Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Bonus Part #8


__ADS_3

Hari berganti begitu cepat tanpa ada yang mampu menghentikan lajunya siang dan malam yang saling susul-menyusul.


Di Hari Senin pagi yang sangat hectic itu, Mutiara terlihat sibuk menyiapkan semua keperluan sekolah untuk Ardila dan menguncir rambut lurus panjang yang dimiliki bocah kecil itu.


"Mama, Una kapan cekoyah? Una juga pengen cekoyah kayak Kak Dila," celetuk Baruna yang pagi itu juga ikut ada di kamar Ardila bersama Mutiara.


"Sabar ya, Sayang. Hari ini Papa dan Mama akan daftarkan kamu di sekolah yang sama dengan Kak Dila dan mulai tahun pelajaran baru mendatang, Una juga sudah sekolah di playgroup," sahut Mutiara sambil tersenyum manis menatap gemas wajah putranya yang saat itu sudah berusia tiga tahun dan sudah waktunya mulai belajar di kelompok bermain.


"Asyik ...! Berarti nanti Dila sama Una sekolah di sekolah yang sama ya, Ma?" seru Ardila merasa senang adiknya akan satu sekolah dengannya.


"Iya, Sayang!" pungkas Mutiara sembari menyelesaikan menyisir rambut panjang Ardila serta mengikatkan pita berwarna hijau muda di kuncir rambutnya yang selaras dengan warna seragam sekolah yang sedang dikenakan Ardila saat itu.


"Kalian sudah siap?" sapa Arkha ikut masuk ke kamar itu. Arkha pun tampak sudah siap dengan pakaian formalnya hendak berangkat ke kantor.


"Sudah, Bang." Mutiara mengalungkan tas di punggung Ardila. "Ayo anak-anak, kita sarapan dulu!" ajak Mutiara.


"Ayo, Una! Kita turun, Kakak udah nggak sabar pengen makan omelet buatan Mama Mutiara." Ardila menggandeng tangan Baruna dan mengajaknya turun ke ruang makan.


"Ayo, Kak!" sambut Baruna ikut menyusul Ardila keluar dari kamar itu.


Meskipun bukan saudara sedarah, Ardila dan Baruna terlihat sangat akrab dan saling menyayangi. Itu semua tentunya tidak lepas dari cara Mutiara yang tidak pernah membeda-bedakan dalam memberikan kasih sayangnya terhadap kedua bocah itu.


"Ayo, Bang kita juga harus sarapan," ujar Mutiara sambil merapikan dasi dan mengancingkan jas suaminya.


"Sebentar, Sayang!" tahan Arkha mencekal tangan istrinya, karena Mutiara hendak melangkahkan kakinya menyusul Ardila dan Baruna menuju ruang makan. Arkha merangkul pinggang Mutiara sambil menatap lekat wajah istrinya itu dengan senyum manisnya.


"Sudah siang loh, Bang. Kita sedang buru-buru, Abang jangan ngerecokin lagi deh!" sergah Mutiara berusaha melepaskan tangan Arkha yang mengurungnya dalam dekapannya.


Arkha hanya membalas dengan senyum genitnya, "Cuma mau sapa bayi kita saja kok, Sayang." Arkha mengusap lembut perut Mutiara yang sudah terlihat sedikit membuncit karena kandungannya saat itu sudah masuk bulan ketiga.


Arkha lalu berjongkok di hadapan Mutiara dan mengecup perut istrinya itu. "Maafkan papa tadi malam tidak sempat menyirami kamu, Baby," bisiknya.


"Habisnya Mama kamu ketiduran sih, jadinya Papa nggak bisa ngajak kamu main petak umpet," gerutunya dengan nada selengean.


"Isshh .., nggak lucu ah, Bang!" ketus Mutiara terkekeh. Sebuah senyum juga tergambar jelas di bibirnya menanggapi kekonyolan suaminya yang memang selalu memperlakukannya seperti itu semejak dia hamil lagi.


