
Hari semakin sore, Genta dan dua orang awak kapalnya yang bernama Abey dan Johan masih duduk di warung Mutiara dan nampak tidak tenang karena mereka tidak bisa kembali ke kota hari itu. Ditambah lagi di kampung itu tidak ada penginapan, sudah pasti malam itu mereka harus tidur di dalam kapal yang dingin dan sempit.
Genta terus menyambung hisapan rokoknya tanpa henti sampai tak terasa sebungkus penuh rokoknya hanya dihabiskannya dalam hitungan jam. Tempat duduk mereka pun sudah berpindah dari satu bangku ke bangku yang lain, ketiganya makin gelisah karena tidak tahu harus melakukan apa dengan kondisi kapal mereka yang sedang mengalami kerusakan.
"Makasih ya, Ra, sudah mengijinkan kami beristirahat disini!" ujarnya kepada Mutiara yang masih ada di warungnya sore itu. Karena Segara dan Imran sedang pergi ke kota, Mutiara memilih tinggal di warungnya menunggu Segara kembali dari kota kecamatan.
"Sama sama, Bang! aku sama sekali nggak keberatan kok kalian beristirahat disini, lagian warungku juga masih sepi." ucapnya masih sangat ramah. Ia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran pria pria asing itu di warungnya.
Saat itu, Segara yang baru saja kembali dari kota kecamatan langsung menuju ke warungnya untuk menemui istrinya.
"Siapa pria pria itu, Ra?" tanya Segara penasaran. Tidak biasanya ada pembeli di warungnya di jam seperti itu apalagi pria pria itu dilihatnya sangat asing dan Segara tidak mengenali seorangpun di antara mereka. Posisi duduk pria pria itu juga sudah agak jauh ke pinggir sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Segara di warung itu.
"Mereka itu awak kapal ikan dari kota, Bang! kapal mereka mengalami kerusakan dan mereka terpaksa menyandar disini!" jawab Mutiara dan Segara hanya sedikit menganggukkan kepalanya, tidak terlalu peduli.
"Abang mau makan sekarang, Bang?" lanjut Mutiara menawarkan makanan, ia tahu semenjak siang suaminya itu belum makan karena harus buru buru ke kota kecamatan.
"Aku sama bapak sudah makan siang di kota tadi, Ra!" jawab Segara, "tolong buatkan kopi saja ya, Sayang!" Segara mengusap lembut kepala istrinya dan tersenyum menggoda, seandainya saja tidak ada tiga pria itu di depan warungnya, mungkin Segara sudah mencium bibir Mutiara dengan mesra saat itu.
Mutiara membalasnya juga hanya dengan tersenyum, lalu segera menyiapkan kopi untuk Segara.
"Bang, mesin kapal mereka rusak, apa nggak sebaiknya Abang bantu mereka memperbaiki kapal mereka? kasihan mereka tidak bisa kembali ke kota malam ini!" bujuk Mutiara kepada suaminya itu sambil menyodorkan secangkir kopi yang dimintanya. Mutiara memang gadis yang baik dan berhati besar, melihat orang lain dalam kesusahan seperti itu pastinya ia juga tulus sangat ingin membantunya.
Awalnya Segara hanya diam tak menyahut, ia malas kalau harus bertemu dengan orang asing selain warga kampung itu. Apalagi kalau setelah berkenalan dengan orang, lalu orang itu bertanya tentang asal usulnya, dia akan menjadi sangat risih dibuatnya.Tapi mendengar bujukan Mutiara yang terdengar begitu tulus, membuat hatinya tergerak untuk membantu.
"Biar kuhabiskan kopinya dulu, Ra. Baru aku akan coba bantu mereka!" sahut Segara kemudian.
__ADS_1
Setelah menghabiskan kopinya, Segara menghampiri Abey dan Johan yang tengah duduk di salah satu bangku paling ujung di warung itu, sedangkan Genta sudah tidak terlihat lagi di tempat itu.
"Boleh aku coba cek mesin kapalnya, Pak?" tanyanya pada kedua orang itu.
