Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #38 Tiba Di Kota


__ADS_3

Kapal yang membawa Segara kembali ke kota sudah semakin jauh meninggalkan pulau itu. Segara masih duduk melamun di deck kapal tanpa mempedulikan angin yang cukup kencang menerpa wajahnya, pikirannya masih belum bisa lepas dari Mutiara. Separuh jiwanya seakan tertinggal di kampung nelayan itu.


"Mutiara, maafkan aku! aku tidak menceritakan semua tentang ingatanku padamu. Tapi percayalah, Sayang! setelah semua urusanku dengan Alfin selesai, aku pasti akan kembali untuk menjemputmu," janjinya dalam hati sambil menatap kosong ke tengah samudra.


Segara terus melamun, setahun ia hidup menjadi seorang Segara dan menetap di pulau terpencil itu, dan selama itu pula begitu banyak kenangan manis yang dia lewatkan bersama bersama Mutiara di sana, sangat berat baginya saat harus meninggalkan pulau itu.


"Bos, di luar anginnya sangat kencang, sebaiknya anda duduk di dalam saja!" tegur Genta.


Melihat atasannya yang sedari tadi duduk melamun di deck kapal, Genta langsung menghampirinya. Segara hanya sekilas melirik ke arah Genta, namun dia tetap diam di tempat duduknya tanpa mempedulikan teguran asistennya itu.


"Ini saya bawakan segelas kopi untuk anda, Bos!" Genta membawa dua kopi dalam gelas plastik di tangannya dan satu gelas disodorkannya untuk Segara.


Segara meraih kopi itu dari tangan Genta, namun ia tetap tidak beranjak dari tempat duduknya.


"Saya bisa memahami apa yang tengah anda rasakan saat ini, Bos!' ujar Genta sambil ikut duduk di kursi di sebelah Segara.


"Apa yang bisa kau pahami, Genta?" sahut Segara sinis tanpa sedikitpun menoleh ke arah Genta.


"Cinta, Bos! pria yang ada dihadapan saya saat ini hanyalah seorang Segara yang sedang dimabuk cinta dan sangat takut kehilangan cintanya!" cibir Genta, sambil menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokoknya.


"Tahu apa kau soal cinta, Genta?" seringai Segara dengan raut wajah berubah kesal karena ejekan asistennya itu.


"Urusan cinta mungkin saya memang tidak berpengalaman, Bos. Tapi untuk sementara ini sebaiknya anda kesampingkan dulu urusan hati, banyak hal yang lebih penting yang harus kita selesaikan!" tandas Genta menekankan tujuan utama mereka kembali ke kota.


"Ingat, Bos! saat ini anda adalah Arkha, dan bukan Segara lagi!" ujar Genta lagi dengan penuh penekanan.


Segara hanya mencebikkan bibirnya dan tetap tidak menoleh ke arah Genta sambil ikut menyeruput kopinya.


"Kau tidak perlu mengingatkan itu lagi padaku, Genta! aku tahu apa yang harus aku lakukan!" ketus Segara.


"Iya.., ketika aku memutuskan untuk kembali, aku adalah Arkha, bukan Segara!" sungutnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kapal tanpa mempedulikan Genta yang masih duduk disana asyik menikmati kopi dan rokoknya.


****


Tanpa terasa kapal itu sudah membelah lautan selama hampir dua puluh jam lamanya. Kini mereka sudah bersandar di pelabuhan.


"Pakai ini, Bos!" Rendy menyerahkan sebuah hoodie dan masker penutup wajah untuk Arkha.


"Untuk sementara waktu, tidak boleh ada seorangpun yang tahu anda sudah kembali, Bos. Dengan begitu kita akan lebih mudah menjebak Pak Alfin masuk ke dalam perangkap kita!" tegas Rendy lagi.

__ADS_1


Tanpa bertanya, Arkha langsung memakainya, lalu mereka turun dari kapal itu menuju ke sebuah tempat dimana sebuah SUV hitam sudah siaga menunggu mereka disana.


Rendy duduk di kursi kemudi dan Genta duduk di sebelahnya, sedangkan Arkha duduk di kursi penumpang di belakang. Sepanjang perjalanan Arkha terus mengarahkan pandangannya keluar melalui kaca mobilnya.


"Setahun lebih aku menghilang dari kota ini, semuanya masih sama seperti dulu." gumamnya.


"Bawa aku ke rumah sakit, Rendy! aku mau menemui Mama Yuna!" perintah Arkha saat mobil mereka sudah melaju di jalan utama di kota itu.


Rendy hanya diam dan tidak menjawab sambil melirik ke arah Genta yang juga diam setelah mendengar perintah Arkha.


"Hei kenapa tidak menjawab! apa kau tidak mendengar perintahku, Rendy?" bentak Arkha.


Ia menjadi sangat kesal melihat kedua asistennya yang hanya terdiam tak menanggapi perintahnya.


