
Langit tampak mendung, sinar matahari meredup seakan melukiskan suasana hati Arkha yang tengah dilanda kesedihan.
Dua pekan berlalu setelah bencana dahsyat terjadi, sampai saat itu juga Arkha tidak mendapatkan kabar baik yang diharapkannya tentang Mutiara. Daftar nama nama korban paling terkini dari BNPB tetap sama, nama Mutiara dan Pak Imran tetap ada disana dengan status korban meninggal atau hilang. Genta juga tidak pernah kembali setelah kejadian itu.
Kesedihan begitu mendalam di hati Arkha, kehilangan orang yang sangat dicintainya dengan cara tragis, membuatnya semakin frustasi dan kehilangan semangat hidupnya.
"Mutiara....! kenapa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini?" teriak Arkha sambil melemparkan setangkai bunga mawar berwarna merah hati ke tengah laut.
Sore itu, Arkha seperti biasa menghabiskan senjanya di pantai untuk menumpahkan semua kesedihannya disana. Sudah seminggu ini Arkha selalu pergi ke pantai dan duduk berjam jam disana hanya untuk menghanyutkan setangkai bunga mawar ke laut dan meratapi kesedihannya.
Rendy selalu setia mengantarkannya kesana, dia ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan Arkha.
"Aku sangat menyesal meninggalkanmu dan Bapak di kampung itu, Ra! sekarang kau sudah pergi meninggalkanku untuk selama lamanya, bahkan aku belum sempat menceritakan semua tentang ingatanku kepadamu, Sayang!" pekik Arkha, kata kata itu sudah sangat sering diteriakkannya di pantai itu, kesedihan dan penyesalan begitu menyesakkan hatinya.
Arkha duduk bersimpuh di hamparan pasir putih di pantai itu. Tatapannya hampa, kerasnya hembusan angin pantai menerpa rambutnya, kakinya pun basah akibat tersapu ombak yang terus menyapa pantai, namun semua itu tidak diperdulikannya.
"Kenapa, Tuhan? Kau tega mempermainkan takdirku, Kau pertemukan aku dengan Mutiara melalui gelombang air laut dan Kau juga mengambil Mutiara kembali dariku dengan cara yang sama!"
Air mata kegetiran kembali menetes di sudut mata Arkha. Kehilangan Mutiara sungguh membuatnya sakit hati, rapuh dan juga putus asa.
"Bos, sampai kapan anda akan terus larut dalam kesedihan?" tanya Rendy seraya mendekati Arkha yang masih duduk bersimpuh di pasir pantai itu.
"Nona Mutiara dan Pak Imran sudah tenang di alam sana, Tuhan lebih menyayangi mereka daripada kita yang berlumur dosa ini, Bos. Itulah sebabnya Tuhan memanggil mereka lebih dulu untuk menghadapNya." hibur Rendy berusaha mengurangi kesedihan Arkha.
__ADS_1
"Kenapa aku begitu bodoh meninggalkan mereka di pulau itu, Rendy? seharusnya waktu itu aku membawa mereka ikut kesini!" sesal Arkha dengan netranya yang masih menatap kosong ke tengah samudra.
"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, Bos. Semua yang sudah terjadi bukan untuk disesali. Itu adalah rahasia Tuhan, dan kita juga tidak bisa melawan kuasaNya," ujar Rendy menasehati.
"Anda harus bangkit, Bos! tidak ada gunanya terus terpuruk dalam kesedihan seperti ini! apa dengan bersedih Nona Mutiara akan kembali? tidak, Bos! justru kalau Nona Mutiara melihat anda seperti ini, dia pasti juga akan ikut sedih, jiwanya tidak akan tenang di alam sana, Bos!" tambah Rendy.
"Aku tidak bisa hidup tanpa Mutiara, Rendy! Separuh jiwaku sudah hilang bersama kepergiannya," ucap Arkha sendu, air mata masih terlihat membasahi pipinya.
"Bukan hanya anda yang merasakan kehilangan, Bos. Saya juga sedih karena kehilangan Genta, rekan kerja dan sahabat baik saya yang sudah saya anggap seperti saudara kandung, dia juga ikut menjadi korban keganasan alam!"
"Iya, Mutiara, Pak Imran dan juga Genta, orang orang yang aku sayangi sudah direnggut oleh kemarahan Yang Kuasa, Rendy! Tuhan sungguh tidak adil terhadapku," sesal Arkha.