"Saya Segara, suaminya Mutiara, tadi dia bilang kapal anda sedang mengalami kerusakan!" jelasnya lagi.
"Oh jadi kamu ya suami pemilik warung itu, yang katanya tahu soal mesin?" tanya Abe dengan satu ujung bibirnya yang diangkat. Melihat penampilan Segara, mereka sama sekali tidak percaya kalau Segara paham tentang mesin kapal.
"Iya, hanya sekedar tahu saja, Pak!" jawab Segara merendah.
Walaupun ragu akan kemampuan Segara, tapi kedua anak buah kapal itu tidak menolak tawaran bantuan dari Segara, mereka hanya ingin cepat menyelesaikan masalahnya dan bisa segera kembali ke kota.
Abey dan Johan lalu membawa Segara ke kapalnya yang bersandar tak jauh dari dermaga itu.
Sampai disana Segara langsung mengecek semua bagian mesin, menggunakan semua peralatan mekanik yang ada di kapal itu, dia dengan cekatan memperbaiki mesin kapal itu. Hanya dalam hitungan menit ia berhasil memperbaikinya.
"Makasih ya, Segara! diluar dugaan kami ternyata kamu sangat hebat dalam urusan permesinan." ujar Abey bangga.
Segara hanya tersenyum tipis lalu meninggalkan kedua anak buah kapal itu disana, untuk kembali ke warungnya.
"Bos Genta kemana? tiba tiba saja dia menghilang!" tanya Johan.
"Tadi sih katanya hanya berkeliling kampung ini sebentar, mungkin lagi cari bidadari kampung yang mirip pemilik warung itu!" sahut Abey menyeringai.
"Maklum Bos Genta kan jomblo akut, pasti dia lagi usaha cari gadis kampung untuk bisa dibawanya pulang!" candanya lagi, dan keduanya lalu terbahak bersamaan.
__ADS_1
"Kalian berdua sedang menertawakanku ya?" geram Genta.
Tanpa disadari oleh Abey dan Johan, ternyata Genta sudah berdiri di belakang mereka dengan kedua tangannya menyilang di dadanya dan menatap tajam ke arah mereka dengan wajah tampak sangat kesal karena ejekan kedua anak buahnya itu.
"Maaf, Bos. Kami hanya bercanda!" ucap Abey gugup.
"Kapal kita sudah tidak rusak lagi, Bos! akhirnya kita bisa balik ke kota malam ini." ujar Johan mengalihkan kekesalan Genta.
"Oh ya? siapa yang memperbaikinya?" tanya Genta terlihat sangat senang, namun juga penasaran.
"Dia suaminya si cantik yang punya warung itu, Bos!" sahut Johan.
Mendengar hal itu, Genta langsung melangkah menuju warung Mutiara hendak mengucapkan terima kasih kepada Segara.
"Suami kamu mana, Ra? aku ingin berterima kasih padanya karena sudah membantu memperbaiki mesin kapal kami!" serunya saat melihat Mutiara hanya sendiri di warungnya itu.
"Itu, Bang Segara lagi di perahunya, Bang! jawab Mutiara sambil menunjuk ke arah Segara yang tengah mempersiapkan perahunya yang akan dibawanya melaut malam itu.
Genta langsung berjalan mendekati Segara yang terlihat sibuk dengan perahunya.
"Makasih ya, Segara. Kamu sudah berhasil memperbaiki kapal kami!"
Genta tidak melihat jelas sosok Segara karena ia tengah sangat sibuk dengan perahu dan perlengkapan melautnya.
"Iya sama sama, Pak!" sahut Segara tanpa menoleh ke arah Genta.
__ADS_1
Genta tersentak, suara Segara terdengar sangat mirip dengan suara seseorang yang pernah dikenalnya dengan sangat baik. Genta lalu semakin mendekat ke arah Segara dan mencoba melihat wajahnya lebih seksama.
"Bos Arkha!" Genta membulatkan matanya saat bisa melihat dengan jelas wajah pria di hadapannya itu.