
Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi dan saat itu Mutiara sudah siap akan pergi ke kota bersama Mardi. Mutiara sudah selesai mengemas dua buah tas yang berisi pakaiannya dan juga kebutuhan Baruna selama perjalanan nanti. Diapers dan susu untuk Baruna juga tidak lupa disiapkannya di dalam satu tas yang lain.
Mutiara sudah selesai mandi dan berganti pakaian, namun putranya masih belum bangun.
"Bangun, Una! kita jadi kan pergi ke kota? Una mau nyusul Ayah Tirta, nggak?" bisik Mutiara sambil mengusap lembut kepala Baruna yang masih tertidur. Bocah kecil itu langsung membuka matanya dan bangun dari tempat tidurnya.
"Ayo cayi Ayah, Ibu!" sahut Baruna sambil berhambur ke pelukan Mutiara dan minta digendong.
"Iya, Sayang. Ayo kita mandi dulu!" ajak Mutiara sambil menggendong tubuh mungil Baruna ke kamar mandi. Baruna begitu antusias saat Mutiara mengatakan akan mengajaknya pergi ke kota, karenanya dia menurut saja ketika Mutiara mengajaknya mandi dan berganti pakaian.
"Pangeran Ibu ganteng sekali!" puji Mutiara kepada putranya yang kini sudah siap dengan baju barunya dan akan bersamanya pergi ke kota. Mutiara mencium pipi Baruna dan merasakan wangi aroma bayi masih tercium dari tubuh bocah itu.
Mutiara tersenyum dan menghela nafasnya datar, dia sudah membulatkan tekad akan ke kota hari itu, namun dalam hatinya masih ada keraguan sebab sampai saat itu dia belum bisa menghubungi Genta. Akan tetapi, dia terus berusaha meyakinkan hatinya kalau saat di kota nanti pasti dia akan bisa menghubungi Genta kembali atau bahkan Genta sendiri yang akan menjemputnya di pelabuhan.
Tiba di dermaga, Mardi sudah menunggunya disana.
"Kamu sudah siap akan berangkat ke kota, Ra?" sambut Mardi saat melihat Mutiara dan Baruna sudah sampai di dermaga pagi itu.
"Sudah, Bang! Apa kapalnya sudah akan berangkat sekarang?" sahut Mutiara tetap memantapkan hatinya untuk berangkat ke kota hari itu.
"Sudah, Ra! Ayo kalian naiklah, sebentar lagi kita berangkat!" tegas Mardi sembari mempersilahkan Mutiara dan Baruna naik ke kapal itu.
"Hoye...., naik kapal!" pekik Baruna sambil melompat-lompat girang saat dia dan Mutiara sudah ada di atas kapal ikan itu. Kapal itu memang tidak terlalu besar, namun memiliki ruang penyimpanan ikan yang sangat besar dan modern, selain itu disana juga dilengkapi ruang kabin untuk kru yang cukup luas dan nyaman.
"Baruna, jangan lari-lari, Sayang! ini di atas kapal nanti kamu bisa jatuh ke laut!" teriak Mutiara mencemaskan putranya yang terus melompat-lompat girang sambil berlari kesana-kemari di area kabin kapal itu. Bocah kecil itu memang tidak pernah bisa diam kecuali saat tertidur saja, kakinya selalu saja bergerak tanpa rasa lelah yang terkadang membuat Mutiara begitu kewalahan mengurusnya.
__ADS_1
Selama perjalanan, Mutiara terus memegang ponselnya. Dia berharap bisa menghubungi Genta saat itu, namun hatinya kembali gelisah, dia takut apabila setelah sampai di kota pun dia tetap tidak bisa menghubungi Genta.
Setelah lebih dari dua puluh empat jam mengarungi samudra, kapal itu pun kini sudah mendekati pelabuhan terbesar yang ada di kota.
"Sebentar lagi kapal ini akan bersandar, Ra," ujar Mardi. Sesaat sebelum kapal itu menepi di pelabuhan, meski sangat sibuk, Mardi menyempatkan menemui Mutiara.
"Ohya, Bang. Setelah berlabuh nanti aku harus kemana, ya?" tanya Mutiara dengan perasaan was was dan panik. Ada kekhawatiran yang mengisi kepalanya, sebab sampai sejauh itu ponsel Genta masih saja belum dapat dihubungi, apalagi ini pertama kalinya dia ke kota itu, dia sangat bingung karena tidak tahu harus pergi kemana apabila ternyata Genta tidak datang menjemputnya.
"Coba aku lihat alamatnya, Ra!" pinta Mardi.
Mutiara lalu menunjukkan sebuah alamat yang dikirim Genta melalui pesan singkat di ponselnya kepada Mardi.
