Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #97 Kebesaran Hati Genta


__ADS_3

Di bawah teriknya sinar surya siang itu, sebuah mobil melaju lambat di tengah padatnya jalan kota. Di dalam mobil itu Arkha bersama Mutiara dan Baruna sedang menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Genta.


Arkha sengaja menjalankan mobilnya perlahan karena dia sedang memangku Baruna sembari menyetir. Akan tetapi, bocah kecil itu sangat anteng saat bersama Arkha duduk di kursi kemudi, sehingga Arkha sama sekali tidak merasa terganggu, dia tetap bisa fokus mengatur laju mobil walau sedang ada Baruna di pangkuannya saat itu.


Bibir kecil Baruna juga selalu berceloteh menanyakan tentang apa saja yang dilihatnya kepada Arkha. Ucapan polos yang keluar dari lidah cadel bocah itu terdengar begitu lucu sehingga Arkha tidak pernah bosan menjawabnya.


"Una suka naik mobil, ya?" tanya Arkha kepada Baruna yang tengah asyik memperhatikan semua pemandangan di sepanjang jalan kota siang itu.


"Cuka, Om. Una cuka," sahut polos bocah itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mulai hari ini, Papa akan sering-sering ngajak Una jalan-jalan naik mobil," janji Arkha kepada putranya itu.


"Hoyee ..., Una bica dayan-dayan naik obin!" seru Baruna girang.


Mutiara yang duduk di sebelahnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah manja Baruna terhadap Arkha. Sesekali pandangannya beradu dengan tatapan Arkha yang selalu mencuri pandang ke arahnya, sehingga membuatnya seketika menundukkan wajahnya. Keduanya pun saling melempar senyum. Namun, mereka sama-sama tersipu malu. Layaknya dua orang yang baru saling jatuh cinta, ada sedikit rasa canggung yang tengah mereka rasakan.


Di samping itu, Arkha begitu terkesima melihat perubahan penampilan Mutiara yang sangat menawan hari itu, sehingga membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat saat keempat netra mereka berpadu.


Tanpa terasa kini mereka sudah tiba di rumah sakit. Arkha langsung membawa Mutiara dan Baruna ke ruang perawatan Genta.


Di sana, Genta masih terbaring lemah, tetapi hanya sisa selang infus saja yang terpasang di tangannya. Kondisinya pun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, sehingga dia bisa tersenyum ramah saat mereka datang.


"Ayah ...!" seru Baruna saat melihat Genta.


Baruna langsung turun dari gendongan Arkha untuk menghampiri Genta dan mencium tangannya penuh kerinduan.


"Una apa kabar, Sayang?" tanya Genta sambil tersenyum dan mengusap wajah Baruna.

__ADS_1


"Una kangen cama Ayah," sahut lugu bocah itu.


"Ayah juga kangen sama kamu, Nak," balas Genta. Tanpa terasa air matanya menetes saat melihat Baruna kini ada dihadapannya.


"Una cama Ibu cayi-cayi Ayah teyus tapi nggak ketemu," aku Baruna jujur sambil mengusap air mata di pipi Genta.


"Ayah tidak apa-apa, Sayang,"


"Apa Ayah habis beyantem ya, kayak Om Ganteng itu?" tanya Baruna sambil menoleh ke arah Arkha.


"Enggak, Sayang," jawab Genta juga ikut menoleh ke arah Arkha.


Arkha hanya diam berdiri di samping ranjang Genta tanpa mengucapkan sepatah katapun. Melihat kedekatan Baruna dengan Genta, dada Arkha tiba-tiba terasa sesak. Dia menyadari kalau selama ini putra kandungnya menganggap Genta adalah ayahnya. Dia merasa sangat cemburu saat teringat sampai saat itu Baruna masih memanggilnya dengan panggilan 'Om'.


Namun, Arkha tidak ingin protes dengan semua yang terjadi di hadapannya. Dia tahu kalau Baruna belum memahami apa yang sudah terjadi, Baruna masih sangat kecil untuk bisa mengerti semuanya, sehingga butuh waktu baginya untuk menjelaskan kepada Baruna kalau dia lah ayah kandungnya yang sebenarnya.


