Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #24 Dibalik Suara Deburan Ombak


__ADS_3

Segara dan Mutiara sudah sampai di warungnya.


Seng yang menjadi atap warung itu nampak berhamburan ke tanah dan air sudah masuk ke dalam ruangan di warung kecil itu.


"Yah... banjir, Bang! basah deh barang barangku." keluh Mutiara sedih, saat melihat beberapa barang yang ada di ruangan itu sudah basah oleh air hujan.


"Coba diamankan dulu, Ra! Taruh di tempat yang kering. Aku akan perbaiki atapnya!" ujar Segara sembari langsung melangkah ke belakang warung itu untuk mengambil tangga besi lipat yang ada di dekat dapur.


Setelah memasang tangga, Segara lalu mengambil seng yang tergeletak di tanah. Tangannya memegang paku dan palu yang memang sudah disiapkannya sebelumnya.


Tanpa mempedulikan rintik hujan yang masih terus turun membasahi tubuhnya, Segara dengan cekatan memperbaiki atap itu. Meski lampu di warung itu padam, namun Segara sangat terbantu oleh terangnya pancaran sinar lampu mercusuar, sehingga mempermudah ia menyelesaikan pekerjaanya.


"Sudah beres, Ra! Coba kamu cek di dalam sana apa masih bocor?" teriaknya dari atas atap.


"Sudah nggak bocor lagi, Bang!" sahut Mutiara senang. Ia sangat bangga akan kemampuan Segara yang bisa dengan mudah mengerjakan apa saja, termasuk memperbaiki atap warungnya yang hanya terbuat dari seng yang sudah mulai lapuk.


Segara lalu turun dari atas atap dengan tubuhnya yang basah kuyup. Meski memakai jas hujan, derasnya terjangan hujan tetap membuatnya basah.


"Sekarang sudah nggak bocor lagi, tapi lantainya basah!" keluh Mutiara lagi.


"Ayo kita keringkan sama sama, Ra! aku akan bantu kamu!"


Segara lalu mengambil sapu dan lap pel dan mereka berdua bekerja sama mengeringkan genangan air di dalam ruangan di warung itu. Sembari bekerja, sesekali keduanya saling melempar candaan dan mereka tergelak bersama. Suasana itu membuat pekerjaan mereka menjadi terasa ringan dan hanya dalam beberapa menit ruangan itu pun sudah bersih dan kering kembali, lalu Mutiara merapikan kembali semua barang barangnya ke tempat semula.


"Semua sudah kering, coba sekarang kamu nyalakan lampunya, Ra!" perintah Segara sambil memeras lap pel yang masih basah. Sebelumnya mereka sengaja tidak menyalakan lampu karena hampir semua area ruangan itu digenangi air dan takut terjadi konsleting.


Mutiara lalu meraba dinding ruangan itu untuk mencari saklar lampu.


Ceklek...!


Lampu pun menyala terang di ruangan itu. Segara berdiri di hadapan Mutiara dan keduanya saling menatap sambil mengulas senyum puas di bibir mereka karena sudah bisa menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat.


Baju yang mereka pakai masih sama sama basah oleh air hujan dan keringat, rasa dingin mulai menyelimuti keduanya.


"Ini ada handuk, Bang! keringin badan Abang dulu biar nanti nggak masuk angin."


Mutiara menyerahkan handuk kecil untuk Segara.


"Tunggu bentar ya, aku buatkan teh hangat, Bang!" lanjutnya lagi sambil melangkah ke dapur dan membuat air panas untuk membuat teh.


Segara lalu duduk di bangku sambil mengusapkan handuk itu di tubuhnya yang basah, Segara melepaskan kaos yang dipakainya dan di gantung untuk diangin anginkannya.

__ADS_1


Pandangan Segara tertuju pada kasur lipat yang diletakkan Mutiara di sudut ruangan, perlahan Segara mengambil kasur itu dan menggelarnya di atas lantai yang sudah kering.


"Untung kasurnya nggak basah, Ra!" serunya kepada Mutiara yang masih sibuk membuat teh. Mutiara hanya mengangguk tak menyahut karena masih fokus dengan air panas yang dimasaknya.


"Ini diminum tehnya, Bang. Mumpung masih panas, buat hangatin badan!"


Mutiara menghampiri segara dengan dua gelas teh panas di tangannya dan menyerahkan satu gelas untuk Segara. Mereka sama sama duduk di bangku bersebelahan.


Sesaat mata Mutiara melebar memandangi Segara yang saat itu sedang tidak memakai baju, dada bidang dan bahu yang kokoh Segara membuatnya terpesona.


"Hei kamu kenapa bengong, Ra?" tanya Segara yang heran melihat cara Mutiara menatap ke arahnya.


"E..enggak apa apa, Bang! Abang buka baju, pasti Abang kedinginan kan?" jawabnya tergagap.


"Baju kamu juga basah, Ra. Kamu juga pasti kedinginan kan?"


"Iya sedikit, Bang! tapi nggak apa, nanti juga kering sendiri."


"Kalau dibiarkan basah nanti kamu masuk angin loh, Ra!" sindir Segara menirukan nasehat Mutiara kepadanya sebelumnya.


"Lagi pula di luar masih hujan, Ra! kita belum bisa pulang sekarang!"


Segara lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Mutiara sambil berbicara setengah berbisik menggodanya, "buka bajumu juga, Ra! angin anginkan sebentar biar basahnya berkurang!"


"Sini biar aku bukakan!" Segara menyentuh pinggang Mutiara dan meraih ujung sweater nya.


"Jangan, Bang!" tolak Mutiara dengan suara halus, sambil menahan tangan Segara.


