Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #33 Sudah Dianggap Mati


__ADS_3

Arkha POV


Malam ini, aku dan Mutiara sudah sama sama berbaring di atas ranjang. Mutiara sudah terlelap dalam pelukanku, namun aku sendiri belum bisa memejamkan mataku.


Sudah sehari berlalu setelah ingatanku kembali, sampai saat ini aku masih merahasiakan semuanya dari Mutiara dan Pak Imran.


Setelah ingatanku kembali, aku merasa seperti baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang sangat panjang, mimpi yang sangat sulit untuk aku pahami dan ketika aku sadar kenyataannya sudah sangat jauh berbeda. Saat ini, aku seperti merasa dalam sebuah dilema, apa aku harus tetap disini menjadi seorang Segara atau pulang ke kota dan kembali menjadi seorang Arkha.


Meski aku sudah ingat bahwa sebenarnya aku adalah Arkha, namun entah mengapa saat ini aku merasa tidak ingin kembali ke masa lalu ku.


Rasa cintaku terhadap Mutiara membuatku ingin tetap bertahan di kampung ini, dan selama aku disini, aku merasa sangat bahagia walau hidupku sangatlah sederhana.


Sangat berbeda dengan kehidupanku sebelumnya yang tinggal di kota besar dan bergelimang harta, tapi disana aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan saat aku berada disini. Kampung ini sangatlah damai. Setahun sudah aku tinggal disini, dan selama itu juga sudah begitu banyak kenangan indah yang aku lalui bersama Mutiara.


Hal itu jugalah yang membuatku sangat takut untuk menceritakan semuanya pada Mutiara, aku takut setelah dia mengetahui siapa aku sebenarnya, Mutiara akan berubah pikiran terhadapku.


Aku juga sangat bingung bagaimana aku harus menceritakan semuanya kepada Mutiara kalau sebenarnya aku sudah menikah. Livina adalah istri sahku sedangkan Mutiara, dia hanya mengenalku sebagai seorang Segara, seorang yang terlahir dengan identitas baru di kampung ini karena sebelumnya kehilangan ingatannya.


Ku usap wajahku dengan kasar, aku seperti tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupku.


Pikiranku terus menerawang, mungkinkah ini takdir yang Tuhan suratkan untukku? Siapa yang menyangka aku akan terdampar di pulau ini dan bertemu dengan Mutiara disini.


Aku terus mencoba memejamkan mataku, namun entah mengapa kini bayangan Livina yang hadir dalam ingatanku.


"Livina, apa kabarmu disana?" gumamku dalam hati.


Tiba tiba saja aku merasa sangat merindukan Livina.


Apakah aku masih mencintai Livina? Aku sendiri tidak paham dengan perasaanku

__ADS_1


Kembali aku ingat bahwa Livina tidak pernah mencintaiku. Setelah dia mengira aku sudah mati, pastilah dia sudah melupakanku, dan bisa jadi juga dia sudah menikah lagi dengan orang lain saat ini.


Perlahan ku miringkan badanku, lalu kupandangi wajah Mutiara yang tengah terlelap di sebelahku sambil kuusap lembut rambutnya.


"Aku sangat mencintaimu, Ra. Aku  juga tahu kalau kau sangat mencintaiku," bisikku di telinga Mutiara yang tengah tertidur pulas dan sudah pasti Mutiara tidak mendengar suaraku.


"akan tetapi, Livina masih menjadi istriku, bagaimana aku harus menjelaskan semua ini padamu, sayang?" ucapku lagi, namun hanya dalam hati saja.


Ku kecup kening Mutiara dan aku semakin menyadari betapa aku sangat mencintainya, justru setelah ingatanku kembali, aku menjadi sangat takut kehilangan Mutiara.


Kepolosan dan kesederhanaan Mutiara selama ini juga membuatku sadar bahwa uang dan juga harta bukanlah ukuran kebahagiaan bagi seseorang.


