
Hari memang sudah sore. Namun, matahari masih sangat terik menyinari marcapada, cuaca panas sangat terasa hingga menusuk dan menyelinap di pori-pori kulit.
Akan tetapi, suasana sangat berbeda terasa di rumah sakit jiwa tempat Mama Yuna dirawat, di sana udara terasa sejuk, pohon-pohon rindang menutupi halaman rumah sakit yang tampak asri dengan berbagai jenis tanaman hias yang tertata apik dan bersih.
Lain dari pada rumah sakit pada umumnya, di sana memang bukanlah sebuah rumah sakit yang ada di sebuah bangunan gedung yang tinggi, melainkan rumah sakit yang bentuk bangunannya menyerupai kawasan perumahan yang dihubungkan dengan koridor-koridor dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Tentunya dibuat seperti itu dengan pertimbangan pasien yang dirawat disana adalah orang-orang yang bukan menderita penyakit secara fisik, melainkan penyakit mental.
Paviliun tempat perawatan Mama Yuna sendiri terpisah dari pasien-pasien yang lain, sehingga selama di rawat di sana Mama Yuna cukup mendapatkan kenyamanan dengan treatment istimewa dari semua paramedis di rumah sakit itu.
Di bangunan paling ujung rumah sakit itu, terdapat sebuah ruang training khusus bagi paramedis yang bekerja di sana.
Sore itu, Mutiara terlihat sangat antusias menjalani program pelatihan yang diberikan oleh beberapa orang dokter dan psikiater.
Sudah tiga hari Mutiara mendapatkan pelatihan di sana dan selama itu dia sangat mudah memahami pelajarannya, sehingga para pelatihnya pun merasa senang mengajarkan tentang berbagai hal terkait ilmu kesehatan kepada Mutiara.
Tok...!
Tok...!
Di tengah keseriusan seorang dokter yang sedang menyampaikan sebuah materi pelatihan kepada Mutiara, terdengar ada ketukan pintu.
"Permisi, Dokter. Saya mohon ijin membawa Ara sebentar. Tuan Kaka ingin bertemu dengannya." Seorang suster menyembulkan wajahnya dari balik pintu.
"Oh iya, silahkan!" sahut dokter pelatih seketika menghentikan penjelasan materinya. Meski sedang sangat serius memberi penjelasan, mendengar suster itu datang dengan membawa nama Arkha, tentunya dokter itu tidak berani melarangnya.
"Ara, Tuan Kaka kesini untuk menemuimu, ayo sekarang kita ke paviliun Nyonya Yuna," ajak suster itu.
"Baik, Suster." tanpa bertanya Mutiara langsung menurut, dia paham kalau orang yang sangat disegani di rumah sakit itu sedang mencarinya.
Bersama suster itu, Mutiara berjalan beriringan melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit menuju paviliun pribadi Mama Yuna.
"Ara, apa kau tahu kalau Tuan Kaka itu adalah orang yang sangat terpandang dan berpengaruh di kota ini?" celoteh suster itu bertanya kepada Mutiara saat mereka berjalan bersama di koridor rumah sakit itu.
Mutiara hanya tersenyum dingin sambil menggelengkan kepalanya. Baginya tidak penting mengetahui siapa orang yang dipanggil dengan nama Kaka itu, karena keinginannya hanyalah bisa bekerja dan merawat Nyonya Yuna dengan sebaik mungkin disana.
__ADS_1
"Kamu sangat beruntung andaikata kamu bisa mengambil hati Tuan Kaka. Dia laki-laki yang sangat kaya, dia pasti akan memberimu banyak hadiah karena putramu sudah membawa perubahan positif untuk kesehatan Mamanya," terang suster itu lagi.
Mutiara tetap tidak menyahut dan hanya menanggapinya dengan senyuman, hadiah juga bukan hal yang menjadi prioritasnya saat itu, dia hanya berharap bisa hidup lebih baik di kota itu bersama Baruna.
Sementara itu, di paviliun perawatan Mama Yuna, Arkha terlihat makin asyik ikut bermain bersama Baruna. Keduanya duduk di sofa ruang tamu dan Baruna tidak pernah lepas dari pangkuan Arkha. Suasana kedekatan seorang ayah dan putranya sangat terasa di tempat itu.
"Kenapa Ibu anak ini belum datang? berapa lama lagi aku harus menunggunya?" tanya Arkha kepada dokter di sebelahnya. Dia tahu kalau waktunya tidak banyak disana dan dia juga tidak sabar ingin melihat Ibu dari bocah kecil yang sudah mampu begitu menarik perhatiannya.
"Mereka sudah menuju kesini, Tuan. Sebentar lagi sampai. Maklum, ruang trainingnya ada di ujung sana, cukup jauh dari sini," sahut dokter itu memberi penjelasan.
Triiing....!
Triiing....!
Ponsel Arkha berdering. Arkha tersenyum kecut sambil menghembuskan nafas kasarnya saat melihat layar ponselnya dan terlihat nama Rendy muncul di sana sedang memanggilnya.