"Nggak usah malu gitu loh, Ra! aku ini kan suamimu, sampai kapan kamu akan terus canggung seperti ini terhadapku!" tegas Segara sambil tersenyum genit menatap wajah Mutiara yang nampak memerah karena perlakuannya.


Entah mengapa malam itu Mutiara tidak ingin menolak, dia pasrah saja mengangkat kedua tangannya membiarkan Segara membuka sweater nya yang masih basah. Segara tersenyum lebar, setelah sweater itu dibukanya, dia sangat berharap melihat sesuatu yang indah tersembul dari balik sweater itu, namun Mutiara ternyata masih memakai sebuah kaos tertutup di balik sweater itu.


"Yah... aku kena prank!" sesalnya sambil terkekeh.


"Ha ha ha.. kenapa, Bang?" cibir Mutiara sambil tergelak.


"Nggak apa apa, Ra!" Segara menggelengkan kepalanya mengalihkan, dan Mutiara hanya tersenyum melihat tingkah Segara yang seperti itu.


"Hujan masih deras, Bang! bagaimana kita bisa pulang?" tanya Mutiara dengan wajah tampak gelisah.


"Nanti setelah hujan reda baru kita pulang, Ra! kalau kamu ngantuk kamu tidur aja dulu di kasur itu!" Segara menunjuk kasur lipat yang tadi sudah digelarnya di lantai.

__ADS_1


"Lantainya diingin, Bang! kita nggak mungkin bisa tidur disana!"


"Kalau kamu kedinginan biar aku yang menghangatkanmu, Ra!" goda Segara lagi yang seketika membuat Mutiara kembali tersipu.


Segara lalu merangkul pundak Mutiara, dan membawanya duduk lesehan di atas kasur lipat yang tipis dan keduanya sama sama merebahkan tubuhnya disana.


Segara memeluk Mutiara sangat erat. Kecupan kecupan mesra dari bibir Segara mendarat sembarang di bibir dan pipi Mutiara dan Mutiara hanya diam ikut menikmati setiap sentuhan bibir Segara di semua bagian wajahnya. Sesaat keduanya terbuai hasrat hingga tanpa sadar kedua tangan Mutiara mengusap dada Segara, dia sangat mengagumi kegagahan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Ra, kapan kamu akan siap memberikan hakku sebagai suamimu?" tanya Segara jujur. Ia sudah tidak mampu membendung hasratnya, suasana dingin malam itu membawa mereka hanyut dalam sapaan gairah, namun Mutiara hanya diam.


Mutiara masih sangat muda dan ia sangat tidak berpengalaman dalam urusan bercinta, Segara adalah cinta pertamanya, meski Segara sangat lembut memperlakukannya, namun Mutiara tetap merasa kikuk dan malu yang membuat suasana menjadi canggung diantara mereka.


"Aku cinta sama kamu, Ra!" Segara mendekatkan bibirnya ke bibir Mutiara lalu menciumnya dengan sangat dalam.


"Aku juga cinta sama Bang Gara!" balas Mutiara tanpa keraguan, sambil mengimbangi ciuman Segara juga sangat dalam, Segara melepaskan ciumannya saat merasakan Mutiara tersengal tak leluasa bernafas karena bibir mereka yang saling beradu manja.


Mutiara mengangkat wajahnya lalu menatap mata Segara sangat lekat.


"Bang....!" bisiknya.


"Iya, Ra!


"Abang janji nggak akan pernah ninggalin aku kan?"


"Iya, aku janji, Ra! kita akan sama sama selamanya."


Mutiara tersenyum mendengar ucapan Segara, lalu membenamkan kepalanya di dada Segara. Sejenak keduanya larut dalam perasaan masing masing.


Segara kembali melancarkan ciumannya, namun karena takut akan penolakan Mutiara lagi, Segara melakukannya dengan sangat berhati hati.


Segara perlahan mengarahkan kecupannya ke leher mutiara sambil mencumbunya mesra, sejauh itu dia tidak merasakan ada penolakan dari Mutiara, karenanya Segara makin berani mencumbu Mutiara lebih intens.


Mutiara dapat merasakan jantungnya kembali berdetak sangat kencang saat Segara mencumbunya, walau bajunya yang sedikit basah membuatnya kedinginan, namun sentuhan Segara membuat tubuhnya seketika menghangat. Setiap kecupan dari bibir Segara sukses membangkitkan desiran hasrat semakin membuncah di jiwanya.


"Apa kamu sudah siap memberikan semuanya padaku, Ra?" takut akan penolakan Mutiara, Segara memberanikan dirinya bertanya. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulut Mutiara, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, sambil tersenyum menatap wajah ragu Segara.


Merasa mendapat lampu hijau, Segara makin leluasa melancarkan cumbuannya. Kecupan lembut dari bibir Segara terus menerus mendarat di leher Mutiara yang membuat suasana semakin panas diantara mereka. Jejak jejak merah pun bertebaran di kulit leher dan dada polos itu.


Di luar sana hujan masih turun sangat deras, suara deburan ombak yang menghantam pantai juga terdengar sangat kencang, dua manusia yang sedang dimabuk cinta itu pun terbuai dalam gairah mereka yang seolah ikut berdebur bagai ombak yang tengah bergulung dan menyeretnya semakin dalam menuju lautan asmara.


****

__ADS_1


Hampir satu jam kemesraan itu mereka lalui, rasa sakit sudah tidak lagi dirasakan oleh Mutiara, namun hanya kebahagiaan yang sedang mereka rengkuh bersama.


Lantai keramik yang dingin hanya dialasi kasur tipis berubah terasa begitu hangat di malam pertama mereka yang begitu berkesan.


__ADS_2