"Maaf, Bos. Sebaiknya lain kali saja kita menemui Nyonya Besar. Masih banyak hal penting lainnya yang harus kita kerjakan sekarang," tolak Genta.


"Tidak ada yang lebih penting dari mama saat ini, Genta! aku harus menemuinya, mama harus tahu kalau sebenarnya aku masih hidup!"


"Tapi, Bos..?"


Rendy berusaha mencegah keinginan Arkha untuk menemui mamanya, seolah ada sebuah rahasia yang belum ingin diungkapkannya kepada atasannya itu.


Meskipun dengan terpaksa, akhirnya Rendy bersedia menuruti keinginan Arkha.


"Buat apa kau membawaku kesini, Rendy!" Arkha membulatkan matanya saat Rendy menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sakit jiwa


"Sebenarnya, Nyonya Besar dirawat disini, Bos." ujar Genta dengan suara pelan sambil menundukkan wajahnya.


"Semenjak mendengar berita kematian anda, Nyonya Besar mengalami guncangan dan harus dirawat disini, Bos!" lanjutnya.


"Mama...., kenapa sampai seperti ini?" ucap Arkha sedih.


Arkha segera berhambur keluar dari mobil, dengan setengah berlari ia masuk ke rumah sakit itu.


Kaki Arkha tiba tiba terasa kaku tak dapat bergerak ketika ia tiba di halaman rumah sakit itu. Matanya tertuju kepada seorang wanita paruh baya dengan bajunya yang terlihat lusuh dan rambut acak acakan sedang duduk di sebuah bangku. Tatapan mata wanita itu terlihat kosong dan wajahnya sayu.


"Mama..!"


Arkha mengusap wajahnya, ia seolah tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat itu.

__ADS_1


Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati wanita itu lalu berjongkok di hadapannya. Arkha membuka penutup wajahnya sambil melepaskan topi hoodie nya.


"Mama, ini aku Arkha putramu, aku kembali, Ma! aku masih hidup, aku kesini untuk menjemput mama!" ucap Arkha sambil memeluk wanita itu yang tak lain adalah Yuna mamanya.


Air mata pun tak tertahankan menetes dari kedua bola matanya, ia sangat sedih melihat kondisi mamanya saat itu.


Akan tetapi Yuna tetap terdiam, dia bahkan tidak bereaksi apa apa saat saat Arkha memeluknya, tatapannya masih saja terlihat kosong.


"Ma, lihat aku, Ma! apa mama tidak mengenaliku?" tanya Arkha lagi sambil menatap mata Yuna dan memegang erat tangannya.


Yuna perlahan mengangkat wajahnya.


"Kaka!" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Iya aku Kaka, Ma. Aku kembali, aku belum mati seperti yang orang orang kira selama ini!" ucap Arkha sendu.


Kaka adalah panggilan sayang Yuna untuk Arkha semasa kecilnya.


"Kaka..., kaka...., pulang, Nak! jangan tinggalin mama! hik.. hik..!" ucap Yuna sambil menangis tersedu namun tatapannya masih nanar tak sedikitpun menoleh ke arah Arkha.


"Ma.., aku disini, aku sudah pulang!" ucap Arkha lagi sambil menatap wajah dan mengusap kedua pipi mamanya.


"Kaka! kamu memang anak mama yang bandel, setelah kamu pulang mama akan menjewer kupingmu. Mama tidak akan membiarkanmu main ke laut lagi! ha..ha..ha!" bentak Yuna sambil terbahak.


Tatapannya masih saja menerawang jauh, ia sama sekali tidak mempedulikan Arkha yang masih memegang tangannya.


"Maaf, Pak. apa pasien ini keluarga anda?" sapa seorang suster yang ada di dekat Arkha dan Yuna saat itu.


"Iya, Suster!" jawab Arkha singkat.


"Ibu Yuna sama sekali tidak mengingat siapapun, Pak. Bahkan namanya sendiri beliau lupa. Yang diingatnya hanya putranya yang bernama Kaka. Kami sangat kesulitan membantu kesembuhannya, beliau susah makan dan susah diajak berkomunikasi, emosinya sangat tidak stabil. Kadang menangis lalu tiba tiba tertawa," ucap suster itu.


"Selama ini juga tidak ada seorangpun yang menjenguknya, setahu kami, Ibu Yuna berasal dari keluarga berada, beliau bisa dirawat disini karena beliau punya banyak asuransi." lanjut suster itu lagi.


"Apa Livina tidak pernah kesini, Suster?" tanya Arkha.


"Maaf, Pak. Kami tidak tahu, selama ini yang kami tahu ibu Yuna sebatang kara, putranya sudah meninggal karena sebuah kecelakaan di laut!" cerita suster itu lagi.


Arkha menghela nafas dalam dalam, melihat keadaan mamanya dia menjadi sangat sedih, ia juga sangat kecewa karena dia menyadari kalau Livina selama ini bahkan tidak pernah peduli dengan mamanya.

__ADS_1


__ADS_2