"Buruan, Bang! Kita harus ke sekolah untuk daftarin Baruna, kan?" bujuk Mutiara seraya menarik tangan Arkha mengajaknya turun menuju meja makan.

__ADS_1


"Iya, Sayang," sahut Arkha sambil menggandeng tangan Mutiara lalu sama- sama berjalan menuruni anak tangga dari lantai dua menuju ke ruang makan yang ada di lantai dasar rumah besar itu.


Setelah sarapan pagi bersama, mereka berdua lalu pergi mengantarkan Ardila ke sekolahnya sambil mendaftarkan Baruna untuk bersekolah playgroup di sekolah yang sama.


****


Hari sudah semakin siang. Arkha tiba di kantornya sudah sangat terlambat. Akan tetapi, dia tidak terlalu merasa risau meninggalkan kantornya.


Sebulan ini Genta juga sudah kembali bekerja di kantor itu, karena Genta sudah pulih dari semua cedera yang pernah dideritanya, sehingga setelah kedua asistennya kembali bekerja bersamanya, tanggung jawab Arkha menjadi jauh lebih ringan. Itu sebabnya Arkha bisa lebih banyak meluangkan waktunya menemani Mutiara mengurus dua bocah kecil lincah dan nakal yang senantiasa menjadi perusuh lucu di dalam rumahnya.


"Siang, Rendy! Siang, Genta!" sapa Arkha lebih dahulu sambil tersenyum simpul saat ia melangkahkan kakinya masuk menuju ruangannya.


"Siang, Bos!" sahut Genta dan Rendy bersamaan.


Setelah Arkha masuk ke dalam ruang kerjanya, Rendy dan Genta saling melempar pandangan dan sama-sama mengedipkan matanya.


"Aku atau kamu duluan nih yang menemui Bos Arkha?" sosor Genta menatap Rendy dengan senyum penuh arti.


"Aku duluan lah! Kamu kan baru sebulan kembali ke kantor ini," seringai Rendy sambil mengangkat satu ujung bibirnya.


"Aku duluan! Kamu belakangan saja. Aku mau mengajukan cuti untuk acara yang sangat penting dalam hidupku!" desak Rendy.


"Tidak bisa! Urusanku juga sangat mendesak, aku butuh cuti panjang karena aku akan menyelenggarakan sebuah acara yang sakral untuk masa depanku," lawan Genta tidak mau kalah.


"Aku harus duluan!" sosor Rendy.


"Tidak, Rendy. Aku duluan, ini sangat penting," balas Genta.


"Memangnya keperluanmu saja yang penting? Urusanku juga sangat mendesak, Genta!" Rendy kukuh dengan keinginannya. "Pokoknya aku duluan!" tegasnya lagi sambil melangkah menuju pintu ruang kerja Arkha dengan membawa selembar kertas di tangannya.


"Jangan seenaknya mendahuluiku, Rendy!" balas Genta ikut menyusul Rendy menuju ruangan Arkha. Dia juga membawa selembar kertas yang sama di tangannya.


Keduanya tetap beradu argumentasi, sama-sama kukuh dengan keinginannya masing-masing bahkan sampai mereka kini sudah ada di dalam ruang kerja Arkha.


"Heh heh ..., berisik amat! Kalian berdua sedang meributkan apa sih? Seperti anak kecil saja!" hardik Arkha mendengus marah dan menatap tajam ke arah kedua asistennya yang masih sibuk beradu mulut di depan matanya, tanpa memperdulikan dirinya yang menggeleng heran dengan tingkah kekanakan mereka berdua.


Rendy dan Genta lalu sama-sama duduk di kursi di hadapan Arkha.

__ADS_1


"Kalian mau apa? Aku baru sampai di kantor sudah mendengar kalian ribut. Bikin pusing saja!" bentak Arkha kembali menatap miring kepada kedua pria yang terlihat gugup, takut Arkha akan marah terhadap mereka saat itu.