"Oh ini mudah, Ra. Kamu nggak usah khawatir. Nanti setelah sampai di pelabuhan kalau Genta tidak menjemputmu, kamu tinggal cari taksi online saja!" ujar Mardi dan Mutiara hanya mengangguk. Sebelum mengajaknya ke kota, Genta memang sudah mengajarkan cara memesan taksi online kepada Mutiara. Selama ini, tinggal di kampung terpencil tentunya kemajuan teknologi seperti itu tidak terbiasa diikuti oleh Mutiara.
"Nanti setelah sampai di terminal, kamu ke halte bus saja, Ra. Dari sana kamu akan lebih mudah memesan taksi online!" saran Mardi.
Saat kapal itu berlabuh Mardi langsung sibuk dengan pekerjaannya bongkar muat semua isi di kapal itu.
"Baik, makasih ya, Bang!" sahut Mutiara sambil turun dari kapal itu menuju terminal.
"Iya sama-sama, Ra. Kamu juga hati-hati, ya. Salam sama Tirta!" teriak Mardi dari atas kapalnya dan Mutiara hanya melambaikan tangannya membalas teriakan Mardi itu.
Mutiara tahu kalau Mardi sangat sibuk dengan pekerjaannya setelah sampai di pelabuhan, karenanya dia tidak ingin merepotkan Mardi lagi. Meski sudah memberinya beberapa rupiah sebagai imbalan karena sudah mengajaknya ke kota, namun Mutiara sungkan meminta bantuan Mardi lagi. Dia berinisiatif akan mencari taksi online sendiri tanpa meminta bantuan Mardi.
Mutiara berjalan di area keramaian orang-orang di terminal itu sambil menggendong Baruna yang saat itu tengah tertidur. Cuaca sangat panas, matahari begitu terik di atas kepala saat dia keluar dari dalam ruangan terminal. Mutiara terus menoleh ke kanan dan ke kiri, tempat itu sangat asing baginya, maklum saja ini pertama kalinya dia pergi ke kota besar itu. Matanya berputar-putar memperhatikan sekelilingnya, dia sangat berharap Genta datang menjemputnya saat itu.
__ADS_1
"Sepertinya Bang Genta tidak datang menjemputku," gumamnya.
Mutiara terus berjalan tanpa tahu harus kemana, dia bertanya kepada beberapa orang disana dan mencari halte bus sesuai petunjuk Mardi. Alasan Mardi menyuruhnya ke halte bus agar taksi online akan lebih mudah menjemputnya di sana.
Di halte itu nampak hanya ada seorang pria yang tengah menunggu bus.
Mutiara meraih ponselnya hendak memesan taksi online, namun dia seketika merasa kecewa karena ponselnya tidak bisa dinyalakan.
"Yah, ponselku mati, aku lupa mengisi daya tadi sebelum turun dari kapal," sesalnya sambil bersungut menyalahkan dirinya yang lupa mengisi daya ponselnya.
Mutiara mendekati seorang pria yang tengah duduk di halte itu dan mencoba meminta bantuan.
"Permisi, Pak. Apa saya boleh minta tolong?" tanyanya sopan kepada pria itu.
"Oh iya, Mbak. Apa yang saya bisa bantu?" sahut pria itu namun wajahnya tampak acuh seolah tidak ada niat membantunya.
"Bisa minta tolong pesankan saya taksi online, ponsel saya mati, saya lupa isi daya tadi sewaktu di kapal," harap Mutiara.
"HP saya nggak ada pulsa, Mbak. Kalau mau nebeng nge-charge HP itu Mbak datangi pos satpam di seberang, disana ada colokan listrik!" ujar pria itu sangat acuh sambil menunjuk ke arah sebuah pos security yang tak jauh dari halte itu.
'Baik, makasih, Pak!" Mutiara langsung menggelengkan kepalanya. Dia tahu kalau pria itu tidak ingin menolongnya. Dia menyadari kalau kehidupan di kota memang berbeda dengan di kampung yang penuh keramah-tamahan, orang-orang kota jarang mau membantu orang lain, mereka sangat cuek dengan lingkungan sekitar.
Tanpa pikir panjang Mutiara lalu melangkahkan kakinya menuju pos yang ditunjuk pria tadi sambil terus mengeratkan tubuh Baruna yang masih terlelap dalam gendongannya.
Di depan pos security itu Mutiara sangat tercengang. Area pelabuhan di sana terlihat sepi dan tenang tidak seperti di terminal tempatnya turun tadi. Sekilas matanya melirik ke sebuah papan nama besar di pelabuhan itu dan nama sebuah perusahaan pengalengan ikan ternama terlihat disana. Ada tulisan 'PRIVATE AREA' paling atas di papan nama itu, sudah pasti itu adalah pelabuhan pribadi milik perusahaan itu.
__ADS_1