"Anda tidak boleh berkata seperti itu, Bos. saya mengerti kesedihan yang anda alami, tapi apa gunanya terus meratap dan bersedih seperti ini, masa depan anda masih panjang, Bos! banyak visi dan misi kita yang belum kita jalankan. Anda jangan pernah lupa apa tujuan utama anda kembali ke kota ini!" Rendy terus berusaha menghilangkan kesedihan dan menyemangati Arkha.
Malam mulai datang, langit semakin gelap, kilatan petir terlihat jelas menyambar ke arah lautan diiringi suara gemuruh yang terdengar begitu kencang menusuk telinga, derai air mulai berjatuhan dari langit, hujan deras turun disertai angin kencang.
Akan tetapi, Arkha tidak bergeming, dia tetap berdiri di pantai itu dan membiarkan air hujan membasahi tubuhnya.
"Selamat tinggal, Mutiara. Selamat jalan, Cintaku. Aku sangat mencintaimu!" teriaknya sambil kembali melemparkan setangkai mawar ke arah ombak yang menggulung ke arah pantai.
Setelah cukup lama diam dan membiarkan tubuhnya basah oleh terpaan air hujan di pantai itu, Arkha akhirnya melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Rendy memarkirkan mobilnya.
"Keringkan badan anda, Bos dan ganti bajunya!" ujar Rendy sambil menyerahkan sebuah handuk kecil dan sebuah hoodie kepada Arka saat atasannya itu sudah ada di dalam mobil dengan tubuhnya yang basah kuyup oleh air hujan.
__ADS_1
Rendy langsung melajukan mobil itu menuju apartemen Arkha. Dalam perjalanan, Rendy menyempatkan mampir di sebuah restoran cepat saji dan take away makan malam untuk mereka berdua.
Tiba di apartemennya, Arkha langsung mandi dan mengganti semua pakaiannya yang masih basah, Rendy tetap setia menemaninya disana.
"Bos, semenjak terjadi bencana, sudah dua minggu kita menunda rencana penyerangan kita ke markas Pak Alfin. Walau tanpa Genta, kita tetap harus menjalankan misi kita!" tegas Rendy mengingatkan tujuan utama mereka kepada Arkha.
"Aku sudah tidak bersemangat menjalankan semua itu lagi, Rendy. Untuk apa aku merebut semuanya kembali kalau aku tidak bisa membaginya bersama orang yang aku cintai. Mutiara sudah meninggalkanku, aku sudah tidak punya harapan apa apa lagi saat ini!" ucap Arkha dengan wajahnya kembali terlihat sedih.
"Apa maksud anda mengatakan kalau anda tidak punya siapa siapa lagi, Bos?" Rendy tersentak heran mendengar pernyataan Arkha yang terdengar begitu putus asa.
"Lalu Nyonya Besar, apa anda tidak memikirkan kesembuhannya?" tanya Rendy sambil menatap mata Arkha yang terlihat sayu.
"Nona Ardila, bukan kah dia putri anda, apa anda akan membiarkannya tetap bersama Pak Alfin?" seru Rendy dengan nada tidak senang menanggapi kesedihan Arkha yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Sekarang anda sangat berubah, Bos. Yang ada di hadapan saya ini bukan Bos Arkha yang saya kenal dulu, hilang ingatan selama setahun sudah mengubah hidup anda seratus delapan puluh derajat!" sungut Rendy kecewa dengan sikap apatis Arkha.
Arkha hanya terdiam, sejenak ia mencoba memahami semua perkataan Rendy.
"Kau benar, Rendy! aku tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan, aku masih punya tanggung jawab terhadap Mama, saat dia sembuh dan melihat aku seperti ini, pasti dia akan sangat kecewa mengetahui Kaka berubah menjadi seorang pria yang lemah!" ucap Arkha jengah.
"Tidak, Rendy! aku bukan laki laki lemah! semenjak kecil Papa dan Mama mendidikku untuk menjadi orang yang kuat. Demi Mama dan juga Ardila, aku harus bangkit, Rendy, aku tidak akan biarkan kesedihan terus mengungkungku!" seru Arkha mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Alfin....! aku harus membalas semua kejahatannya!" geramnya lagi.
__ADS_1
Rendy tersenyum melihat Arkha yang kini sudah mulai mencoba menghilangkan kesedihannya.
"Kita akan menyusun ulang rencana kita, Bos. Sekarang Genta sudah tidak ada, kita harus mengubah rencana awal kita!" timpal Rendy sambil menekan keningnya memikirkan rencana baru mereka untuk menyerang Alfin.