Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #47 Membutuhkan Sosok Ayahnya


__ADS_3

Imran menganggukkan kepalanya, ia sangat bisa mengerti tujuan Genta yang ingin membawa Mutiara ikut dengannya ke kota.


"Mutiara, yang dikatakan Genta itu benar, Nak! kau ikutlah bersamanya pergi ke kota, raih semua cintamu disana!" ujar Imran sambil memegang kedua pundak putrinya dan menatap wajahnya.


"Bagaimana aku bisa meninggalkan Bapak seorang diri disini, Pak?" tanya Mutiara semakin terisak.


"Jangan pikirkan Bapak, Ra! bapak bisa menjaga diri Bapak sendiri disini!" sahut Imran.


"Tidak, Pak. Aku nggak akan pergi ke kota, aku takut Bang Segara tidak mau menerimaku disana."tegas Mutiara tetap menolak.


"Percayalah, Ra. Bos Arkha pasti tidak akan menolakmu, justru dia akan sangat senang bila kau datang menemuinya, dia sangat mencintaimu, Ra!" sela Genta ikut menimpali dan terus berusaha meyakinkan Mutiara.


"Iya, Ra. Saat ini kamu nggak boleh egois. Pikirkan janin dalam kandunganmu, kau harus merawatnya dengan baik, Ra! calon bayimu akan sangat membutuhkan sosok ayahnya!" tegas Imran lagi, ia juga terus berusaha agar Mutiara mau ikut dengan Genta pergi ke kota.


"Tidak, Pak. Aku nggak akan pergi ke kota, aku akan tetap tinggal disini!" ketus Mutiara sambil beranjak dari tempat duduknya langsung ke kamarnya dan mengunci pintu.


"Mutiara, dengarkan Bapak dulu, Nak!" seru Imran menyusul langkah putrinya hingga di depan pintu kamarnya.


"Sudahlah, Pak. Biarkan Mutiara memikirkannya dulu. Saya akan bermalam di kapal malam ini, semoga besok Mutiara sudah bisa memutuskan untuk ikut bersamaku ke kota!" ujar Genta.


Imran lalu kembali duduk di ruang tamu dan mengobrol bersama Genta disana.


"Maafkan bapak, Genta. Rumah bapak sangat kecil, bapak tidak menawari kalian menginap disini," ujar Imran.


"Nggak apa apa, Pak. Saya akan tidur di kabin kapal, disana juga cukup luas untuk kami bisa tidur bertiga disana," sahut Genta.


Di dalam kamarnya, Mutiara langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan menangis tersedu.


"Bang Segara, kamu jahat, Bang. Kamu pergi setelah ingatanmu kembali dan melupakan semua janjimu padaku," isak Mutiara sambil meremas kuat bantal yang menutupi wajahnya, bantal itupun ikut basah oleh air matanya yang masih terus menetes melalui pipinya.


Mutiara lalu membalikkan badannya dan tidur dengan posisi menengadah menatap langit langit di kamarnya. Pikirannya sangat kacau, ia bimbang harus memilih tetap tinggal di kampung itu atau ikut bersama Genta pergi ke kota.


"Calon bayimu membutuhkan sosok ayahnya, Ra!" Kata kata Imran selalu terngiang di telinganya.

__ADS_1


Perlahan Mutiara mengusap perutnya.


"Bapak benar, bagaimanapun juga janin ini adalah benih dari Bang Segara, dia harus bertanggung jawab, dia tidak boleh meninggalkan aku seperti ini," gumamnya sambil menutup matanya. Kekecewaan masih memenuhi benaknya saat itu, namun disisi lain rasa rindunya terhadap Segara juga selalu ada dan semakin membuncah di jiwanya.


Mutiara tetap mengurung dirinya di dalam kamarnya hingga pagi keesokan harinya menjelang.


Ia seketika membuka matanya ketika merasakan perih di perutnya dan rasa mual juga kembali menyerangnya.


Mutiara segera keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi.


"Ueekkk...," Mutiara terus memegang perutnya yang semakin terasa mual. Hari itu sudah hari kesekian ia merasa seperti itu, Mutiara mengalami morning sickness di bulan awal kehamilannya.


Mutiara keluar dari kamar mandi sambil memijat sendiri kepalanya yang terasa pusing.


"Bagaimana keadaanmu, Ra? apa masih mual?" tanya Imran yang sedari tadi memperhatikan putrinya.


"Masih, Pak. Kepalaku juga pusing," jawab Mutiara sambil mengambil segelas air di atas meja makan.


"Minum ini, Ra. Bapak belikan susu ini buatmu, ini susu khusus untuk ibu hamil, " ujar Imran sambil tersenyum lebar seraya menyerahkan sekotak susu untuk Mutiara.


"Iya, makasih, Pak!" sahut Mutiara sambil meraih kotak susu yang diberikan Imran dan mulai menyiapkan air panas.


"Apa kamu sudah memutuskan untuk ikut Genta pergi ke kota, Ra?" desak Imran, ia sangat berharap agar Mutiara mengikuti sarannya untuk ikut bersama Genta menyusul Segara pergi ke kota.


Mutiara diam tidak menyahuti pertanyaan bapaknya, namun hanya membalasnya dengan tersenyum datar.


