
Perasaan senang mengisi hati Segara dan Mutiara hari itu, karena di hari pernikahan mereka yang pertama, mereka punya kesempatan menghabiskan waktu berdua.
Mereka kini sudah melaju di atas motornya untuk kembali pulang. Perjalanan yang cukup panjang yang akan mereka tempuh untuk sampai di kampungnya seolah menjadi suka cita tersendiri bagi mereka, senyum bahagia jelas terlukis di wajah mereka masing masing.
Jalanan mulai gelap saat mereka melintas, area bukit kapur yang sepi dan berkelok kelok dilewatinya. Saat memasuki sebuah hutan kecil, Segara memperlambat laju motornya, dari pantulan bayangan di spionnya dia bisa melihat ada dua motor lain yang sedari tadi membuntuti mereka dan dari gerak gerik pengendara motor itu terlihat gelagat yang sangat mencurigakan. Saat Segara mulai melaju pelan kedua motor itu langsung menyalip dan menghadangnya, yang membuat Segara harus menghentikan motornya di tengah jalan itu. Empat orang pria dengan wajah sangar, turun dari motornya lalu mendekati Segara dan Mutiara sambil menatap tajam ke arah mereka.
"Aduh bagaimana ini? kita dihadang perampok, Bang!" seru Mutiara dengan nada suara ketakutan sambil makin erat memeluk pinggang Segara.
"Tenang saja, Ra! Aku akan menghadapi mereka!" decak Segara sambil menenangkan Mutiara yang terlihat panik.
Segara bergeming di atas motornya sambil mengawasi pria pria yang menghadang mereka sambil memegang tangan Mutiara yang gemetar karena ketakutan.
"Serahkan barang barang kalian, atau nyawa kalian jadi taruhannya!" seorang pria mengancam sambil menunjukkan kepalan tangannya ke arah Segara.
"Maaf, Bang. Kami sedang tidak membawa barang barang berharga. Percuma kalian merampok kami!" jawab Segara dengan santainya sambil tersenyum sinis ke arah pria pria itu.
Braakk...!
"Turun dan serahkan motor kalian!" teriak seorang lagi sambil menggebrak keras stang motor Segara.
"Kalau kami menyerahkan motor kami, lalu bagaimana kami bisa pulang, Bang!" seringai Segara tanpa rasa takut sedikitpun, ia lalu melepaskan helm nya dan dikaitkannya pada spion motornya.
"Aaahhh.... jangan banyak bacot! Cepat...! serahkan motormu, atau kalau tidak, gadis cantik ini bisa kau jadikan sebagai gantinya ha ha ha...!" serang salah seorang pria itu sambil terbahak dan terus menatap Mutiara dengan sorot mata jahanamnya yang membuat Mutiara semakin gemetar ketakutan.
Mendengar itu Segara langsung naik pitam, ia sama sekali tidak senang melihat cara pria pria itu menatap Mutiara dengan mata mata j*langnya.
Ia dan Mutiara lalu turun dari motornya, Segara tetap memegang tangan Mutiara yang mulai basah keluar keringat dingin karena ketakutan sambil melindunginya di balik punggungnya.
"Cih...! Dasar bajingan kalian! jangan coba coba berani menyentuh istriku!" geram Segara dengan mata memerah memberi tatapan tajam ke para perampok itu.
"Ohh... punya nyali juga rupanya kau ya!" pekik seorang dari perampok itu yang langsung melayangkan tinjunya ke arah Segara, namun Segara dengan sangat gesit menangkis tangan pria itu dengan tangan kirinya dan justru tangan kanan Segara lah yang melayang memberikan pukulan sangat keras di rahang pria itu sehingga pria itu langsung meringis dan mundur ke belakang, darah segar mengalir dari ujung bibirnya akibat pukulan Segara.
Melihat hal itu dua perampok yang lain semakin berang dan mereka berkeroyok menyerang Segara.
"Bang Gara... awas, Bang!" teriak Mutiara sangat ketakutan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya saat melihat Segara di keroyok oleh tiga orang sekaligus.
