
Genta mengucek matanya beberapa kali, mencoba meyakinkan penglihatannya. Dia masih sangat tidak percaya dengan siapa yang tengah ada di depannya saat itu.
"Bos Arkha, dia kah itu? apa hanya kebetulan mirip saja?" batinnya terus bertanya tanya. Tanpa sadar ia berdiri mematung di tempat semula, dalam netranya Segara begitu mirip dengan mantan bosnya yang sudah setahun ini dikabarkan meninggal.
"Hei anda kenapa, Pak? kenapa bengong disitu?" Segara yang melihat Genta terdiam disana bertanya dan menghampirinya.
Tidak ada jawaban yang bisa keluar dari mulut Genta, ia hanya memandangi Segara dari ujung rambut sampai ujung kakinya saat Segara berdiri sangat dekat dengannya, tanpa berkedip dan dengan rasa penasaran memenuhi jiwanya.
Merasakan tatapan Genta yang begitu berbeda terhadapnya, Segara hanya bisa menautkan kedua alisnya sambil menggeleng pelan.
"Apa ada yang aneh dalam diri saya, Pak? kenapa anda menatap saya seperti itu?" tanya Segara kepada Genta yang masih hanya diam dan terus menatapnya. Segara ikut memandangi dirinya hingga ke ujung kakinya menerka nerka apa ada yang salah dari dirinya saat itu.
"Pak!" Segara menepuk pundak Genta yang masih membeku disana.
"A..a..aa iya, Bang!" Genta tergagap saat Segara menepuk pundaknya cukup keras yang mengagetkannya dari lamunannya.
"Dari tadi saya perhatikan anda bengong disini, dan kenapa memandangi saya seperti itu?" tanya Segara yang juga ikut bingung menanggapi tingkah Genta terhadapnya.
"Kamu nggak kenal siapa saya ya?" tanya Genta penasaran, kalau Segara itu adalah Arkha, pasti dengan mudah ia akan mengenalinya.
"Anda kan baru pertama kali ke pulau ini, bagaimana saya bisa kenal sama anda?" jawab Segara sedikit heran dengan pertanyaan Genta yang seolah olah sudah pernah mengenalnya sebelumnya.
"Kamu sangat mirip dengan bos saya yang sudah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan di laut!" ucap Genta bercerita.
Segara langsung memalingkan wajahnya mendengar cerita Genta, keningnya berkerut, ingatannya tiba tiba kembali ke saat dimana Imran menemukan dan menolongnya ketika ia hanyut di tengah laut.
"Setahun yang lau? kecelakaan di laut?" pertanyaan itu kini memenuhi kepala Segara.
"Aku juga sudah berada di pulau ini setahun lamanya, dan Bapak juga menemukanku di tengah laut, apa aku ada hubungannya dengan cerita pria ini?" batin Segara kembali bertanya tanya.
__ADS_1
"Bos saya itu namanya Arkha, dia orang yang sangat kaya, dia mempunyai perusahan besar dan juga seorang istri yang sangat cantik. Tapi sayang, nasibnya sungguh tidak beruntung, karena dia harus meninggal dengan cara tragis dalam sebuah kecelakaan kapal!" Genta masih melanjutkan bercerita.
Segara terdiam sejenak, "pastinya bukan aku yang dia maksud, bos nya itu kan sudah meninggal bukan hilang!" pikiran warasnya langsung mengalihkan.
"Kasihan ya, Pak! nasib seseorang memang tidak ada yang bisa menebak, semua adalah suratan takdir!" jawab Segara menanggapi cerita Genta.
"Ohya, Bang! kamu itu sangat ahli dalam hal mesin, belajar dimana, Bang? aku sungguh tidak menyangka, di kampung terpencil seperti ini ada orang sehebat kamu yang bisa menangani mesin kapal." tanya Genta mencoba mengorek informasi lain tentang diri Segara.
Sebenarnya di lubuk hati Genta yang paling dalam, ia sangat curiga dengan Segara, ada keyakinan di pikirannya bahwa Segara adalah Arkha, karena dari awal hanya dirinya lah yang paling tidak percaya akan kematian Arkha dan ia memiliki keyakinan bahwa Arkha sebenarnya masih hidup. Ditambah lagi Segara begitu ahli dalam menangani mesin kapal. Sepengetahuannya, selain Rendy sahabatnya, dulu Arkha juga sangat ahli dalam urusan itu.