"Rendy pasti meneleponku untuk mengingatkan kalau aku harus kembali ke kantor sekarang," gumam Arkha, dia langsung bisa menebak kalau Rendy menghubunginya untuk mengingatkan waktu meetingnya yang hanya beberapa menit lagi sudah harus dimulai.
"Iya, Rendy. Aku sudah selesai, aku balik sekarang," sungut Arkha saat menjawab telepon dari Rendy.
"Tolong sampaikan saja rasa terimakasih saya padanya, dan bilang juga padanya agar selalu merawat Mama saya dengan baik, nanti saya akan memberinya imbalan yang pantas karena sudah membantu kesembuhan Mama," imbuh Arkha.
"Baik, Tuan," Dokter membungkukkan badannya tanda ia memahami perintah Arkha.
Perlahan Arkha menurunkan Baruna dari pangkuannya.
"Una ganteng, Om tinggal dulu, ya. Om harus kembali ke kantor," pamit Arkha sambil tersenyum manis menatap wajah Baruna.
"Kapan-kapan, Om akan kesini lagi dan bawain mainan yang banyak untuk Una," janjinya kepada Baruna.
"Una tolong jaga Oma Yuna, ajak dia main dan makan bareng sama kamu ya, supaya Oma Yuna cepat sembuh, ok!" bujuk Arkha sambil kembali mengusap lembut kepala Baruna dan menunjukkan telapak tangan kanannya untuk mengajak bocah itu tos dengannya.
"Siap, Om ganteng!" sambut Baruna sambil ikut menempelkan telapak tangan kanan kecilnya di tangan Arkha.
__ADS_1
Arkha lalu beranjak dari tempat itu dan kembali menemui Rendy yang sedari tadi sudah menunggunya di area parkir rumah sakit itu.
"Loh Tuan Kaka sudah balik, beliau nggak jadi bertemu sama Ara, ya?" tanya suster yang tadi memanggil Mutiara di ruang pelatihan. Mutiara dan suster itu tampak heran karena sudah tidak melihat Arkha ada di paviliun itu ketika mereka sampai.
"Iya, Tuan Kaka sedang terburu-buru karena ada meeting penting di kantornya. Lain kali beliau akan kesini lagi," ujar dokter yang masih ada di paviliun itu.
"Yah rupanya kamu belum beruntung hari ini, Ra. Kamu belum bisa bertemu dengan Tuan Kaka yang sangat tampan itu," ledek suster yang tadi menjemput Mutiara di ruang pelatihan sambil terkekeh.
"Iya tidak apa-apa, bagiku tidak penting bertemu dengannya, yang terpenting adalah aku bisa menjalankan tugasku dengan sebaik-baiknya disini," sahut Mutiara tidak terlalu menanggapi cibiran suster itu.
****
Arkha tiba di tempat parkir dan langsung masuk ke mobilnya. Rendy sudah siaga menunggunya di kursi kemudi.
"Kita sudah terlambat, Bos. Meetingnya sudah harus dimulai tiga puluh menit lagi!" keluh Rendy karena waktu mereka sudah tinggal sedikit, sementara dari rumah sakit itu ke kantornya bisa menghabiskan waktu hampir satu jam dalam perjalanan.
"Gas pol, Rendy. Kita ngebut sekarang dan usahakan tiga puluh menit kita sudah sampai di kantor," titah Arkha.
Rendy hanya mencebikkan bibirnya saat mendengar perintah Arkha.
"Memangnya Anda pikir jalan kota ini sirkuit bisa ngebut secepat itu disini," sungut Rendy.
"Kau bilang apa, Rendy? kalau kau tidak berani ngebut, biar aku saja yang menyetir!" bentak Arkha sambil menatap tajam ke arah Rendy.
"Bu... bukan begitu, Bos. Jam segini jalanan pasti macet, kita tidak mungkin sampai di kantor hanya dalam waktu tiga puluh menit saja," sahut Rendy membela dirinya.
"Jangan kebanyakan bacot kamu, Rendy! cepat jalan sekarang, atau kita akan semakin terlambat!' tegas Arkha lagi.
"Baik, Bos," sahut Rendy sambil menginjak pedal gas makin dalam, sehingga mobil itu pun melesat cepat keluar dari rumah sakit itu.
Selama perjalanan menuju kantornya, pikiran Arkha tidak pernah lepas dari Baruna. Bocah kecil itu begitu mempesona di matanya. Senyum selalu tersirat di bibirnya saat membayangkan wajah polos Baruna juga sedang tersenyum kepadanya. Perasaan seperti itu bahkan tidak pernah dirasakannya saat bersama Ardila, putrinya.
Diam-diam Rendy memperhatikan Arkha yang selalu terlihat tersenyum sendiri. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya itu, dia ikut merasa senang karena Arkha sudah mulai bisa marah lagi kepadanya.
__ADS_1
Kalau sebelumnya Arkha terlihat memasang wajah kecewa dan bungkam saat keluar dari rumah sakit tempat Genta dirawat, kali ini Arkha nampak berbeda. Senyum bahagia selalu menghiasi wajahnya, seperti ada sebuah harapan baru yang mengisi hatinya saat itu.