergi, kita akan kembali ke paviliun ini." Akhirnya Mutiara bersedia juga menyetujui permintaan Mama Yuna.


"Cepat, Ara! Baruna juga harus kita bawa, kita keluar lewat pintu belakang!" perintah Mama Yuna.


Lagi-lagi Mutiara hanya menganggukkan kepalanya, sedikit demi sedikit, dia mulai percaya kalau Mama Yuna memang sudah sembuh, dia bahkan sudah bisa menyebut nama Baruna, padahal selama ini dia memanggil putranya itu dengan panggilan Kaka.


Mutiara bergegas masuk ke ruang tamu di paviliun Mama Yuna dan menggendong Baruna. Setelah itu, mereka berjalan melewati koridor menuju pintu belakang rumah sakit itu. Letak paviliun Mama Yuna yang memang tersendiri terpisah dari yang lain, membuat mereka dengan mudah keluar dari rumah sakit itu tanpa ada yang mengetahuinya.

__ADS_1


****


Dari koridor arah lobby, Livina berjalan cepat menuju paviliun perawatan Mama Yuna diantarkan oleh seorang suster.


"Apa paviliunnya masih jauh?" tanya Livina sangat tidak sabaran.


"Paviliun Nyonya Yuna ada di ujung koridor itu, Nyonya. Tempatnya terpisah dari ruangan pasien-pasien yang lain," terang suster itu.


"Nyonya...., Nyonya Yuna!"


"Ara...., Baruna...! kalian dimana?" panggil suster itu saat mereka tiba di paviliun dan mendapatkan pintu ruangan disana terbuka.


Beberapa kali suster itu memanggil namun tidak ada jawaban. Suster itu kemudian masuk ke dalam paviliun dan terkejut karena tidak menemukan siapapun disana.


"Mungkin mereka sedang bermain di halaman, Nyonya. Saya akan mencarinya. Anda silahkan tunggu di sini dulu, Nyonya," pinta suster itu sembari meninggalkan Livina sendiri lalu berjalan menuju halaman rumah sakit untuk mencari Mama Yuna dan Mutiara.


Tiba di halaman, suster itu juga tidak melihat Mama Yuna dan Mutiara ada di sana. Suster itu kembali mencari dengan berkeliling di semua area rumah sakit dan bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya. Tetapi, tidak ada yang mengaku bertemu dengan mereka.


Setelah beberapa kali mengelilingi semua area rumah sakit dan tetap belum menemukan Mama Yuna, suster itu memutuskan melapor kepada petugas keamanan serta dokter-dokter jaga yang sedang bertugas hari itu.


Semua orang di rumah sakit itu ikut mencari Mama Yuna dan Mutiara yang tiba-tiba saja menghilang dari paviliunnya bahkan banyak yang sampai mencarinya hingga ke luar area rumah sakit. Namun, Mama Yuna dan Mutiara tetap tidak ditemukan.

__ADS_1


Suasana rumah sakit mendadak heboh, dengan tidak ditemukannya Mama Yuna, tentunya semua orang menjadi panik, terlebih Ara dan Baruna juga ikut menghilang bersamanya, sudah pasti berbagai praduga buruk tentang Ara menjadi buah bibir diantara orang-orang di sana.


"Pasti Ara yang membawa kabur dan menculik Nyonya Yuna," nyinyir seorang suster yang juga ikut mencari Mama Yuna.


"Aku tidak percaya wanita polos seperti Ara bisa melakukan hal sejahat itu," sanggah seorang suster yang lain.


"Iya, lagi pula untuk apa dia menculik Nyonya Yuna?" timpal suster yang lain ikut membela mutiara.


"Kenapa tidak percaya, bisa saja, kan? Ara tahu kalau putra Nyonya Yuna adalah seseorang yang kaya raya, pastinya dia akan minta uang tebusan yang banyak," sahut suster yang suka nyinyir.


"Benar juga, ya!" sahut suster-suster yang lain serempak membenarkan dugaan mereka.


Kepala Rumah Sakit yang mendengar berita menghilangnya Mama Yuna bersama  Ara dan Baruna, juga menjadi sangat panik. Dia bingung bagaimana akan menjelaskan semua itu kepada Arkha. Orang yang mereka percaya bisa melindungi dan merawat Mama Yuna lebih baik. Justru, malah menculiknya dan membawanya pergi dari rumah sakit itu.


Dugaan miring kini dihujatkan kepada Mutiara. Mereka semua menuduh bahwa Mutiara sengaja menculik dan membawa kabur Mama Yuna dari rumah sakit itu demi mendapat uang tebusan, mereka menduga Mutiara sengaja melakukannya dengan alasan itu, karena Mutiara tahu kalau Mama Yuna adalah ibu dari seorang yang kaya raya dan pastinya bisa memberinya banyak uang.


"Rumah sakit macam apa ini, menjaga satu orang tidak waras saja tidak becus!" bentak Livina saat seorang suster menceritakan padanya tentang menghilangnya Mama Yuna dari rumah sakit. Dia begitu gusar saat mengetahui Mama Yuna sudah kabur dari rumah sakit itu bersama suster pribadinya.


"Sial! suster itu mendahuluiku menculik dan membawa kabur Mama Yuna!" decak Livina sangat kesal dan kecewa karena tujuannya untuk membawa pergi jauh Mama Yuna saat itu belum bisa dijalankannya sesuai rencananya.


"Sebenarnya apa tujuan suster itu membawa pergi Mama Yuna?" Livina tidak habis pikir.

__ADS_1


"Tapi aku harus tetap mencari Mama Yuna dan menemukannya sebelum Arkha dan anak buahnya juga ikut mencarinya," gumam Livina.


Livina menekan keningnya dan tersenyum licik, dirogohnya tas tangan mahalnya dan mencari ponselnya disana. Beberapa saat, jari-jarinya nampak begitu lincah bermain di layar ponselnya. Livina lalu menekan sebuah nomor kontak disana dan terlibat percakapan yang sangat serius dengan seseorang yang di telponnya.


__ADS_2