
Sementara itu di rumah besar kediaman Arkha, Alfin tengah duduk di depan layar laptop di ruang kerjanya, sebuah ruangan yang sebelumnya merupakan ruang kerja Arkha.
Alfin mengerutkan keningnya memperhatikan laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan bahwa perusahaan itu sudah mengalami penurunan omset yang cukup besar, sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan sangatlah tinggi. Sudah satu tahun ia menjalankan perusahaan milik Arkha, dan selama itu, proforma perusahaan itu semakin menurun, kerugian juga semakin besar. Alfin memang tidak secakap Arkha dalam mengelola perusahaan itu.
"Arghh... laporan laporan ini membuatku kepalaku terasa mau pecah!" decak Alfin sambil meremas kuat kuat selembar kertas di meja kerjanya lalu merobeknya dengan kasar.
"Deadline hutang banyak dan aku tidak tahu bagaimana harus melunasinya!" gumam Alfin sambil mengusap rambutnya juga dengan sangat kasar.
"Ada apa, Al?" tanya Livina yang baru saja masuk ke ruangan itu sembari membawakan secangkir kopi untuk Alfin.
"Tidak ada apa apa, Sayang. Aku hanya stress dengan urusan pekerjaan!" jawab Alfin mengalihkan.
"Aku bawakan secangkir kopi untukmu, kurasa ini cukup bisa mengurangi stress," lanjut Livina sambil tersenyum dan meletakkan cangkir kopi di meja di hadapan Alfin.
"Makasih ya, Sayang," sahut Alfin sambil meraih cangkir kopi itu dan menyeruputnya perlahan.
Livina langsung duduk manja di pangkuan Alfin sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya itu dan Alfin ikut menyelipkan kedua tangannya di pinggang Livina.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu, Sayang!" goda Livina saat sebuah kecupan mesra di daratkan Alfin di bibirnya, senyum kode kode rahasia terumbar dari bibir keduanya dan pastinya hanya mereka berdua yang memahaminya.
"Sebentar ya, Sayang. Tinggal sedikit lagi, aku harus selesaikan memeriksa semua laporan ini dulu!" ucap Alfin sambil melepaskan pelukan Livina dan Livina lalu berpindah duduk di sofa di ruangan itu.
"Apa Ardila sudah tidur?" tanya Alfin, namun matanya tetap fokus memperhatikan layar laptopnya.
"Entahlah, mungkin sudah. Tadi aku tinggalkan dia sama Si Mbak di kamar," sahut Livina sambil menaikkan kedua pundaknya acuh.
"Sayang, putri kita itu masih bayi, harusnya kamu menemaninya dan menyusuinya dulu sampai dia benar benar tertidur, bukan?"
__ADS_1
"Aku lelah seharian hanya di rumah untuk menjaganya, aku juga butuh me time!" ketus Livina.
"Ohya, Al. Bagaimana dengan rencana liburan kita, apa kamu sudah memilih paket tour kita ke Eropa?" tanya Livina penuh semangat. Dia memang sangat menyukai jalan jalan, semenjak menjadi istri Arkha, kesukaannya itu terpenuhi dengan mudah, uang adalah hal sepele baginya setelah menjadi nyonya di rumah itu.
"Vin, kita baru minggu kemarin pulang dari liburan ke Maldives, untuk rencana kita liburan ke Eropa sebaiknya ditunda dulu ya, aku harus konsentrasi ngurus kerjaan dulu!" tolak Alfin dengan halus.
"Kenapa harus ditunda lagi sih, Al? kita baru beberapa bulan sah menjadi pasangan suami istri. Harusnya ini masih masa bulan madu kita!" dengus Livina kesal.
"Sabar ya, Vin. Setelah semua pekerjaanku beres aku pasti akan membawamu liburan ke Eropa," sahut Alfin.
"Kalau kamu nggak bisa ikut liburan ke Eropa, biar aku pergi sama teman temanku saja!" celetuk Livina memalingkan wajahnya yang cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Dulu Arkha selalu memberikan apa saja yang aku mau, tapi sekarang kau malah membatasi semua kesukaanku!" keluh Livina semakin kesal.
"Sayang, maafkan aku! perusahaan kita sedang dalam kesulitan keuangan, untuk sementara kita harus berhemat dulu!"