__ADS_1
"Hajar dia!" teriak salah seorang lagi dari mereka yang sedari tadi hanya duduk mengawasi saja dari atas motornya dan dari keempat orang perampok itu, hanya pria itu saja yang memakai buff penutup wajah.
"Kalian habisi saja laki laki itu!" perintah pria itu lagi yang sepertinya adalah pimpinan dari para perampok itu.
Meski dikeroyok tiga orang sekaligus Segara sama sekali tidak gentar, dengan sangat gesit dia menangkis setiap pukulan dan tendangan para perampok itu dan dengan gagah berani ia melawan para perampok itu dengan pukulan dan tendangan mautnya, sehingga hanya dalam beberapa kali pukulan saja ketiga perampok yang mengeroyoknya langsung kocar kacir dibuatnya. Ketiga perampok itu jatuh tersungkur di tanah sambil meringis kesakitan akibat pukulan dan tendangan bertubi tibi yang dilayangkan oeh Segara.
Segara tersenyum miring melihat ketiga perampok yang sudah berhasil dilumpuhkannya, ketiganya terkulai di tanah menahan sakit dan darah terus menetes dari mulut dan hidung mereka.
"Hah... lemah!"
"cuma segitu saja kemapuan kalian! Ayo bangun dan lawan aku lagi kalau kalian berani" Teriak Segara geram.
Segara memandangi kedua tangannya yang masih mengepal kuat di hadapannya.
"Fuuhh!" dengan mulutnya yang mengerucut Segara meniup dua kepalan tangannya, jumawa.
Saking sengitnya berkelahi melawan tiga perampok itu, Segara tidak menyadari kalau ia sudah digiring menjauh dari Mutiara yang masih berdiri ketakutan di tempat semula.
Melihat tiga anak buahnya sudah keok melawan Segara, pimpinan perampok itu terlihat sangat gusar namun ia juga merasa gentar dengan kemampuan berkelahi Segara yang cukup mumpuni. Tak kalah arang dengan cepat ia menghampiri Mutiara dan menarik tangannya.
"Heii kau lihat ini!" teriak pria itu menatap Segara dengan tatapan penuh ancaman.
"Jangan bergerak dan diam di tempat, kalau kau berani maju selangkah saja, aku akan menyakiti wanita ini!" pekiknya lagi sambil merangkul leher Mutiara dan terus menodongkan pisaunya ke arah Mutiara.
"Lepaskan aku, Bang! Ku mohon jangan sakiti aku, kami akan serahkan semua barang barang kami termasuk motor itu, tapi ku mohon lepaskan kami!" Mutiara menangis ketakutan dan memohon kepada pimpinan perampok itu dengan suara serak karena lengan pria itu sangat erat mencekik lehernya.
"Diam kau!" ancam pria itu berteriak tepat di telinga Mutiara.
"Pergi kau dan bawa saja semua barang barang dan motor bututmu itu! aku tidak membutuhkan semua itu! Aku menginginkan wanita ini! ha..ha..ha!" pria itu terbahak sambil menggiring Mutiara menuju ke motornya.
"Lepaskan dia dan jangan berani menyakitinya!" teriak Segara dengan gigi gemeretak sangat marah. Dia sama sekali tidak mempedulikan ancaman pria itu dan secepat kilat mendekat ke arahnya.
"Jangan bergerak! aku sedang tidak main main, selangkah lagi kau mendekat, maka aku tidak segan segan melukai wajah cantik ini!" pria itu semakin menegaskan ancamannya, ujung pisaunya diarahkan begitu dekat ke wajah Mutiara yang semakin terisak menahan semua rasa takutnya.
Disaat yang sama, dua orang perampok yang tadinya tersungkur di tanah kembali bangun dan dengan cepat menyerang Segara dari belakang. Untungnya Segra mampu berkelit sehingga dua orang itu tidak sempat menghajarnya. Dengan mudah Segara membanting tubuh perampok perampok itu dan kembali menghajarnya tanpa ampun.
__ADS_1
Segara kembali menatap tajam pimpinan perampok yang mengancam Mutiara.