"E ...anu, Bos. Sa-saya mau ...?" Rendy tergagap dan menghentikan ucapannya karena tidak cukup punya keberanian menyampaikan keinginannya kepada Arkha.


"Saya mau mengajukan cuti, Bos!" sela Genta tanpa menyia-nyiakan kesempatan untuk mengutarakan tujuannya kepada atasannya itu, mendahului Rendy.


"Saya juga mau mengajukan cuti, Bos!" timpal Rendy. Setelah Genta mendahuluinya, Rendy langsung ikut memberanikan diri mengatakan tujuannya.


"Hanya mau ngajuin cuti saja kalian sampai ribut seperti ini? Memangnya kapan aku pernah melarang kalian ambil cuti?" seringai Arkha merasa kesal kepada Rendy dan Genta yang hanya karena hal sepele harus ribut beradu mulut di hadapannya.


"Masalahnya kami akan megajukan cuti di waktu yang sama, Bos," ungkap Genta sambil menyerahkan surat pengajuan cuti yang ada di tangannya kepada Arkha.


"Dan kami sama-sama akan ambil cuti minimal selama dua minggu," imbuh Rendy juga ikut menyodorkan surat pengajuan cutinya ke hadapan Arkha.


"Kalau Anda izinkan sih, kami malah ingin ambil cuti sebulan," kekeh Genta cengengesan, tetapi ucapannya terdengar penuh harap. Dia sangat ingin Arkha bisa menyetujui pengajuan cutinya.


"Memangnya kalian mau kemana cutinya harus bersamaan seperti ini?" Arkha kembali tersenyum miring membaca dua lembar surat pengajuan cuti dari kedua asistennya itu.


"Kami mau menikah, Bos!" sahut Genta dan Rendy kompak secara bersamaan.


"Apa? Menikah?" Arkha membelalakkan matanya.


"Iya benar, Bos." Genta dan Rendy lagi-lagi memberi jawaban yang sama dan berbarengan.


"Kompak sekali kalian! Menikah kok bisa barengan, memangnya kalian nikah berjamaah ya?" Arkha terus menyeringai. Tetapi ada sebuah senyum kini melebar di bibirnya. Meski kesal, dia turut bisa merasakan ada gugup dan juga bahagia yang tengah dirasakan oleh kedua orang kepercayaannya itu.


"Hei ..., katakan padaku siapa wanita yang akan kau nikahi, Genta? Setahuku selama ini kamu nggak pernah punya kekasih," tanya Arkha masih setengah tidak percaya menatap ke arah Genta.


"Saya akan menikahi Zahra, suster pribadi saya, Bos," sahut Genta malu-malu dan menundukkan wajahnya.


Arkha hanya manggut-manggut. Tidak terlalu mengherankan baginya kalau Genta berniat menikahi Zahra. Arkha juga menyadari selama merawat Genta, Zahra memang menunjukkan perhatian yang berbeda terhadap Genta. Sehingga, sebuah hubungan istimewa antara Genta dengan suster pribadinya itu bisa saja terjalin lebih dalam.


"Dan kamu, Rendy!" Arkha mengalihkan tatapannya ke arah Rendy. "Kamu serius akan menikah dengan Sandra? Bukannya dulu kamu sok jual mahal ya sama dia?" tanya Arkha kembali menyeringai miring. Arkha seakan tidak percaya kalau asistennya yang selama ini sangat dingin kepada kaum perempuan itu, kini luluh hatinya oleh seorang gadis bar-bar seperti Sandra.


"Bukan sok jual mahal, Bos. Lama-lama saya juga tidak tahan godaan. Hanya Sandra, Si Gadis Somplak itu sudah berani melamar saya duluan," kekeh Rendy tetap sok jaga image.


Arkha hanya menggelengkan kepala dan tersenyum geli mendengar jawaban konyol Rendy yang masih saja tidak mau mengakui kalau dia juga sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Sandra.

__ADS_1


__ADS_2