"Kesulitan keuangan? bagaimana bisa, Al?" Livina terperangah mendengar pengakuan Alfin, sepengetahuannya Arkha meninggalkan begitu banyak warisan untuknya.
"Kamu tahu, Al? dulu sewaktu Arkha yang menjalankan perusahaan ini, permasalahan seperti ini tidak pernah terjadi. Perusahaan juga berkembang sangat baik, aku akui Arkha memang lebih jago dalam hal mengurus perusahaan dari pada kamu!" hardik Livina, dia merasa kecewa karena Alfin tidak bisa menjalankan perusahaan itu sebaik Arkha.
"Arkha, Arkha, Arkha! kenapa sih dari tadi kamu menyebut namanya terus? Apa kau lupa bahwa laki - laki sombong itu sudah mati! aku tidak suka mendengar namanya kau sebut lagi!" bentak Alfin kesal, sambil menatap tajam ke arah Livina.
Livina menundukkan kepalanya, dia tidak menyadari kalau ucapannya membuat Alfin menjadi begitu marah padanya.
"Asal kamu tahu, Vin. Kita baru saja mengalami banyak kerugian akibat tsunami, kapal kapal ikan kita yang ada di wilayah selatan saat tsunami, banyak yang mengalami kerusakan!" beber Alfin.
"Sementara aset aset yang lain, semuanya dikunci oleh Arkha. Kita belum bisa mengambil semua hartanya sebelum Ardila berusia delapan belas tahun!" keluh Alfin lagi merasa kesal karena sampai saat itu ia belum bisa sepenuhnya menguasai semua kekayaan Arkha.
__ADS_1
"Maaf, Al. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu kesal," jawab Livina merasa bersalah.
"Dan soal surat wasiat Arkha, kenapa kau tidak paksa saja pengacaranya untuk merubah isi surat wasiat itu! selama ini kau bisa melakukan apa saja, lalu kenapa hanya untuk hal sekecil ini saja kamu tidak bisa, Al?" sergah Livina menyampaikan rencana liciknya.
Semenjak menikah dengan Arkha, kehidupan Livina memang berubah dipenuhi kemewahan, apa saja yang diinginkannya dengan mudah didapatkannya, karena itulah Livina menjadi sangat mengagung - agungkan uang, jiwa materialistis ikut mendarah daging dalam dirinya.
"Aku sudah pernah melakukannya, Vin. Tapi pengacara itu menolak!"
"Kau kasih saja bayaran tinggi untuknya, aku yakin dia tidak akan menolak, Al!"
"Sekarang ini, bukan itu permasalahannya, Vin. Sudah hampir dua bulan pengacara itu menghilang. Terakhir dia hanya bilang akan pergi liburan tapi sampai sekarang belum kembali, dan aku sama sekali tidak bisa menghubunginya!" beber Alfin menceritakan permasalahan yang tengah dialaminya.
"Menghilang? maksud kamu apa, Al? apa dia diculik?" tanya Livina heran.
"Anak buahku sedang menyelidikinya, Vin. Aku tidak yakin kalau ada yang berniat menculiknya." sahut Alfin merasa ragu.
"Rendy dan Genta! apa kau tidak curiga pada mereka, Al? hanya mereka yang tahu tentang surat wasiat Arkha selain kita."
"Tidak mungkin, Vin! Rendy sudah lama resign, dan Genta juga sudah mati diterjang tsunami!" tampik Alfin dengan senyum dominasinya.
"Sudahlah, Vin! tidak usah dibahas lagi, biar anak buahku yang mengerjakan semuanya," pungkas Alfin menyudahi perdebatan mereka.
Sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur!" tegas Alfin sambil menutup layar laptopnya dan berdiri dari tempat duduknya.
Livina juga ikut berdiri dari sofa dan menghampiri Alfin sambil kembali bergelayut manja di pundak Alfin.
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf kalau tadi aku sudah membuatmu marah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," bujuk Livina dengan senyum menggoda.
__ADS_1
"Tentu saja aku marah! karenanya aku akan menghukummu malam ini!" goda Alfin dengan senyum genit, lalu menggendong Livina dan membawanya ke kamar.
Livina membalas tersenyum menanggapi perlakuan Alfin, dia ikut mengalungkan tangannya di leher Alfin hingga Alfin membaringkannya di atas tempat tidur.