"Otodidak aja, Pak! begitu melihat mesin aku jadi ingin mengutak atiknya!" sahut Segara tanpa kecurigaan lagi.
"Jangan panggil aku pak, Bang! namaku Genta, panggil saja begitu, aku kan bukan atasanmu dan aku juga bukan bapakmu!" urai Genta dengan santai mencoba akrab dengan Segara.
"Dan jangan panggil aku Abang juga! memangnya sejak kapan kamu jadi adikku?" sungut Segara sambil terkekeh.
Entah mengapa keduanya begitu cepat merasa akrab seolah perkenalan mereka sudah terjadi jauh sebelum hari itu.
Keduanya lalu duduk di bangku yang tak jauh dari bibir pantai.
"Mau minum apa, Bang!" sapa Mutiara saat melihat mereka duduk dan mulai ngobrol disana.
"Air putih saja, Ra!" sahut Segara dan Mutiara bergegas kembali masuk ke warungnya menyiapkan dua gelas air putih untuk Genta dan juga suaminya.
"Istri kamu cantik ya, Segara? selain itu dia juga ramah dan baik hati!" puji Genta setelah Mutiara selesai menyajikan minuman untuk mereka.
"Iya, dia memang sangat cantik dan perhatian, aku beruntung memiliki seorang istri sepertinya, dan aku juga sangat mencintainya!" jawab Segara ikut memuji istrinya.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Genta lagi.
__ADS_1
"Aku kenal dia sudah setahun semenjak aku terdampar di pulau ini, tapi kami baru menikah sekitar sembilan bulan!"
"Terdampar?" Genta sangat terkejut mendengar ucapan Segara.
"Ah maksudku setelah aku tiba di kampung ini!" dengan cepat Segara menyangkal pertanyaan Genta. Tanpa dia sadari, dia sudah keceplosan saat bercerita.
"Dulu aku tinggal di pulau seberang dan aku kesini untuk mencari pekerjaan!" kilah Segara.
Dari dulu dia memang bercerita kepada semua orang kalau dia masih kerabat jauhnya Imran dan Mutiara, tidak ada orang yang tahu kalau sebenarnya Pak Imran menemukannya di tengah laut.
Genta hanya menganggukkan kepalanya, namun dalam hatinya ia semakin curiga kalau sebenarnya Segara adalah Arkha.
"Bos, kita harus segera kembali ke kota, kalau tidak ikan ikan kita akan rusak dan Bos Alfin pasti akan sangat marah pada kita!"
Dari jauh Johan berteriak memanggil Genta sambil melangkah cepat mendekati Segara dan Genta yang masih duduk berbincang disana.
"Segara, aku harus segera kembali ke kota, sekali lagi aku berterima kasih banyak atas bantuanmu. Suatu saat aku pasti akan mampir lagi ke pulau ini!" Genta berdiri dari tempat duduknya sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Segara.
"Baiklah, semoga kalian selamat sampai di tujuan!" Segara melambaikan tangannya saat Genta dan Johan sudah melangkah menuju kapal mereka.
Tak lama kemudian, kapal itu pun sudah kembali melaju menerjang gelombang laut. Genta masih berdiri di deck kapal memandangi pulau terpencil itu sampai terlihat sangat kecil di matanya, rasa penasaran masih memenuhi kepalanya.
"Kenapa aku sangat yakin kalau Segara itu adalah Bos Arkha, tapi bagaimana cara membuktikannya?"
"Segara juga tidak mengenaliku, apa dia hilang ingatan?"
Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.
"Aku harus menyelidikinya!" gumamnya.
__ADS_1
Segara masih diam di tempat duduknya, sekilas dia juga merasa ada yang tidak biasa di pikirannya setelah bertemu dengan Genta. Cerita Genta tentang atasannya yang meninggal karena kecelakaan kapal membuatnya merasa gundah, entah mengapa cerita Genta itu seperti pernah dialaminya.
Segara menekan keningnya, tiba tiba kepalanya terasa sakit, kemudian ia menarik nafasnya dalam mencoba menenangkan dirinya untuk mengurangi sakit kepala yang kembali menyerangnya itu.