Mutiara sudah banyak mengajariku tentang arti cinta yang sesungguhnya, cinta tidak bisa dibeli dengan uang. Perhatian dan kasih sayang yang Mutiara berikan kepadaku sangatlah tulus, sehingga membuatku merasa menemukan cinta sejatiku dalam diri Mutiara.


Waktu terus berjalan, malampun semakin larut.


Disini aku mempunyai Mutiara yang sangat mencintaiku dan juga Pak Imran yang sudah aku anggap seperti ayah kandungku sendiri, aku seperti menemukan keluargaku disini.


Sedangkan disana, aku juga mempunyai Mama Yuna, mama yang sangat menyayangiku dan mungkin saja saat ini mama masih sangat sedih karena kehilangan diriku.


Lalu Livina, apa dia juga tengah memikirkanku? Sebelum kejadian itu, aku sangat curiga kalau Livina punya hubungan dengan Alfin, apa mungkin saat ini justru Livina sudah menikah dengan Alfin?


Alfin, dia sahabat baikku apa dia tega berbuat seperti itu? kalau dia sampai menikahi Livina, itu artinya dia memang sengaja menikamku dari belakang!


Aku juga teringat tentang Genta asisten kepercayaaku, beberapa waktu yang lalu dia sempat menyandarkan kapalnya disini karena mesin kapalnya mengalami kerusakan.


Saat itu anak buah kapalnya juga mengatakan kalau Alfin adalah atasan mereka, itu artinya selama ini Alfin lah yang menjalankan perusahanku. Padahal di surat wasiatku, aku tulis bahwa yang berhak menjalankan perusahaan saat aku sudah tiada hanyalah Livina.


Ada apa sebenarnya dengan mereka, apa memang benar mereka menjalin hubungan lain di belakangku?

__ADS_1


Genta juga sepertinya sangat mencurigai kalau aku adalah Arkha. Tapi kenapa dia juga terlihat begitu yakin saat mengatakan kalau Arkha sudah meninggal?


Saat aku menghilang bukankah seharusnya mereka mencariku, dari mana mereka mengetahui bahwa aku sudah tewas?


Sudah pasti mereka tidak menemukan jasadku karena kenyataanya aku masih hidup dan terdampar di pulau ini. Apakah mereka mengira jasadku sudah tenggelam ke dasar laut?


Berbagai macam pertanyaan muncul di benakku, namun yang pasti mereka semua menganggap bahwa Arkha sudah mati!


Pikiranku terus berputar putar mencoba mengingat semua yang terjadi dan mencoba coba menyimpulkan sesuatu, tapi hasilnya tetap nihil, aku tetap tidak bisa menemukan sendiri jawaban dari semua pertanyaanku.


"Abang kenapa belum tidur, Bang?"


Tubuh Mutiara menggeliat, dia terbangun dan sepertinya dia menyadari kalau aku belum bisa tidur saat itu.


"Nggak ngerti, sayang. Tiba tiba saja ngantukku hilang," ucapku.


"Apa kamu sedang kepikiran sesuatu, Bang?" tanyanya lagi.


"Enggak ada, Sayang. Hanya belum bisa tidur saja!" jawabku memberi alasan.


"Sudah malam, Bang! kamu harus tidur, nggak boleh begadang!" ujarnya lagi sambil mengusap pipiku.


Aku tatap wajah Mutiara lagi, matanya terbuka dan dia tersenyum manis kepadaku.


Melihat senyumnya itu aku sungguh tidak tahan, aku langsung mengecup bibir ranumnya dan ciuman itu makin lama makin dalam.


Sungguh aku sangat bahagia memiliki Mutiara, aku sangat tidak ingin kehilangan kebahagian ini bersamanya.


Aku tidak ingin kembali ke kota, biarlah aku disini saja asalkan aku bisa hidup bahagia selamanya bersama Mutiara.

__ADS_1


__ADS_2