
Praakk....!
Arkha melemparkan sebuah map di hadapan Livina. Map itu berisikan surat wasiatnya yang oleh Alfin pernah dicoba untuk direkayasa, dengan cara memaksa pengacaranya untuk mengubah isi surat wasiat itu.
"Aku sudah tidak percaya lagi dengan semua ucapanmu, Livina! kau dan Alfin sudah bekerjasama untuk melenyapkan aku dan juga mengambil semua hartaku!" bentak Arkha berang.
Sore itu juga setelah menyelesaikan misi di kantornya, Arkha langsung menemui Livina di rumahnya dan mencercarnya dengan tuduhan bertubi - tubi.
Mata Arkha terlihat memerah, dia menumpahkan semua kekecewaannya akan semua pengkhianatan Alfin bersama Livina.
"Teganya kau menuduhku berbuat sekeji itu, Arkha! kau memang tidak punya perasaan," kilah Livina membela diri.
"Aku juga kecewa pada Alfin, Arkha! bukan kau saja, tapi dia juga membohongiku!" lanjutnya lagi sambil menangis terisak.
"Apa kau tahu betapa menderitanya aku setelah mengetahui bahwa kau telah pergi meninggalkan aku untuk selama lamanya, sementara disaat yang sama aku baru tahu kalau aku mengandung anakmu?" imbuhnya lagi berusaha mempermainkan perasaan Arkha.
"Kau mewasiatkan perusahaanmu padaku, sedangkan aku sendiri tidak mengerti urusan bisnis, aku tidak paham cara menjalankan perusahaan, dan disaat itu hanya Alfin yang setia membantuku!"
Livina sangat mengenal seperti apa Arkha, di balik semua sikap kerasnya, Arkha adalah seorang pria yang memiliki hati yang lembut, dia akan sangat mudah diluluhkan hanya dengan air matanya.
Benar saja, Arkha begitu mudah dipengaruhinya sehingga Arkha seketika terdiam mendengar perkataan Livina. Kini ada rasa bersalah yang memenuhi hatinya.
"Asal kau tahu, Arkha. Aku tidak pernah mencintai Alfin, aku terpaksa menikah dengannya karena aku tidak mau saat anakmu lahir, dia tidak mempunyai seorang ayah! meski Alfin bukan ayah biologis Ardila, tapi dialah yang menjagaku selama aku hamil, Arkha," bentak Livina berbohong, memutar balikkan fakta.
"Aku tidak tahu kalau sebenarnya kau belum meninggal, Arkha. Saat hidupku begitu menderita, aku begitu sedih, kamu ada dimana, hah?" hardiknya sambil terus menangis tersedu.
__ADS_1
Livina berusaha menyembunyikan semua pengkhianatannya dengan cara berbalik menuduh Arkha.
"Saat aku ada di titik terendah dalam hidupku dan putus asa, hanya Alfin yang datang menyemangatiku! Dia yang memberikan bahunya untuk aku bersandar, Arkha" Livina terus berpura pura menjadi korban agar Arkha percaya kalau dia juga sangat menderita atas pengkhianatan Alfin.
Livina terus mencecar Arkha dengan berbagai cerita bohongnya hingga akhirnya Arkha benar benar luluh, dia percaya begitu saja kepada Livina dan tidak lagi menuduhnya bersekongkol dengan Alfin.
"Maafkan aku, Vin. Aku bersalah telah menuduhmu berkhianat dengan Alfin!" ucap Arkha merasa semakin bersalah.
Arkha lalu ikut duduk di sebelah Livina yang saat itu sedang duduk di tepi ranjang di kamarnya. Arkha memegang kedua pundak Livina dan menatap wajahnya yang masih terburai air mata. Perlahan Arkha mengusap air mata itu dari pipi Livina. Kebohongan Livina sukses membuatnya merasa tidak ada lagi alasan untuknya membenci Livina.
"Selama ini aku hilang ingatan, Vin. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi disini. Aku baru sadar kalau kau sangat menderita setelah kepergianku." ucap Akha sendu dan Livina semakin terisak.
"Dan Ardila, dia anakku darah dagingku sendiri. Aku janji tidak akan meninggalkan tanggung jawabku terhadap putriku, Livina!"