Tidak ada jawaban dari Arkha, dia hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Bang Genta, bagaimana kondisi Abang? Apa sudah lebih baik?" Mutiara duduk di kursi di sebelah ranjang Genta sambil memangku Baruna.


"Sudah lebih baik, Ra," sahut Genta sambil menoleh ke arah Mutiara dan menatap wajahnya.


"Maafkan aku, Ra. Aku tidak menepati janji untuk menjemputmu saat kalian tiba di kota ini,"


"Jangan berkata seperti itu. Aku tahu, kamu tidak akan pernah ingkar janji kalau seandainya saja kejadian buruk ini tidak terjadi sama kamu, Bang,"


"Selalu ada hikmah dari setiap hal yang terjadi, Ra. Kalau waktu itu aku tidak di sekap oleh anak buah kapalku, mungkin saja kau dan Bos Arkha juga tidak akan pernah bertemu,"

__ADS_1


"Maafkan aku, Bang," Mutiara menundukkan wajahnya, dia tahu kalau Genta pasti kecewa kepadanya karena dia merasa pernah memberi harapan kepada Genta serta berjanji akan membuka hatinya untuk Genta.


"Ra, cinta Bos Arkha kepadamu sangat tulus, mulai saat ini kamu tidak boleh meragukannya lagi,"


"Tapi, bagaimana dengan kamu, Bang?"


"Jangan pikirkan aku, Ra. Kebahagiaanmu jauh lebih berarti bagiku. Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku, cintamu hanya untuk Bos Arkha dan dia juga sangat mencintaimu,"


"Tapi, Bang?"


"Rendy sudah menceritakan semua kepadaku, Ra. Setelah semua kejahatan Nyonya Livina terungkap, sekarang kau tahu kalau semua yang terjadi antara kau dan Bos Arkha hanyalah sebuah kesalah pahaman. Kalian berdua berhak untuk bahagia, selama ini sudah begitu banyak yang terjadi, sekaranglah saatnya kalian memperbaiki semuanya dan memulai lembaran baru untuk cinta kalian,"


'Kau sungguh berhati besar, Genta. Aku berterimakasih banyak karena selama ini kau sudah menjaga Mutiara dan Baruna dengan baik." Mendengar ucapan Genta, Arkha yang sebelumnya hanya diam akhirnya ikut menimpali.


Genta hanya tersenyum lalu meraih tangan Arkha dan Mutiara dan menyatukannya di hadapannya.


"Saya sangat percaya akan ketulusan cinta Anda dan Mutiara, Bos. Mulai saat ini kalian jangan pernah terpisah lagi," ujar Genta.


Arkha dan Mutiara hanya saling menatap dan tersenyum, kebesaran hati Genta mengesampingkan perasaan cintanya kepada Mutiara, membuat rasa haru kini menyelimuti perasaan mereka.


"Una, Om Ganteng ini Papa Una. Mulai sekarang, Una jangan panggil Om Ganteng lagi ya! Panggil dia Papa Arkha," ujar Genta sambil tersenyum menatap wajah bocah kecil di hadapannya dan Baruna hanya mengangguk.


"Papa Kaka," seru Baruna sambil tersenyum kepada Arkha. Sesungguhnya bocah itu belumlah mengerti maksud Genta menyuruhnya memanggil Arkha 'Papa', tetapi ikatan darah tidaklah dapat berbohong, hal itu yang membuat Baruna dengan cepat bisa menerima permintaan Genta untuk memanggil Arkha dengan panggilan Papa.


Arkha tersenyum haru, lagi-lagi kebesaran hati Genta membuatnya terkesan. Tiga tahun terpisah, membuat Arkha yakin kalau Genta tetaplah adalah asisten kepercayaannya yang sangat setia kepadanya.


"Terima kasih banyak, Genta. Kau sudah banyak berkorban untukku selama ini." Arkha menggenggam erat tangan Genta.

__ADS_1


__ADS_2