
"Silahkan kopinya, Bang!" ucap Mutiara sambil menyuguhkan kopi hitam yang diminta Genta.
"Makasih banyak ya, Ra." sambut Genta seraya mendekatkan cangkir kopi itu ke hadapannya.
"Bang, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Mutiara sembari ikut duduk di bangku di sebelah Genta.
"Mau tanya apa, Ra? tentang Segara ya?" sahut Genta. Dia sudah bisa langsung menebak apa yang akan ditanyakan Mutiara kepadanya.
Sejenak Genta melirik ke wajah Mutiara yang nampak sayu dan terlihat tidak bersemangat seperti sebelumnya.
"Iya, Bang." jawab Mutiara pelan.
"Sebenarnya pekerjaan Bang Segara apa disana, Bang? kok secepat itu dia bisa dapat promosi jabatan?" lanjut Mutiara, tentu saja ia merasa heran kenapa suaminya bisa secepat itu mendapat promosi, padahal baru dua minggu ia pergi ke kota.
"Suamimu itu sangat pintar dan juga pekerja keras, Ra. Bos kami sangat senang dengan kinerjanya, karena itulah dia langsung dipromosikan menjadi kapten kapal di salah satu kapal milik bos kami itu." jawab Genta membeberkan sebuah cerita bohong.
Mutiara hanya menghembuskan nafas kasarnya mendengar cerita Genta.
"Kalau dia jadi kapten kapal, itu artinya dia akan makin jarang bisa ke darat dong, Bang?" tanya Mutiara lagi. Mendengar cerita Genta tentang kesuksesan suaminya, Mutiara tidak serta merta merasa senang, justru ia merasa apa yang sudah diraih oleh suaminya itu akan membawa Segara lebih lama tinggal di rantau, dan sudah pasti dia tidak bisa pulang untuk menemuinya dalam waktu dekat ini.
"Yah begitulah, Ra. Namanya juga resiko pekerjaan!" sahut Genta sambil mengangkat kedua pundaknya dan menyerngitkan dahinya.
"Kenapa wajahmu terlihat pucat gitu, Ra? kamu sakit ya?" tanya Genta lagi sambil menatap wajah Mutiara yang memang terlihat pucat karena kondisinya yang kurang sehat belakangan ini.
"Hanya lelah saja, Bang. Maklum semenjak kepergian Bang Segara, tidak ada yang membantuku di warung, jadinya semua pekerjaan aku kerjakan sendiri!" keluh Mutiara.
"Makanya mulai sekarang kamu jangan terlalu lelah bekerja, Ra. Sesekali tutup saja warungnya dan kamu bisa beristirahat di rumah!" celetuk Genta menanggapi keluhan Mutiara.
"Kalau aku nggak bekerja, kami mau makan apa, Bang?" sahut Mutiara lagi sambil tersenyum kecut.
"Kan sudah ada suamimu yang cari uang, Ra." kilah Genta sambil tersenyum sumringah, namun Mutiara hanya menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Genta.
"Bos, barang barang ini kami taruh dimana?" seru Abey sambil menunjukkan beberapa kantong besar yang ada di tangannya. Dengan sedikit tergopoh, Abey dan Johan menghampiri Genta dan Mutiara yang tengah asyik mengobrol disana.
__ADS_1
"Taruh saja di sana, Abey. Semua itu untuk Mutiara!" sahut Genta sambil menunjuk ke dalam ruangan di warung Mutiara.
"Hah, semua barang barang ini buatku, Bang?" tanya Mutiara heran. Ia melihat Abey dan Johan saat itu membawa banyak bahan bahan kebutuhan pokok dan juga beberapa peralatan untuk keperluan dapur.
"Iya, Ra. Semua ini Segara yang beli di kota dengan gaji pertamanya," sahut Genta kembali berbohong.
"Selain barang barang itu, ini Segara juga titip sesuatu buatmu dan Pak Imran," tambah Genta sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Mutiara.
"Apa ini, Bang?" tanya Mutiara semakin terkejut, sambil meraih amplop dari tangan Genta.
Perlahan Mutiara membuka amplop itu dan matanya langsung terbelalak melihat isi amplop itu. Ada sejumlah uang tunai di dalamnya, dan sudah pasti jumlahnya lumayan banyak.
"Dari mana Bang Segara mendapatkan uang sebanyak ini, Bang?" seru Mutiara sangat heran.
"Pastinya dari gajinya lah, Ra!" jawab Genta enteng.
Kembali Mutiara hanya menggelengkan kepalanya, "ini nggak mungkin, Bang!" sergahnya.