Arkha terus menatap wajah Livina, dia sedikitpun tidak punya rasa curiga kalau sebenarnya Ardila bukanlah putri kandungnya. Terlebih sebelum Arkha kembali, Livina memang sudah siap dengan akal liciknya, dia terlebih dahulu membuat sebuah surat hasil tes DNA palsu yang menyatakan bahwa Ardila memang benar adalah putri kandung Arkha.
Arkha hanya menghela nafasnya dalam dalam mendengar pertanyaan Livina. Meski cintanya sudah tidak ada lagi untuk Livina, akan tetapi Livina tetaplah ibu dari anaknya, sekaligus juga wanita yang pernah sangat dicintainya, wanita yang pernah membuatnya tergila - gila bahkan rela melakukan apa saja demi mendapatkannya.
"Ardila adalah anakku, Arkha. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan dan merawatnya sendiri sampai sebesar sekarang. Kau tidak bisa seenaknya mengambilnya dariku!" ketus Livina. Dia sangat percaya diri kalau Arkha akan menerimanya kembali demi Ardila putrinya.
"Sekali lagi maafkan aku, Vin. Aku tidak akan pernah mengambil Ardila darimu, kita akan merawatnya sama - sama. Tapi untuk kembali menerimamu menjadi istriku, saat ini aku tidak bisa, Vin." Arkha menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin Livina kecewa mendengar kejujurannya.
"Memangnya kenapa, Kha? apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Livina, air mata kembali mengalir deras di pipinya. Kali ini air mata itu begitu jujur, dia sangat takut Arkha meninggalkannya karena rasa cinta Arkha sudah tidak ada lagi untuknya.
"Kau yang tidak pernah bisa mencintaiku, Vin. Dulu aku rela melakukan apapun demi mendapatkan cintamu, tapi kau selalu menolakku!" kilah Arkha.
__ADS_1
"Itu dulu, Kha. Setelah Ardila lahir dan aku mengira aku sudah kehilanganmu, saat itu aku baru sadar kalau kehadiran seorang anak bisa mengubah pandangan seseorang, begitu juga rasa cinta, Arkha. Aku baru menyadari kalau aku jatuh cinta padamu setelah aku kehilanganmu." sahut Livina berbohong lagi.
Arkha mengusap wajahnya, rasa bersalah terhadap Livina semakin menghujaninya saat mendengar pengakuan Livina.
Di benaknya, takdir kini sudah terbalik. Saat dia begitu mencintai Livina, namun Livina tidak mencintainya. Akan tetapi ketika Livina sudah mulai mencintainya justru hati Arkha sudah menjadi milik wanita lain.
"Mutiara, cintaku hanya untukmu. Tapi saat ini kau sudah tidak ada lagi, kau sudah meninggalkanku untuk selama lamanya," Arkha membatin, kesedihannya kembali menyesatkannya saat teringat akan Mutiara cinta sejatinya yang sudah hilang direnggut oleh gelombang tsunami.
"Ayo kita temui putri kita, Kha! aku yakin kau sudah sangat ingin menggendongnya bukan?"
Ajakan Livina membuyarkan lamunan Arkha. Livina menarik tangan Arkha dan membawanya ke menuju kamar Ardila.
Livina mengangkat tubuh balita mungilnya yang sedang tidur dari dalam box bayi di kamar itu, lalu mendekatkannya kepada Arkha.
"Coba kau gendong dia, Kha! putri kita sangat cantik, wajahnya sangat mirip denganmu!" bohong Livina terus berusaha meyakinkan Arkha agar kembali menerimanya.
Arkha hanya tersenyum kecil lalu mengambil alih Ardila dari tangan Livina dan menggendongnya. Arkha begitu terharu saat memandangi wajah imut Ardila yang terlihat sangat lucu saat ia tertidur.
"Aku sudah menjadi seorang ayah sekarang," ucapnya penuh haru.
*******
Jangan ada yang baper ya guys, cerita masih bersambung.
***Buat yang masih setia menyimak cerita ini tolong tetap tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Buat para silent reader, sesekali bolehlah tinggalkan jejak juga dan jangan lupa tap tanda hati ♥️ di bawah, kasih like dan komen supaya author semangat terus bisa up. Kalau ada yang mau kasih mawar 🌹 dan vote aku akan lebih berterimakasih***.