"Sekali lagi bapak minta sama kamu, pikirkan bayi dalam kandunganmu, Ra,"


"Iya, Pak. Bayi ini memang membutuhkan sosok ayahnya!" ketus Mutiara memotong kalimat Imran. Dia sudah terlebih dahulu bisa menebak apa yang akan Imran katakan lagi kepadanya.


"Setelah aku pikirkan masak masak, aku bersedia ikut Bang Genta ke kota, Pak," sambung Mutiara, "aku terpaksa meninggalkan Bapak seorang diri disini."


"Syukurlah akhirnya kamu bisa memutuskan yang terbaik untuk masa depanmu, Ra. Dan jangan pernah mengkhawatirkan Bapak disini, bapak akan baik baik saja,"

__ADS_1


"Aku pasti akan segera pulang, Pak. Kehidupan kota pasti akan sangat membosankan, aku lebih suka tinggal di kampung ini," sahut Mutiara dengan wajah sedih. Sejujurnya dia sangat berat memutuskan untuk menyusul suaminya ke kota bersama Genta, namun desakan Imran membuatnya terpaksa bersedia mengikuti keinginan Bapaknya itu.


"Kamu akan bersama suamimu disana, Nak. kalian saling mencintai dan setelah kalian bertemu, Bapak yakin kamu nggak akan pernah bosan disana." ujar Imran berusaha menghilangkan kesedihan putrinya.


"Baiklah, Pak. Aku akan siap siap, hari ini aku akan ikut Bang Genta ke kota," seru Mutiara sambil kembali ke kamarnya dan mempersiapkan beberapa potong pakaiannya yang akan dibawanya pergi ke dalam sebuah tas.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Mutiara langsung menemui Genta di dermaga di temani oleh Imran.


"Ahh senangnya, akhirnya kamu bersedia ikut ke kota bersamaku, Ra," seru Genta sambil tersenyum saat mendengar Mutiara mengatakan bahwa ia akan ikut bersamanya pergi ke kota.


"Iya, Bang. Aku bersedia ikut denganmu hanya demi bayi ini, Bang Segara harus tahu kalau sebentar lagi Segara kecil akan lahir ke dunia ini!" ucap Mutiara sambil menyentu perutnya,namun masih dengan wajahnya yang terlihat ragu.


Mutiara lalu menghampiri Imran yang juga masih ada disana untuk mengantarkan kepergiannya sampai di dermaga.


"Pak, aku pamit, bapak jaga diri ya! setelah aku bertemu Bang Segara, aku akan pulang secepatnya, Pak," ucap Mutiara sambil memeluk Imran dan mencium tangannya. Air matanya kembali menetes, ia merasa sedih karena harus meninggalkan Imran seorang diri di kampung itu.


"Iya, selamat jalan ya, Nak. Bapak sangat yakin kamu akan bahagia setelah sampai di kota dan bertemu suamimu!" jawab Imran juga ikut menitikkan air mata menyadari putri semata wayangnya itu benar benar akan pergi meninggalkannya.


Sesungguhnya Imran sendiri juga sangat sedih melepas kepergian Mutiara, namun baginya, putrinya itu berhak bahagia, dia harus merelakan Mutiara pergi ke kota untuk meraih cintanya di sana.


"Nak Genta, tolong jaga putri bapak, pastikan dia selalu baik baik saja dan segera bisa bertemu dengan suaminya di kota," pesan Imran kepada Genta.


"Siap, Pak! Pak Imran jangan khawatir, saya pasti akan menjaga Mutiara dengan sebaik baiknya sampai dia bertemu dengan Bos Arkha nanti," ucap Genta sambil menjabat tangan Imran.


Lambaian tangan Imran terus mengiringi langkah Mutiara hingga Mutiara sampai di dalam kapal bersama Genta. Tak lama berselang, kapal itu pun melaju menerjang gelombang dan membelah lautan meninggalkan pulau itu.


"Kamu istirahat saja disini, Ra, besok baru kita akan sampai di kota," ujar Genta sambil menunjukkan sebuah bilik kecil di dalam kabin kapal kepada Mutiara. Sebuah kasur juga nampak sudah ada disana, bilik yang cukup nyaman untuknya beristirahat selama perjalanan.


"Nanti saja, Bang. Aku masih ingin menikmati angin laut," sahut Mutiara sambil meletakkan tas pakaiannya di bilik itu dan melangkah menuju deck kapal.


"Angin di luar sangat kencang, Ra. Itu tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kau tengah hamil sekarang!" cegah Genta sambil ikut berjalan mengikuti Mutiara.


"Sebentar saja kok, Bang. Aku hanya ingin melmandangi kampungku sampai benar benar tidak terlihat lagi," jawab Mutiara dan Genta hanya menganggukkan kepalanya tidak ingin mencegahnya lagi.

__ADS_1


Genta dan Mutiara lalu duduk di sebuah kursi di deck kapal itu dan mereka mengobrol disana sambil menikmati kencangnya hembusan angin laut.


Mutiara sudah bisa mengulas senyum di bibirnya, dalam hatinya dia sangat merindukan Segara suaminya, dia berharap keputusannya pergi ke kota akan membawanya hidup bahagia bersama orang yang sangat dicintainya.


__ADS_2