"Bang Gara baru dua minggu kerja di kota, mana mungkin ia bisa dapat uang sebanyak ini dalam waktu secepat itu?" seru Mutiara dan semakin tidak percaya dengan semua cerita bohong Genta.
"Jangan berprasangka buruk gitu, Ra! pekerjaan kami halal kok, Segara sengaja meminta gajinya di awal pada bos kami untuk diberikan kepadamu, itu karena dia tahu bahwa dia belum bisa pulang dalam waktu dekat ini!" tampik Genta. Sebelum bertemu Mutiara, Genta memang sudah siap dengan semua cerita bohongnya, karena dia tahu Mutiara pasti akan mencecar nya dengan banyak pertanyaan.
Mutiara hanya menghela nafas datar sejujurnya dia tidak semudah itu percaya dengan cerita Genta, akan tetapi ia juga sangat yakin kalau Segara adalah orang yang baik, tidak akan mungkin mereka mencari uang dengan cara tidak halal selama di kota.
"Ya sudah aku akan simpan uang ini, Bang!" balas Mutiara sambil beranjak dari tempat duduknya hendak masuk ke warungnya.
Baru selangkah ia berjalan, kepalanya kembali terasa pusing.
Bruugg...!
Tubuh Mutiara ambruk ke tanah.
"Mutiara, kamu kenapa, Ra?" teriak Genta panik dan langsung mendekati Mutiara yang tersungkur disana.
__ADS_1
"Ra, bangun, Ra!" seru Genta sambil mengguncangkan pundak Mutiara. "Astaga, Mutiara pingsan!" pekiknya.
Genta lalu membopong tubuh Mutiara menuju ruangan di warungnya, dan membaringkannya di bangku panjang di warung itu.
Genta mengambil sebotol air mineral lalu memercikkannya di wajah Mutiara.
Tak lama kemudian, Mutiara mulai membuka matanya, "aku kenapa, Bang?" tanyanya linglung dengan wajahnya yang terlihat semakin pucat.
"Tadi kamu pingsan, Ra!" ujar Genta dengan wajah cemas sambil memberikan sisa air mineral di tangannya untuk diminum oleh Mutiara.
"Kepalaku tiba tiba pusing, Bang." Mutiara memegang kepalanya sambil berusaha bangun dari bangku itu.
"Ueekk..." Mutiara berlari kecil menuju kamar mandi seraya memuntahkan semua isi perutnya.
"Sudah berapa lama kamu seperti ini, Ra?" tanya Genta saat melihat Mutiara keluar dari kamar mandi dan terlihat sangat lemah.
"Semenjak Bang Segara pergi, aku sering merasa pusing dan mual, Bang." sahut Mutiara polos.
"Jangan jangan kamu hamil, Ra!" terka Genta. Meski tidak berpengalaman tentang ciri ciri kehamilan, setidaknya Genta bisa mengira ngira dari keluhan Mutiara saat itu.
"Apa, hamil?" Mutiara membulatkan matanya.
"Nggak mungkin, Bang. Selama ini aku dan Bang Segara selalu menjaga supaya aku nggak hamil dulu. Sepertinya aku cuma kelelahan saja!" elaknya, dia sendiri tidak percaya kalau dia bisa hamil karena selama bersama Segara, mereka selalu menjaga agar jangan sampai hamil dulu.
"Ya sudah kamu banyak banyak istirahat ya, Ra! aku akan kembali ke kota sekarang!" ujar Genta dan Mutiara hanya menganggukan kepalanya.
"Baik, Bang. Jangan lupa sampaikan salamku untuk Bang Segara, tolong katakan padanya kalau aku sangat merindukannya!" ucap Mutiara tersipu.
"Pasti, Ra! dan Segara juga sangat merindukanmu di sana!" sahut Genta sambil melangkah meninggalkan Mutiara, diikuti oleh Abey dan Johan.
Setelah Genta dan dua anak buahnya pergi meninggalkan kampung itu, Mutiara kembali duduk di dalam ruangan di warungnya.
Mutiara menyentuh perutnya dan mengusapnya perlahan, "apa benar aku hamil ya?" gumamnya.
__ADS_1
Mutiara kembali menghela nafas dalam, "aku tidak ingat kapan aku terakhir datang bulan, sepertinya sudah lama aku tidak haid." pikirnya lagi.
"Ya Tuhan, jangan sampai aku hamil, Bang Segara belum menginginkan punya anak dariku, dan aku sendiri juga belum siap punya anak, apalagi Bang Segara sedang tidak ada disini saat ini." doanya dalam hati.