"Lepaskan dia, atau nasibmu akan sama seperti mereka!" kini Segara membalikkan ancamannya kepada pimpinan perampok itu.
Pimpinan perampok itu nampak semakin gentar melihat semua anak buahnya ambruk dihajar oleh Segara, wajahnya berubah panik dan ia menoleh kanan dan kekiri untuk mencari kesempatan melarikan diri. Namun di balik semua itu tipu daya licik tengah dimainkannya.
"Baiklah aku akan melepaskannya, tapi dengan catatan setelah aku melepaskannya, kau jangan coba coba menyerangku! dan jangan berbuat curang!" pria itu menegaskan kata katanya sambil melemparkan pisau di tangannya ke tanah lalu mendorong tubuh Mutiara ke arah Segara.
Segara langsung memeluk Mutiara yang masih menagis ketakutan.
"Tenang, Ra! selama ada aku, pria itu tidak akan berani menyakitimu!" Segara makin erat memeluk Mutiara sambil mengusap usap kepalanya agar Mutiara tidak merasa takut lagi.
Sekali lagi Segara mengarahkan tatapan tajamnya kepada pimpinan perampok yang masih berdiri angkuh di hadapannya, sambil merangkul pundak Mutiara ia lalu membalikkan badannya dan hendak membawa Mutiara menuju ke motornya.
Melihat Segara mulai lengah, pimpinan perampok itu langsung membungkuk dan memungut kembali pisaunya yang tadi ia lemparkan ke tanah lalu secepat kilat menyerang Segara.
"Rasakan ini...!" dengus pria itu.
Mutiara yang belum sepenuhnya membalikkan badannya, sekilas bisa meliahat pria itu saat mengambil kembali pisaunya dan mengarahkannya ke Segara.
"Bang awas....!" Mutiara mendorong tubuh Segara untuk menghindari serangan pria itu namun gerakan cepat pria itu tak dapat dihindarinya, sehingga pisau itu berhasil menggores lengan Segara. Pisau yang sangat tajam itu pun mampu merobek jaket Segara sehingga melukai lengannya dan tak khayal darah segar langsung mengalir dari lengan Segara yang juga robek oleh sayatan pisau pria itu.
Segara seketika meringis memegang lengannya yang terus mengeluarkan darah.
Melihat Segara yang sudah terluka oleh pisaunya, pimpinan perampok itu segera mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Pria itu langsung mengambil motornya dan secepatnya meninggalkan tempat itu.
"Bang, Abang terluka?" isak Mutiara, tangisnya kembali pecah melihat luka yang cukup parah dan darah yang terus mengalir dari lengan Segara, ia sangat panik namun tak tahu harus berbuat apa apa. Mutiara lalu melepaskan syal yang dikenakan di lehernya dan membalut luka Segara dengan syal itu untuk menghentikan darah yang masih terus keluar dari lukanya itu.
"Ayo kita pulang sekarang, Ra! ini sudah malam kita tidak boleh lama lama disini, dan kampung kita juga sudah dekat!" ajak Segara.
"Abang terluka, Bang! bagaimana kita bisa pulang?" Mutiara nampak sangat khawatir. Tempat itu memang sangat sepi, sangat jarang orang melintasi jalanan itu saat sudah mulai malam, karena jalan itu memang sangat rawan perampokan dan begal, sehingga untuk mencari bantuan tentu sangat tidak mungkin baginya saat itu.
"Hanya luka kecil dan ini bukan apa apa, Ra! cepatlah kita harus segera pulang! Berbahaya kalau tetap disini, aku takut kawanan perampok itu akan kembali menyerang kita disini!" tegas Segara lagi tanpa mempedulikan luka di lengannya, lagipula Mutiara sudah membalut luka itu dengan syalnya sehingga pendarahan sudah bisa sedikit berkurang.
Segara segera memakai lagi helm nya dan menyalakan motornya. Mutiara juga langsung naik di belakang, dan motor itupun melaju cepat ke kampung mereka yang hanya ditempuh tinggal 30 menit saja dari tempat itu.
__ADS_1